
Dodit sebenarnya merasa adanya perbedaan sikap yang sangat kentara dari istrinya yang terlihat lebih murung setiap kali ia terlihat terdiam. Senyumnya pun hanya sekadar formalitas saja tanpa ada canda tawa nan ceria seperti biasanya.
Ah, apa Eyang Soeroso sudah...
"Maaf mengganggu tuan muda, saat ini Nyonya Hani sedang dalam perjalanan menuju rumah tuan muda. Saya dapat laporan dari bodyguard pengawalnya." Riyadi membungkukkan badannya lalu memberikan informasi.
"Oke, aku pulang nyambut ibu di rumah." Dina merespon cepat dan berinisiatif untuk berdiri lalu bersiap pulang ke rumah.
"Bee... Mm, setengah jam lagi aku temani Eyang Soeroso meeting sama Mr. Hokkaido masalah proyek di..." Agak sungkan Dodit menjelaskan mengingat dirinya tidak bisa menemani istrinya pulang menyambut kedatangan ibu nya.
"Well, never mind. Bye." Dina melenggang pergi meninggalkan Dodit tanpa sedikitpun menoleh kepadanya atau sekadar mencium tangannya.
"Duh, kenapa sih bini gue bisa ampe lupa pamitan sama gue? Lho, itu kenapa kotak tamparware nya di bawa lagi? Gue kan belum makan." Dodit ingin menggaruk tembok rasanya meratapi kepergian istrinya yang sedang dalam mode aneh.
Meeting yang berjalan di sebuah ruangan khusus itu berjalan lancar dan hampir separuh meeting itu Dodit melirik ponselnya, berharap sang istri akan mengabarkan bahwa dirinya sudah tiba di rumah atau sekadar berbasa-basi seperti hal yang biasa istrinya itu lakukan.
Pemandangan itu tidak luput dari perhatian mata pria berusia senja di depannya, Eyang Soeroso. Hm, untunglah Mr. Hokkaido tidak terlalu sulit untuk membuka jaringan komunikasi nya sehingga beberapa kesepakatan akhirnya di setujui oleh kedua belah pihak.
"Eyang, tunggu." Pinta Dodit begitu meeting telah selesai dan pihak dari Mr. Hokkaido sudah meninggalkan ruangan meeting.
"Apa ada cucuku?" Tanya Eyang Soeroso.
"Bisa kita bicara sebentar? Ada hal yang ingin saya bicarakan sama Eyang." Dodit tak bisa lagi menahan kegundahannya.
"Slamet." Eyang Soeroso melalui lirikan matanya secara otomatis meminta semua bodyguard yang mendampingi dirinya serta cucunya agar meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu.
"Kita sudah berdua, ada hal apa yang ingin kamu bicarakan?" Eyang Soeroso langsung bertanya.
"Mm, maaf sebelumnya kalau saya lancang tetapi apa Eyang sudah menemui istri saya..." Dodit kini malah bingung memulai pembicaraan.
"Untuk apa Eyang menemui istri mu?" Eyang Soeroso sengaja ingin memancing reaksi cucunya.
"Tempo hari Eyang memberikan waktu satu bulan kepada saya untuk membuktikan bahwa istri saya layak atau tidak mendampingi saya, jadi..." Dodit mencoba mengurai maksud pembicaraannya.
"Jadi..." Eyang Soeroso menarik sudut bibirnya melihat keresahan cucunya itu.
__ADS_1
"Eyang, istri saya memang bukan perempuan sempurna karena itu dia hanya pantas untuk menjadi istri saya, orang yang juga tidak sempurna." Dodit ingin membela sosok istrinya itu.
"Kenapa kamu berputar seperti itu pembicaraannya? Memang nya sudah Eyang apakan istri mu itu?" Eyang Soeroso sudah tidak bisa menahan geli melihat ekspresi gugup cucunya.
"Eyang... Istri saya tadi mendadak berubah jadi pendiam..." Dodit akhirnya mengutarakan kegundahannya.
"Hahaha... Istrimu yang mendadak menjadi pendiam lalu kenapa harus tanya ke Eyang?" Suara tawa Eyang Soeroso pecah.
"Eyang..." Dodit memelas.
"Eyang belum bertindak apapun terhadap hubungan kalian... atau kamu ingin sekarang Eyang mulai bertindak?" Skak Eyang Soeroso.
"Apa Eyang tidak berbohong?" Dodit meragukan kejujuran Eyang Soeroso.
"Wah, kenapa sekarang jadi berani kamu anggap Eyang mu ini berbohong? Ajak bicara baik-baik istri mu agar mau mengaku alasannya bisa seperti itu bukan malah menuduh Eyang mu ini berbohong." Eyang Soeroso membuang muka.
"Mohon ampun, Eyang." Dodit mencium punggung tangan Eyang Soeroso.
"Jangan lupa pulang nanti kamu bawa bunga mawar putih sebagai tanda permintaan maaf." Eyang Soeroso memberikan saran.
"Inggih, Eyang." Dodit mengiyakan saran dari Eyang Soeroso.
