
Perempuan akan melipatgandakan apa yang saja yang kamu berikan
Kamu memberinya setetes air mani, dia akan memberi mu bayi
Kamu memberinya bangunan, dia akan memberi mu rumah tangga
Kamu memberikan nya belanjaan, dia akan memberi mu makanan
Jika kamu memberinya senyuman, dia akan memberi mu hatinya
~ Dina yang kembali potek hatinya ~
Asap tembakau yang memenuhi ruangan kamar itu tak pernah putus semenjak penghuninya terbangun dari tidur tak lelapnya. Puluhan puntung rokok berserakan lantaran asbak yang seharusnya menampung semua itu telah terisi penuh. Setiap hembusan asap yang Andri keluarkan ia berharap akan membuat semua rasa sakitnya menghilang, namun sepertinya hal itu tidak sesuai keinginannya.
Menurut Andri patah hati sangat menyeramkan. Sakitnya seperti ada yang meremas paru-parunya. Membuatnya sulit tidur, tidak enak makan dan ingin mati saja. Setiap hari akan dihantui pertanyaan tentang kenapa harus dia yang mengalaminya? Kenapa harus Siska yang mematahkan hatinya? Rasanya semesta sangat tidak adil kepadanya. Kesalahan apa yang dia perbuat hingga semua itu harus ditanggungnya?
Andri juga sengaja mengabaikan semua panggilan telepon dari siapapun kecuali untuk ibu dan adiknya. Ya, hanya alasan itulah yang membuatnya tetap mengaktifkan benda pipih tersebut.
Tring
Notifikasi chat di ponselnya berbunyi
Sekilas Andri melirik ponselnya tampak dari pop instan layarnya terbaca ada pesan masuk dari sahabatnya, Dodit.
Bro, bisa ganggu waktunya bentar? Urgent
Sebagai alumni jomblo yang berpengalaman dan terhitung lama bisa move on tentu saja Dodit bisa memahami bagaimana perasaan Andri saat ini sehingga ia tidak mau terlalu memaksakan Andri untuk berbicara dengannya jika saja tidak ada perkara penting yang membuatnya terpaksa mengganggu waktu hibernasi sang jomblo baru.
Cukup lama Andri menimbang akan merespon chat dari sahabatnya itu. Tempo hari saja tanpa mengirim chat seperti itu Dodit sedang dalam bahaya maka ia juga khawatir hal yang sama akan menimpa sahabatnya itu.
"Hm," Suara Andri merespon panggilan telepon yang masuk dari Dodit.
"Masya Allah, Dri, gue tadi ngucapin salam cuman di jawab hm? Patah hati Jan lama-lama, buruan tuh berobat ke klinik dokter cinta biar gak infeksi tuh luka patah hati berkepanjangan." Cerocos Dodit sengaja ingin memancing reaksi Andri.
"Bang Caaad." Maki Andri.
"Hahaha.... bagus deh kalo loe respon berarti otak loe masih utuh, gue butuh banget otak loe sekarang nih." Ucap Dodit.
"Ck," Decak Andri yang sedikit terpantik emosinya.
__ADS_1
"Sorry bro, gue juga bisa aja sih minta tolong sama anak buah Eyang gue tapi gue ngeri bocor dan gagal semua rencana gue." Ungkap Dodit.
"Ada apaan?" Andri mulai tertarik dengan arah pembicaraan yang diucapkan oleh Dodit.
"Loe masih bisa meretas cctv, kan?" Tanya Dodit.
"Ya." Sahut Andri.
"Good. Gue bakalan kirim alamat perusahaan sama pabrik disini biar loe bisa retas tuh cctv nya." Ucap Dodit.
"Ini buat apaan?" Andri semakin tertarik mengikuti keinginan Dodit.
"Hmm, loe mau join sama gue gak? Gue kagak bakalan repot jodohin loe sana sini karena gue ngerasain yang loe butuhin saat ini tuh kesibukan yang menghasilkan duit." Dodit memberikan penawaran.
Andri terdiam mendengar ucapan Dodit yang memang benar adanya. Sudah tiga minggu ini dia telah menerima surat cinta dari perusahaan tempatnya bekerja bahwa dirinya sudah tidak menjadi bagian dari perusahaan itu, alias di pecat.
Ya, efek patah hati salah satunya adalah membuat kinerjanya bukan hanya menurun tetapi juga sama sekali melalaikan kewajiban nya padahal sudah ada himbauan untuk wfh sehingga ia dapat melakukan pekerjaannya dari rumah.
"Bro, loe masih dengerin gue?" Dodit ingin memastikan kalau sahabatnya itu masih mendengarkan pembicaraan nya.
