Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Ternyata


__ADS_3

Dina bersyukur akhirnya Dodit mau menuruti keinginannya untuk menemani dirinya duduk di tempat makan walaupun hanya Dina sendiri yang makan.


Hampir seluruh pengunjung pria di rumah makan itu memandang Dina dengan tatapan lapar. Padahal penampilan Dina hanya mengandalkan bedak dan lipstik saja tanpa make up yang berlebihan. Ia juga malah terlihat tertutup dengan jaket denim yang dikenakannya.


Drrrttt


Drrrttt


Terdengar getar ponsel Dodit. Ada panggilan telepon masuk. Ia hendak beranjak, namun tangannya langsung di pegang oleh Dina yang menatapnya dengan memelas seolah Dina berkata untuk tak mau sejengkal pun berpisah dari Dodit.


Tak ingin berdebat lagi, Dodit hanya terdiam dan memilih mengangkat panggilan telepon yang ternyata berasal dari Rafli.


"Assalamualaikum, Dit, loe sekarang lagi dimana? Gue bisa minta tolong gak? Bini gue lagi ngidam nih kepengen bakpia pathok langsung dari Jogja." Setelah mengucapkan salam, Rafli langsung memberondong Dodit dengan keinginan sang ibu hamil, Hilda.


"Walaikum salam, Pak Haji. Ribet amat, loe pergi aja ke toko pusat oleh-oleh juga banyak yang jual bakpia pathok." Sahut Dodit.


"Lain dong itu mah om Dodit. Om gak mau kan nanti keponakannya ngiler an." Kali ini Hilda yang bicara dengan nada di buat bak anak kecil agar Dodit mau menuruti keinginannya.


"Ucet, bumil... Gue masih di perjalanan ini mau ke Jogja jadi gak mungkin bisa beliin karena mungkin gue nyampe lewat tengah malam.


"Heh, loe bukannya udah seminggu disana?" Rafli keheranan.


"Iya, tapi ada sedikit urusan kenegaraan lah jadi baru bisa jalan sekarang." Dodit berkelit.


"Gaya loe anta banget. Lagian kalo selama ini loe masih di Jakarta kenapa gak pernah ke basecamp lagi?" Cecar Rafli.


"Gue kan udah pamitan sama kalian jadi ngapain kesana lagi." Dodit kembali mencari alasan.


"Yeee... Kalo tahu loe masih di Jakarta kan gue bisa bikin list oleh-oleh. Hehehe." Gurau Rafli.


"Kapan gue balik lagi aja belum tahu." Suara Dodit terdengar lirih.


"Iih, jangan gitu dong. Gue gak bisa lama- ninggalin bokap, Dit." Dina yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan telepon Dodit ikut menyahut.


"Eits, loe lagi sama siapa tuh? Etapi suaranya kok kayak cewek?" Telinga Rafli peka menyadari adanya suara si sebelah Dodit.


"Ck, kepo aja loe." Dengus Dodit yang melirik kesal ke arah Dina yang menyadari kesalahannya dan hanya tertunduk sambil menahan berbagai pertanyaan dalam benaknya.

__ADS_1


Dina, Dina... Kenapa loe gak bisa ngerem mulut loe sih? Ini kalo dia ngamuk gimana? Bisa-bisa dia ninggalin gue begitu aja disini. Alamat jadi gembel gue. Batin Dina.


"Aa, atuh biarin si Dodit lagi usaha nyari jodoh. Kita cuma jadi penonton aja siapa yang cepetan ke pelaminan si Dodit apa si Andri." Hilda terdengar membela Dodit seraya meminta suaminya agar tidak mengusik ketenangan Dodit.


"Iya tapi gak sembarangan juga dong masa ketemu jodoh di rest area." Sanggah Rafli tak mau menerima begitu saja rengekan Hilda.


"A, jodoh itu kan jorok bisa ketemu dimana aja dan kapan aja." Hilda meneruskan ucapannya.


"Wah, untunglah kita gak ketemu di tempat jorok ya." Ucap Rafli penuh syukur.


Aseeeemmm ini duo bapak hamil sama ibu hamil nyindir gue apa gimana?


"Woyyy, lupa apa loe berdua belum nutup telepon gue? Gue tutup aja ya nih?" Dodit merasa terabaikan dengan pembicaraan suami istri itu.


"Hehehe... sorry lupa gue ada si jomblo yang dengar." Rafli malah menggoda Dodit.


