Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Ada yang kangen


__ADS_3

Seminggu setelah kepergian Dina yang mengantarkan babeh Rojali dan Jaka pulang ke Jakarta konsentrasi Dodit dalam bekerja menjadi buyar. Hal ini membuat Andri kesal mengingat pekerjaan mereka sebagai partner bos besar dan asisten pribadi yang menguras pikiran dan tenaga dalam mengelola anak perusahaan yang rumit nya luar biasa, belum lagi resiko akan keselamatan nyawa mereka yang sewaktu waktu bisa terancam


"Dit, loe kenapa sih? rencana kita bisa kacau nih kalo loe gak fokus!" Bentak Andri sambil tangannya mencoba merenggangkan dasi nya yang mendadak membuatnya merasa tercekik.


"Sorry, bro." Ucap Dodit sambil melirik asistennya itu tanpa semangat sedikitpun.


"Ngopi dulu dah loe biar bisa bener kerjanya." Saran Andri sembari menyodorkan kembali secangkir kopi latte kesukaan Dodit.


"Dina lagi apa ya?" Gumam Dodit tanpa menghiraukan saran Andri sama sekali.


"Hah? Jan bilang loe kangen sama bini." Tebak Andri tepat sasaran dengan senyum miring nya.


"Iya, udah tiga hari ini bini gue gak ngasih kabar. Gue telepon babeh atau si Jaka dulu baru gue bisa ngomong sama bini gue. Huft..." Dodit menghembuskan nafasnya kasar dengan tangan mengetukkan jemarinya ke meja.


"Wah, nyerah gue kalo ada orang yang lagi kena virus rindu. Bahaya bisa infeksi kemana-mana." Andri mengangkat kedua tangannya keatas tanda menyerah.


"Menurut loe gue harus gimana?" nada suara Dodit terdengar lirih.


"Mm, emang kapan katanya bini loe balik pulang kesini?" Tanya Andri bak guru BK yang ingin mengurangi masalah pada siswa nackal yang kini terserang mala rindu ini.


"Hmm, dia bilang masih mau ngurusin babehnya yang sakit disana." Dodit menaruh dagu nya ke meja.


"Hahaha... cinta loe bertepuk sebelah tangan dong?" Andri puas melihat wajah mengenaskan Dodit.


"Cinta?" Ulang Dodit.


"Iya cinta loe sama bini loe udah di ubun-ubun tapi dia malah cuek." Ucap Andri.


"Kangen mau bercinta sih iya..." Aku Dodit.


Ucapan Dodit langsung mendapatkan toyoran di kepala dari Andri. "Gila," Komentar Andri.


"Pusing asli kepala gue mikirin bini." Desah Dodit.


"Kepala atas apa kepala bawah nih yang pusing?" Seloroh Andri dengan lirikan sinis.


Sekian tahun dirinya mengenal sosok yang kini mengangkat dirinya menjadi asisten pribadinya ini tak pernah terlihat sekalipun Dodit tampak kusut seperti ini ditinggalkan oleh seorang perempuan mana pun. Bahkan sosok Rosa yang konon katanya telah lama menghuni hatinya Dodit bahkan merelakan begitu saja ketika mengetahui Samudra lebih dalam mencintai Rosa.


Mulut loe bisa aja tebar rayuan maut ke cewek mana aja tapi baru sekarang gue lihat loe depresi ditinggalkan cewek eh bini loe. Andri mengulum senyumnya menyadari bahwa sahabatnya telah jatuh cinta pada istrinya karena selama ini Andri mengira pernikahan mereka yang tak dilandasi oleh cinta akan berakhir singkat tanpa meninggalkan rasa satu sama lain.


"Ck, Kasin nasib si Dina sama kek microwave... cuman di anggap penghangat sama elo." Pancing Andri ingin melihat banteng ngamuk.


"Bang Caaad!" Umpat Dodit.

__ADS_1


"Jan kek lagu dangdut nya Pak Haji Oma deh... kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berarti..." Andri malah terkenang lirik salah satu lagu dangdut yang biasa ia dengar dengan berdendang bak artis terkenal. Hal konyol yang tak pernah Andri lakukan seumur hidupnya. Kapan lagi bisa puas ngeladenin suami galau.


"Iya paling enggak dia kan gak harus ngilang gak kasih kabar dari hape dia sendiri." Dengus Dodit bak anak perawan yang di ghosting kekasihnya saat lagi sayang sayang nya.


"Bee, kamu lagi ngapain sih?" Tanya Dodit ketika melihat foto Dina di layar ponselnya.


"Oke. Gue nyerah kalau gini. Hari ini aja ya gue mau handle sementara pekerjaan loe tapi nanti siang meeting sama klien jangan ampe lupa." Andri memilih pergi meninggalkan ruangan kerja si Busuami galau.


Djakarta


Di serambi rumah berukuran minimalis namun terasa teduh bagi penghuninya tampak seorang perempuan sedang meminum segelas air perasan jeruk lemon dingin.


"Loe masih mual?" Tanya Rojali.


