Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Monster Day


__ADS_3

Kenapa senin dalam bahasa Inggris adalah Monday? karena Monday adalah Mon (ster) day. Andri hanya satu dari jutaan orang yang membenci hari senin. Karena menurutnya hari senin adalah awal dari hari dimana semua tumpukkan pekerjaan nya di mulai.


Andri harus bangun lebih pagi agar tidak terjebak macet, menyantap sarapannya saat di lampu merah menuju kantor, kemudian mengisi absensi lebih cepat, dan ikut breaking lalu setelah itu pekerjaan nya baru di mulai.


Dan di hari senin juga, dimana semua pertanyaan bos besar mengenai klien, rapat, proyek dan lain-lainya akan terdengar kemudian hampir semua orang memiliki mood yang buruk.


Tanya sedikit tentang pekerjaan, kalau bukan dikacangin ya ngegas, ajak makan siang kayak ngajak makan siang sekampung, belum lagi kalau itu akhir bulan. Sempurna hidup loe!


Andri mendudukkan dirinya setelah mendapatkan laporan dari Felly mengenai keuangan kantor. Wajahnya tertekuk, kentara sekali dia menemukan temuan laporan yang membuat kas perusahaan membengkak.


Apa saja kerja dari divisi keuangan? Ah, Siska pasti bisa menjelaskan semua ini. Etapi sesuai keinginannya saat Siska di terima bekerja kalau mereka tidak akan saling berkomunikasi secara langsung dan perantara mereka dalam hal ini adalah si nyonya besar, Dina.


"Dit, ini laporan yang..." Andri seperti biasanya tak pernah mengetuk pintu memasuki ruang kerja Dodit dan langsung menunjukkan laporan ditangannya.


"Loe tanya aja sama Felly, gue masih revisi laporan proyek Mr. Hokkaido yang banyak maunya." Dodit memotong ucapan Andri dengan ketus.


"Mm, bini loe mana? biasanya kek sandal jepit loe berdua seiring sejalan." Andri celingukan mencari sosok Dina.


"Loe amnesia apa gimana? kita hari ini bakal meeting hasil akhir sama Mr. Hokkaido nanti siang sementara gue belum kelar revisi jadi gue minta bini gue di rumah aja biar gak ngerasa gue cuekin kalo ikut kesini." Jelas Dodit yang terlihat enggan menanggapi sebenarnya.


"Dina gak protes loe gak ajak hari ini?" Polos Andri bertanya. Tumpukan pekerjaan membuatnya begitu ingin berkomunikasi dengan Siska melalui perantaraan Dina. Kalau Dina tidak datang maka pupus sudahlah keinginannya.


"Gue hitung sampe tiga loe cabut dari ruangan gue. Males gue loe tanyain bini gue mulu. Cari cewek dong yang benar terus ajak nikah biar gak modus gak jelas. Eh, awas aja loe ya berani oleng sama bini gue!" Nada bicara Dodit meninggi di akhir kalimatnya.


Andri yang menyadari dirinya tanpa sadar membangunkan maung bodas memilih berbalik dan meninggalkan ruangan kerja Dodit.


Suasana kantor terasa berada di tengah Padang pasir sekarang. Panas. Andri membuka laci mejanya lalu mengambil sebungkus coklat dengan iklan Lo rese' kalo lagi laper kemudian melahapnya dengan kesal.


Belum cukup sampai disitu, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari sosok yang dia ketahui merupakan asisten pribadi Mr. Hokkaido. Si alan.


"Selamat pagi dengan Andri, ...."


"Maaf untuk meeting hari ini dengan Mr. Hokkaido bisa dimajukan satu jam lagi? kesehatan istri Mr. Hokkaido memburuk jadi hari ini juga harus segera kembali ke Jepang." Jelas si penelepon tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


"Sa satu jam? terlalu cepat..." Mendadak otak Andri sulit mencerna.


"Baiklah dua jam lagi. Mr. Hokkaido juga tidak keberatan jika meeting nya diadakan di kantor perusahaan Mr. Dodit." Sahut sang asisten Mr. Hokkaido.


Double sh it!


"Hm, saya akan coba komunikasikan dengan Mr. Dodit." Jawab Andri lalu sambungan berakhir sama dengan suapan terakhir coklatnya yang berakhir di tempat sampah. Andri meraih botol minuman nya kemudian mendengus


Semoga bos besar nya tidak mempersulit keadaan yang serba mendadak dan mendesak ini.


