
Di dalam mobil Panji menekan layar ponselnya dan menghubungi salah satu anak buahnya. Rencana untuk menghancurkan reputasi produk baru yang akan diluncurkan bulan depan oleh anak perusahaan Anti Gagal itu ternyata sesuai namanya yang juga Anti Gagal terhadap rencana busuk Panji dan Bambang.
Maka, kini ia harus bergerak cepat untuk melaksanakan rencana cadangan berikutnya yang akan menghancurkan anak perusahaan itu dengan membakar gudang produksi sekaligus menghilangkan jejak kejahatan mereka yang telah sengaja mencampurkan bahan makanan berbahaya dalam makanan sereal yang akan launching bulan depan.
"Jalankan plan B." Perintah Panji begitu nada sambungan telepon nya telah di angkat oleh sang anak buahnya.
"Ta tapi Tuan ini terlalu mencolok dan pasti aparat penegak hukum akan bisa menebak kalau kita lah pelakunya." Sang anak buahnya berusaha membuat Panji berpikir logis.
"Hm, tapi Tedjo bisa saja membocorkan rencana kita kepada aparat penegak hukum." Panji mengetatkan rahang nya.
"Saya jamin Pak Tedjo tidak akan berani menyebutkan nama tuan karena dia masih takut dengan Pak Soeroso." Ucap sang anak buahnya.
"Jadi kapan kau akan menjalankan rencana cadangan?" Cecar Panji tak ingin membiarkan Dodit hidup dengan tenang.
"Kita lihat saja dulu apakah Pak Tedja masih bisa menutup mulutnya dalam waktu seminggu ini. Jika dia bisa menutup mulutnya maka rencana kita akan berjalan aman." Saran sang anak buahnya.
"Aku pegang kata-kata mu. Pastikan kondisi disana tidak memancing perhatian." Ucap Panji akhirnya.
"Baik, tuan. Semoga hari-hari tuan selalu menyenangkan." Ucap sang anak buahnya.
Klik
Panji langsung mematikan sambungan telepon nya. Otaknya kembali berputar memikirkan cara apalagi yang akan dilakukan untuk menjegal langkah kesuksesan Dodit. Ya, orang itu tidak boleh lebih baik dari ku. Batin Panji.
@ Perusahaan Anti Gagal
Seorang perempuan cantik berambut panjang tampak duduk manis di lobby tempat ia dipersilahkan untuk duduk sebelum menemui sang bos besar atas permintaan teman akrab barunya, Dina.
Kedatangannya kemarin sore ke kota ini pun atas desakan Dina yang memintanya untuk membantu suaminya mengawasi segala hal mencurigakan di perusahaan ini. Dina bahkan mengaku sudah beberapa kali mereka mengalami insiden yang nyaris merenggut nyawa setelah suaminya mengemban tugas sebagai pemimpin di anak perusahaan Eyang Soeroso.
Sejak tadi ia memang sengaja mengenakan earphone di telinga nya untuk menghilangkan rasa jenuh karena pasti akan lama menunggu tanpa kepastian. Namun pendengaran nya masih cukup baik menyimak pembicaraan yang tak sengaja dia simak baik-baik oleh seorang yang ia duga salah satu bagian dari staf kantor ini tengah membahas sesuatu rahasia.
Sosok itu sengaja menggumamkan lirik lagu Never mind I'll find someone like you... sebuah lagu milik Adelle . Hal itu dia lakukan agar tidak menunjukkan dirinya sengaja menguping pembicaraan telepon sosok pria paruh baya yang duduk tak jauh dari posisinya.
__ADS_1
Seusai sambungan telepon itu dimatikan, sang ank buah Panji kini melirik ke arah gadis itu sengaja melambaikan tangannya ingin mengetes apakah pembicaraan barusan terdengar olehnya. Hasilnya, sosok itu terlihat asyik dengan ponselnya sambil bernyanyi pelan.
"Mba, maaf sedang menunggu siapa ya?" Tanya sang pria.
"Um, saya lagi mau coba melamar kerja di perusahaan ini." Jawab gadis itu.
"Wah, kebetulan sekali saya adalah kepala HRD di perusahaan ini. Mari saya lihat CV nya, mba." Pria itu mengulurkan tangannya hendak meminta CV.
"Masya Allah... bisa kebetulan begini ya?" Gadis itu berpura-pura memasang ekspresi antusias seraya mengulurkan CV miliknya.
