Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Mantan Jomblo


__ADS_3

Menjelang petang Dodit tiba di kosan tempat tinggalnya selama ini. Ia dikejutkan dengan kehadiran para mantan jomblo. Ya, di teras taman kosan tampak Jodi, Samudra dan Andri sedang berbicara serius, entah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Waaaahhh ada angin apa nih para kaum bangsawan datang ke gubuk rakyat jelata?" Dodit hiperbola menyambut kedatangan sahabatnya.


"Ck, kaum bangsawan." Decak Jodi.


"Iya kaum bangsa karyawan. Hahaha." Gelak Dodit menyadari ucapan nya barusan membuat kesal ketiga mantan jomblo.


"Sue loe!" Andri menoyor kepala Dodit.


"Siapa suruh loe gak mau terima loker yang gue kasih?" Samudra kesal dengan penolakan Dodit atas semua tawaran pekerjaan yang ia berikan untuk sahabatnya itu.


"Gue ini golongan calon pengusaha, beda kasta sama loe semua." Dodit mengelak di kasihani oleh para sahabatnya.


"Loe abis darimana emangnya?" Samudra basa-basi menilik penampilan lusuh Dodit.


"Basi loe." Dodit melempar handuk kecil yang sejak tadi melilit dilehernya kepada Samudra.


"Sial loe nyet." Maki Samudra.


"Lagian ngomong sama gue pake sok pura-pura gitu, gue tahu pasti bini loe laporan, kan tadi ketemu gue?" Dodit mengeluarkan unek-unek nya.


"Set deh biar kata dia mantan tapi masih peduli lihat loe..." Celoteh Samudra.


"Loe jangan kasih harapan dong ke gue, gue rebut Rosa entar loe kelenger nangis terus Mami Jamilah geger deh ngamuk sama gue." Ledek Dodit sambil bergaya bak wayang orang dengan gerak tubuh yang dramatis, tak kenal mati gaya.


"Heh, loe jangan punya pikiran jadi pebinor, woyyy!" Seru Jodi menengahi di antara mereka berdua agar tidak terjadi huru-hara.


"Hahaha biar kapok nih orang." Dodit mengambil kembali handuk kecil miliknya dari tangan Samudra yang terpancing emosinya.


"Penghayatan bener kang roti." Sinis Andri melihat Dodit mengalungkan handuknya ke leher.


"Yoi, totalitas akan menghasilkan kualitas premium." Dodit malah mengajak Andri untuk tos ria.


"Gimana hari ini laku banyak?" Jodi mencoba menyelami keinginan Dodit yang ingin dihargai upayanya mengais rezeki.


"Alhamdulillah laris manis tanjung kimpul." Dodit mengeluarkan semua hasil penjualannya sambil mengibaskan di depan sahabatnya.


"Jir, cepet kaya loe." Puji Samudra.


"Iya lah tiap hari gue pegang duit banyak." Dodit menganggukkan kepalanya jumawa.

__ADS_1


"Loe emang gak capek keliling gitu?" Tanya Jodi.


"Anggap aja gue jjs." Sahut Dodit santai kayak di pantai.


"Jjs ala jomblo." Sindir Andri.


"Ck, loe pada kagak ada yang bawa makanan apa? Rame doang maen kesini tapi gak ada makanan." Dumel Dodit seraya membuka pintu kosannya.


"Nyet, loe kan pengusaha roti bagi lah kita tester." Sahut Jodi.


"Sorry bro, roti gue habis." Pamer Dodit kembali.


"Sial loe! Beneran merek roti loe kangen mantan? Awas aja loe masih mepet bini gue?!" Geram Samudra setelah membaca merek roti yang tertera di kontainer tempat roti.


"Wuih, kalo begini baru loe beneran anak Mami Jamilah. Sadis kalau ngomong. Hahaha." Dodit malah menimpali dengan bumbu penyedap keributan.


"Selow, Sam. Dodit biar sengklek gini dia bukan tipe pebinor." Jodi menenangkan Samudra yang mulai memanas.


"Belain terus." Dengus Samudra.


"Deh, kenapa malah ribut gak jelas?" Protes Andri.


"Sorry, Nyet, gue sengaja. Hahaha." Kelakar Dodit sambil menyodorkan gelas plastik air mineral kepada sahabatnya.


"Tobat? Gue belum jadi pebinor ngapain tobat?" Sangkal Dodit.


"Gue balik deh." Samudra ingin angkat kaki.


"Bepeeerr... Lemper." Ledek Dodit.


