
Kebahagiaan yang terpancar dari wajah Andri dan Siska berbanding terbalik dengan Sandra, tetapi dia juga tidak mau di cap sebagai penghambat pernikahan keduanya. Tatapannya menatap lirih Jaka.
Huh, bagaimana bocah tengil ini bisa punya pikiran mau serius komitmen sama gue? oke, untuk saat ini aja deh gue iya in aja lantaran gue gak bisa biarin Siska terhalang dapat jodoh karena gue. Batin Sandra dengan berpura-pura tersenyum ramah kepada para tamunya.
Acara itu sekaligus juga menjadi ajang reuni para mantan jomblo dan keluarganya. Hilda yang sedang menghitung hari hendak melahirkan menjadi sosok yang begitu antusias bercerita.
"Bro, sorry ya kayaknya anak gue kecapean nih jadi gue balik duluan ya?" Pamit Jodi saat melihat Dira tertidur pulas di pangkuannya.
Sementara Rara sejak tadi memang sedang asyik gosip sana sini sambil mengusap punggung Rani yang sejak tadi tertidur dalam gendongannya.
"Oh, ya udah deh gue juga mau pamit sekalian soalnya kasian bini gue kecapean." Ucap Dodit.
"Waaahhh, kecapean ngapain loe?" Ledek Samudra.
"Hamil muda, bro. Kasian lah kalo harus tidur terlalu malam." Jelas Dodit.
"Eits, udah isi aja loe!" Jodi menepuk bahu Dodit.
Wajah Samudra mendadak kecut karena menyadari usia pernikahan nya lebih dahulu tetapi hingga kini Rosa belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Hm, sepertinya setelah ini dia akan mengajak Rosa mengikuti program kehamilan.
Mereka semua pun akhirnya berpamitan kepada Siska dan keluarganya. Andri berjanji setelah ini dia akan kembali datang bersama dengan Ibu dan adiknya untuk membahas lebih lanjut rencana pernikahan nya dengan Siska. Rohana pun mengiyakan seraya dirinya juga menyiapkan semuanya.
Andri yang memang sudah tidak memiliki tempat tinggal karena beberapa bulan ini menetap di Jogja akhirnya menumpang tinggal di rumah keluarga Dina. Jaka menawarkan Andri agar tidur sekamar dengannya.
Suasana di dalam mobil Dodit mendadak hening setelah mereka selesai melakukan proses lamaran untuk Andri dan Siska. Ekspresi wajah Jaka yang terlihat bahagia mengundang rasa tak terbaca dari Dodit dan Andri.
Andri yang memahami arti diam nya Dodit saling melirik seraya memberikan kode kasian Jaka. Dodit bahkan memberi kode melalui isyarat matanya agar Andri segera memberikan pengertian kepada Jaka si perjaka lugu mengenai keputusan nya hendak mendekati Sandra.
Ketika Andri sudah berada di kamar Jaka akhirnya dia mencoba berbicara empat mata dengan Jaka.
"Jak, loe kenal sama Sandra dimana?" Andri membuka pembicaraan.
"Ooh, dia guru les aye waktu mau ujian nasional di bimbel." Jawab Jaka apa adanya.
"Hm, terus loe langsung cinta gitu sama dia?" Tebak Andri cepat.
"Iya lah... dia tuh sempurna... cantik, pintar, sek si.." Sahut Jaka seraya membayangkan sosok Sandra seolah-olah berada di depan matanya.
"Dia lebih berumur daripada Mpok loe." Tukas Andri.
"Gak zaman lah cinta pandang umur." Sengit Jaka yang mengira Andri diam-diam juga memendam rasa kepada Sandra.
"Santuy, Jak. sebelumnya gue mau bilang makasih sama elo karena kalo tadi elo gak bilang mau sama Sandra, gue gak yakin Siska bakalan mau sama gue... sebelum ini tuh gue sampe putus sama Siska cuman gara-gara dia gak mau ngelangkahin Sandra." Jelas Andri.
"Bang Andri beneran cinta sama Mpok Siska?" Tanya Jaka.
"Ya iya lah... kemarin tuh rasanya hidup gue kelar waktu dia bilang putus..." Andri menatap langit-langit kamar Jaka.
"Mpok Siska ampe minta putus?" Jaka masih tidak mempercayai kebenaran ucapan Andri barusan.
"Bocah... loe panggil Siska aja Mpok tapi loe naksir Mpok nya... lah ntar loe nyebutnya siapa? Tante?" Ledek Andri telak.
"Gak cocok lah gue panggil dia Tante." Sanggah Jaka merasa cinta nya sudah tepat.
"Umm, Jak... loe tau gak gimana pergaulannya Sandra?" Ungkap Andri ragu-ragu karena khawatir akan membuat Jaka emosi.
"Pergaulannya emang giman?" Tanya Jaka balik.
"Siska bilang ya dulu dari remaja itu Sandra udah jadi model... loe tau lah pergaulannya toxic..." Jelas Andri agak malas karena terkesan menjelekkan calon kakak iparnya sendiri.
