Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Kang ghosting


__ADS_3

Tiap hari kita chating


Malamnya kita calling


Baper sampe salting


Tapi napa kamu ghosting


Kamu ketik pake jari


Aku bales pake hati


Bikin seneng hari-hari


Tapi napa kamu malah ghosting


Welut kang, welut-welut kang ghosting


Kang ghosting, ghosting


Ghosting ghosting kang ghosting


Welut kang, welut kang ghosting


Kang ghosting, ghosting


Kang ghosting huu


Tiap hari kita chating


Malamnya kita calling


Baper sampe salting


Tapi napa kamu ghosting


~ Bulan Sutena ~


Jika para pejantan mantan jomblo sedang berkumpul maka hal demikian pula berlalu dengan para betina mantan jomblo yang sedang berkumpul di rumah Rosa lebih tepatnya rumah mertuanya alias Jamilah.


Rara yang sudah mendapatkan persetujuan dari Jodi untuk mengadakan we time tanpa membawa serta kedua anaknya yang sudah terlebih dahulu di asuh oleh kedua belah pihak orang tua dan mertuanya. Kini ia menikmati benar saatnya bersua dengan sahabatnya. Namun, ia tergelitik mengamati perubahan fisik Rosa yang tampak lebih kurus dan berpenampilan kusam.

__ADS_1


"Sa, loe udah sarapan?" Setelah memastikan bahwa Jamilah meninggalkan rumah untuk pergi arisan rutin pengajian, Rara mencoba mendekati Rosa.


"Um, belum." Jawab Rosa ragu.


"Lho, ini udah mau jam sebelas bentar lagi kok belum makan?" Cecar Rara tak ingin terjadi hal buruk dengan sahabatnya.


"Ra, jangan-jangan Rosa ngikutin gue...?" Hilda menebak.


"Ngikutin apaan?" Siska ikutan penasaran.


"Hust, nikah dulu sana sama Andri jangan ikutan dulu loe sebelum halal." Sergah Hilda.


"Da, loe jangan kek mertua gue ngapa nyecer gue hamidun mulu." Sungut Rosa sebal.


"Eh, bukan ya? belum aja kali..." Hilda tak ingin mematahkan semangat Rosa karena tak pernah curhat bahwa dirinya di desak pertanyaan kehamilan oleh sang mertua.


"Nikah, baru jalan empat bulan aja mah gak usah di bawa ribet. Loe anggap aja ini masa loe honeymoon tiap hari." Rara memberi pencerahan.


Siska yang merasa terasingkan dengan topik pembicaraan mengenai kehamilan lebih memilih menghabiskan waktunya berselancar di dunia maya. Ia melirik sekilas ke arah Rosa lantaran di efbi ada pengingat yang membagikan kenangan foto Dodit dan Rosa yang kala itu di dapat dari igeh.



"Ah, ka... kagak." Siska terpergok dan menjadi gugup.


"Wayoloh lagi streaming video panas nih bocah jangan-jangan." Rara menajamkan matanya menatap Siska.


"Apa sih gak nyambung." Bantah Siska.


"Makanya buruan kasih kepastian sama Andri biar dia gerak cepat." Hilda mengompori.


"Sis, ada yang salah sama gue?" Rosa yang sedang sensi kini menebak sikap aneh Siska.


"A apa sih?" Siska semakin gugup.


Rara memberi kode kepada Rosa dan Hilda untuk mengepung Siska dan berusaha mengambil ponsel yang dipegang oleh Siska. Perlahan namun pasti ketiga sahabat itu menggelitik Siska hingga wajahnya kemerahan dan tanpa sadar ponsel di tangannya telah berpindah tangan ke Rosa.


"Sa, sini balikin hape gue!" Pekik Siska tak ingin mood sahabatnya memburuk.


"Apaan kodenya? Gue curiga." Rosa tak mau menyerahkan begitu saja ponsel Siska.


"Arrggghhh..." Rosa kesakitan mendapat cubitan maut jurus andalan Siska.

__ADS_1


Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Siska yang mengambil kembali ponselnya. Huft, aman. Batin Siska.


"Sis!" Rara mendesis begitu melihat tampilan awal ponsel Siska masih menunjukkan foto Rosa dan Dodit di masa lalu.


Hubungan Rosa dan Dodit memang boleh di bilang rumit. Berawal dari rutinitas obrolan receh yang rutin setiap hari lalu dilanjutkan video call setiap malam hingga membuat Rosa salting dan berakhir menerima Dodit sebagai kekasihnya kala SMA. Namun, salah faham dan emosi sesaat Rosa memutuskan hubungan mereka yang baru berumur dua jam tiga puluh enam menit lima detik.


Semenjak mereka putus pun kebiasaan berkabar setiap hari itu tetap berjalan sehingga menjadi kebiasaan bagi Rosa menumpahkan segala hal dalam dirinya kepada Dodit.


Semakin lama Rosa gemas melihat pergerakan lambat Dodit yang tak pernah kembali menyatakan cinta kepadanya. Padahal sebenarnya Dodit tak enak hati melihat sosok Samudra yang begitu cuek selalu bersemangat menceritakan perasaannya terhadap Rosa. Belum lagi Rafli yang diam-diam patah hati melihat Samudra begitu gencar menyatakan cintanya untuk Rosa. Dodit mengamati semua tingkah kedua sahabatnya sehingga ia mensugesti dirinya kalau perasaannya terhadap Rosa hanya sebatas sahabat saja.


Demi mengalihkan rasa sakitnya harus merelakan Rosa untuk Samudra, Dodit kerap kali menggoda adik kelasnya dengan gombalan receh nya. Kelakuan Dodit seperti ini lah yang membuat Rosa berpaling dan memilih Samudra yang tak pernah ia sekalipun terlihat dekat dengan perempuan lain apalagi tebar jala macam Dodit.


"Hah, Dodit..." Rosa mendesah. Ia meraba hatinya yang ternyata masih menyisakan nyeri setiap kali teringat atau sekadar melihat foto kebersamaannya dulu bersama Dodit.


"Istighfar, Sa... cukup Raisa yang tenggelam di ruang nostalgia, elo jangan." Rara mengingatkan


"Sa, maaf ya bukannya gue mau sok bener gitu tapi kalau kita sudah menikah itu..." Hilda ingin menguatkan penuturan Rara.


"Huft, untung aja gue tarik ulur tuh si Andri biar gak keburu ngajak nikah." Ceplos Siska tak sadar ucapannya menjadi pusat perhatian ketiga sahabatnya.


*****


Dodit: Wah, beneran itu Rosa serius cinta sama gue?


Author: Heh, Jan ngintip part ini!


Dodit: Ah, jadi susah move on


Author: Jadi gue cancle aja nih jodoh loe?


Dodit: Jangan dong! kepo nih gue


Author: Hmm... (ragu)


Dodit: Djatet ya kalo Rosa itu sudah ada label haram buat gue karena ada sertifikat dari KUA


Author: pegang kata-kata loe ye! Jan berubah haluan jadi pebinor!


Dodit: Galak beud emak tiri


Author: Bodo amat

__ADS_1


__ADS_2