Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Bekam


__ADS_3

Rasa penasaran dalam diri Siska membuatnya terpaksa mendekati Herman karena dua minggu berlalu setelah dia mendengar langsung pembicaraan telepon Herman dengan Mr. X mengenai rencana mereka ingin membakar gudang produksi ternyata urung terjadi. Padahal Siska sudah terlanjur memperingati Dodit dan ia telah memerintahkan pengawasan lebih ketat di gudang produksi.


Dodit tak mau ambil resiko akan terjadinya hal buruk yang akan menimpa perusahaannya sehingga dia tetap tidak mengurangi pengawasan terhadap keamanan di seluruh area perusahaannya. Hal ini bertentangan dengan pemikiran Andri yang bahkan merasa kalau penuturan Siska tidak mendasar dan terbukti tidak terjadi hal buruk apapun seperti yang dilaporkan oleh Siska.


"Dit, gue rasa apa yang di bilang Siska itu gak benar." Ucap Andri.


"Loe kenapa bisa ngomong begitu?" Tanya Dodit yang menghentikan kegiatannya memeriksa laporan kerjasama dengan perusahaan mitra.


"Coba deh loe pikir itu bocah menurut informasi sepihak omongan di telepon seminggu setelah dia masuk kerja bakalan ada yang bakar gudang produksi tapi apa kenyataannya? Nol besar." Tandas Andri.


"Mungkin Panji manusia millenium itu masih maju mundur kali." Ucap Dodit.


"Yakin loe yang ngobrol sama HRD itu si Panji manusia millenium?" Andri malah meragukan ucapan Dodit.


"Feeling gue aja." Dodit terdiam sambil memikirkan sesuatu.


"Apa jangan-jangan ini modus si HRD aja kali biar modus sama Siska." Dengus Andri.


"Eits, Jan bawa-bawa urusan pribadi disini." Dodit mengingatkan.


"Apaan sih loe? gak jelas." Sangkal Andri sambil mengetukkan jemarinya ke meja.


"Loe daripada galau gini kenapa gak coba mulai lagi dari awal sama Siska?" Pancing Dodit.


"Dih, ngapain gue balikan sama cewek gak punya hati kek dia? seenaknya aja putusin gue terus sekalinya ketemu gak ada inisiatif buat kasih penjelasan apapun ke gue." Ungkap Andri


"Hahahaha... ada yang ngarep di kasih penjelasan ternyata. Siska emang kurang jelas apalagi dia bilang kalo alasannya putus sama elo karena dia gak mau nyakitin Ka Sandra yang belum nikah." Dodit menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sikap Andri yang biasanya logis dalam menghadapi permasalahan.


"Bohong! itu buktinya dia malah mepet si aki-aki HRD." Sentak Andri menumpahkan keresahannya.


"Buahahaha... asli ini bini gue harus tahu kalo elo kalah saing sama aki-aki. Pfffttt. Hahahaha..." Dodit puas menertawakan sahabatnya.

__ADS_1


"Bang Caaad!" Andri melempari Dodit dengan setumpuk berkas dihadapannya.


"Beib, rame amat sih? kamu lagi ngapain sama Andri? jan aneh-aneh deh ntar ada gosip gak enak tentang kalian berdua." Suara Dina dari dalam ruangan yang sempat ia sebut ruang laknat.


"Suweee loe laki bini sama aja otaknya." Umpat Andri.


Dina yang matanya masih lengket berusaha berjalan ke arah suaminya. Lalu dia duduk di pangkuan suaminya tanpa memperdulikan kehadiran Andri di hadapan mereka. Tangannya ia letakkan di leher suaminya sambil menciumi bau khas sang suami yang menyebabkan dirinya hampir tak bisa jauh dari suaminya hingga rela selalu mengikuti sang suami ke kantor di tengah morning sickness nya setiap hari.


"Bee, kasian tuh si jomblo liatin kita." Ucap Dodit mengingatkan istrinya agar tidak membangkitkan sesuatu dari bawah.


"Udah kebal gue sama loe berdua!" Ketus Andri sambil berdiri dan hendak meninggalkan ruangan itu.


"Ck, kebal tapi kabur. Hahahaha..." Dodit kembali tergelak melihat kelakuan Andri yang salah tingkah melihat pasangan suami istri sekaligus bos besar nya.


