
Dodit yang baru tersadar dari pingsannya, dengan perlahan membuka kedua matanya. Ia terbangun dari sofa tempatnya tadi tertidur.
"Gue dimana?" Dodit bertanya dengan wajah yang bingung.
"Kamu ada di ruang inap. Untung aja suami saya tiba-tiba datang jadi bisa cepat langsung tolong kamu." Si Ibu menjawab.
Dodit terdiam dan mencoba mengingat apa yang terjadi padanya hingga berada di ruangan tersebut. Wajahnya berubah pucat saat ia mengingat apa yang membuatnya pingsan. Namun itu hanya sesaat, netra nya membulat melihat ruangan yang tadi sunyi kini terdapat banyak orang dan sedikit ramai.
Tempat tidur untuk pasien yang lain sudah di geser ke dinding sehingga di samping tempat tidur Pak Jali ada ruang untuk menyimpan meja dan enam kursi yang melingkari meja, kemudian ada beberapa kursi yang di tata rapih sehingga tidak terkesan berhimpitan.
Kenapa itu si Kunti udah dandan? Ini ada apaan sih kok jadi pada pake baju resmi? Ah, jangan bilang tadi itu nyata? Gawat nih gue harus kabur. Otak Dodit sudah merencanakan untuk kabur.
Ia tak mau ambil resiko mengikat komitmen dengan si Kunti dan hendak memilih langkah seribu. Perlahan ia menggerakkan kakinya untuk bisa berdiri sendiri lalu ketika ia hendak bangun ada seorang perawat yang memintanya untuk diam dan harus mau diperiksa kondisi nya setelah pingsan.
"Gimana kondisinya, sus?" Tanya si Ibu.
"Kondisinya sudah segar kok jadi bisa segera di mulai acaranya." Jawab suster.
"Acara apaan?" Pertanyaan sok polos itu keluar dari mulut Dodit.
"Nak Dodit, kamu mau kasih apa untuk mas kawin?" Seorang pria paruh baya mengenakan baju Koko berwarna hitam mendekati Dodit.
"Mas kawin? Um, saya..." Dodit ingin tetap mengupayakan kabur pada detik terakhir dari situasi seperti ini.
"Maaf kalau terlalu memaksakan kamu harus hari ini juga karena Abang saya tidak mau di operasi kalau anaknya belum nikah." Pria yang paling muda di antara ketiga pria paruh baya lainnya mencoba memberi pengertian kepada Dodit.
"Saya..." Dodit ingin menyahut tapi ia tak sampai hati lantaran semua pandangan penghuni ruangan itu mengarah kepadanya. Pandangan mereka semua seolah berkata, "buruan ucap ijab qobul sana biar gak jomblo selamanya."
"Mas kawin itu tidak boleh berupa hutang jadi bisa apa saja yang sekiranya memang milik Nak Dodit dan ikhlas untuk diberikan kepada calon istri mu."
"Bapak ingin kamu pikir baik-baik." Pria itu menepuk bahu Dodit.
__ADS_1
"Saya ada sih setoran duit roti hari ini." Aku Dodit yang tanpa sadar tergerak untuk mau menikahi sosok yang sebenarnya ia hindari.
"Lah, nanti buat modal roti nya gimana?" Si ibu menyahut.
"Sebenarnya saya memang ada niat pulang kampung lusa tapi modal roti masih lebih dari cukup." Ucap Dodit.
"Baiklah kalau memang itu menjadi keputusan mu, Nak Dodit sekarang lekas ganti baju ini ada baju Koko saya belum sempat di pakai jadi bisa kamu pakai. Anggap saja ini hadiah pernikahan dari saya. Hehehe." Pria itu menyodorkan sebuah baju Koko yang masih terlihat kaku untuk di pakai oleh Dodit di hari sakral nya.
"Oh iya Nak Dodit ada fotokopi KTP?" Tanya si bapak.
Dodit mengeluarkan dompetnya lalu menunjukkan fotokopi KTP yang diminta.
