Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Kebablasan


__ADS_3

Dodit masih menggenggam tangan Dina lembut saat mereka memasuki kamarnya. Hal ini membuat suasana hati Dina mulai membaik. Entah mengapa drama pasangan suami istri bahagia itu lambat laun saling membahagiakan satu sama lain bagi hubungan mereka.


"Kamu mandi aja dulu sana biar segar." Ucap Dodit begitu ia dan Dina masuk ke dalam kamar.


Tanpa menjawab Dina pun melangkah ke kamar mandi dengan langkah lesu tak bergairah.


Dodit hanya memandangi miris keadaan Dina yang begitu terpukul. Hm, ternyata dia gak sekuat dugaan ku? Kemana sosok gadis bar-bar penebar keributan masa SMA dulu? Dodit mengenang awal ia mengenal sosok istrinya itu. Apa keputusannya mengajak Dina terlibat dalam keluarga besar Eyang Soeroso itu keputusan yang salah? Dodit pusing memikirkan kehidupan pernikahannya.


Drrrttt


Drrrttt


Drrrttt


Dodit mengangkat panggilan telepon yang ternyata berada dari Eyang Soeroso. Huft, pasti Eyang Soeroso sudah mengetahui kejadian yang baru saja menimpanya di butik. Ia enggan menanggapi tetapi pasti Eyang nya itu akan terus menelepon bila tidak di respon.


"Assalamualaikum, Eyang." Dodit menyapa.


"Walaikum salam, Eyang tunggu sekarang juga di ruang kerja." Sahut Eyang Soeroso tanpa basa-basi begitu nada telepon nya di angkat oleh Dodit.


"Baik Eyang." Jawab Dodit.


Klik


Suara panggilan telepon pun di putus begitu saja.


"Dina, aku keluar sebentar ya ambil makan malam kita." Dodit mencari alasan lain karena tak ingin Dina berfikiran macam-macam.


"Hm," Sahut Dina lirih dan masih terdengar Dodit.


Tak lama kemudian Dodit menemui Eyang Soeroso di ruang kerjanya.


"Kamu ndak bisa mengabaikan keselamatan istri mu." Ucap Eyang Soeroso melihat cucu kesayangannya itu telah menghampirinya.


"Terima kasih, Eyang. Tapi..." Dodit tetap ingin menolak permintaan Soeroso.


"Apa istri mu tidak cukup berarti hingga ingin kamu korbankan?" Cecar Soeroso.


Trauma karena ditinggalkan oleh satu-satunya istri yang paling ia cintai sungguh membuatnya tak habis fikir memperhatikan cucunya masih tak mau mendapatkan pengawalan khusus.


Sementara Dodit yang sejak dulu menyadari dirinya hanya cucu angkat dan tidak berhak mendapatkan fasilitas istimewa dari Eyang Soeroso tetap pada pendiriannya, tak ingin menjadi beban bagi Eyang Soeroso sampai kapanpun.


"Kelak bila kau kehilangan istri yang kau cintai mungkin baru lah kamu menyesal. Hidup bergelimang harta dan tahta tetapi hampa..." Soeroso tertunduk meratapi kemalangan kisah cintanya yang bahkan tak pernah tahu kehidupan sosok yang ia cintai hingga terakhir kali pertemuannya hanya bisa menangisi batu nisannya.


"Ekhem, Eyang jangan seperti ini. Dodit ndak enak nanti terdengar Eyang putri karena kesannya Eyang masih susah melupakan mantan. Hehehe." Dodit berusaha menghibur Eyang Soeroso.


"Dia istriku, bukan mantan." Elak Soeroso seraya menyeka air matanya.

__ADS_1


Gleg


Dodit tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Bagaimana mungkin Eyang Soeroso hidup selama ini dengan dua istri? Gumam Dodit dalam hati.


"Umm, maaf Eyang kenapa Eyang cerita hal ini ke Dodit? Memang ndak takut kalau Dodit sebarin ke Eyang putri?" Pancing Dodit dengan nada bergurau tak ingin melihat wajah sedih Eyang Soeroso.


"Tidak. Istri pertama ku itu..." Soeroso ingin berterus terang mengenai rahasia yang ia pendam dari siapapun kecuali cucu kandungnya ini.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu terdengar dan tak lama muncul sosok Slamet mendekati keduanya.


"Maaf mengganggu tapi Nyonya besar mencari anda, tuan." Slamet memberikan informasi.


Soeroso yang tak mau Ambar berprasangka buruk apabila mengetahui dirinya sedang berbicara bersama Dodit memilih untuk menyudahi pembicaraan nya lalu meminta cucunya itu untuk kembali ke kamarnya perlahan.