"Beib, nanti pulang kantor kita ke salon ya?" Pinta Dina sambil mengelus-elus rambut suaminya.


"Kamu mau perawatan apa, bee? sekarang aja ya aku antar terus aku balik kantor selesaikan kerjaan sambil..." Dodit menawarkan win-win solution agar tidak melalaikan kewajiban nya dalam bekerja.


Sorot mata Andri juga mengamati langkah apa yang akan dilakukan oleh bos besar nya yang menyebalkan nya itu karena sering meninggalkan pekerjaannya untuk dilimpahkan kepadanya. Andri juga kerap dipusingkan menghadapi keinginan aneh ibu hamil muda yang sering menginginkan hal absurd.


"Kamu mau bikin aku jadi bekam? bule kampung?" Dodit mulai memutar otaknya agar terhindar dari bala keinginan istrinya.


"Biru atau hijau ya? hijau tosca juga kayaknya cakep deh." Dina tak mengindahkan ucapan suaminya dan masih asyik memainkan rambut suaminya sambil membayangkan warna rambut yang akan di pakai sang suami.


Dari ujung pintu Andri yang sengaja belum meninggalkan ruangan kerja Dodit mulai menggigit tangannya menahan tawanya yang hampir pecah. Rasain loe kena karma instan dari calon anak loe, eh kayaknya ini mah akal-akalan bini loe si super ajaib deh. Batin Andri menertawakan sahabatnya.


"Dit, gak baik loh menolak permintaan istri loe yang lagi hamil." Andri kembali masuk menghampiri mereka bermaksud mengompori Dina guna membalas ejekan Dodit sebelumnya.


"Tuh, si Andri aja bisa lempeng gitu ngerti apa keinginan aku, Beib." Sungut Dina memajukan bibirnya lalu mulai mengeluarkan kaca-kaca dari kedua jendela matanya.


"Bee, please dong... aku bukan anak SMA atau anak kuliahan yang masih nyari jati diri warnain rambut. Apa kata klien aku kalo lihat rambut ku nanti. Kamu minta yang lain aja ya? apa mau aku pijat semalaman?" Dodit mencoba berkelit dari keinginan istrinya.

__ADS_1


"Ah, pijetin semaleman mah itu kemauan kamu." Cenil Dina sebal karena keinginannya tidak terpenuhi.


"Kalo ketemu klien mah gampang nanti pake topi, Dit." Saran Andri yang mendapatkan tatapan hendak menerkam mangsanya dari Dodit.


"Kagak! gue mau pake peci aja nanti ke kantor." ucap Dodit bermaksud menyindir tapi tidak tepat sasaran karena keinginan istrinya itu tak tergoyahkan.


"Andri loe tumben amat sih pro sama gue? setiap hari kek loe baik sama gue." Dina terharu dengan pembelaan Andri terhadapnya. Andri merasa di atas angin karena dapat membalaskan rasa kesalnya kepada Dodit melalui si ibu hamil.


"Sebaiknya buruan deh loe berdua ke salon sekarang sebelum jam pulang kantor karena bakalan macet terus bumil bete di jalan." Andri semakin menggosok ibu hamil dan suaminya yang mulai tak berdaya.


"Ya udah, yuk Beib." Ajak Dina menarik tangan suaminya keluar ruangan.


"Din, jangan lupa share fotonya keren apa enggak warna rambutnya." Ucap Andri sebelum keduanya keluar dari ruangan kerja Dodit.


"Dri, urusan kita belum kelar ya!" Pekik Dodit sambil menatap kesal ke arah sang asisten pribadinya.


"Bee, please... kamu yakin mau punya suami bekam?" Ringis Dodit yang tak kuasa melihat ekspresi memohon sang istri.


"Beib, nanti malam aku yang di atas, oke?' Dina menjanjikan kenikmatan untuk suaminya.


"Tiga ronde."Sahut Dodit cepat.


"Wah, bengek dong." Gumam Dina.


"Selow aja nanti aku bantu deh." Dodit terpancing.


"Oke, tapi nanti kamu mau warna rambutnya biru, hijau atau tosca?" Tanya Dina yang mendapatkan jawaban dengusan Dodit.



Penampakan suami sayang istri. Awalnya kesel tapi akhirnya pasrah demi keinginan istrinya.

__ADS_1


*****


Entah harus berapa purnama tunggu lolos review


__ADS_2