
Dodit dan Dina akhirnya tiba di rumah Rafli ketika acara pengajian hendak di mulai. Kondisi pasca PSBB membuat Rafli dan Hilda selaku tuan rumah memang membatasi hanya mengundang sebagian ibu pengajian di mushola terdekat dan hanya beberapa saudara dan anggota mantan jomblo saja yang di undang.
Suasana canggung mengawali pertemuan perdana Dina sebagai istri dari salah satu anggota mantan jomblo. Untunglah baik Rara maupun Rosa tidak melihat sikap ketus dan sangar yang dulu kerap diperlihatkan oleh Dina kala mereka masih duduk di bangku sekolah sehingga mereka pun masih bisa bersikap ramah bak orang baru saling kenal.
Hilda dan Rafli yang memang sengaja tidak ingin mencari tahu jenis kelamin sang janin pada acara itu akhirnya Hilda membaca surat Yusuf dan Maryam bergantian. Entah mengapa ada rasa haru menggelegak dalam diri Dina mendengar lantunan ayat suci dari suara Hilda. Tanpa terasa Dina terus mengelap air matanya.
"Ini tisu." Siska yang duduk dan berada di samping kanan Dina menyodorkan tisu ke arah Dina.
"Thanks, Sis." Ucap Dina sambil mengulas senyum.
"Merdu ya suaranya Hilda." Komentar Rosa kagum.
"Banget, duh nyesel dulu ngaji sering banget males- malesan kalo di suruh ngaji" Aku Dina.
"Wah, apalagi kalo udah pada jadi emak anak dua kek gue... auto mendadak kepengen jadi malaikat aja dah bawaannya." Rara curhat.
"Hehehe... auto panik ya Bu merasa wajib hafal semua doa-doa sehari-hari yang selama ini kita jarang amalin." Rosa menyindir kepanikan Rara saat baru mengajarkan anaknya, Dira doa yang juga diajarkan di tempat Raudhatul Athfal tempat Dira memulai belajar.
"Pulang sini langsung cuss beli buku kecil hafalan doa-doa ya..." Dina tanpa sadar ikut menimpali.
"Hust, lagi ceramah malah ngerumpi." Siska menegur sahabatnya yang diam-diam menjadi pusat perhatian sang ustazah yang sedang memberikan ceramah mengenai proses terjadinya janin di dalam rahim seorang ibu.
Ada rasa hangat dalam hati Dina mendapatkan perlakuan bersahabat dari sosok yang semasa sekolah pernah ia labrak dan bully.
Sayangnya ketenangan itu berakhir seiring telah selesainya acara pengajian dan tak lama datanglah Vania yang tiba-tiba menempel kepada Rosa.
"Mpok, Mas Dodit jadi datang gak?" Tanya Vania.
Rosa tidak langsung menjawab dan malah melirik dengan ekspresi sungkan ke arah Dina. Ya, kini sebagai istri pasti perasaan Dina akan kacau balau mendengar ada seorang perempuan yang menanyakan sosok suaminya.
Sudah terlalu sering Dina melihat Dodit dekat dengan perempuan lain. Dengan Rosa yang jelas-jelas dulu begitu di cintai oleh sosok yang kini menjadi suaminya itu saja Dina tidak menyerah. Apalagi Dodit sebelum berangkat telah menjelaskan kalau hubungan nya dengan Vania hanya sebatas menganggap adik karena perempuan itu adalah adik sepupu Andri, sahabatnya.
Alih-alih membuang waktunya untuk cemburu, Dina lebih baik memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menunjukkan bagaimana status dirinya dan Dodit. Cerdik bukan? Dan tentu saja sebentar lagi Dina akan menunjukkan kepada Vania bagaimana cara marah yang anggun dan berkelas.
Suasana ruang tamu kini telah sepi lantaran semua ibu pengajian dan saudara dari pihak Rafli dan Hilda telah berangsur pulang dengan alasan mengikuti anjuran pemerintah agar menghindari adanya kerumunan.
__ADS_1
Para suami yang merupakan anggota mantan jomblo yang sejak tadi sibuk membantu menyiapkan segala macam keperluan untuk acara pengajian pun satu persatu masuk dan mendekati istri mereka, demikian juga Dodit.
"Capek ya?" Dina mengelap keringat di dahi suaminya dengan tisu pemberian dari Siska.
"Iya tadi bantu Rafli angkat karpet di pelataran teras. Ini emak-emak pengajian udah minta setengahnya aja masih banyak yang datang. Hehehe." Ucap Dodit.
"Eh, mas Dodit. Kenapa tadi gak jadi jemput aku? kangen tahu udah berapa bulan nih gak ketemu." Vania yang tidak tahu status Dina sebagai istri Dodit kini malah menyampirkan tangannya di lengan Dodit.
"Van, kalo mau nyender ke tembok aja." Dodit melepaskan diri dari tangan lentik Vania karena merasa jengah.
"Ih, biasanya juga Mas Dodit yang suka mancing aku biar kita mesra." Ucap Vania enteng.
Gleg
Semua penghuni ruangan itu mendadak sunyi dan melirik sosok Dina. Hm, singa betina itu pasti tidak akan tinggal diam. Batin mereka semua kompak menyuarakan hal yang sama.
"Ekhem, kamu yang namanya Vania, ya?" Dina mengulas senyum yang mengundang banyak tanya bagi semua orang.
"Eh, iya mba nya siapa ya? tadi kok berani banget lap keringat mas Dodit?" Vania berubah mode manja menjadi ketus kepada Dina yang tidak ia kenali sebelumnya.
"Oh, tadi aku cuman gantian aja soalnya biasanya Mas Dodit yang lap keringat aku." Ucap Dina ambigu.
