Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Drama


__ADS_3

Pagi menjelang


Dodit yang sudah selesai bersiap mencoba menghubungi Andri untuk menyampaikan keinginannya agar pekerjaannya hari ini sementara di handle oleh Andri. Sebelumnya dia telah memperkirakan bahwa telinganya akan berdenging mendengar aneka umpatan dan makian sahabat sekaligus asistennya itu. Tetapi setelah Dodit menjelaskan alasannya untuk mengantarkan sang istri cek kandungan langsung membuat Andri terdiam dan tak lama memberikan ucapan selamat.


"Loe udah pastikan belum jam berapa jadwal praktek dokter nya?" Tanya Andri.


"Eh iya, belum kepikiran gue." Dodit menepuk dahinya.


"Hehehe... Oke, mumpung gue lagi baik nih sekarang gue udah tanggung otewe ke rumah loe kalo gak salah searah sama rumah sakit Eyang Soeroso jadi nanti gue bakalan mampir." Andri berpikir cepat.


"Wah, gak salah emang gue minta loe jadi partner gue, serba bisa loe gue andalkan, bro!" Pekik Dodit kegirangan.


Iya, daripada menyebutkan Andri sebagai asisten Dodit sebenarnya lebih senang mengakui Andri sebagai partner nya mengingat bagaimana cepatnya cara berpikir dan bertindak Andri dalam menyelesaikan semua urusannya.


"Yeah, ternyata ada untungnya juga gue sering di minta tolong kakak sepupu gue kontrol kandungan ke rumah sakit jadi paham lah..." Aku Andri.


"Oke, gue doakan semoga loe cepat dapat jodoh jadi nanti loe bisa anterin sendiri bini loe periksa kehamilan." Doa Dodit untuk sahabatnya itu.


Andri terdiam dan memilih untuk tidak menjawab. Hatinya malah kembali nyeri mengingat bagaimana Siska selalu menolak ajakannya segera menikah hanya karena tak ingin melangkahi kakak perempuannya yang belum menikah.


"Dri, dri..." Dodit merasa ada yang salah karena setelah mengucapkan kalimat berisi doa mengenai jodoh untuk sahabatnya itu malah tak memberikan respon apapun.


"Sorry deh sorry... Kalo nanti jadwal praktek dokter nya siang jadi gue bisa deh handle meeting pagi ini. Dina nanti gue ajak aja biar kita berangkat bareng dari kantor." Dodit mencoba mengalihkan pemikiran Andri.


"Hm, emang bini loe mau di ajak ke kantor?" Andri terpancing untuk merespon ucapan Dodit.


"Iya pasti mau lah kalo jalan nya sama gue." Ucap Dodit.


"Jangan lupa bawa bekal makanan banyakan biar gue sekalian makan bareng loe berdua." Pinta Andri.


"Eits, sorry kayaknya gak bisa soalnya bini gue lagi mabok gak bisa nyium bau masakan langsung mual jadi boro-boro masak. Kita beli aja lah bubur ayam dekat kantor itu kan enak juga." Ucap Dodit.


"Bro, gue udah nyampe nih di rumah sakit nya. Gue keluar dulu ya cek jadwalnya." Ucap Andri ingin mengakhiri pembicaraan telepon nya.


"Sip, gue tunggu kabar baiknya. Oh iya pastikan dokter kandungannya perempuan ya, bro." Dodit mengakhiri telepon mereka.


"Ck, posesif." Decak Andri sebelum benar-benar menutup telepon nya.


Dina yang sejak tadi mengamati suaminya selesai menelepon Andri kini mendekati Dodit.

__ADS_1


"Beib, maaf ya hari ini aku payah banget gak bisa sama sekali cium bau bumbu. Aku kemarin coba pake masker pas masak tapi malah nyesek." Dina yang baru datang langsung bersender di lengan suaminya.


"Iya biarin aja yang penting kamu nya mau makan." Dodit mengusap lembut perut datar istrinya.


"Justru itu aku males banget makan, mual rasanya." Dina merajuk.


"Bee, ingat dong sekarang di perut kamu ada anak kita jadi biar dikit juga paksain ya sarapan?" ucap Dodit setengah memaksa.


"Aku mau yang segar-segar. Nanti pas keluar sekalian beli rujak jambu kristal, yuk?" Pinta Dina memelas.


"Iya nanti kita beli tapi sebelum berangkat sarapan dulu ya? aku suapin kamu deh." Dodit merayu sang istri.


"Umm, tapi kami jangan marah ya kalo pas nanti makan aku malah muntah?" Dina mengerucutkan bibirnya.


Sikap Dina seperti ini membuatnya terlihat menggemaskan di mata suaminya. Sebuah kecupan di bibir menjadi pelampiasan Dodit dan seperti biasanya bibir manis itu membuatnya lupa diri hingga akhirnya Dina mengakhirinya karena sesak bernafas.


"Nyesek ih, kebiasaan." Protes Dina sambil memukul pelan da da bidang suaminya.


"Manis, yuk kita ke meja makan." Dodit menggenggam tangan Dina seraya mengajaknya berjalan ke arah ruang makan.