Ingin rasanya Dodit mengakui kalau dirinya kini sudah tidak jomblo lagi. Ia lirik sosok disebelahnya yang sudah hampir menyelesaikan makanannya. Perlahan Dodit berjalan ke meja kasir bermaksud ingin membayar makanan yang sedang dinikmati oleh istrinya.


"Dit, ngambek loe ya? Kok diam aja?" Rafli merasa heran karena Dodit tidak merespon. ucapannya.


Dina yang melihat Dodit telah membayarkan makanannya kini terburu-buru menghabiskan sisa rendang dan lalapannya. Ia menahan rasa sesak lantaran begitu terburu memakan lalu meminum habis semua nya.


Dodit terus melanjutkan obrolannya melalui telepon dengan Rafli dan Hilda. Dina yang tak mau di cap kepo memilih berjalan di belakang Dodit.


Langkah Dina mulai di percepat ketika ada tiga orang kawanan pria yang ingin menghampirinya dengan tujuan mengganggu. Dalam hati ia berharap agar Dodit menengok ke belakang dan menolong dirinya bak seorang suami sejati. Eits suami sejati? Gimana ceritanya? tadi aja Rafli dengar suara Dina langsung di sangkal Dodit.


"Kenapa buru-buru jalannya, cantik? Hayuk sini kita jalan bareng!" Seorang di antara pria itu mulai berani menarik tangan Dina..


"Iya ngapain sendirian?" Seloroh temannya yang lain.


Dina mulai jengah dan tangan pria berwajah menyeramkan itu ia hempaskan dengan kasar. Merasa mendapatkan perlawanan pria itu semakin nekat ingin meraba wajah Dina.


Perlahan Dina berjalan mundur sambil memasang kuda-kuda dan menatap tajam ke arah ketiga pria itu yang terlihat terkejut sesaat.


"Ayo kita seret ini cewek, cepat!" Teriak pimpinan pria itu yang terlihat geram.


Bawahannya kini maju menyerang Dina yang berlari ke tempat yang lebih leluasa. Dan tidak bisa dihindari, akhirnya terjadilah pertarungan cukup sengit antara Dina melawan ketiga pria tinggi kekar itu. Sebuah pemandangan yang cukup menggelikan sebenarnya bagi beberapa pasang mata yang menjadi saksi kejadian itu.

__ADS_1


"Keren mba nya!" Puji juru parkir yang baru muncul setelah ketiga pria itu kabur.


"Loe kemana aja sih? Ini udah malam! Kita masih jauh nih perjalanannya!" Dodit yang belum lama menutup panggilan telepon baru menyadari Dina tidak berada didekatnya.


"Mas ini siapa nya? Mba ini abis dikeroyok preman sini, untung aja jago berantemnya jadi bisa dilibas itu penjahat nya." Adu juru parkir yang tak terima dengan sikap Dodit.


"Beneran? Sejak kapan loe bisa berantem?" Dodit tak langsung percaya begitu saja.


"Mm, sejak gue kalah sama Rara dulu..." Dina mengaku.


Sejak kejadian Dina dikalahkan secara telak oleh Rara (baca kawin gantung part di labrak) memang Mama nya langsung mendaftarkan dirinya kembali ke sebuah tempat karate.


"Loe gila ya? Jadi sampai hari gini loe masih ngarep Rara ngelepasin Jodi? Mimpi loe!" Maki Dodit sambil berjalan ke arah parkiran mobil.


"Dit, gak gitu... Gue cuman..." Dina ingin menjelaskan.


"Cuman apa?! Sekali aja loe berani sengak apalagi main fisik sama semua istri sahabat gue bakal gue bikin sengsara hidup loe!" Ancam Dodit dengan raut wajah murka.


Dina tak berani melawan kemarahan Dodit sehingga ia memilih terdiam sambil sesekali mengelap cairan bening yang merembang di kedua kelopak matanya yang sejak tadi sulit berhenti.


*****


Author: Sadis amat loe sama bini


Dodit: Ck, jodoh pilihan loe emang kagak ada baiknya sama sekali


Author: Jadi mau loe gimana? Gue hapus aja cerita bagian loe nikah sama Dina?


Dodit: Emang pembaca loe gak kecewa?


Author: Dih, pembaca atau elo yang kecewa kalo Dina gue hapus jadi bini loe?


Dodit: terus nanti jodoh gue siapa?


Author: Ya entar loe jomblo seumur hidup. Hahaha


Dodit: Gue lempar bakiak nih!

__ADS_1


Author: Hahaha... Kabooorrrr!!! Ada mantan jomblo galak!!!!


__ADS_2