Bagi Eyang Soeroso memiliki cucu menantu seperti Dina memang bukanlah pilihan terbaik untuk dijadikan istri bagi seseorang yang setiap saat dalam situasi seperti cucunya. Namun berdasarkan semua laporan dari bodyguard yang selama bertahun-tahun mengawasi cucunya itu lah Eyang Soeroso mengetahui bahwa diam-diam Dodit memang telah dekat dengan Dina sejak awal orientasi masuk SMA. Sikap Dina yang cenderung kasar dan kepala batu itu ia perlihatkan setelah ia merasa terobsesi untuk memiliki Jodi sehingga membuat Dodit kesal dan malah menemukan kenyamanan saat dekat dengan Rosa dan berlanjut lama.
Semoga cucu dan cucu menantu ku lebih beruntung kisah percintaannya daripada kita, Tanti. Eyang Soeroso terkenang istrinya yang telah berpulang itu.
Sementara itu
"Bu, apa harus saya yang menemani ibu mengurusi yayasan milik keluarga Eyang Soeroso? Saya merasa tidak pantas berada dalam keluarga Eyang Soeroso." Dina merasa enggan untuk menuruti keinginan mertuanya yang mengajak dirinya menghadiri acara di salah satu yayasan amal keluarga Eyang Soeroso.
"Kamu tenang saja, dulu ibu juga punya pemikiran sama seperti kamu tapi kamu tahu toh bagaimana kalau Eyang Soeroso sudah memutuskan sesuatu itu ndak bisa di gugat." Terang Hani.
"Iya tapi kan ibu bisa bantu saya untuk ngomong sama Eyang..." Dina menggigit bibirnya.
"Hm, coba kamu minta tolong sama suami kamu saja. Eyang Soeroso itu terkenal paling sayang sama bapak dan Dodit." Hani memberikan solusi jitu.
__ADS_1
Duh, malas deh ah kalau harus minta tolong sama orang gak punya hati kek makhluk belok itu. Gumam Dina dalam hati.
"Nduk, acara charity ini diadakan setahun sekali di yayasan milik Eyang Soeroso. Dodit kan sekarang sudah kembali ke dalam keluarga kita jadi otomatis kamu sebagai istrinya juga harus bisa menerima semua hal penyerta saat kamu menjadi istri Dodit." Hani memberikan pengertian panjang lebar.
"Bu..." Dina masih ingin terus menolak ajakan Hani.
"Maaf kalau memang menjadi istri Dodit membuat mu terbebani karena sebagai istri kita harus di tuntut menjaga nama baik suami dan salah satunya adalah dengan cara mengikuti kegiatan ini." Hani mengusap lembut bahu menantunya.
Sikap Hani yang seperti ini membuat Dina menangis karena teringat kasih sayang Mama sambung nya yang sangat tulus menyayangi dirinya.
Dengan berat hati Dina pun mengikuti semua kegiatan yayasan amal yang menurutnya sangat menyenangkan jika saja tidak disertai tatapan sinis dan kepongahan Eyang putri dalam acara tersebut.
"Susah memang kalau dari orang biasa sok ikut acara seperti ini jadi tidak berkelas acaranya." Ketus Ambar.
"Sabar, nduk." Ucap Hani setengah berbisik untuk menenangkan hati menantunya itu.
"Dodit juga ngeyel sih kenapa coba dia nolak nikah sama Yola yang sudah jelas bebet bibit bobot nya." Ambar melirik Dina dengan tatapan merendahkan.
"Buk, ini acara besar jadi hal seperti ini Ndak pantas dibicarakan di tempat umum." Hani menasehati.
"Ada hak apa kamu bicara seperti itu?! Hm, memang mertua sama menantu kalau berasal dari tempat yang sama jadi saling membela." Maki Ambar yang kini mencerca Hani.
"Maaf Eyang putri, sebaiknya kita duduk disana saja yang lebih teduh." Ajak Yola tak ingin mendengar keributan lebih lama.
"Dimana? Ya sudah hayuk kita kesana karena disini panas dan sumpek." Ambar mengikuti langkah kaki Yola menuju tempat duduk VIP.
"Haduh, maaf ya nduk. Ibuk kira Eyang putri ke kamu ramah karena pertama kali kamu datang itu Eyang putri baik..." Hani merasa bersalah telah memaksa Dina untuk datang ke acara ini.
"Iya, buk enggak apa-apa." Dina tak ingin membebani pikiran mertuanya.
"Kita duduk dimana ya?" Hani kebingungan mencari posisi duduk yang nyaman.
"Kalau duduk di tempat duduk yang bukan VIP gimana? saya mau lebih nyaman saja." Dina mengajukan saran.
"Oh, iya kita duduk di sebelah kanan saja kalau begitu." Hani menggenggam tangan menantunya.
__ADS_1
Acara charity dimulai dengan lelang lukisan buatan seorang siswa penyandang tuna daksa sehingga ia melukis menggunakan kaki.
"Kenapa kamu duduk disini?" Tanya Eyang Soeroso tiba-tiba.