
Setiap perempuan memang memiliki bibit pelakor, hanya cara mereka saja yang berbeda. Ada yang melepaskan dan ada yang memaksakan untuk bersatu.
~
Sesuai dengan titah Eyang Soeroso kini Dodit tengah berada di butik langganan keluarga Soeroso bersama istrinya. Sebuah butik yang menyuguhkan tampilan tradisional namun tetap terkesan mewah sempat membuat Dina merasa minder dan enggan untuk memasuki tempat itu kalau saja sang suaminya tidak menarik paksa tangan nya untuk masuk ke dalam butik.
Awalnya karyawan butik itu menawarkan sebuah gaun pengantin elegan yang telah di desain sesuai keinginan Yola selaku mempelai perempuan, tetapi Dodit menolak tegas dan meminta Dina untuk memilih gaun pengantin yang lainnya saja.
Dodit dan Dina harus memilih dua buah gaun yang akan dipakai pada acara resepsi mereka nantinya karena sisanya mereka akan mengenakan pakaian adat pengantin Jawa tengah.
Pandangan Dina tertarik dengan sebuah kebaya modern warna putih, dengan banyak taburan swarovski di gaun nya. Seorang karyawan pun memisahkan kebaya modern yang di pilih oleh Dina itu.
Setelah itu Dina kembali memilih sebuah gaun dengan potongan asimetris berwarna peach. Tentu saja potongan gaun itu terbuat menutupi semua bagian tubuh Dina karena memang itu keinginan Dodit yang tak ingin istrinya sedekah dengan memamerkan lekukan tubuhnya yang terlihat jelas apabila memilih gaun yang terbuka.
Sedangkan Dodit, memilih memakai pakaian adat Jawa tengah berwarna putih dan memilih setelan tuxedo dengan warna yang sama dengan gaun Dina agar terlihat sempurna.
Di temani seorang karyawan perempuan yang menemaninya di depan fitting room, Dina mencoba kebaya modern pilihannya. Lalu ia menunjukkan penampilan nya kepada Dodit yang langsung di buat terperangkap oleh pesona kecantikan istrinya.
Ekspresi lucu Dodit sungguh merupakan hiburan segar bagi Dina. Ia pun kembali menuju fitting room untuk mencoba gaun keduanya. Namun, ruangan itu kini berubah berantakan dan mengerikan dengan sebuah tulisan ancaman di kaca besar "Kau tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Soeroso"
Belum hilang rasa keterkejutan Dina ketika ia hendak membuka gaun pilihannya ternyata gaun itu telah rusak karena di gunting secara acak oleh tangan tak bertanggung jawab.
"Aaarrrgghhh... Mas Dodit!!!" Teriak Dina yang langsung ketakutan kalau sebentar lagi dirinya juga berada dalam bahaya.
Mendengar suara teriakan istrinya dari arah fitting room tentu saja membuat Dodit terlonjak kaget. Langkahnya terburu untuk mencari keberadaan Dina yang ternyata sedang menangis ketakutan dengan posisi duduk sambil memeluk lututnya.
"Breng seeek! Ada yang ingin main-main dengan ku!" Dodit geram.
Perlahan ia hampiri istrinya itu yang masih terisak tangis. Dina pun langsung memeluk erat Dodit seolah hanya dirinya lah yang mampu melindungi sosoknya yang kini sedang rapuh itu.
Dodit menggendong Dina yang sedang ketakutan itu ke sebuah ruangan khusus dan membuat nyaman posisi Dina untuk duduk di sofa tempat mereka sebelumnya duduk. Ia biarkan Dina menangis dan memeluk dirinya. Cahaya lampu di butik pun ia padamkan dan hanya mengandalkan penerangan lampu tembok saja.
__ADS_1
"Sstt, welcome to the jungle." Bisik Dodit ke telinga Dina yang sudah mulai tenang.
Ucapan Dodit tentu saja membuat Dina keheranan. Ia menatap nanar ke arah Dodit karena belum mengerti apa maksud ucapan Dodit barusan.
Dodit merapihkan tatanan rambut Dina yang sedikit berantakan. Ia mengelus lembut punggung Dina seraya melanjutkan ucapannya.
"Keluarga ku tidak semanis yang terlihat jadi berusaha lah menjadi kuat." Dodit masih tetap berbisik karena khawatir tembok pun akan mendengar ucapannya barusan.
Perlahan Dina mulai mencerna ucapan Dodit. Tatapan keduanya seolah saling memberikan kekuatan satu sama lain. Dina kini mengerti mungkin ini lah salah satu alasan Dodit mengajaknya bermain drama rumah tangga bahagia. Ternyata di balik kehidupan keluarga kaya raya menyimpan masalah rumit seperti ini. Kepala Dina mendadak terasa berat jika harus di ajak berfikir lebih jauh mengenai drama ini.
