
"Kamu suka sama modelnya?" Tanya Dodit sambil menunjukkan cincin pernikahan mereka yang sudah di pesan desain nya oleh Eyang Soeroso.
Sekilas cincin itu terlihat biasa seperti pada umumnya cincin pernikahan karena nama kedua pasangan itu tertulis begitu kecil di bagian dalam nya.
Hal yang tidak diketahui oleh Dodit dan kelak akan diberitahu Eyang Soeroso adalah cincin itu bisa berfungsi sebagai GPS sehingga bisa melacak keberadaan mereka satu sama lain apabila terjadi situasi berbahaya yang mengancam keselamatan nyawa mereka.
"Hm, iya suka." Dina memaklumi selera Eyang Soeroso dan tak terlalu antusias karena komitmen awal yang ditawarkan oleh Dodit sebelum mereka berangkat ke Jogja adalah apapun yang mereka lakukan selama di depan keluarga Dodit adalah drama jadi Dina hanya perlu bersikap manis menanggapi semua bentuk perhatian Dodit dan keluarganya.
"Oke, Pakdhe ini ukurannya sudah pas jadi bisa langsung di bungkus." Dodit menyerahkan cincin itu kepada Darmo untuk di kemas dengan tampilan cantik dan manis.
Tak berapa lama kemudian mereka melaju ke arah jalan pulang dengan membawa sebuah paper bag berisi cincin pernikahan mereka yang di taruh di dalam tas Dina.
"Kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu?" Tanya Dodit.
"Terserah." Jawab Dina singkat.
"Bee... kok gitu sih jawabannya singkat bener?" Protes Dodit.
"Oh iya aku lupa belum beli oleh-oleh pesanan Hilda si ibu hamil." Ucap Dodit yang menepuk dahinya kala melihat jejeran toko oleh-oleh saat melintasi pertigaan lampu merah.
"Ibu hamil?" Ulang Dina belum paham maksud ucapan Dodit.
"Iya si Hilda kan lagi hamil terus Rafli telepon terus bilang kalo dia mau bakpia pathok langsung dari Jogja." Dodit menjelaskan apa permintaan Hilda tempo melalui telepon.
Hmm, istri sahabatnya hamil aja dia perhatian banget. Sweet juga kayaknya dia kalo jadi suami Rosa nantinya. Apalah gue yang cuma jadi istri sandiwara nya. Gumam Dina dalam hati.
"Kenapa diam?" Tanya Dodit melihat sikap Dina tampak melamun memikirkan sesuatu hal yang tidak dapat di pahami oleh nalar Dodit.
"Hm, gak apa-apa. Kita mau beli oleh-oleh nya dimana?" Dina berusaha menutupi semua perasaannya dengan mengalihkan pembicaraan.
"Itu di depan ada toko plus pabrik bakpia pathok jadi aku mau cari tempat parkir yang enak dulu deh." Jawab Dodit sambil menunjukkan sebuah toko di depan jalan berukuran besar dengan sebuah tulisan bakpia pathok 75.
__ADS_1
"Waduh, parkiran penuh nih." Keluh Dodit.
" Ya udah kamu masuk aja sana biar aku tungguin mobil di dalam aja." Dina mengajukan diri untuk menjaga mobil yang terpaksa berada di pinggir bahu jalan.
"Bee, aku gak telaten soal oleh-oleh jadi kamu harus ikut." Dodit menarik lembut tangan Dina untuk keluar dari mobil. Terpaksa lah Dina menuruti keinginan suaminya itu.
"Kenapa merengut gitu? Iya nanti kamu juga boleh beli apa aja yang kamu suka. Senyum dong, bee..." Rayu Dodit.
"Hm," Sahut Dina tak bersemangat.
Dodit yang tak bisa memahami alasan perubahan sikap Dina berusaha tetap bersikap manis dan menempel terus bak lem aibon.
"Kamu gak milih yang disana?" Dina yang merasa jengah dengan senderan kepala Dodit di bahu nya saat memilih aneka rasa bakpia kesulitan melepaskan diri dari suaminya itu.
