Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Melihat Kunti


__ADS_3

Dodit melajukan mobil inventaris mantan jomblo dengan kecepatan sedang. Kemacetan jalan raya di hari libur seperti ini membuatnya harus benar-benar menahan sabar karena sejak tadi ada saja pengemudi yang salip menyalip jodoh eh kendaraan di jalan.


Tujuan nya kali ini adalah mendatangi kantin rumah sakit yang menjadi salah satu tempatnya menitipkan roti kangen mantan. Ia juga sekaligus akan berpamitan kepada semua pemilik warung atau kantin baik hati yang beberapa bulan ini membantunya dalam memasarkan roti kangen mantan.


Empat puluh menit kemudian barulah ia tiba di sebuah rumah sakit swasta. Setelah memarkirkan mobilnya, Dodit berjalan ke arah kantin. Meri tampak senang menyambut kedatangan Dodit yang memang terkenal ramah.


"Waduh, mas Dodit kok lama banget sih nyampe nya? Hampir aja saya mau tutup nih," sapa Bu Meri si Ibu kantin.


"Biasa Bu pacaran dulu sama trotoar jadi lama," seloroh Dodit.


"Ck, kasian yo kelamaan jomblo," ucap Meri prihatin.


"Hahaha... Ibu punya anak cewek gak bakal calon saya?" Dodit menggoda Meri.


"Walah, anak saya masih enam tahun jadi gak mungkin," jawab Meri.


"Potek hati saya, Bu." Dodit bergaya lebay memegangi dadanya.


"Coba sana cari di dalam siapa tahu dokter atau perawat nya masih ada yang jomblo juga." Meri memberi saran.


"Berat Bu, mereka beda kasta sama kang roti kek saya." Dodi merendah.


"Gak gitu lah kalau sudah saling cinta ya menerima apa adanya." Meri membesarkan hati Dodit.


"Hahaha... Kenyataannya perempuan itu pasti menilai adanya apa?" Dodit tergelak tawa, menutupi kenyataan bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh Rosa karena tidak mapan.


"Emang sebelumnya Mas Dodit patah hati karena di tolak lantaran ceweknya cuma lihat adanya apa?" Meri menaikkan alisnya. Ia keberatan dengan kesimpulan Dodit mengingat dirinya mendampingi sang suami berjuang sejak nol hingga kini menjadi karyawan rumah sakit ini.

__ADS_1


"Ampun Bu Mer. Peace." Dodit mengacungkan kedua jarinya ke atas.


"Omongan itu doa, Mas jadi jangan suka sembarangan kalau ngomong." Meri masih menyisakan rasa kesal.


"Siyap Bu Mer." Dodit mengangkat tangannya lalu mengambil sikap hormat kepada Bu Meri.


"Alhamdulillah rotinya semua laris manis seperti biasanya." Meri mengangsurkan lembaran kertas berwarna merah, biru dan hijau kepada Dodit.


"Eh iya kok enggak bawa roti yang baru nya?" Meri celingukan mencari kotak roti yang biasa di bawa Dodit.


"Oh iya Bu, maaf saya mau pulang kampung jadi enggak nitip roti dulu." Dodit memberi tahu.


"Mau dikawinin ya Mas Dodit?" tebak Meri asal.


"Hahaha... emang saya anak perawan apa ampe di paksa kawin segala." Dodit menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan ucapan Meri.


"Gak tahu Bu gimana kondisinya aja nanti." Dodit tak bisa memberikan kepastian.


"Jangan kelamaan nanti keburu ada orang lain yang isi roti disini." Meri mengingatkan.


"Rejeki gak akan tertukar Bu." Dodit pasrah.


"Makannya kalau urusan di kampung udah beres langsung balik kesini ya?" pinta Meri.


"Insya Allah Bu soalnya agak ngeri juga virus impor mulai kedengaran di tipi, santer banget." Dodit bergidik ngeri.


"Woah, iya saya juga jadi takut enggak berani ajak anak saya kesini," ungkap Meri.

__ADS_1


"Semoga kondisi lekas membaik aja ya," harap Dodit.


"Aamiin." Meri mengaminkan.


"Saya pamit dulu ya Bu Mer." Dodit bangkit dari posisinya di bangku kantin untuk berpamitan dari kantin.


"Ini tempat rotinya gimana?" tanya Meri.


"Saya bawa dulu ya Bu sekalian dibersihkan biar kinclong." Dodit mengambil tempat roti miliknya dari tangan Meri.


"Duh, tempat roti aja di bikin kinclong apalagi istrinya nanti," gurau Meri.


"Eits, bukan main, bakalan kepleset semut lewat pokoknya mah." Dodit sesumbar.


Dodit melirik sekilas arlojinya lalu meninggalkan kantin menuju ke arah parkiran mobil. Matanya membola melihat sosok yang ia kenal dulu dengan tampilan yang sangat berbeda.


Mau kemana itu si Kunti? Dodit tanpa sadar kakinya tergerak mengikuti langkah kaki sosok yang ia sebut Kunti.


******


Dodit: Ngapain coba loe bikin gue buntutin si Kunti?


Author: Emang loe beneran gak penasaran?


Dodit: Lo jawab aja gosah bikin pertanyaan buat jawab pertanyaan gue.


Author: Nah, loe kenapa jadi muter gitu ngomongnya?

__ADS_1


Dodit: Dih


__ADS_2