__ADS_1
"Don't judge a book by it's cover... lebih baik bergaul sama mantan preman daripada bergaul sama mantan santri... gak perduli gimana masa lalu Sandra karena Jaka yakin kalo dia cewek baik dan layak untuk diperjuangkan!" Gugat Jaka berapi-api seperti hendak demo meminta kenaikan duit jajan bulanan kepada Rojali #eehhh
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum... Dri, loe masih bangun, kan?" Suara Dodit terdengar di balik pintu kamar Jaka.
"Walaikum salam..." Jawab Andri segera menuju ke arah pintu untuk membuka pintu yang terkunci.
"Ck, udah kayak perawan aja loe berduaan kunci kamar." Decak Dodit.
"Ngapa bang? kayak sendiri nya kagak kunci pintu aja sama Mpok Dina berduaan." Sindir Jaka.
"Yeee... beda lah kalo laki bini mah udah sah dan legal." Bantah Dodit.
"Iya deh yang udah sah dan legal. Bang Andri, kita bentar lagi juga bakalan ngomong kek gitu ya?" Sahut Jaka.
"Heh, Jaka perjaka, loe pede amat sih nyosor senior... Sandra sama gue aja lebih tua dia... hehehe." Ledek Dodit.
"Dih, pada sirik amat sih roman nya sama aye..." Dengus Jaka sambil menatap tak suka ke arah Dodit dan Andri bergantian.
"Woy, pede amat! Dri, barusan Eyang Soeroso telepon katanya besok mau makan siang sekeluarga jadi kayaknya besok pagi banget kita kudu balik nih." Dodit mengalihkan pembicaraan kepada Andri.
"Hm, oke gue buka aplikasi dulu..." Andri dengan enggan membuka aplikasi pemesanan tiket pesawat dari ponselnya.
"Enak bener ya mau kemana aja tinggal ngedip... malam di Jakarta besok pagi udah di Jogja." Komentar Jaka.
"Makannya loe cepetan lulus kuliah dulu yang bener baru kerja cari duit biar bisa hidup enak terus mikirin cari jodoh." Saran Dodit yang sengaja menunggu Jaka agar bisa berpikir.
"Umm, ada nih besok jam delapan pagi penerbangan ke Jogja. Siapa aja nih yang kesana?" Ucap Andri seraya meminta kepastian dari Dodit.
"Ya gue, Dina sama elo aja... eh, Jak, loe mau coba kerja di tempat gue gak?" Jawab Dodit sambil menawarkan kesempatan kepada Jaka.
"Kuliah aye belum kelar, bang... skripsi baru bab dua." Keluh Jaka.
"Sabar... pokoknya loe kelar kuliah buruan susul gue ya kesana..." Dodit menepuk pundak Jaka sebelum beranjak pergi dari kamar perjaka.
***
Setengah hari sudah Dina menemani suaminya di rumah yang katanya ingin istirahat namun kenyataannya sejak tadi pandangannya tak lepas dari laptop dan grafik laporan kerja nya.
"Beib, kira-kira Eyang Soeroso mau bahas apaan ya? kok harus banget gitu semua keluarga ngumpul." Tanya Dina yang belum lama mendapatkan kabar kalau rencana makan siang bersama di undur menjadi makan malam bersama karena anggota keluarga yang lain masih sibuk bekerja.
"Aku enggak berani menebak... hmm, bee... misal nih ya kalo Eyang Soeroso berubah pikiran gak mau ngasih kepercayaan lagi aku untuk handle anak perusahaannya... kamu masih tetap disamping aku kan?" Tanya Dodit.
"Kayaknya kita udah pernah bahas tentang ini deh..." Ucap Dina.
"Huft, jujur ketakutan aku semakin besar kalo kita..." Dodit menghembuskan nafasnya berat.
"Ih, nyebelin deh! aku lagi hamil gini jelas gak mungkin bisa jauh dari kamu." Dina memukuli lengan Dodit.
"Janji ya? love you, bee..." Dodit memeluk Dina erat.
"Ada angin apa kamu bilang begitu?" Dina keheranan mendengar pengakuan cinta dari suaminya.
"Bee... jawab dong... aku tadi ungkapin cinta sama kamu..." Protes Dodit yang mengharapkan jawaban atas pengakuan nya.
__ADS_1
"Umm, apa belum cukup aku mengandung buah cinta kita?" Pipi Dina mendadak merona ketika mengucapkannya.
"Eh, iya... aku juga ngerasa makin bahagia hidup ku sejak ada kamu di samping aku terus sebentar lagi kita bakalan punya baby..." Ucap Dodit sambil mengecup perut istrinya.
"Maksud kamu... emangnya kamu cinta aku sejak kapan?" Dina kaget mendengar ungkapan perasaan suaminya.
"Ya sejak sekolah juga sebenarnya aku udah naksir sama kamu tapi aku nyadar diri lah gak mungkin saingan sama Jodi." Dodit mencoba jujur.
Dina menangkup wajahnya dengan mata terbelalak karena tak menyangka akan selama ini ternyata dirinya tidak mencintai sendiri.
"A aku kan lihat kamu juga nempel banget sama Rosa ja jadi ya aku gak mau kalah lah aku pepet aja terus si Jodi..." Jujur Dina.
