
Andri akhirnya mengajak Siska ke ruangan pribadinya. Waktu istirahat membuat mereka tidak menjadi pusat perhatian rekan kerjanya yang lain karena semua sibuk untuk makan siang.
"Aku yakin kamu tahu kalau Pak Herman sudah punya istri. Jadi aku minta kamu berhenti kasih harapan sama dia, kecuali kamu siap jadi istri kesekian ya dia." Ketus Andri dengan tatapan matanya yang mengintimidasi.
"Um, iya aku tahu." Jawab Siska.
"Kamu tahu tapi masih aja mau dekat sama dia." Andri geram.
"Biasa aja kok cuman ngobrol biasa aja." Elak Siska.
"Halah, biasa aja tapi setiap hari aku lihat kamu berdua terus sama dia." Andri menggeram kesal.
"A aku cuman mau cari informasi aja..." Siska ingin menjelaskan.
"Gak usah! kamu balik ke Jakarta aja yang lebih aman." Saran Andri.
"Kok gitu? aku di pecat gitu?" Mulut Siska menganga tak percaya dirinya akan di berhentikan kerja.
"Sebelumnya kamu kerja di Jakarta aman aja kan." Ucap Andri.
"A aku..." Siska bingung merangkai kalimat untuk membantah ucapan Andri.
"Aku gak suka kamu membahayakan keselamatan kamu disini." Nada suara Andri merendah.
"Kalo aku enggak kerja terus nanti untuk kebutuhan sehari-hari aku gimana? aku udah terlanjur bilang sama Ibu dan Kak Sandra kalo aku mau mandiri disini." Siska mencoba memberikan pengertian agar sikap Andri melunak.
"Ck, salah sendiri kemarin di ajak nikah gak mau." Decak Andri pelan.
"Ya kan kamu tahu aku gak tega ngelangkahin Kak Sandra..." Gumam Siska lirih.
"Terus kamu mau jadi teman atau sahabat aku lagi?" Tanya Andri.
"Kalau jadi sahabat nanti gak jadi..." Sahut Siska.
"Jadinya apa maunya?" Andri menaikan sebelah alisnya merasa penasaran dengan ungkapan Siska.
"Istri aja." Siska menarik rok span hitam miliknya dengan wajah merona.
"Oke, aku bakalan minta izin sama Dodit mau jadikan kamu istriku." Andri bergegas berjalan menuju keluar ruangan.
"Lho, kok aku ditinggalkan?" Siska mengerucutkan bibirnya lalu menyusul langkah Andri dan berjalan di belakangnya.
Lima langkah menuju ruangan kerja Dodit muncul lah Dodit dengan wajah panik berlari ke arah lift. Sontak saja tindakannya mengundang reaksi panik Andri dan Siska yang mengkhawatirkan akan berita buruk apa yang menimpa mereka berdua.
__ADS_1
"Dit, loe kenapa?" Pekik Andri ingin meminta penjelasan kepada Dodit.
"Mbok Darmi telepon katanya Dina mau kesini dari jam sebelas tapi sampai sekarang belum datang. Gue telepon nomor nya gak aktif." Sahut Dodit dengan raut wajah cemas dan penampilan berantakan.
"Bro, kalem bro." Ucap Andri.
"Haduh, gimana ini bini gue lagi hamil pula." Dodit melepaskan dasi yang terasa mencekik lehernya. Tangannya lalu memukul tembok di samping lift.
Pandangan mata Andri terpaku pada cincin pernikahan Dodit. Sebuah ide brilian pun muncul seketika. Ya, cincin pernikahan Dodit dan Dina memang telah didesain khusus oleh orang kepercayaan Eyang Soeroso berisi chip yang dapat melacak keberadaan Dina kini.
Andri langsung menggenggam tangan Dodit seraya menyentuh cincin pernikahan nya. Dodit yang tak memahami isi pemikiran sahabatnya bergidik geli. Ngenes amat jomblo ini mulai menyimpang.
Begitu pintu berbentuk persegi panjang ukuran 1,5 x 1,5 m itu terbuka, Dodit bergerak cepat masuk ke dalam lalu menutup pintu tak perduli teriakan Andri yang hendak masuk ke dalamnya. Bang Caaad! orang niat mau nolong malah di tinggal! Maki Andri.
Dalam kegelapan pemikirannya Dodit mengarahkan tuduhan bahwa pelakunya pasti lah si Panji manusia millenium. Setelah pintu lift terbuka, Dodit melangkahkan kakinya lebar menuju ke arah parkiran.
Dodit melajukan kendaraannya dengan kecepatan maksimal. Bodyguard nya pun kewalahan menghadapi sikap emosional sang bos besar yang diluar kebiasaannya. Dua puluh menit kemudian dia telah tiba di kantor perusahaan Panji berada.
Dia mengabaikan teguran petugas keamanan dan resepsionis yang terkejut melihat kehadirannya. Mengingat bahwa Dodit merupakan sepupu dari Panji maka tidak ada satupun orang yang berani menghalangi langkahnya menemui bos besar mereka, Panji.