"Sam, loe kayak gak tahu kelakuan anak monyet satu ini aja. Dia itu jomblo akut jadi gak bakalan peka kalau mepet istri orang itu bikin emosi suaminya." Jodi menghinakan status jomblo Dodit seperti biasanya demi bisa menenangkan hati Samudra agar kembali dingin.


"Lemparkan aja dia dari grup mantan jomblo." Andri malah mengompori.


"Gak dengar gue." Dodit sengaja menutup kedua telinganya.


"Hahaha... sekian tahun bikin grup mantan jomblo kenapa loe masih setia jomblo ya?" Andri senang melihat Dodit kesal sehingga gencar menyerang titik kelemahan Dodit, status jomblo.


"Pergi loe para tamu tak di undang!" Dodit mendorong ketiga sahabatnya keluar dari kamar kosan nya.


"Buahahaha..." Jodi, Samudra dan Andri tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Loe yakin mau nolak rejeki? Inget tamu itu pembawa rejeki." Jodi mengingatkan Dodit.


Dodit berdecak kesal lalu mempersilahkan para sahabatnya untuk duduk kembali di kamar kosan nya.


"Rafli mana?" Dodit baru menyadari salah satu sahabatnya tidak datang.


"Hilda baru hamil jadi gak mau di tinggal katanya." Jawab Jodi sambil masuk kembali ke dalam kamar kosan Dodit.


"Loe kenapa gak pernah nongol lagi di basecamp?" Tanya Andri.


"Gue pengen ganti suasana aja." Kilah Dodit.


"Loe udah bosen ngelus yang keras jadi mau yang empuk?" Jodi bertanya absurd.


"Bengkel makin sepi pandemi gini orang pada mikir ngabisin duit bakal modif motor." Keluh Dodit yang memang lebih sering meluangkan waktunya di bengkel usaha bersama mereka.


"Jadi menurut loe kita tutup aja tuh bengkel?" Samudra mempertegas keinginan Dodit.


"Jangan, kasian si Udin nanti nganggur. Kita lihat aja progres nya gimana dalam sebulan ini kalo income-nya masih bagus ya lanjutin." Saran Dodit dengan wajah serius.


"Ekhem, Dit, kalo loe kagak keberatan nih... Loe mau gak ngisi ruko babeh gue di perempatan gang seblak?" Jodi mengutarakan maksud kedatangannya.


Sebelumnya ia sudah berdiskusi dengan Babeh Rojak mengenai ruko milik keluarga mereka yang telah lama terbengkalai. Lalu setelah mendengar cerita dari Samudra mengenai Dodit yang berjualan roti keliling hatinya tergerak ingin menawarkan ruko tersebut sekaligus biar ada yang merawat nya.


"Ruko elit gitu pasti mahal biaya sewanya." Ucap Dodit dengan tatapan menerawang jauh.


"Loe gak usah pikiran masalah biaya..." Jodi ingin memaksa Dodit agar menerima kebaikan nya.


"Di, loe gak percaya kalau gue bakalan bisa sukses berdiri sendiri?" Dodit memasang wajah datar yang sukses membuat Jodi menekan saliva nya lantaran tak enak hati.


"Di, kenapa sih loe gak terima aja tawaran Mbah loe yang di kampung buat jodohin loe sama Yola? Bakalan menang banyak loe jadi sultan mendadak. Hehehe." Andri mengungkit penolakan Dodit akan kesempatan yang telah berlalu.


"Gila loe ya? Gue itu sepupu sama dia, mana bisa nikah." Dodit tersenyum getir.


"Kenapa gak bisa? Bokap loe kan..." Andri tak sampai hati ingin meneruskan kalimatnya.


"Iya bokap gue emang cuma anak panti yang di asuh sama keluarga Soeroso tapi kita tahu diri buat gak ambil kesempatan dalam kesempitan." Dodit merasa mencelos mengingat hal itu.


"Sorry, bro. Eh, loe coba pepet calon ipar gue aja tuh doi jomblo..." Andri mempromosikan Sandra, Kakak kandung Siska.


"Modus aja loe biar cepat kawin sama Siska. Biarin loe temenin gue jangan buru-buru kawin. Hehehe." Sahut Dodit kembali ceria.

__ADS_1


"Nikah Dit, nikah." Andri meralat ucapan Dodit.


"Dodit nyari temen tuh jangan sampe aja loe ikutan jadi jomblo kek dia. Hahaha." Jodi puas menertawakan kesengsaraan Andri dan akal-akalan Dodit.


__ADS_2