Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Panik Jangan nih?


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya


Jaka yang panik mendengar pekik teriakan Dina yang tak biasanya dan bahkan mengancam akan pergi dari rumah berinisiatif menelepon kakak iparnya.


"Assalamualaikum, Mas Dodit." Jaka memberi salam setelah memastikan sambungan telepon nya telah di angkat oleh Dodit.


"Walaikum salam, Jason." Jawab Dodit sengaja menyebutkan nama kebanggaan Jaka, Jason.


"Mas, itu Mpok Dina..." Jaka menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Kenapa sama Dina? dia gak apa-apa kan? sekarang posisinya lagi dimana?" Kepanikan Jaka mendadak menular kepada sang penerima telepon, kakak iparnya.


"Mpok lagi ngambek gak jelas banget dah. Aye malah dengar tadi dia bilang mau pergi dari rumah ini karena kita di anggap gak pengen Mpok disini padahal tadi niatnya mau ingetin Mpok biar mau balik ke Jogja." Jaka menjelaskan panjang lebar.


"Kok bisa? emang gimana awal ceritanya? loe jangan bikin mas disini takut dong!" Dodit langsung spaneng.


"Duh, mendingan mas Dodit kesini aja deh pusing aye jelasinnya." Jaka langsung salah tingkah melihat kehadiran babeh Rojali disampingnya dengan tatapan matanya yang mengintimidasi.


"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Ucap Jaka menutup sambungan telepon.


Klik


PLAK


Bunyi suara babeh Rojali yang memukuli bahu putranya menggunakan peci hitam kesayangannya tanpa ampun.


"Beh, ampun Beh! aye cuman takut Mpok aye kenapa-napa di dalam kamar tadi dia bilang mau pergi kalo beneran gimana?" Jaka mengaduh dan menghindari pukulan babeh Rojali.


"Bocah pe a! loe kata Abang ipar loe disana kagak ada kerjaan apa maen loe suruh kesini aja?! Mpok loe mah kesel bentaran lagi juga bae." Sembur Rojali setelah nafasnya tersengal kelelahan memukuli Jaka dengan peci.


"Ya elaaahhh... babeh belain Abang ipar dibandingkan Mpok beneran kabur?" Jaka tak mau disalahkan atas sikapnya barusan.


"Pegang kata-kata gue itu Mpok loe pasti juga bangun seger lagi dia kagak bakalan ingat sama kelakuan nya sebelum tidur." Jelas Rojali.


"Ah, babeh sok tempe nih." Dengus Jaka.


"Gue babeh nya dari sebelom dia lahir jadi paham banget lah sama dia." Ucap Rojali.

__ADS_1


"Iya udah terlanjur juga aye suruh Abang ipar datang demi Mpok tercinta." Sahut Jaka enteng.


"Kelakuan loe emang! telepon lagi tuh Abang ipar loe biar gak usah kemari." Titah Rojali.


"Biarin aja Beh biar tahu seberapa besar perjuangan Abang ipar nyang tajir melintir." Ucap Jaka.


"Pusing kepala gue ngomong sama loe kagak ada gunanya." Ucap Rojali yang berlalu dari hadapan anaknya sambil tetap berusaha menghubungi menantunya.


Sayangnya Dodit sedang kalang kabut menyiapkan dirinya untuk berangkat ke rumah mertuanya setelah beberapa menit lalu berhasil mendapatkan tiket pesawat dengan penerbangan rute Yogyakarta- Jakarta.


Syukurlah dalam sehari lebih dari dua belas penerbangan pesawat komersial dengan rute tujuannya. Durasi waktu penerbangan satu ke berikutnya pun sekitar satu jam sepuluh menit. Rentang waktu tersebut cukup digunakan oleh Dodit untuk mengambil sedikit pakaiannya lalu perjalanan ke bandara.


(ini sengaja aku tulis soalnya Dodit ngambek di bilang set an yang tiba-tiba nongol di kasur istrinya 😂. Repot kan kalo pemeran utamanya ngambek ntar gak mau nongol lagi kelar deh ceritanya.)


Apakah Andri selaku sang asisten pribadinya itu tahu mengenai hal ini? tentu saja tidak dan hal ini kembali membuatnya kesal.