BRAAAKKKK
Dodit membanting pintu ruangan kerja Panji yang sedang sibuk dengan tumpukan pekerjaan nya. Belum sempat Panji bertanya sebuah bogem mentah mengenai sudut bibirnya. Kilat amarah yang tak pernah diperlihatkan seorang Dodit begitu terlihat. Kini Dodit bak singa yang merasa tercabut rambutnya oleh Panji yang memang sering membahayakan nyawanya.
Tendangan dan pukulan tak henti diberikan oleh Dodit untuk sosok yang biasanya masih dia bisa ajak bergurau meskipun tahu betapa keji semua perilakunya di belakang Dodit. Panji hanya bisa pasrah dan tidak melakukan perlawanan apapun karena menyadari semua kesalahannya.
"Inget, dia kakak sepupu loe!" Sentak Andri lagi karena Dodit masih tak berhenti memukuli Panji.
"Bang Caaad! loe bawa kemana istri gue? loe boleh sakitin gue seperti biasanya, ambil semua harta yang di kasih Eyang Soeroso tapi jangan harap gue bakalan diam aja loe berani usik istri dan calon anak gue!" Bentak Dodit.
"Maaf..." suara Panji terdengar penuh penyesalan.
"Gue gak butuh topeng palsu loe! cepat bilang dimana istri gue?!" Pekik Dodit kembali.
"Maaf... tapi sungguh kali ini aku ndak tahu dimana istri kamu." Ucap Panji kembali meminta maaf.
Dodit hendak mengambil bangku untuk dipukul ke arah Panji. Untunglah tangan Andri berhasil mencegahnya.
"Dina ada di Jakarta. Gue udah siapin penerbangan loe tercepat kesana." Ucap Andri sekaligus mencegah sikap brutal Dodit.
"Loe dengar ya Panji! sedikit aja ada tergores kulit istri gue, bakalan habis loe!" Ancam Dodit sebelum meninggalkan ruangan kerja Panji.
"Udah, cepetan loe garang amat sih bikin ngeri gue." Ucap Andri.
__ADS_1
Dodit tidak menjawab sepatah katapun. Sikap Dodit yang seperti ini justru di rasakan mengerikan bagi Andri. Sahabatnya ini bak memiliki kepribadian ganda. Jika kesehariannya dia biasa bergurau tapi lihatlah sekarang emosinya bahkan mampu membuat babak belur orang yang dia curigai mencelakai istrinya.
Tiga jam kemudian
"Ekhem, Dit, kita udah nyampe." Andri terdengar ragu hendak membangunkan maung bodas.
Rupanya setelah menumpahkan segala emosinya kepada Panji kini maung bodas itu tertidur begitu lelap hingga untuk membangunnya saja dibutuhkan nyali lebih.
"Hm, dimana ini?" Tanya Dodit dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Titik terakhir nya Dina sih disini." Ucap Andri pelan.
"Dina? hah? mana istri gue? bini gue?" Dodit tersadar dan langsung duduk menahan rasa pening, efek bangun tidur.
"Selow, bro." Ucap Andri yang menyadari kini Dodit sudah kembali ke mode normal.
Dodit mengucek matanya lalu mengambil dan meminum air putih kemasan gelas yang ada di mobil. Kondisinya semakin membaik dan matanya membelalak ke arah luar jendela mobil.
"Gi la! ini kok kita ke sekolah? loe mau reuni sama Siska mah gosah ngajak gue!" Pekik Dodit kesal.
"Ngaco. Bukan gue tapi bini loe tuh yang lagi bunting!" Pekik Andri.
"Demi apa loe ini keinginan Dina bini gue?" Dodit tak percaya begitu saja.
"Ayo turun kalo loe mau bukti." Andri mendorong bahu Dodit seraya mengajaknya untuk turun dari mobil.
Gerbang sekolah putih abu-abu itu seolah menggoreskan kenangan di benak sang alumni. Matanya menelisik hendak mencari sosok istrinya. Untuk apa coba istrinya datang ke tempat ini? Batin Dodit berkecamuk.
"Beib...!!! akhirnya kamu datang juga! aku tahu dan yakin kalo kamu pasti akan datang." Pekik Dina kegirangan melihat kehadiran suaminya.
"Bee, ini kamu kok bisa ada disini? kamu di culik terus kabur kesini?" Dodit mencoba memahami mengapa istrinya bisa begitu bahagia menyambutnya disini.
"Beib, aku tahu sekalipun aku ngumpet ke lubang semut sekalipun pasti kami bakalan nemuin aku jadi aku emang pengen kita mengenang masa sekolah kita sekarang." Ucap Dina sumringah.
Dodit menelan saliva nya kasar. Semoga kalimat selanjutnya dari sang istri bukanlah atas nama keinginan sang baby...
"Beib, kita upacara yuk? dulu kan kita gak pernah baris deketan kalo upacara bendera." Rengek Dina manja.
Gleg
Jauh-jauh perjalanan Jogja- Jakarta cuma ingin upacara bendera? Dodit ingin pengsan rasanya.
__ADS_1
^^^Pemandangan ini sulit di terima akal sehat Andri.^^^
Ternyata singa jantan kalah sama singa betina