
Riyadi yang telah mendapatkan kepercayaan penuh menjadi bodyguard bagi cucu kandung Eyang Soeroso kini sedang mengamati gerak-gerik mencurigakan seorang pria muda mengenakan jaket navy dengan topi yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
Pria itu entah bagaimana caranya begitu lihai membuka bagian dalam mobil lalu masuk kedalamnya. Sebenarnya Riyadi sudah gatal ingin bertindak menegur apa yang sedang dilakukan oleh pria itu, tetapi amanah sang senior, Pak Slamet kalau Riyadi hanya boleh menjaga dari jauh tuan muda nya yang di kenal kepala batu karena tidak mau mendapatkan pengawalan dalam bentuk apapun.
Perlahan ia menyuruh anak buahnya mengambil foto dan video kegiatan yang dilakukan pria berjaket itu. Langkah ini ia lakukan agar nantinya tuan muda nya bisa melihat langsung bahwa keselamatan nyawanya selalu terancam sehingga membutuhkan pengawalan khusus seperti keinginan Eyang Soeroso.
Lima menit berselang pria itu telah selesai melakukan misinya dan keluar dari mobil. Sesaat Riyadi berfikir hendak mengecek kondisi mobil untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh sosok berjaket tadi, namun hal itu terpaksa ia urungkan karena akan membuatnya terciduk tengah mengawasi sang tuan muda.
Riyadi melihat dari kejauhan bagaimana interaksi tuan muda dan istrinya. Selain memastikan keselamatan tuan muda nya itu, Riyadi juga harus memastikan bahwa pendamping hidup sang pewaris tahta itu harus lah orang baik.
Untung lah dari informasi bodyguard sebelumnya yang bertugas di kota asalnya kalau istri tuan muda nya itu hanya anak dari seorang pengusaha cendol dawet pengkolan jalan nyinyiran tetangga. Tidak ada indikasi kalau ia berasal dari keluarga matre yang akan merongrong suaminya.
"Maaf permisi, den..." Riyadi menghampiri tuan mudanya bermaksud ingin mengingatkan agar lebih berhati-hati karena bahaya sedang mengintainya.
"Duh, kamu enggak capek apa ikutin saya terus? Saya ini bukan artis atau pejabat penting jadi gak usah pake pengawalan." Ucap Dodit merasa terusik dengan keberadaan Riyadi disekitarnya.
"Kami mencurigai ada orang yang..." Kembali ucapan Riyadi langsung di tangkis tuan mudanya itu yang tidak ingin menunjukkan situasi tak menyenangkan di hadapan istrinya.
"Selesaikan apa yang harus kamu selesaikan." Ucap Dodit penuh makna.
"Baik tuan muda." Jawab Riyadi.
Dodit tak menoleh sedikitpun ke arah para bodyguard itu dan memilih mengendarai mobilnya untuk meninggalkan lokasi tersebut.
"Maaf ini kita apakan orang yang berani masuk ke mobil tuan muda?" Bawahan Riyadi bertanya.
"Interogasi sampai dapat informasi yang benar. Kalian fokus urus orang itu biar saya yang akan mengawal tuan muda." Ucap Riyadi memberikan instruksi.
"Siap." Bawahannya memberi hormat lalu pergi meninggalkan Riyadi yang tak lama melajukan mobilnya mengikuti langkah sang tuan muda.
Kesalahan Riyadi dalam hal ini adalah banyak berfikir dan tidak mengecek langsung kondisi kelayakan mobil tuan mudanya. Dari kejauhan terlihat laju mobil yang semakin berkelok dan tidak terarah seolah mencari jalan lain.
Riyadi yang memang tidak memiliki nomor ponsel tuanya terpaksa menggunakan telekomunikasi melalui arlojinya yang sudah dikoneksikan terhubung dengan milik sang tuan muda.
"Den, maaf saya perhatikan mobil..." Riyadi resah karena mengkhawatirkan kondisi tuan mudanya.