Drama ibu hamil pun di mulai karena tepat saat suapan kedua Dodit berikan untuk istrinya itu langsung berlari ke arah kamar mandi untuk mengeluarkan kembali isi makanannya.


Mbok Darmi tanpa di minta menyuguhkan perasaan jeruk lemon beserta potongan buah apel dan pear ke dalam kotak bekal yang akan di bawa oleh majikannya itu. Sementara segelas wedang hangat tersedia di meja.


Dina pun dengan senang hati mengikuti langkah suaminya. Dia memang harus terbiasa mendampingi sang suami kemanapun ia melangkah.


"Bee, selama aku meeting kamu disini aja ya? Kamu kalo capek boleh tiduran di ruang istirahat ku disini." Ucao Dodit seraya menunjukkan ruangan tempatnya beristirahat dan terdapat lemari kecil tempatnya menyimpan pakaian atau jas setelan baju kantor nya.


"Aku kok jadi curiga ya liat ruangan ini." Ucap Dina yang mendadak di hinggapi perasaan cemburu. Bagaimana kalau suaminya itu menghabiskan waktu istirahatnya bersama perempuan lain? Air mata Dina sudah menggenang di pelupuk mata.


"Bee, kamu kenapa?" Dodit keheranan melihat perubahan ekspresi wajah Dina yang sendu.


"Hiks... coba kamu ngaku selain aku siapa yang kamu pernah ajak kesini?" Desak Dina dengan tatapan matanya yang mengintimidasi.


Gleg


Dodit terperangah dengan cara berpikir istrinya. Iya, tadinya ia mengira dengan menunjukkan ruangan itu bisa membuat istrinya lebih tenang dan dapat beristirahat di dalamnya, tetapi apa yang dia dapatkan malah tuduhan aneh...


"Hiks hik hiks... tega kamu. Aku mau pulang aja kalo gitu." Dina menghapus air mata nya.

__ADS_1


"Woah, ada drama apaan nih? Eh, nyonya ngapa nangis?" Pekik Andri yang masuk begitu saja ke dalam ruang kerja Dodit.


"Dri, gue tanya sama loe tolong jujur! Siapa aja yang udah pernah di bawa laki gue ke ruang laknat nya?!" Teriak Dina penuh emosi.


Andri membelalakkan matanya tak percaya bola panas menyerang dirinya. Iya pertanyaan Dina itu sungguh merupakan hal absurd yang ia pernah dengar.


"Loe... loe kata siapa itu ruang laknat? Gue bilangin Eyang Soeroso baru nyaho loe. Itu ruangan yang sengaja di bikin Eyang Soeroso biar cucu kesayangannya, Dodit katanya bisa sedikit istirahat dan ganti baju biar gak kusut kalo ketemu klien." Ungkap Andri mengatakan kenyataan sesungguhnya.


"Ja jadi... hiks hiks hiks..." Dina menyusut air matanya merasa malu telah berprasangka buruk terhadap suaminya barusan.


"Kamu sekarang tau kan arti ruangan ini?" Dodit tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memeluk istrinya agar emosinya menurun.


"Maaf..." Dina membalas pelukan suaminya.


"Duh, drama pagi ini. Ayok sarapan nih gue bawain bubur ayam buat kita makan bareng." Andri menunjukkan kresek putih yang ia bawa.


"Bee, kita satu porsi berdua aja ya?" Ajak Dodit yang langsung mendapatkan anggukan dari istrinya.


"Sok mesra loe, gak inget drama barusan." Sinis Andri.


"Buruan nikah, Dri. Hidup loe bakalan penuh warna setiap harinya." Ucap Dodit.


"Buruan loe makan bentar lagi meeting." Solot Andri dengan alasan meeting.


Hati yang panas dingin menyaksikan kemesraan pasangan suami istri itu walaupun sesekali terbersit keinginan untuk keluar ruangan agar tak ternodai pemandangannya namun entah mengapa Andri malah tetap berada di ruangan yang sama.


"Beib, kamu selesai meeting jam berapa?" Tanya Dina setelah memberikan kecupan pemberi semangat untuk suaminya.


"Dih, belum juga mulai udah di tanyain selesainya jam berapa." Decak Andri jengah.


"Aku usahakan nanti selesai langsung kesini terus kita jalan ke rumah sakit untuk cek kandungan kamu, bee." Ucap Dodit seraya memberikan kecupan balasan kepada istrinya.


"Semangat ya kerja nya..." ucap Dina.


"Hm, aku nanti minta bagian divisi keuangan buat temenin kamu biar gak bete di ruangan aku." Ucap Dodit sebelum meninggalkan istrinya.


Tak lama setelah kepergian suaminya datang lah sosok yang sudah sengaja dipersiapkan oleh Dodit dan Dina untuk menyelidiki kecurangan dalam divisi keuangan. Iya, sebelumnya Dodit memang menghubungi Felly untuk menyiapkan seorang karyawati divisi keuangan untuk menemani istrinya dengan syarat seumuran dan bisa membuat istrinya nyaman, tentu saja pilihan Felly jatuh kepada Siska.


*****

__ADS_1


buat yang benar berhasil menebak nama Siska...


selamat... itu berarti anda pembaca setia cerita ku. 😘


__ADS_2