Andri kembali meletakkan botol minuman nya, mengambil map berisi laporan proyeknya, kemudian berlari menuju lift.


Reaksi Dodit pun tak jauh berbeda dengan Andri awal mengetahui waktu meeting dimajukan dan akan diadakan di kantor mereka. Untunglah revisi laporan untuk Mr. Hokkaido telah rampung dikerjakan oleh Dodit. Sementara urusan teknis penyelenggaraan meeting dadakan seperti penyediaan makanan dan tempat bisa langsung diselesaikan dengan cepat.


Dua jam kemudian Mr. Hokkaido menepati janjinya untuk datang mengadakan meeting di kantor Dodit. Kesan pertama pria paruh baya itu terkesan melihat kinerja Dodit dan semua karyawannya bisa bekerja secara cepat dan tepat. Hasil meeting pun berakhir memuaskan kedua belah pihak.


"Alhamdulillah... pecah bisul." Ucap Dodit.


"Bisul? efek bini hamil apa loe bisulan?" Andri keheranan.


"Party dong." Ledek Andri.


"Haduh, kalo untuk itu gue gak ikutan deh loe aja gue kasih duit ya? bini gue bisa ngambek masakannya gak gue makan." Tolak Dodit.


"Loe ajak dong biar dia juga tahu gimana suasana seru anak kantor biar dia gak kaget." Andri memberikan saran.


"Ini pegang kartu gue. Pokoknya loe handle acaranya aja. Loe juga sekalian bisa tepe sama cewek kan..." Dodit mengedipkan sebelah matanya.


"Gak usah lah kalo gitu. Males banget gue." Andri menolak kartu pemberian Dodit dan memilih keluar dari ruangan kerja Dodit.


Perutnya sudah mendendangkan lagu kasidah masa kini yang ingin di isi oleh makanan berat dan bergizi tinggi. Ya, kini langkahnya menuju ke arah kantin kantor. Matanya memicing melihat sosok Siska yang berjalan bersama Herman. Hah, kenapa di saat lapar seperti ini harus menyaksikan pemandangan menyakitkan mata dan hatinya? Oke, delivery makanan.


"Pak, saya minta tolong berhenti untuk menelepon saya malam hari. Jujur saya terganggu sekali." Suara Siska.

__ADS_1


"Ah, memang nya kamu sudah bersuami jadi merasa terganggu?" Suara Herman.


Andri terdiam dan memilih memesan minuman di pojok kantin guna mendengarkan lebih seksama pembicaraan mereka. Dia sengaja memasang wajah serius menatap ponselnya padahal tidak ada fokus pikirannya ke arah ponsel melainkan pembicaraan dua sosok menyebalkan baginya.


"Memang nya istri bapak tidak terganggu? lagian enggak etis lah malam-malam telepon an." Protes Siska.


"Ya namanya juga rindu jadi tidak kenal waktu, dek Siska." Gombal Herman.


Ck, aki-aki jago gombal. Decak Andri sebal.


"Saya harap semalam itu terakhir bapak telepon saya ya?" Pinta Siska.


"Lho, jangan lah... memangnya dek Siska nggak rindu sama kang mas?" Herman bersikeras ingin Siska merasakan hal yang sama.


"Pak, hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan. Saya selaku orang yang sudah di bantu bapak untuk bisa interview di kantor ini jelas berterima kasih sama bapak." Jawab Siska apa adanya.


"Selama kita masih sama-sama singel mah bebas toh." Herman ngeyel.


"Tapi saya sudah ada yang punya." Siska mencoba berkelit. Dia memutar otaknya karena rupanya Herman tidak bisa di tolak secara halus.


"Siapa yang punya? saya perhatikan dek Siska tidak ada pacar atau..." cecar Herman.


"Ekhem," Andri sengaja berdehem dekat mereka.


Sontak saja wajah Siska berubah memerah tak karuan melihat sosok yang tidak dia harapkan akan mendengar pembicaraan nya.


"Pak Herman yakin singel?" Suara Andri terdengar datar.


"E e... Pak Andri..." Lidah Herman mendadak kelu.


"Ada yang mau aku omongin sama kamu." Andri tak menghiraukan Herman dan malah menarik tangan Siska.


*****

__ADS_1


Hayoooo Andri mau ngomong apaan sama Siska?


__ADS_2