Beberapa menit kemudian
"Nak, ini teks ijab qobul yang harus kamu ucapkan. Kalau tidak hafal boleh nanti kamu baca tapi harus benar ya jangan sampai salah sebut nanti nama istri saya yang kamu sebut bisa saya pites kamu. Hehehe." Seloroh si bapak ingin mencairkan suasana.
Dih, tahu juga kagak nama istri nya udah nethink aja ini si bapak. Dengus Dodit dalam hati.
"Baik kita mulai, saksi dari kedua belah pihak sudah datang." Rupanya si ibu meminta anaknya yang sudah agak sehat untuk menjadi saksi bagi pihak Dodit sementara saksi dari pihak perempuan adalah pamannya.
Dodit merasa tersentuh hatinya ketika mendengar khutbah nikah yang salah satu diantaranya mengatakan bahwa pernikahan adalah ibadah terpanjang dan terlama yang akan menyempurnakan perjalanan agama dan kehidupannya.
Hal yang tak kalah memukul telak niat jahat Dodit adalah nasihat bahwa pasangan mu itu menjadi pakaian bagi suami sehingga ia akan menjadi sosok yang harus mampu melindungi, menutupi ketidaksempurnaan istrinya.
Mendengar tausiyah yang sebenarnya menyejukkan itu bak menusuk ke sanubari Dodit yang terdalam. Apakah sosok yang dulu menorehkan aib akibat kesalahpahaman di masa sekolah akan mampu menjadi sosok yang seperti isi tausiyah yang barusan ia dengar.
Dodit tak tahan rasanya ingin melambaikan tangan dan berkata menyerah tak sanggup untuk melepaskan status jomblo nya saat ini.
"Jangan tegang ya calon pengantin. Setan itu selalu mengganggu dari berbagai arah mata angin makannya banyak orang menghindari pernikahan tapi ingin senang-senang nya saja mengumbar kemesraan dimana-mana padahal tanpa status resmi. Maka, berbahagialah Nak Dodit ini bisa dipaksakan menikah seperti ini karena nanti kalau sudah tahu rasanya pasti akan menyesal... Menyesal kenapa tidak dari dulu gitu saya menikah. Hehehe." Gurau Pak dokter yang juga merupakan ustadz sekaligus sponsor utama terselenggaranya pernikahan super kilat ini.
Otak Dodit mendadak buntu dan tak bisa berkelit lagi menghindari pernikahan nya. Terlihat olehnya wajah pucat Rojali berusaha menguatkan dirinya untuk menikahkan putrinya. Oke, lakukan ini demi kemanusiaan. Dodit mensugesti kalimat itu sebelum memulai ucapan ijab qobul pagi ini.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim, Raditya Angkasa Pura, saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya Amalia Faradina binti Rojali dengan mas kawin uang sebesar dua juta rupiah di bayar tunai." Dodit menggenggam erat tangan Rojali yang sangat perlahan mengucapkan kalimat sakral itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Amalia Faradina binti Rojali, dengan mas kawin uang sebesar dua juta rupiah di bayar tunai." Dodit menjawab dengan cepat.
"Bagaimana sah?" Tanya Pak penghulu sambil memandang ke arah para saksi.
"Sah... Sah..." Beberapa orang menjawab bersamaan dengan suara lantang.
"Alhamdulillah... mari kita sekarang berdoa bersama-sama." Kemudian Pak penghulu membacakan doa yang diaminkan oleh seluruh orang yang hadir.
*****
Dodit: Thor, itu nyata gue beneran nikah sama si Kunti?
Author: Heh, itu sekarang dia udah jadi bini loe!
Dodit: Apa kata Rosa nanti?
Author: Woyyy... kagak ada tuh adab memuliakan mantan pacar yang ada elo wajib memuliakan istri loe apapun kondisinya
Dodit: Potek hati gue di masa lalu gara-gara si Kunti
Author: Lah, terus loe mau balas dendam?
Dodit: Kalo gak dosa mah pengen...
Author: Dih, kemaren aja kebelet banget loe bikin gue lepas status jomblo loe
Dodit: Iya bukan sama si Kunti juga dong...
Author: Males ah debat sama loe
__ADS_1
Dodit: Tanggung jawab loe ini gimana masa gue harus ngurusin si Kunti...