"Iya perkenalkan saya Herman." Pria itu malah mengajak bersalaman.
"Eh, iya Pak." Gadis itu membalas untuk bersalaman.
Herman langsung sigap mengambil CV sang gadis lalu membacanya. Lembar demi lembar CV itu dia baca perlahan sambil bergumam, cantik.
"Maaf, Pak tadi bapak bilang apa ya?" Gumaman Herman ternyata masih terdengar jelas.
"O o... seperti nya kamu memenuhi syarat untuk bekerja disini. Mari kita ke ruangan saya untuk membicarakan formasi apa yang sesuai untuk kamu." Ajak Herman yang diikuti oleh sang gadis berjalan di belakangnya.
Memasuki ruangan yang cukup nyaman itu baru lah sang gadis merasa canggung. Herman harus menahan hasratnya ketika tak lama mereka duduk sudah ada Felly, kepala divisi keuangan.
"Maaf mengganggu waktunya. Saya cuma ingin memastikan apakah Pak Herman sudah mendapatkan karyawan baru untuk menempati bagian divisi keuangan?" Tanya Felly lugas.
"Eh, Bu Felly ini kebetulan sekali saya tadi baru saja mau menghubungi Ibu kalau di depan kita ini sudah ada calon karyawan yang tepat untuk posisi keuangan. Basic pendidikan dan pengalaman bekerja nya selama ini sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Bu Felly." Ucap Herman dengan senyum lebarnya.
"Wow, cepat juga ya. Maaf boleh saya lihat langsung CV nya?" Felly terkejut senang.
"Ini silahkan duduk dan baca sendiri CV nya." Ucap Herman.
Felly pun mengikuti ucapan Herman dan memilih duduk di samping sang gadis. Jemari lentiknya membuka satu persatu lembaran CV itu.
"Well, kamu beruntung sekali berada di waktu yang tepat seperti ini." Ungkap Felly.
__ADS_1
"Iya, Alhamdulillah." Ucap sang gadis.
"Pak Herman, saya setuju kalau mba ini kita terima saja." Felly berbicara ke arah Herman.
"Syukurlah kalau memang begitu jadi mulai besok kamu bisa mulai bekerja di perusahaan ini menjadi bagian dari team work kami." Ucap Herman.
"Alhamdulillah... terima kasih untuk kesempatan yang diberikan untuk saya." Ucap sang gadis sambil agak membungkuk.
"Pak, berarti saya bisa langsung mengajak mba ini untuk berkeliling divisi keuangan sekaligus perkenalan agar besok dia bisa langsung cepat beradaptasi dan bekerja sama dengan baik." Ucap Felly.
"Oke, tapi tunggu sebentar mba nya harus membaca dan menandatangani draft kontrak kerja perusahaan kita terlebih dahulu." Herman berjalan menuju tempatnya menyimpan berkas penting.
"Baiklah saya tunggu." Felly tetap berada di tempat nya duduk. Hal ini sedikit mengecewakan Herman yang berharap bisa memanfaatkan momen ini agar mengenal lebih dekat sang gadis.
"Huft, baiklah." Herman mendesah berat menahan rasa sebal atas kehadiran Felly.
Herman yang merasa kali ini kesempatan nya untuk mendekati sang gadis gagal karena ulah Felly terpaksa bersikap profesional dan meminta sang gadis untuk menandatangani kontrak kerja.
Setelah itu Felly menuntun lembut lengan sang gadis agar berjalan disampingnya menuju lantai tiga tempat divisi keuangan tempatnya bekerja.
"Makasih ya mba Felly." Ucap sang gadis.
"You're welcome." Jawab Felly.
"Saya tadi sempat takut di ajak masuk ke ruangan Pak Herman." Bisik sang gadis ketika memastikan sudah menjauh dari ruangan tempat Herman berada.
"Hahaha... itu lah alasan saya langsung masuk dan mendekati kamu." Aku Felly sambil tertawa.
"Duh, terharu saya belum bekerja sudah mengenal orang baik seperti mba Felly." Ucap sang gadis tersenyum senang.
"Semoga kamu betah ya bekerja disini. Bos baru kita emang ganteng tapi kabarnya dia sudah menikah jadi nanti kalau kamu cari jodoh mendingan incar asistennya aja yang masih single." Felly memberikan informasi yang sebenarnya sudah diketahui sang gadis.
*****
__ADS_1
Hayoooo tebak-tebakan siapa sih sang gadis itu?