Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Keputusan Panji


__ADS_3

Amarah Bambang begitu menggelegak mendengar kabar Dodit telah memukuli Panji di kantor nya. Kunjungan kerja yang dijadwalkan seharusnya selesai esok lusa terpaksa dimajukan hari ini juga karena dia tidak bisa menahan diri untuk segera menemui anaknya.


Otak liciknya berputar mencari cara membalaskan perbuatan Dodit. Rupanya setelah menggenggam kekuasaan yang diberikan oleh Eyang Soeroso kini bocah ingusan itu telah berani menunjukkan taringnya. Dengus Bambang.


"Tuan, kita mau langsung pulang atau ke kantor?" Tanya supir pribadinya.


"Kantor Panji." Jawab Bambang.


Sejenak sang supir yang tidak mengetahui apapun tertegun dan berpikir. Melihat supirnya hanya diam membisu membuat Bambang emosi dan membentaknya.


"Kau sudah bosan kerja?! Apa telinga mu bermasalah? Perlu aku korek telinga mu dengan benda tajam?!" Maki Bambang beruntun.


Sang supir bergidik ngeri mendengarnya. Tangannya mendadak bergetar tak karuan saking takutnya. Dia memang baru dua minggu bekerja bersama Bambang yang memang langganan berganti supir atau karyawan di dekatnya mengingat tabiatnya yang pemarah kepada siapapun sehingga tidak ada yang bisa bertahan lama bekerja bersamanya.


Drrrttt


Drrrttt


Drrrttt


Ponsel Bambang bergetar dan mengeluarkan dering. Nama Eyang Soeroso tertera sebagai nama sang pemanggil telepon. Bambang mengatur nafasnya untuk menurunkan emosinya yang baru saja meledak agar tidak terdengar suaranya yang dipenuhi oleh amarah. Ya biar bagaimanapun dirinya harus menunjukkan sosok putra yang berbakti dan mengenal sopan santun kepada Soeroso yang telah banyak memberinya kelimpahan kasih sayang dan materi sejak dirinya berada dalam kandungan.


"Kamu dimana? Mr. Anderson marah karena kamu sebagai perwakilan perusahaan kita membatalkan meeting nya secara sepihak." Cecar Soeroso tanpa bertele-tele begitu mendengar suara Bambang.


"Huft, Pak, maaf sebelumnya... aku panik dengar kalau cucu kesayangan Eyang sudah berani memukuli anak ku, Panji. Sebaiknya Eyang..." Bambang seketika mempunyai ide untuk mengadu domba Eyang Soeroso dan Dodit.


"Panji baik-baik saja. Dia sudah mendapatkan penanganan medis dan langsung diperbolehkan untuk pulang dan kembali bekerja karena lukanya tidak ada yang serius." Jelas Soeroso yang memang sudah mengunjungi Panji barusan. Cucunya itu bahkan tadi bersikeras langsung kembali ke kantor untuk menyelesaikan semua pekerjaannya saat Soeroso menawarkan untuk mengambil istirahat sampai memar di wajahnya membaik.


"Anak itu entah apa yang ada dalam isi kepalanya, seenaknya saja dia pukul Panji yang tidak bersalah." Geram Bambang seraya menyindir kelakuan impulsif Dodit yang menyerang Panji.

__ADS_1


"Sudahlah... dosa mu terhadap Hanafi dan anaknya jauh lebih besar jadi sebaiknya selesaikan urusan mu dengan Mr. Anderson agar aku tidak berubah pikiran ingin menggeser posisi mu dengan Hanafi." Tegas Soeroso sambil menghembuskan nafasnya kasar di seberang telepon.


"Bapak memang tidak pernah adil terhadap aku dan anak-anak ku." Cetus Bambang pada akhirnya tidak dapat menutupi rasa kecewanya.


"Keadilan seperti apa yang kau inginkan? Baiklah besok setelah makan siang aku mau semua anak dan cucu ku berkumpul di rumah utama." Putus Soeroso yang juga langsung menutup telepon nya.


Hah, orang tua ini sungguh tak pernah bisa menghargai semua usahaku. Bambang berucap getir. Dia menyenderkan kepalanya yang terasa pening.