"Rem mobil gue blong! Tolong bantu kosongkan jalan utama karena mobil ini gak bisa berhenti kalo macet sekalipun." Dodit tak bisa berbasa-basi lagi.
Si al! Bagaimana dalam posisi sendirian seperti ini ia dapat memanggil para bawahannya dalam waktu kurang dari satu menit harus sudah berada dekat sini?
Berada dalam situasi darurat seperti ini membuatnya menyesal telah menuruti keinginan tuan mudanya yang menolak pengawalan maksimal sehingga ia hanya bersama kedua bawahannya saja yang mengawasi sang tuan muda dari kejauhan.
Riyadi menaikkan kecepatannya agar berada di depan mobil tuan mudanya. Biarlah sedikit terlambat baginya untuk meminta bantuan polisi lalu lintas yang sedang bertugas agar bersedia mengosongkan sementara jalan utama guna menghindari kecelakaan yang disebabkan oleh rem blong di mobil tuan mudanya.
Ckiiiiittttt
Bunyi suara mobil yang dipaksa mengerem mendadak. Nyaris saja mobil itu menabrak pembatas jalan jika terlambat sedikit saja berhenti.
Kondisi miris itu membuat nafas Riyadi tercekat lantaran mengkhawatirkan keselamatan tuan muda dan istrinya di dalam mobil tersebut.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
Ketukan di kaca mobil yang ia lakukan tidak serta-merta menyadarkan sang pemilik mobil yang tampak masih shock terutama sang pengemudi mobil, Dina.
"Bee..." Suara Dodit memanggil istrinya.
"Den," Riyadi masih mengetuk kaca mobil agar Dodit dan Dina tersadar lalu keluar dari dalam mobil.
"I ini dimana?" Tanya Dina yang belum terkumpul secara utuh jiwa dan raganya.
"Alhamdulillah kita selamat, bee..." Ucap Dodit yang langsung memeluk erat tubuh istrinya.
Dodit pun membuka pintu kaca mobil.
"Ck, terlambat loe datang, Maryadi!" Ucap Dodit yang masih sempat memprotes kedatangan Riyadi.
"Maaf, den. Saya tadi mengatur bawahan saya dulu untuk mengamankan pelakunya." Riyadi mengambil jalan aman dengan langsung meminta maaf. Ya, tuan mudanya selalu benar.
"Mak maksudnya tadi Pak Maryadi tahu kalo mobil ini bakalan celaka?" Tanya Dina yang sudah tersadar.
"Maaf non, nama saya Riyadi. Iya tadi di tempat sebelumnya memang ada orang yang kami curigai..." Riyadi ingin menjelaskan.
"Maaf den, ada panggilan telepon dari tuan besar." Riyadi yang sejak tadi di panggil Maryadi itu memberikan ponselnya kepada Dodit.
"Eyang sudah tahu semuanya." Suara di seberang telepon terdengar penuh kecemasan.
"Eyang..." Dodit ingin menyahut.
"Sekarang kamu hanya boleh dengar dan ikuti semua yang Eyang katakan. Mulai malam ini kamu dan istri mu pulang ke rumah yang sudah Eyang sediakan sebagai hadiah pernikahan kalian dari Eyang. Lalu besok pagi kalian harus bangun pagi karena Eyang akan panggil penata rias untuk kalian resepsi besok karena mulai senin pemerintah mau adakan PSBB." Titah Eyang tak ingin mendengar bantahan dari Dodit dengan alasan apapun.
"Ekhem, Eyang..." Kembali Dodit ingin menolak keinginan mendadak Eyang Soeroso.
"Kamu pikir selalu akan ada nyawa cadangan untuk semua kecelakaan yang dibuat oleh anak serakah itu untuk kamu dan istri mu?!" Bentak Eyang tak seperti biasanya.
"Tenang, Eyang. Tarik nafas perlahan lalu hembuskan." Dodit ingin mengurangi ketegangan Eyang Soeroso.
"Huft, Eyang baru akan tenang kalau kamu sudah nurutin kemauan Eyang demi kebaikan mu." Eyang bersikeras.
