Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Derita jomblo


__ADS_3

Semenjak bertemu di acara syukuran empat bulanan kehamilan Hilda membuat Dina menjadi dekat dengan istri para mantan jomblo. Dia bahkan sudah dimasukkan ke dalam wag dan hampir setiap jam mereka berkomunikasi mengenai hal apapun seputar dunia rumah tangga dan sekitarnya. Siska jelas yang sering protes mengingat posisinya sendiri yang masih gadis di antara para sahabatnya itu.


"Duh, serius amat liat hape sampe gak ingat ke suami." Sindir Dodit yang berada disampingnya.


"Hehehe... Ini lucu Siska baper gitu aku bahas masalah panggilan ke suami." Ucap Dina sambil tertawa pelan.


"Ya wajar lah, bee... Jomblo itu sensitif kalo bahas tentang pasangan." Nasihat sang mantan jomblo berpengalaman.


"Salah dia juga yang mulai duluan topik kita. Eh itu..." Dina menunjukkan layar ponselnya.


Cup


Dodit yang kesal merasa terabaikan memilih untuk mencium bibir istrinya. Awalnya hanya kecupan tetapi rasa manisnya membuat Dodit lupa diri hingga...


"Bang Caaad!" Umpat Andri yang tiba-tiba muncul di ruang tamu tempat Dodit dan Dina kini saling menikmati rasa manisnya bibir.


"Hmmmphhh..." Dina tak enak hati mendengar ada orang lain yang memergoki kegiatan dirinya dan Dodit memilih untuk mendorong Dodit untuk mengakhiri nya.


Dodit pun terusik dan mengatur deru nafasnya lalu mengelap lembut bibir istrinya yang masih menyisakan saliva miliknya.


"Set an! Loe udah tiga hari gue kasih kesempatan libur urusan kerjaan malah sekarang gak ingat pagi ini mau ada meeting intern penting." Sembur Andri si jomblo yang terusik melihat kemesraan dihadapannya kini.


"Ck, Dri, kalo masuk ke rumah orang tuh ucapin salam dong jan kek set an." Dina mengingatkan.


"Deh, si Kunti ngajarin gue ngucapin salam. Sok bener amat." Ketus Andri.


"Heh! Loe kalo di kasih tau baik-baik jan nyolot in ngapa!" Bentak Dina geram mendengar dirinya di panggil Kunti.


"Bro, loe ngapa sih gak ada kabar langsung kesini aja? Ganggu banget!" Gerutu Dodit tak terima dengan ucapan Andri.


"Udah kawin mah kompak loe berdua sekarang ya. Gue mau numpang sarapan di rumah loe, nyet." Andri meninggalkan si tuan rumah dan berjalan ke arah meja makan.


"Sejak kapan itu orang bisa ngomong banyak? Kayaknya dia dulu tuh irit banget kalo ngomong." Dina keheranan melihat sosok Andri.


"Beuh, aslinya dia emang begini. Bawel akut." Jawab Dodit. Andri memang hanya akan banyak bicara terhadap orang terdekatnya yang ia sudah merasa nyaman.


"Hey, gue denger ya loe berdua gosip in gue di belakang." Solot Andri setengah berteriak kepada pasangan suami istri itu.


"Beib, nyeremin ya kalo orang yang biasa kita anggap diam ternyata bawel." Adu Dina dengan nada manja sambil bersandar di da da bidang suaminya.


"Bee, ada aku disamping kamu yang bakalan lawan dia kalo berani songong sama kamu." Dodit hendak kembali mengecup bibir istrinya.


"Woyy! Kelar jam berapa itu bibir gak kelar-kelar nyosor mulu!" Bentak Andri kesal.

__ADS_1


"Beib, coba deh cariin dia jodoh biar gak ngiri liat kita." Dina mengusulkan.


"Susah, bee... Ribet orang nya." Sahut Dodit sambil melirik sinis ke arah Andri.


"Wah! Wah! Wah! Makin gak tau diri loe udah gue back up kerjaan malah jelekin gue!" Andri murka.


"Sabar dong, Dri. Mba, ini tolong teman suami saya kasih makan yang banyak biar gak galak." Dina menambahkan seraya memberikan perintah untuk mbak Nirah.


"Salah deh gue datang kesini." Andri menepuk dahinya sebal.


"Loe mah datang kesini gak jelas malah nyalahin kita yang pengantin baru tapi gak pernah honeymoon ya wajar lah puas-puasin berduaan." Dina mencecar Andri.


"Oke, sorry kalo gue datang gak tepat momen nya." Andri akhirnya mengalah ketimbang tidak mendapatkan jatah sarapan gratis, pikir nya.


"Nah, gitu dong." Ucap Dina yang mengaitkan tangannya ke lengan Dodit.


"Derita jomblo." Gumam Andri lirih.


