Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Tumbang


__ADS_3

Seorang gadis berwajah sendu tampak berjalan dengan langkah lesu memasuki lobby rumah sakit. Kantong mata yang hitam di bawah mata nya begitu kentara.


"Itu beneran si Kunti? Kenapa dia makin nyeremin? Penampilan kucel, mata kek cemong gitu? Untung aja rambutnya di iket kalo kaga bisa jadi Kunti beneran itu orang." Batin Dodit mengamati sosok gadis yang ia panggil dengan sebutan Kunti.


Entah dorongan dari mana yang membuatnya terus mengikuti si Kunti yang berakhir di sebuah kamar ruang rawat kelas dua.


Sejenak ia ragu dan ingin berbalik kembali meninggalkan si Kunti yang telah masuk ke dalam ruangan, namun seolah semesta tak mendukung karena tiba-tiba ada seorang ibu yang menyapa nya.


"Mas Dodit? Kenapa gak jadi masuk ke dalam?" Seorang perempuan paruh baya yang ternyata adalah pelanggan roti nya menyapa. Resiko kang roti pemes emang banyak yang kenal dimana saja.


"Eh ibu." Dodit nyengir kuda.


"Mas mau masuk? Mari saya antar. Anak saya juga lagi di rawat di dalam." Ajak si ibu.

__ADS_1


"E enggak usah Bu. Permisi." Dodit memilih balik kanan untuk pulang.


"E e eh... Tanggung toh sudah nyampe sini kok malah pulang? Kenapa, malu ya mau deket sama mba yang tadi? Hehehe." Si ibu menyeringai.


"Ah, enggak Bu cuma saya merasa dia mirip aja sama teman saya." Dodit menjelaskan.


"Wah, berarti emang udah saling kenal. Hayuk sini." Tanpa mau mendengarkan penolakan apapun si ibu menarik tangan Dodit agar mau masuk ke dalam ruangan bersamanya.


Dodit mengedarkan pandangannya ke ruangan bercat coklat muda itu. Ruangan yang tak terlalu luas dan terdapat empat kasur untuk pasien rawat inap. Namun hanya ada dua kasur yang tampak terisi dan di batasi oleh gorden biru.


Si ibu yang melihat pergerakan lambat Dodit dengan begitu bersemangat mendorong bahu Dodit sehingga ia masuk ke dalam bilik rawat si bapak yang tadi menanyakan pacar anaknya.


"Oh, jadi kamu pacar anak saya?" Tebak si bapak.

__ADS_1


Sosok yang sejak tadi di anggap si Kunti oleh Dodit tampak terkejut dan tak mempercayai penglihatannya hingga ia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Semoga gue salah lihat. Batin perempuan itu.


Duh, sial bener gue buntutin si Kunti! Awas ya Bu, nanti saya gak kasih diskon kalo beli roti lagi. Dodit memaki dan mengancam si ibu dalam hati.


"Maaf saya buk..." Dodit ingin menjelaskan.


"Beh..." Si anak ingin menjelaskan.


"Eh, Pak Jali lagi di jenguk sama calon mantu nya ya? Saya kenal lho sama calon mantu Pak Jali. Dia ini pengusaha roti fenomenal. Kuliah jurusan tata boga tapi milih wirausaha bikin roti sendiri. Calon pengusaha potensial jadi gak bakalan nyesel lah jadi calon mantu." Tanpa mendapatkan sogohan apapun si ibu begitu lancar mempromosikan Dodit menjadi kandidat menantu Pak Jali.


Dalam hati si ibu mungkin prihatin luar biasa terhadap Dodit yang begitu gigih mencari nafkah melalui berjualan roti. Terlebih nama merk yang di pakai adalah kangen mantan. Nama yang cukup menggambarkan suasana hati si pembuatnya.


"Kamu siap kalau sekarang juga saya minta nikah sama anak saya?" Tanya Jali kepada Dodit yang masih terdiam.

__ADS_1


"Mau. Suami saya itu penghulu jadi bisa bantu untuk menikahkan anak Pak Jali. Sebentar ya saya panggil suami saya dulu biar cepat sah." Kembali si ibu yang bertindak spektakuler ingin merekatkan hubungan Dodit saat itu juga dengan putri Pak Jali.


Seketika itu juga kesadaran Dodit melemah dan ia pun tumbang saat itu juga.


__ADS_2