"Inggih, Eyang." Akhirnya Dodit mengiyakan keinginan Eyang Soeroso.
Klik
Suara panggilan telepon pun terputus
Seolah sudah mengetahui apa yang harus dilakukan Riyadi mengajak keduanya menuju sebuah rumah mewah dan mempersilahkan majikannya itu untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Nada panggilan telepon Dodit kembali berbunyi. Nama Jodi tertera disitu meminta panggilan video call.
Dina ingin menghindari interaksi dengan mantan nya itu, namun genggaman tangan Dodit malah semakin erat.
"Assalamualaikum, wahai jomb... Eh, ada Dinamakan nasi goreng." Sapa Jodi yang langsung terkejut melihat Dodit bersama Dina sedang duduk bersama di sebuah sofa.
"Walaikum salam, ya bapak-bapak dua anak." Sahut Dodit santai.
"Ekhem, lagi dimana loe pada? Kok bisa..." Jodi langsung melakukan investigasi dadakan.
"Ini kita baru masuk ke rumah baru kita." Jawab Dodit sejujurnya.
Sayangnya karena terbiasa mengeluarkan gombalan receh membuat Jodi hanya tertawa tak ada rasa percaya sedikitpun akan kebenaran hal yang Dodit ucapkan.
"Wagelaseh mblo, loe disana ketemu sama Dina ternyata." Ucap Jodi.
"Dina? Dinasaurus sama Dodit?" Terdengar suara terkejut dari Rara yang menginterupsi pembicaraan Jodi dengan Dodit.
Rara pun mengambil alih kamera ponsel suaminya itu ingin melihat langsung wujud asli sosok yang membuatnya terkejut.
"Dit, loe udah putus asa apa gimana?" Tanya Rara setelah sekian detik kesadarannya menghilang mengetahui kebenaran akan kedekatan Dodit dan Dina saat ini.
"Yang, kalau kita percaya sama Dodit itu musrik jadi iya in aja biar dia senang gak di katain jomblo lagi. Hahaha." Jodi malah menolak percaya kebenaran hubungan Dodit dan Dina.
"Ck, gak percaya amat mantan loe bisa gue gebet." Sinis Dodit.
"Hahaha... Gila aja loe udah lama banget gue malah udah lupa dia mantan gue." Kekeh Jodi tak menyadari lirikan maut Rara disampingnya.
"Tuh bini loe mau ngamuk cepetan deh mau ngomong apaan, kalo gak penting gue tutup aja ya?" Dodit malas menanggapi drama rumah tangga sahabatnya itu.
"Eits, gue cuman mau kasih tahu... Selamat akhirnya sekarang loe jomblo gak sendirian karena Andri tadi siang resmi putus sama Siska." Ucap Jodi terkesan tak bersimpati dengan permasalahan sahabatnya itu.
"Gila! Bocah mau nikah gitu kenapa bisa putus?! Dia tadi bantuin gue tuh dari rem blong." Pekik Dodit ingin memastikan berita yang disampaikan oleh Jodi.
"Eh, kok loe gak senang? Andri tadi mau angkat telepon dari elo? Kok tadi gue telepon gak mau di angkat ya?" Jodi salah tingkah.
"Si al loe mentang-mentang seumur hidup ga pernah jomblo jadi enteng aja loe dengar kabar sahabat loe mendadak jomblo!" Maki Dodit sebagai alumni jomblo seminggu yang lalu.
"Eh iya, kasian juga itu si Andri." Jodi tersadar.
"Aku bilang juga apa tadi kamu emang keterlaluan, Yang. bla bla bla..." Rara mengomeli Jodi yang langsung terdiam.
"Pak, Bu, saya tutup dulu ya kalo kalian ribut. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Dodit menutup telepon begitu saja.
*****
Hayuk cusss rapatkan barisan kita bantu Riyadi and the genks buat menghalangi orang yang mau bikin rusuh resepsi nya Dodit-Dina.
Di tunggu kiriman amplopnya buat kondangan ke tempat Dodit-Dina besok hari Minggu 😂
__ADS_1