"Emang meeting pagi ini loe gak bisa handle?" Dodit mulai mengalihkan topik pembicaraan untuk membahas pekerjaan.


"Ih, di tempat makan jangan bahas pekerjaan ah." Protes Dina sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bee, jangan suka gitu ah bibir kamu kan bikin gumush." Dodit mendekatkan wajahnya ke wajah Dina.


"Beib, pokoknya secepatnya kamu carikan dia jodoh ya biar gak envy liat kita mesraan gini." Desak Dina.


"Beb bi beb bi... gue dulu pacaran gak gitu amat lebay nya." Sindir Andri.


"Beda ya pacaran sama udah nikah itu... wajib tau suami istri punya panggilan mesra. Eh, kok aku jadi pen ketawa ya inget si Rosa panggil A ke Sam? A.. Sam dong jadinya. Hehehe." Kekeh Dina geli dengan ucapannya sendiri barusan.


"Rosa? loe bisa akur sama dia?" Andri keheranan mendengar Dina begitu santai menceritakan tentang Rosa.


"Akur lah kan kita masing-masing udah punya pasangan jadi pada waras aja tau diri gak terjebak di ruang nostalgia sama mantan. Cukup judul lagunya mbak Raisha aja, terjebak di ruang nostalgia." Jelas Dina sok bijak.


"Ssstt, Jan sebut mantan ah. Ada yang masih susah move on." Dodit menaruh telunjuknya di depan bibir ke arah Dina.


"Owh, gitu... baiklah." Dina menuruti ucapan suaminya.


"Dit, sejam lagi meeting bakalan mulai." Andri melirik resah ke arah arlojinya.


"Tuh kan baru nyendok nasi aja udah bahas kerjaan lagi aja." Ucap Dina.


"Buat jomblo itu penting pengalihan pikiran, bee." Dodit menggenggam tangan Dina.

__ADS_1


"Bang Caaad!" Andri lagi lagi mengumpat.


"Beib, dia kalau sama ceweknya dulu galak gak sih? kasian deh ceweknya sering di maki terus kali ya sama dia." Dina melirik tajam kepada Andri.


"Astaghfirullah aladzim... sabar gue sabar..." Andri mengusap-usap dadanya.


"Oh iya nanti kelar meeting aku bakalan minta temen aku buat interview kerja di tempat kamu ya, Beib?" Ucap Dina.


"Lah, tadi gue di tegur gak boleh ngomongin kerjaan." Sinis Andri mengomentari ucapan Dina.


"Sorry, takut lupa. Beib, pokoknya nanti teman aku itu wajib kamu terima kerja ya disana?" Pinta Dina sambil mengerjakan matanya.


"Anything for you, bee..." Ucap Dodit sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Mana ada kayak gitu! orang itu harus di interview dulu kelayakan nya bisa masuk di perusahaan." Sembur Andri mengingatkan Dodit yang melupakan profesionalitas pekerjaan di depan istrinya kini.


"Situ bos nya? Lagian situ juga masuk kerja juga pasti karena teman suami saya. Gak mungkin lah orang baru masuk kerja tiba-tiba langsung dapat posisi enak di perusahaan gitu aja." Ucap Dina telak menghujam Andri yang tak bisa mendebat hal itu.


"Bee, kalem bee..." Dodit menggenggam lembut tangan Dina untuk menenangkan istrinya itu.


"Iya, sorry Dri, gue cuman kasian aja sama teman gue itu soalnya dia butuh kerjaan banget. Sorry ya..." Dina tulus meminta maaf.


"Hm, emang siapa nama teman loe? alumni sekolah kita juga?" Andri yang sempat terperangah melihat sikap Dina yang melembut kini penasaran dengan sosok yang wajib di terima kerja itu.


"Umm, yang jelas cewek..." Dina melirik ke arah suaminya.


"Kok ngelirik aku?" Tanya Dodit.


"Iya jujur aja biar dia bisa sekalian awasin kamu biar gak ada cewek yang berani mepet sama kamu." Aku Dina.


"Ya ampun... bini gue pocecip, bro." Keluh Dodit resah.


"Pede banget loe, gimana kalo cewek itu malah mepet laki loe?" Pancing Andri.


"Gak mungkin lah, gue tau kok selera cowok itu cewek beda jauh sama suamiku ini si Kang ghosting." Dina melirik Dodit penuh nada sindiran.


Sontak saja ucapan Dina membuat Dodit tersedak saat sedang meminum air putih. Dina menepuk pelan tengkuk Dodit untuk meredakan batuknya.


"Kok gue jadi kepo ya cewek itu siapa?" Ucap Andri penuh curiga.


"Nah, kalo loe kepo enggak apa-apa deh, kan masih jomblo." Ceplos Dina.


"Nasib jadi jomblo..." Dengus Andri yang terdengar oleh pasangan suami istri itu.

__ADS_1


__ADS_2