"Mm, Alhamdulillah udah enakan sekarang, Beh." Jawab Dina.


"Sebenarnya loe sakit apaan sih?" Selidik Rojali.


"Mpok mah sakit rindu itu, Beh." Sahut Jaka yang tiba-tiba muncul di antara babeh dan Mpok nya.


"Sotoy." Dina menoyor kepala Jaka.


"Et deh, Mpok Jan kek gini apa? tiap tahun babeh fitrah in nih." Protes Jaka sambil berakting sakit di bagian kepalanya.


"Hehehe... Mpok ngapa dah? pucet gitu?" Jaka memperhatikan wajah Dina yang terlihat lesu dan pucat.


"Tahu tuh bocah dari tadi muntah mulu." Adu Rojali mengingatkan kejadian tadi ketika Dina muntah di kamar mandi.


"Nyang bener? ayo dah aye anterin ke klinik tong tong biar tau Mpok sakit apaan." Jaka berusaha menarik tangan Dina yang tak bergeming.


"Ih, Mpok sehat gini loe kata apa sih? santai aja dah." Dina menolak di ajak ke klinik tong tong.


"Wah, kalo begini mah obat nya emang cuman mas Dodit seorang." Ledek Jaka sambil menarik turunkan alisnya.


"Haduuuhhh, males gue denger loe lebay." Sahut Dina.


"Aye telepon dah Kakanda Dodit nya Mpok Dina." Jaka berlagak mengambil ponselnya.


"Ogah ah gue sama loe tukang ngadu!" Sungut Dina sebal.


"Wajar aja lah Mpok kalo kangen juga mah sah-sah bae namanya sama misua." Jaka menanggapi.


"Awas aje loe berani telepon dia bakalan gue pecat jadi Ade!" Ancam Dina sambil menatap sangar ke arah adiknya.

__ADS_1


"Duileh, anak babeh lagi ngapa sah sama lakinya? Dodit itu pasti bakalan jemput loe dimari kalo urusan nya udah kelar." Komentar Rojali setelah sejak tadi hanya menjadi pendengar keributan kecil antara kedua anaknya.


"Kagak ngapa-ngapa Beh... aye cuman males aje kalo di ajak balik kesana, enakan dimari..." Jujur Dina.


"Anak perawan babeh sekarang pan udah gak bisa selamanya dimari. Inget, dosa loe biarin laki sendirian disana." Nasihat Rojali.


"Dia gak sendirian Beh..." Bantah Dina cepat.


"Jan ngeyel ngapa Mpok." Sela Jaka tanpa di minta.


"Nyamber aje loe kang bensin." Sembur Dina kepada Jaka.


"Kebakaran dong kalo deket kang bensin soalnya Mpok panas mulu bawaannya." Jaka memilih masuk ke dalam rumahnya dan membiarkan Rojali menasehati Mpok nya.


"Ayo ngaku sama babeh loe ada masalah apaan sama laki loe?" Cecar Rojali begitu melihat mereka hanya berdua saja.


"Kagak ada apa-apaan babeh... emang salah apa kalo aye milih mau selamanya dimari." Dina tertunduk dengan mata yang merembang menahan tangis.


"Huh, sabar dah sabar... loe kok sensi banget sekarang? coba dah cek sana loe ke klinik tong tong sama si Jaka." Rojali mengkhawatirkan kondisi kesehatan Dina.


"Au ah, males aye emang udah gak diharapkan lagi ada di rumah ini." Dina bangkit dari posisinya duduk lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci dirinya.


"Mpok!" Panggil Jaka yang cemas melihat Dina yang malah ngambek.


"Kagak usah pada sok peduli sama gue! Kalo emang gue dimari kagak boleh tinggal lagi ntar aye bakalan pergi." Pekik Dina yang memilih mengambil posisi merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Waduh! bahaya dah." Jaka menepuk dahinya.


Dina yang kini dalam kondisi emosi tidak stabil itu memilih untuk meringkuk danmemejamkan kedua matanya hingga tak lama terdengar suara dengkuran halus darinya.


Cukup lama ia tertidur sehingga tak menyadari adanya sosok yang menatap dirinya sambil sesekali memainkan rambutnya.


"Bee... kangeeeennn..." Dodit semakin merapatkan pelukannya sambil tangannya mengelus lembut perut datar istrinya.


"Hngh, lagi tidur aja bisa ada suaranya tuh orang." Gumam Dina dengan mata terpejam.


"Hehehe... kangen juga ternyata... kasih kabar dong kalo kangen." Ucap Dodit sambil menciumi wajah istrinya itu hingga terbangun.


"Aaarrrgghhh... ada set an..." Teriak Dina sambil mendorong keras Dodit begitu ia melihat sosok yang sudah beberapa hari ini mengganggu tidur nyenyak nya.


"Astaghfirullah aladzim... laki sendiri di kata set an." Decak Dodit kesal.


"Hahaha... Mpok, itu set an pengisi mimpi indah Mpok tiap malam." Teriak sang tersangka utama kedatangan suami galau dari arah luar kamar.

__ADS_1


__ADS_2