"Dit, loe lagi dimana?" Andri masih berusaha basa-basi.


"Gue yakin loe telepon gue setelah tahu posisi gue lagi dimana." Dodit menjawab dengan cuek.


"Itu lah guna nya gue ajak loe gabung sama gue. Insting bisnis loe kuat jadi gue yakin meeting nanti bisa loe handle sendiri." Puji Dodit agar Andri mau membiarkannya pergi menemui sang istri tercinta.


"Parah! stres gue lama-lama kerja sama bos bucin kek elo!" Kesal Andri sambil meninju udara dihadapannya berharap itu adalah sosok yang sedang ia telepon sekarang.


"Semangat, bro! Gue mau jalan ya. Bye." Ucap Dodit sengaja ingin menutup sambungan telepon mereka.


Dua jam berselang


"Masya Allah... ini beneran Abang ipar? keren si Mpok bisa bikin Abang ipar beneran datang!" Teriak Jaka heboh menyambut kedatangan sang Abang ipar di depan pintu.


"Siapa nyang datang, Jak?" Tanya Rojali.


"Menantu tercinta." Jawab Jaka sumringah.


"Dodit? elo kok..." Rojali shock melihat sosok menantunya telah datang dalam hitungan beberapa jam saja.


"Kangen, Beh." Ucap Dodit sekaligus menjawab segala pertanyaan yang ada di benak Rojali.

__ADS_1


Sebenarnya Rojali sebelumnya sempat beberapa kali meminta maaf kepada Dodit karena telah memaksakan dirinya menikah dengan Dina, putrinya. Rasa takut menghadapi besar kencing batu saat itu membuat Rojali berpikiran buruk jika ajal menjemputnya saat dia belum sempat menikahkan putri satu-satunya itu.


Undangan resepsi pernikahan mereka telah menjadi penyejuk hati Rojali karena melihat langsung bagaimana sosok menantunya itu begitu menunjukkan kasih sayangnya kepada Dina tanpa terlihat adanya paksaan.


Menjelang petang barulah pasangan pengantin yang merasa selalu baru itu keluar dari dalam kamar dalam kondisi keduanya sudah keramas. Pemandangan ini merupakan hal indah bagi Rojali karena ia kini yakin tidak salah meminta Dodit menikahi putrinya.


"Bee, aku angkat panggilan telepon sebentar ya?" Dodit pamit ingin mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya karena pasti akan berlangsung heboh dan khawatir mengganggu suasana mengingat adanya sang mertua di ruang tamu.


"Walaikum salam." Jawab Dodit saat ia telah mengangkat telepon.


"Dih, belom juga gue ucap salam udah di jawab aja." Protes Rafli.


"Langsung aja bro, gue lagi di rumah mertua nih soalnya jadi gak enak kalo ngobrol lama di telepon." Ucap Dodit.


"Hah, loe di rumah mertua maksudnya di rumah si Dina? itu artinya loe di Jakarta?" Rafli mengambil kesimpulan sendiri.


"Yups." Sahut Dodit.


"Wah, berarti loe besok kudu wajib datang sama bini loe ke rumah gue." Undang Rafli tanpa banyak bicara seperti keinginan Dodit


"Ada acara apaan emang nya?" Tanya Dodit.


"Bini gue besok mau syukuran empat bulanan." Jawab Rafli.


"Widiiiihhh... selamat ya bro! doakan gue segera nyusul ya." Dodit memberikan ucapan selamat.


"Thanks, bro. Gaskeun lah tiap malem." Ledek Rafli.


"So pasti itu bro." Sahut Dodit.


"Beib, itu siapa yang telepon?" Tanya Dina yang sejak tadi menahan rasa penasarannya melihat suaminya tak kunjung bergabung bersama untuk makan malam.


"Ini si Rafli telepon katanya besok kita di undang acara syukuran empat bulanan si Hilda. Kita datang ya, besok?" Ajak Dodit sekaligus memberi tahu topik pembicaraannya dengan Rafli di telepon.


"Maksudnya kami besok mau reuni? ada Jodi sama Rosa juga dong?" Tanya Dina.


"Hah?" Dodit kesulitan menelan saliva nya.

__ADS_1


__ADS_2