Untunglah ketika Bambang sibuk menerima panggilan telepon sang supir bergegas tancap gas menuju kantor dimana Tuan mudanya, Panji berada sehingga tidak mendapatkan makian lagi dari Bambang.


Dua puluh lima menit berselang


Bambang memasuki ruangan kerja Panji tanpa mengetuk pintu sebelumnya. Wajahnya mendadak sendu menatap wajah putranya yang di penuhi memar. Air matanya nyaris turun jika saja tidak mendapatkan ledekan Panji.


"Pak, jangan cengeng. Malu masa nama... Pak Bambang tapi cengeng." Ledek Panji dengan senyum jenaka.


"Eits, sudah cuci tangan belum? pakai hand sanitizer jangan lupa." Panji sedikit memiringkan wajahnya hendak menghindar dan memang sengaja ingin menggoda bapaknya.


"Anak itu sudah habis memukul kepala mu sebelah mana? kenapa hari ini kamu berbeda?" tanya Bambang yang mendapatkan ledakan tawa dari Panji.


"Hahaha... maksud bapak si Dodit?" Tebak Panji.


"Ck, siapa lagi kalau bukan anak tidak tahu sopan santun itu?" Decak Bambang.


"Bapak mau minum kopi hitam atau teh?" Tawar Panji sebelum menyuruh karyawan bagian pantry.


"Tidak, bapak hanya sebentar kesini untuk memastikan kondisi mu." Bambang menolak tawaran Panji.


"Bapak sudah semakin tua jangan terlalu banyak pikiran apalagi memikirkan anak muda seperti aku, biar Yola saja..." Ucap Panji penuh senyuman.

__ADS_1


"Hah, jadi Yola yang bisa membuat senyuman anak bapak ini awet tanpa formalin?" Terka Bambang ikut terbawa suasana.


"Hmm, andai dia bukan adik sepupu ku..." Gumam Panji.


"Kamu tenang saja, bapak akan selalu mendukung kamu dalam kondisi apapun." Ucap Bambang.


"Pak... ekhem, Panji sudah beberapa hari ini memikirkan keputusan besar yang akan Panji tempuh." Panji memberanikan dirinya mengungkapkan kegundahannya.


"Kamu mau kawin lari sama Yola? jangan... nanti kamu tidak dapat warisan Eyang Soeroso." Cegah Bambang yang mulai panik akan mendapatkan pengakuan tidak mengenakan dari putra kesayangannya.


"Bukan, Pak.... Panji justru ingin melepaskan semua ikatan Panji disini... Panji juga sedang mengurus akta notaris pelimpahan semua inventaris milik Panji menjadi atas nama bapak." Ungkap Panji sambil menatap Bambang.


"Apa? jangan gila kamu!" Emosi Bambang terpantik tiba-tiba.


"Panji lelah, Pak... setidaknya kan harta bapak jadi bertambah..." Lirih Panji.


"Edan! kau pikir akan aku kemanakan nanti harta milik ku kalau bukan untuk kamu, anak ku?!" Bentak Bambang.


"Pak, Panji ingin hidup secara normal dan damai... Panji sudah tidak ingin menumpuk dosa dengan semua hal buruk yang kita lakukan kepada Pakdhe Hanafi dan Dodit." Ucap Panji dengan wajah penuh penyesalan.


"Heh! sepertinya memang isi kepala mu ada yang bergeser akibat kena pukul anak itu." Sentak Bambang yang tidak menerima keputusan Panji.


"Terserah kalau bapak tidak menerima keputusan Panji tapi memang hal ini sudah beberapa kali Panji renungkan. Apa gunanya kita selamanya bertikai dengan saudara sendiri?" Lirik Panji ke arah Bambang.


"Bapak tidak setuju dengan rencana mu." Bambang bangkit dari posisinya duduk lalu menghampiri Panji.


"Pak, Panji ingin melepaskan semuanya dan mungkin akan mengikuti jejak Mas Pandu menjadi dosen." Panji mengutarakan rencana indah nya.


"Bapak kecewa dengan keputusan mu!" Solot Bambang sambil berlalu meninggalkan Panji kembali sendirian.

__ADS_1


__ADS_2