"Hah? masa sih? perasaan aku ke Rosa ternyata lebih nyaman sebagai sahabat ketimbang pacaran. Kok bisa sih dulu kamu bilang kalo aku... belok." Ketus Dodit di akhir kalimatnya.
"Dih, ngambek... aku shock lah masa di wc dalam posisi jongkok pula Jodi lagi di depan kamu yang lagi berdiri." Sungut Dina mengenang masa lalu mereka.
"Ngaco. Jodi lagi tepar dia abis praktek olahraga kecapean terus aku bantu, ngeri pingsan di kamar mandi kan." Dodit menjentikkan jarinya ke arah kening istrinya.
"Wah, aku salah paham dong... etapi emang aslinya kamu gak belok... ini buktinya. hehehe..." Kekeh Dina sambil mengusap perutnya.
***
Rumah utama yang biasanya sepi kini ramai oleh kehadiran semua anak, cucu dan cicit Eyang Soeroso. Hidangan penggugah selera pun tersaji di meja makan.
"Bagaimana kondisi kehamilan mu, Ndok?" Tanya Eyang Soeroso kepada Dina.
"Alhamdulillah baik, Eyang." Jawab Dina sambil tersenyum.
"Semoga kehadiran si kembar akan semakin menyemarakkan suasana rumah ini." Harap Eyang Soeroso dengan mata berkaca-kaca dan wajah bahagia.
"Wih, kembar ternyata... pantas ya lebih besar daripada kehamilan Mama nya Jajas..." Ungkap Panji.
Semua mata memandang keheranan mendengar komentar bujangan satu-satunya saat ini di keluarga Soeroso. Biasanya Panji hanya duduk dan diam saja tanpa mengeluarkan suara apapun kecuali di tanya dan itupun hanya sekadar menjawab ya atau tidak.
Tidak lama kemudian datanglah Dimas bersama Yola dan Ningrum yang baru pulang dari supermarket. Kini semua anggota keluarga Soeroso telah lengkap sehingga tanpa banyak bicara Soeroso meminta mereka semua untuk menyantap hidangan yang tersedia.
Acara makan malam pun berlangsung tenang karena tidak ada satupun yang berbicara atau merusak momen kebersamaan mereka. Soeroso pun mengarahkan semua keluarganya berkumpul di ruang keluarga.
Setelah memastikan semua keluarganya telah lengkap berkumpul, Soeroso meminta Slamet untuk mengambilkan untuk menampilkan proyektor yang mengungkapkan informasi penting yang telah dia siapkan. Semuanya yang hadir mendadak merasakan sensasi mencekam mengingat dan menduga sendiri hal penting apa yang membuat mereka dipaksa untuk bersama malam ini?
"Sebelumnya Eyang ingin kalian menyimak baik-baik informasi dari proyektor yang akan disajikan oleh Pak Slamet." Ucap Soeroso mengarahkan semuanya untuk melihat ke arah yang ditunjukkan.
Satu persatu fakta di ungkap melalui slide tersebut dan yang paling membuat semuanya terkejut adalah fakta bahwa Hanafi dan Dodit memang adalah anak dan cucu kandung Soeroso dari pernikahan nya yang pertama dengan Tanti.
Fakta menyakitkan pun di ungkap bahwa sebelum menikah Eyang putri Ambar telah memiliki seorang putra, Bambang dan di tengah pernikahannya dengan Eyang Soeroso, Eyang putri sempat ingin kembali menjalin cinta dengan kekasih yang juga ayah biologis Bambang sehingga lahirlah Ningrum.
Mata mereka semua basah terutama Bambang yang tak pernah menyangka kalau selama ini sosok yang dia benci, Hanafi dan Dodit justru jauh lebih berhak mendapatkan harta warisan dari Eyang Soeroso karena terikat oleh hubungan darah daripada dirinya yang hanya merupakan anak sambung Soeroso.
"Maaf kalau kenyataan ini terlalu menyakitkan bagi kalian tapi sebelum nyawa ini terlepas, Eyang cuma ingin memastikan tidak ada lagi pertikaian di antara kalian semua. Tidak ada istilah anak kandung atau anak sambung, cucu kandung atau cucu sambung karena Eyang menyayangi kalian sama besarnya." Soeroso meneteskan air matanya.
Ambar pun bersimpuh di kaki Seoroso meminta maaf atas semua perilaku buruknya. Dia sungguh tak menyangka kalau selama ini sudah puluhan tahun pria yang dia anggap tak punya hati itu sanggup menahan segala luka atas pengkhianatan nya dalam pernikahan mereka.
"Aku tidak berhak menghakimi mu atas semua kesalahan mu karena ada andil ku juga... sekarang aku hanya minta tolong sayangi semua anak cucu kita tanpa pilih kasih... aku tidak tahu siapa yang akan di panggil sang khalik terlebih dahulu..." ucap Soeroso sambil mengusap puncak kepala Ambar.
Bambang pun mengikuti jejak sang ibu yang selama hidupnya telah menjadi panutan nya dalam berbuat jahat. Dia pun menyesali semua hal buruk yang telah dia perbuat.
END
__ADS_1