"Curhat sama Andri aja." Sahut Dodit dengan ekspresi kecut.
"Mas, mau kue pukis gak? Vania ambilin ya?" Vania mengalihkan rasa canggung nya atas sikap aneh Dodit.
"Gak usah, aku lagi gak kepengen makan." Sahut Dodit.
Dina melirik Vania sekilas begitu mendengar kalimat itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya hatinya sudah mendidih menahan cemburu. Tapi pengalaman telah mengajarkan padanya bahwa emosi tidak akan menyelesaikan permasalahan. Yang dibutuhkan oleh Dina hanya sabar yang disertai dengan kecerdikan. Karena semenjak menikah dan menjadi bagian dari keluarga Eyang Soeroso ia merasa harus memiliki pemikiran cemerlang dalam berbagai situasi, termasuk seperti ini.
"Loe mau makan apa, Din? Kali ini giliran Dodit yang memincingkan matanya mendengar pertanyaan Rafli kepada istrinya. Sementara Rafli sebagai tuan rumah yang baik merasa perlu menjaga ketentraman hati semua orang yang ada kini dengan mengalihkan pembicaraan.
"Gue mau dong cobain rujak empat bulanan nya." Ucap Dina menjawab pertanyaan Rafli.
Dodit tersenyum geli melihat senyum Dina yang terlihat kekanak-kanakan tapi sekaligus manis dan cantik.
__ADS_1
" Wah, mba nya lagi hamidun juga ya?" Tanya Vania.
"Doakan saja." Jawab Dina ringan.
Dina tersenyum sementara Vania menatap penuh permusuhan. Dina yang jahil sengaja memasang senyum malaikat nya. Berpura-pura tidak tahu itu kadang menyenangkan juga. Terlebih lagi bila sikap pura-pura nya bisa membuat musuhnya panas tersulut api permusuhan.
"Udah berapa lama kamu kenal sama Mas Dodit?" Semua orang hampir tidak percaya Dina dengan ramahnya menanyakan itu.
Vania tersenyum canggung, sebenarnya merasa sedikit canggung menghadapi sosok tenang seperti Dina. Bagi Vania lebih baik menemui sosok perempuan yang menyerang penuh emosi ketimbang melihat Dina yang sangat ramah tapi seolah memberinya ancaman untuk menyerang sewaktu-waktu seperti sekarang.
"Mba sendiri sejak kapan kenal sama Mas Dodit?" Bukan menjawab pertanyaan Dina tapi Vania malah balik bertanya.
"Aku sama semuanya yang disini itu teman satu sekolah, satu SMA yang sama." Jawab Dina tak ingin mempermasalahkan pertanyaan yang berbuah meminta penjelasan dari Vania.
"Masa sih? aku kenal dekat kok semua teman mas Dodit tapi gak pernah tuh ngeliat mba nya." Vania semakin sengit mencecar Dina. Dalam hati Vania menyesal dulu sok jual mahal terhadap Dodit sehingga harus repot menghadapi sosok seperti Dina.
"Hehehe... kamu kan gak punya cctv di dekat Dodit jadi mana tahu gimana kesehariannya selama ini." Ucap Dina santuy.
"Mas, emang dia siapa sih? eh iya mba nya namanya siapa ya?" Rengek Vania merapatkan dirinya ke lengan Dodit.
""Um, kamu masih inget kan nama lengkap aku? masih sama kok waktu kamu sebut di ijab qobul." Ucap Dina lemah lembut kepada suaminya.
Semua yang hadir di situ ingin tertawa mendengar kalimat telak dari Dina. Kini bahkan diam-diam Rosa mendukung sepenuhnya Dina menjadi istri Dodit yang terkenal Kang ghosting sehingga menimbulkan keresahan di hati pasangan nya bila tidak kuat mental seperti Dina.
Vania seketika pucat mendengar kalimat Dina yang seolah menegaskan kalau Dodit telah mengucapkan kalimat ijab qobul dengan sosok itu. Hal itu tidak luput dari pandangan Dodit, dengan segera pria itu mendorong segelas air mineral yang terletak dihadapannya.
"Sorry ya nanti kamu kayaknya gak bisa nebeng lagi deh sama Mas Dodit karena kita nanti mau sekalian ngedate abis dari sini. Iya kan, Beib?" Dina masih belum mau berhenti mengeluarkan kalimat-kalimat sindirannya padahal wajah Vania sudah pucat pasi mendengar pernyataan ijab qobul sebelumnya.
Dodit sebenarnya merasa tidak enak terhadap Vania yang sudah ia anggap adik sendiri itu ternyata mendapatkan aneka ucapan sindiran yang diberikan istrinya tetapi ia jelas harus bisa tetap berada di sisi istrinya agar kelak Vania juga bisa tahu batasan bahwa mereka tak mungkin bisa sedekat dulu.
Suguhan rujak khas syukuran empat bulanan menjadi penutup kalimat sindiran Dina karena setelahnya mulutnya tak berhenti mengucapkan kalimat pujian seperti, "Wah, Hilda nanti ajarin ya bikinin rujak seenak ini. Wajib banget belajar bikin rujak enak kek gini."
"Ajiiibbb... mantan gue otewe mau syukuran juga nih makannya getol mau belajar bikin rujak. Din, si Hilda itu belajar sama bini gue tadinya." Seloroh Jodi.
"Makasih mantan," Ucap Dina yang langsung mendapatkan lirikan maut dari suaminya.
__ADS_1
*****
Monmaap fans Vania disini aku buat Vania keok. Hayati akutuh garda depan ganyang bibit pelakor #eeehhhh ðŸ¤ðŸ˜‚