"Maaf den, semuanya akan kami bereskan se..." Riyadi, sosok bodyguard yang telah lama menjadi anak binaan Slamet dan hanya akan setia melindungi Soeroso, Hanafi dan Dodit kini muncul di hadapan Dodit ingin menyelesaikan permasalahan yang baru saja terjadi.
"Kumpulkan semua karyawan yang ada!" Titah Dodit yang kini menunjukkan wajah datar dan sangat berbeda dari keseharian sosok Dodit selama ini.
"Ma maaf..." Rita, selaku pemilik butik mendekati pasangan suami istri itu untuk menyampaikan keinginannya meminta maaf.
Dodit menendang meja kayu jati yang ada didepannya. Pandangan matanya nyalang menatap semua orang yang ia curigai terlihat dalam insiden ini.
"Buang dan siksa mereka semua ke penjara bawah tanah!" Perintah Dodit kepada Riyadi dan sepuluh orang pria berseragam hitam.
Sementara itu di tempat lain
"Dek, rencana kita gagal." Sosok pria dewasa itu menghampiri Yola yang sejak kedatangan Dodit dan Dina ke rumah Eyang Soeroso tak pernah keluar dari kamarnya.
"Maksud Mas apa? Aku ndak paham." Sahut Yola yang sedang asyik memakan kudapan lezat buatan ibunya, Ningrum.
"Aku meminta anak buah ku untuk meneror istrinya Dodit di butik tempat mereka fitting gaun pengantin, tetapi baru saja istrinya menangis Dodit sudah ngamuk dan membuat anak buah Mas mengakui perbuatannya." Aku sosok yang di panggil Mas oleh Yola
"Hah? Mas gila ya? Aku ndak pernah berpikir akan senekat itu mengancam istri Mas Dodit." Gugat Yola tak ingin nantinya ia yang akan disalahkan atas kejadian ini.
__ADS_1
"Aku sayang kamu dek..." Kelit sosok itu.
"Haduh! Ini yang ada Mas Dodit malah akan semakin membenci aku." Yola menggigit kuku jarinya. Sebuah kebiasaan yang ia lakukan jika dalam kondisi tertekan terlebih dalam situasi ini dirinya lah pusat penyebab kejadian.
"Mas..." Kembali sosok itu ingin mencari pembenaran atas sikapnya.
"Aku ndak mau sendirian menghadapi kemarahan Mas Dodit nanti." Ucap Yola tak ingin mendengar alasan apapun yang ingin disampaikan oleh sosok tersebut karena hanya akan berupa kalimat yang akan membuat dirinya semakin ingin bertindak jahat.
"Mas hanya ingin kamu tahu dek kalau Mas akan selalu berada di pihak mu kalau nanti Dodit bertindak kasar setelah kejadian ini." Ucap sosok itu lalu menutup pintu kamar Yola.
Setelah pintu kamarnya tertutup Yola menangisi kondisinya. Ya seharusnya ia tahu kalau akan ada orang yang sengaja memanfaatkan airmata dan kesedihannya untuk membalas perbuatan Dodit. Tidak, Mas Dodit nya tidak bersalah dalam hal ini karena memang sejak dulu hubungan mereka hanya sebatas adik dan kakak sepupu saja.
Satu jam kemudian
Yola mendengar deru suara mobil yang ia yakini adalah mobil milik Dodit. Lalu Yola memperbaiki penampilannya agar tidak terlihat kacau di mata Dodit, sosok kakak sepupu kesayangannya.
"Mas Do..." Yola ingin menghambur ke dalam pelukan Dodit seperti biasanya kalau ia baru pulang ke rumah namun langkahnya terkunci ketika melihat murka seorang Dodit.
"Jaga sikap mu, dek! Aku pria beristri yang harus selalu menjaga perasaan istriku." Dodit menatap tajam ke arah Yola.
"Mas..." Yola ingin kembali mendekati Dodit.
"Mas yakin sebelum nya kamu pasti sudah tahu kejadian apa yang terjadi barusan di butik." Tebak Dodit tepat sasaran.
"Bukan aku pelakunya, mas. Hiks hiks hiks..." Yola mulai menangis bersedih karena sosok yang biasanya bicara lemah lembut kepadanya kini berubah menjadi kasar.
"Ya bukan kamu pelakunya, tetapi kamu pemicunya." Ucap Dodit telak dan tak terbantahkan ucapannya dengan argumentasi apapun.
"Ada apa ini malam-malam malah bikin ribut?" Tegur Pandu, anak pertama Bambang.
Satu persatu anggota keluarga Eyang Soeroso pun turun ingin mengetahui apa penyebab keributan di malam ini.
__ADS_1
"Riyadi, kamu jelaskan semuanya. Aku capek dan malas dengan drama keluarga ini." Ketus Dodit memberi perintah dan langsung menarik lembut tangan Dina menuju kamar tidur mereka.