
Tangan Dodit dengan lembut mengusap rambut Dina, ia kaitkan rambut itu ke telinga. Dina menunduk malu. Tak lama kecupan hangat menyentuh kening. Geli, Dina tertawa pelan. Ia pegang lengan Dodit. Pria itu semakin maju dengan mendekap Dina. Tangannya masih sibuk memainkan rambut Dina.
"Saaakiiit." Bisik Dina sambil menatap suaminya.
"Iya enggak apa-apa katanya memang sakit kalau untuk yang pertama kali." Bisik nya lagi di telinga, waktu terasa berjalan melambat.
Sungguh Dodit tidak pernah menyangka kalau dunianya akan di jungkir balik kan oleh sosok yang sedang ia peluk saat ini. Ada rasa nyaman dan kehangatan yang menggelegak memenuhi rongga jiwanya. Luntur semua rasa kesal dan kegundahan yang ia rasakan sebelum menemui istrinya.
"Dit..." Dina memanggil suaminya.
Bukannya menyahut panggilan istrinya itu tetapi Dodit malah mencium bibir istrinya. "Tiga huruf..." lalu bibir manis itu kembali menebal karena kesalahan tiga huruf.
"Uuuhhh, jelek deh nih bibir." Keluh Dina setelah bibirnya terbebas dari bibir suaminya.
"Panggil aja terus nama aku, bakalan aku makan terus bibir kamu." Goda Dodit.
"Iiih, doyan amat sih." Dina merengut sebal.
"Ngapain nikah kalau gak di rasain apa yang halal nya? Ini ibadah semua loh yang kita lakukan." Dodit sok berubah mode menjadi alim.
"Ibadah apaan, emang kamu udah sholat isya tadi? Untung aja tadi g... aku udahan." Dina hampir keceplosan lagi mengaku gue dan langsung tersadar melihat tatapan nackal suaminya.
"Aku tadi udah sholat isya di masjid pom bensin sama Pak supir. Bee, emang berat banget ya kamu panggil aku Beib? Jangan tunggu rem mobil blong dulu baru panggil aku Beib." Ucap Dodit mengingat pertama dan terakhir kalinya Dina memanggil Beib saat mereka dalam situasi menegangkan itu.
"Hm, berasa bucin ah panggil kek gitu." Dina menolak bucin kepada suaminya itu.
"Oh, jadi cuman mau bucin sama mantan aja tapi ke suami gak mau?" Protes Dodit yang langsung melepaskan pelukannya. Dodit membalikkan badannya lalu membelakangi istrinya.
__ADS_1
Ingatan nya langsung melayang membayangkan kala ia di paksa Jodi untuk menemaninya dulu untuk berkencan dengan Dina. Untung lah Jodi terlihat tidak begitu menyukai Dina sehingga Dodit tak ada alasan menyimpan bara dalam sekam kepada sahabat sekaligus mantan pacar istrinya itu.
"Mantan? siapa?" Seketika dahi Dina berkerut tiga tanda ia mencoba mengingat.
"Hmmm, muna ah kamu." Dodit ngambek.
"Hehehe... jangan sok pura-pura jealous deh... kamu tuh bucin akut sama penyanyi hits ibukota..." Dina menyindir balik Dodit tanpa menyebutkan langsung nama Rosa.
Aku yakin seratus persen sampai sekarang juga kamu masih bucin akut sama Rosa. Huh, setelah bercinta aja tadi gak pernah sekalipun kamu bilang cinta sama aku, Dit. Dina meringis dalam hati menyimpan semua kata-kata itu cukup dihatinya saja. Ah, iya kenapa kalau main drama harus sampai di kamar pun war?
"Bee, setelah semua hal yang kita berdua lewatin ini, aku bisa gak minta kamu untuk gak akan pernah ninggalin aku." Pinta Dodit yang membuyarkan lamunan Dina.
"Tuuuhhh kan... masih pura-pura bucin gitu sok ketakutan ditinggalkan oleh istrinya." Ledek Dina sengaja ia ucapkan karena masih berusaha membuat Dodit menyatakan cinta kepadanya.