"Tempatnya rame jadi aku takut kehilangan kamu, bee..." Ucap Dodit dengan nada manja.
"Hng, ini tempat umum." Dina mendadak meremang karena Dodit berbicara tepat di tengkuknya.
Ya ampun ini suami minus akhlak masa pamer kemesraan di tempat oleh-oleh sih? Mau sekalian di bungkus buat di bawa untuk oleh-oleh sama pengunjung toko kayaknya ini orang. Dina melengos sebal.
"Mba, tolong pack untuk lima dus. Setiap dus nya tolong isi dua varian yang berbeda dari bakpia pathok yang ada disini kecuali satu dus jangan di kasih varian durian karena untuk ibu hamil." Ucap Dodit ketika ia menghampiri salah seorang karyawan toko ini untuk memesan apa saja yang hendak dibeli.
Huh, kalau sudah tahu apa yang mau dibeli kenapa harus muter-muter segala sih dari tadi? Sungut Dina kesal dengan suami menyebalkan nya itu.
Dina ikut membantu membawakan dua dua hasil berburu bakpia mereka walaupun Dodit sudah melarang nya.
Satu persatu mereka menyusun dus makanan itu di bangku penumpang agar tidak terjatuh.
"Bee, kita mampir sebentar ya ke jasa pengiriman barang untuk kirim pesanan ini." Ucap Dodit dengan dagu menunjukkan ke arah belakang mobil.
"Hm, iya." Sahut Dina.
__ADS_1
"Kamu kenapa jadi lebih kalem ya daripada waktu SMA?" Dodit ingin memancing singa ngamuk.
"Emang kenapa gue SMA?" Dina tersulut.
Dodit menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu melepas seat belt nya, mendekati Dina dan menarik tengkuknya dan menyentuh bibir Dina dengan intens tanpa memberikan kesempatan bagi Dina untuk menolak dan hanya sesekali berhenti untuk bernafas.
"Tadi tiga huruf ya? Sekarang hukuman huruf kedua." Ucap Dodit yang kembali menyentuh bibir Dina dengan penuh hasrat. Dina kembali terhenyak tidak menyangka akan hukuman dari menyebutkan kata 'gue' akan berakhir manis seperti ini.
"Hmmmphhh... Iya maaf..." Dina menggap-menggap sambil mendorong Dodit menjauh.
Posisi mereka kini berada di pinggir jalan umum dan masih banyak orang lalu lalang. Pasti akan sangat memalukan kalau sampai ada petugas parkir yang memergoki kegiatan mereka barusan.
"Huruf ketiga." Dodit mengakhiri hukumannya sambil mengusap lembut bibir istrinya itu.
"Bee... Gak malu apa kalo ketahuan sama orang lain. Kita bisa di sangka pasangan mesum tahu!" Dina melotot kesal.
"Tunjukkan aja buku nikah." Sahut Dodit enteng sambil kembali memasangkan seat belt.
Berselang lima menit mobil Dodit kembali berhenti di depan pintu masuk salah satu jasa pengiriman barang. Mereka pun turun sambil mengeluarkan empat dua yang akan di kirim untuk sahabat mantan jomblo nya di Jakarta.
Setelah menyelesaikan urusan pengiriman barang dan mengambil gambar resi pengiriman ke grup mantan jomblo yang bersorak gembira akan mendapatkan kiriman oleh-oleh yang padahal pengirimannya masih berada di Jogja itu.
Dan berbagai ungkapan terima kasih itu terungkap dari chat mereka seperti:
Rafli: Makasih Om Dodit... semoga lekas pepet onti Hana biar debat cepat punya teman
Jodi: Woyyy... kapan balik? sekalian aja loe yang dipaketin pulang sini
Andri dan Samudra: Thanks, Dit.
Kini Dodit dan Dina kembali melanjutkan perjalanan mereka. Hmm, kenapa ada yang beda sama ini mobil? Dodit si montir di bengkel mantan jomblo merasa adanya hal yang berbeda kala menyetir kali ini.
__ADS_1