Dodit pun melangkah meninggalkan ruang kerja Eyang Soeroso lalu kembali ke kamarnya.


Pemandangan pertama yang ia lihat ketika memasuki kamar sungguh memprihatinkan dimana sosok istrinya meringkuk di pinggir ranjang sambil menekuk kedua lututnya.


"Din, kenapa gak tidur?" Dodit merangkul Dina yang tampak rapuh.


"A aku takut. Gimana kalau tadi yang di gunting itu aku? Ngeri gak sih kebayang gaun mahal itu rusak jadi ngebayangin gimana kalau itu aku." Dina mengutarakan ketakutannya.


Mendengar cerita Dina seperti itu Dodit menjadi gemas dan mencubit pipinya. Membuat Dina mengaduh sambil melotot ke arahnya.


"Sakit tahu!" Protes Dina sebal.


"Salah sendiri kok bisa punya pikiran konyol kayak gitu." Debat Dodit yang senang kini Dina telah kembali menjadi galak.


Dina melayangkan pukulan-pukulan ringan kepada suami menyebalkan nya itu.


"Loe rese banget sih?" Ucap Dina.


Dodit langsung menutup tubuhnya dan istrinya itu ke dalam selimut.


"Sstt... Jangan lupa disini panggil aku-kamu bukan loe-gue." Dodit mengingatkan.


"Bodo amat." Dina dalam mode malas menanggapi.


"Dasar kepala batu." Geram Dodit.


__ADS_1


"Dasar cowok belok!" Pekik Dina tak mau kalah dan mengumbar hal yang di anggap aib.


"Ya Allah... Masih aja nih orang bilang gue belok... Ini coba pegang ade gue belok apa enggak." Dodit mengarahkan tangan Dina ke tempat adik nya yang berada di balik bokser yang ia pakai.


"Iiiih, apaan nih?" Dina keheranan tetapi rasa penasaran membuatnya malah meremas dan menganggap nya sebagai squishy, mainan anak-anak karena ia melihat perubahan ekspresi Dodit yang mendadak aneh ketika ia permainkan adiknya.


"Din, Din, Dinnaaaa..." Dodit memanggil nama istrinya karena merasakan sensasi luar biasa yang ditimbulkan dari remasan tangan Dina.


"Kok gue ngerasa loe lagi klakson mobil ya? Din Din..." Dina bersungut-sungut dengan penggalan namanya yang terdengar seperti suara klakson.


"Lepassss..." Pinta Dodit namun tangannya tak bisa mencegah tugas hand job yang tanpa sadar sedang dimainkan oleh Dina dan menghilangkan kesadaran Dodit seketika.


Entah dorongan darimana Dodit yang kesal merasa adiknya dipermainkan malah mencium bibir Dina. Awalnya hanya kecupan, namun rasa manis dari bibir Dina membuatnya ketagihan hingga tanpa sadar membuat bibir Dina bengkak dibuatnya.


Puas melihat bibir Dina yang bengkak lalu Dodit beralih untuk menarik lingerie putih yang dikenakan Dina lalu mulai menikmati buah salak kembar milik Istrinya. Tubuh keduanya meremang dan...


"Arrggghhh... apaan ini kok lengket?!" Dina berteriak ketika menyadari tangannya menjadi lengket karena ulahnya sendiri memainkan adik kandung Dodit. Sejak kapan tangannya sudah langsung memegang adik kandung Dodit? Dina melotot tak percaya. Senjata makan tuan.


Dodit yang terusik kegiatan nya menikmati buah salak kembar bermaksud ingin menarik Dina kembali berbaring di ranjang namun mendapatkan perlawanan sengit.


"Loe gila, ih!" Dina memukuli Dodit.


"Astaghfirullah aladzim..." Dodit mengusap wajahnya saat tersadar.



"Kita abis ngapain sih?" Tanya Dina


Heh, Dodit berbalik dan mengulum senyumnya menatap penampilan acak-acakan istrinya yang kini bak singa berlingrie putih.


******


Dodit: Makasih othor syantik, lagi emosi malah di kasih bonus


Author: Tumben nongol


Dodit: pusing jadi bagian dari keluarga Eyang Soeroso


Author: gue angkat derajat loe jadi turunan ningrat


Dodit: Iya tapi jiwa gue gak tenang


Author: yakin?


Dodit: request ya ada babak tambahan nanti. Hehehe


Author: Ck

__ADS_1


__ADS_2