"Aku serius, bee... misalnya nih aku nanti balik lagi jadi kang roti keliling, kamu masih mau kan hidup sama aku?" Dodit menatap penuh harap ke arah Dina.
"Emangnya kamu pikir aku apaan? babeh tuh juga cuman kang cendol dawet keliling kampung nyinyiran tetangga tapi aku bangga kok sama babeh." Dina memukuli Dodit.
"Beneran? masa sih? kayaknya SMA hobi kamu tuh traktir Genk kamu tuh si kembar sama siapa lagi tuh?" Dodit mengungkit kenangan masa sekolah mereka dimana Dina menjadi kepala Genk yang terdiri dari Sindi, Wina dan Wini. Ketenaran empat cewek sombong yang terkenal kasar dan sering melabrak siapapun yang di rasa lebih baik daripada mereka berempat.
"Sindi? Iya dulu kan yang tajir itu mama aku karena salon dan produk kecantikan nya sukses banget. Duh, jadi kangen mama, dia bukan Mama kandung tapi baiknya kebangetan." Dina berubah mode menjadi melow.
"Wah, aku kok gak paham..." Ucap Dodit terkejut mendengar penuturan kisah masa lalu istrinya.
"Iya jadi ah gak ngerti gimana ceritanya deh pokoknya Enyak aku tuh udah meninggal pas ngelahirin Jaka, jadi Mama yang asuh. Tapi semua keluarga Mama gak suka sama aku dan Jaka karena mereka tahu kita cuman anak tiri..." Mata Dina memerah mengingat kejadian itu.
"Maaf, bee... aku gak tahu..." Dodit merasa bersalah membuat istrinya bersedih.
__ADS_1
"Gak apa-apa kamu berhak tahu biar nanti kalo ada keluarga Mama aku sewaktu-waktu ketemu gak shock." Dina tertunduk.
Dodit kembali memeluk istrinya sambil mengusap lembut rambut nya. Jari jempol Dodit ia gunakan untuk menghapus air mata istrinya.
"Terus pas Mama meninggal semua harta Mama di ambil keluarga nya sampe ruko tempat babeh jualan cendol dawet juga di ambil paksa katanya babeh gak ada hak seperak pun atas harta Mama. Mereka juga bilang kalo seumur hidup Mama cuma ngabisin waktu gak jelas dengan ngasuh anak tirinya karena Mama gak bisa punya anak kandung... hiks hiks hiks..." Tangisan Dina meledak.
"Sssttt... mereka gak tahu gimana kebahagiaan Mama kamu makannya ngomong sembarangan kayak gitu." Dodit mencoba menghibur istrinya yang sedang menangis.
"Iya makanya aku lihat keluarga besar Eyang Soeroso kok sama kek keluarga Mama yang cuman ribut masalah harta bikin aku gak tega sama kamu..." Dina menyusut airmata nya.
"Huft, iya kok bisa samaan gini ya?" Dodit mengiyakan ucapan Dina.
"Aku pikir kayaknya lebih baik anak kita nanti jangan dibiarkan hidup dalam keadaan banyak uang deh biar gak shock mereka kayak aku dulu... keenakan nikmati duit Mama giliran Mama gak ada langsung terasing hidup ku." Pikiran Dina masih terkenang akan masa lalunya.
Dodit sekarang mengerti alasan mengapa istrinya ini semenjak lulus SMA seolah menghilang dari dunia kabar-kabari gosip alumni. Ya, kondisi keuangan yang memporak-porandakan kehidupan Dina sehingga membuatnya minder dan menjauh dari semua temannya.
"Bee... kamu mau kita cepat punya anak? nambah yuk?" Pancing Dodit.
"Mak maksudnya?" Dina gelagapan.
"Bee..." Dodit memanggil manja istrinya itu dengan tatapan yang sama saat ia mencurahkan hasrat dan gairah yang menggelora tadi.
"Sayang..." Ucapnya lagi sambil kembali menyentuh bibir mengalirkan energi listrik yang terasa sengatan nya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
*****
Part ini gak nyampe lebih dari serebu kata tapi berasa pegel beud ngetiknya 🤣
__ADS_1