"Loe yakin?" Andri bertanya.
"Maksud loe?" Andri penasaran karena memang tak pernah tahu bagaimana sahabatnya itu bisa menikah dalam waktu singkat.
"Jadi tempo hari nih waktu gue mau ambil duit setoran roti kangen mantan di kantin rumah sakit tuh gak sengaja liat si Kunti." Dodit memulai bertutur mengenai kisah percintaannya.
"Kunti?" Andri bingung.
"Hehehe... iya itu panggilan Rosa buat bini gue, Dina." Dodit terkekeh geli.
"Gila!" Komentar Andri.
"Loe mau dengar cerita lanjutannya gak nih?" Pancing Dodit.
"Ini beneran apa rekayasa?" Andri curiga.
"Beneran lah gila. Jadi waktu itu gue kepo itu Kunti mau ngapain kan ke rumah sakit. Nah, giliran gue mau masuk baru nyadar ngapain gue ikutin dia. Hehehe." Dodit terjeda menahan tawa.
"Be go." Andri mulai tersenyum mendengar cerita konyol sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iya terus pas gue mau balik eh ada langganan roti gue lihat gue dan terciduk lah gue lagi buntutin si Kunti. Mati dah gue langsung di dorong masuk. Parahnya gue masuk pas si Kunti lagi di tanyain masalah calon suaminya. Hehehe." Dodit kembali tertawa.
"Mam pus loe!" Umpat Andri.
"Gi la gue langsung pingsan bro waktu di minta nikah sama dia. Hahaha." Dodit menertawakan cerita bodohnya.
"Pingsan?" Ulang Andri tak menyangka akan respon sahabatnya itu.
"Ya iya lah siapa juga yang mau di paksa kawin sama Kunti pula lagi." Curhat Dodit.
"Kunta Kunti loe panggil bini sendiri." Cerca Andri.
"Bee, gue panggil dia sekarang bee." Dodit menjelaskan.
"Mulai bucin." Sinis Andri.
"Enak bro, kawin tiap malam jadi panas. Hahaha." Dodit mengompori Andri.
"Set an!" Umpat Andri lagi.
Dodit meneruskan ceritanya itu tanpa mengetahui akan kehadiran istrinya yang sejak tadi terperanjat mendengar pengakuan suaminya yang bercerita mungkin dengan salah satu sahabatnya mantan jomblo dan suaminya terlihat begitu bahagia menyebutkan namanya Kunti, bahkan nama itu pemberian dari sang mantan, Rosa yang Dina yakin benar masih melekat dihatinya. Airmata Dina pun luruh dan ia terisak di pojokan menuju pintu ruangan kerja suaminya itu.
Niat awalnya yang ingin mengantarkan makan siang untuk suaminya ternyata berujung pengakuan cerita yang membuat hatinya kembali terguncang. Ah, ternyata setelah dua bulan menikah pun hati suaminya tak sedikitpun menyimpan rasa untuk nya. Ternyata kehadirannya dalam kehidupan sang suami tak lebih dari penghangat malam nya saja.
Baiknya berita baik ini tidak usah diberitahu saja. Dina mengambil kesimpulan.
Perlahan Dina menuju kamar mandi yang berada di luar sekretaris pribadi suaminya itu yang tadi memang telah pamit hendak turun ke lantai satu untuk mengambil berkas sehingga Dina tidak merasa canggung terlihat buruk dengan wajah bengkak nya setelah menangis.
Wajahnya ia basuh sambik merapalkan kalimat semua sudah berjalan dengan seharusnya, no love just a partner se ks.
Sementara itu Dodit yang mengetahui keberadaan istrinya melalui sekretaris pribadinya yang telah kembali ke ruangan nya sibuk mencari sosok istrinya.
"Bee..." Panggil Dodit.
Calm down, Dina. Let's start our drama. Dina memberikan kalimat yang bisa membuat sugesti positif bagi dirinya.
"I'm here." Ucap Dina sambil menyunggingkan senyumnya.
Seulas senyuman yang tak lagi tulus dari dalam hati yang terlanjur koyak berkali-kali mendapatkan kenyataan bahwa kepingan hatinya tidak bersatu dengan suaminya. Ya, kini Dina menguatkan hatinya seraya mengakui hubungan mereka hanya dua orang suami istri rasa musuh sama seperti saat SMA dulu. Hm, my husband is my enemy. Ah, apa dirinya sanggup membenci suaminya? Dina menahan rasa sesak itu sendirian.
__ADS_1
Mari kita tidak saling jatuh cinta, suamiku. Ucap Dina dalam hati sambil memandang suaminya itu.