
Pagi harinya
Seusai melaksanakan shalat subuh berjamaah di kamar mereka, Dodit dan Dina langsung bersiap untuk di make up oleh MUA profesional yang didatangkan khusus oleh Eyang Soeroso.
Seperti sebelumnya akad nikah yang berlangsung super kilat maka resepsi pun demikian hal nya karena dengan the power of money dan kuasa seorang Eyang Soeroso bisa dilaksanakan hari ini juga dari rencana awal seminggu yang akan datang resepsi akan diselenggarakan.
Dina yang sejak tadi tampak tak bergairah menjalani proses ini mendapatkan kejutan dengan kehadiran babeh Rojali dan adiknya, Jason alias Jaka. Eyang Soeroso memang tidak setengah-setengah dalam memberikan kebahagiaan bagi sosok yang telah menjadi pendamping hidup cucunya itu.
"Babeeeehhh... Kok bisa ada disini?" Pekik Dina kegirangan menyambut kedatangan Rojali.
Airmata Dina mengalir deras, untunglah sentuhan MUA profesional menggunakan produk makeup nya yang bukan kaleng-kaleng dan semua make up nya mengandung water proof sehingga tahan air dan anti bocor #eeehhhh
"Duh, anak babeh nyang paling caem ternyata jadi berkali lipat gini caem nya jadi manten." Rojali menatap takjub penampilan Dina yang baru selesai makeup.
"Ah, babeh bisa aje, Dina pan emang udah dari lahir caem." Seloroh Dina menanggapi gurauan Rojali.
"Mpok, kagak nyangka Jason bakalan dapat kakak ipar holkay no tipu-tipu." Jaka yang selalu menyebutkan namanya Jason ikut menghampiri sang kakak.
"Jakaaa tarub....!!!" Dina gemas melihat Jaka lalu mencubit gemas pipi adiknya itu.
"Hust, di bilang Jason juga kalo di luar rumah. Inget Mpok, Jason." Protes Jaka tak ingin nama aslinya terungkap.
"Jasan, Jason. Kagak cocok sama muka loe nyang eksotis begini." Ledek Dina sengaja membuat adiknya kesal.
"Duh, si Mpok kalau ngomong suka bener, untung aja aye sayang." Dumal Jaka di sandingkan nama dan wajahnya yang tak sesuai karena kulit Jaka yang memang terlanjur eksotis lantaran setiap hari bermain layangan di lapangan.
"Lho, Eyang sudah datang?" Dina terkejut melihat kehadiran Eyang Soeroso.
"Lah, loe kata siapa nyang ngurus babeh ame Ade loe bisa kemari?" Ungkap Rojali.
Eyang Soeroso menatap lembut ke arah Dina yang sejak tadi meluapkan kegembiraan nya bisa bertemu kembali bersama bebeh Rojali dan adiknya Jaka. Tidak salah memang ia memberikan kejutan istimewa ini untuk pendamping hidup cucunya.
__ADS_1
"Kamu cantik, semoga kamu bisa menjadi istri yang setia dan selalu mendampingi cucu ku dalam kondisi apapun nantinya. Eyang akan selalu mendoakan kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah." Puji Eyang Soeroso seraya berharap akan kebahagiaan cucunya.
"Terima kasih Eyang untuk doanya. Saya juga mau bilang terima kasih karena sudah mendatangkan babeh dan adik saya. Dina juga kagak nyangka Eyang mau menerima keinginan Dina pakai baju adat Sunda." Ucap Dina yang memang tadi sempat ngotot ingin mengenakan pakaian adat Sunda dengan MUA yang tadi menawarkan akan memakai pakaian adat daerah Jawa.
"Ndak masalah karena Eyang tahu mungkin dengan mengenakan pakaian ini bisa mengurangi sedikit kerinduan mu terhadap ibu yang telah melahirkan mu." Eyang Soeroso menepuk lembut bahu Dina sambil berlalu meninggalkan nya menuju ke tempat Dodit. Ya, di momen bahagia itu Dina begitu ingin mengenakan pakaian adat Sunda untuk mengenang daerah asal sang ibu yang merupakan warga asli Bandung semasa hidupnya.
"Bee.. ini untuk istriku yang tercantik di dunia." Dodit memanggil istrinya lembut sambil memberikan sebuah bucket bunga mawar putih nan manis.
Dina tersipu malu menatap wajah sang suaminya yang kini nampak gagah menggunakan beskap putih dan blangkon putih serasi dengan kebaya putih yang Dina kenakan saat ini. Jaka tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengabadikan momen itu dengan mengambil foto Mpok dan Abang ipar nya yang kini di penuhi kebahagiaan.
Sementara di tempat lain
Dekorasi pelaminan resepsi pernikahan Dodit dan Dina telah terpasang indah di taman rumah utama. Para penghuni rumah pun sudah sibuk merapihkan diri masing-masing menggunakan seragam keluarga Eyang Soeroso.
"Dek, mas gak mau tahu pokoknya nanti pas acara baru mulai kamu langsung teriak histeris bilang kalau perempuan itu sudah mencuri pasangan mempelai kamu." Yola hanya tertunduk mendapatkan arahan sang sutradara drama keluarga Eyang Soeroso yang begitu gigih ingin menggagalkan rencana resepsi pernikahan Dodit dan Dina hari ini.
"Ndak akan, mas yakin bahwa mas Dodit itu sebenarnya cinta sama kamu tapi apa ya mungkin perempuan itu pasang pengasih biar si mas Dodit itu mau sama dia." Sang sutradara masih memotivasi Yola agar yakin dengan semua rencananya.
"Hiks hiks hiks... Aku takut apa yang aku lakukan nanti bikin Eyang Soeroso marah besar." Yola menyeka airmata nya yang tak entah mengapa tak berhenti mengalir sejak tadi.
"Tenang, mas akan selalu menjadi orang yang akan mendukung mu. Eyang Soeroso itu kalau marah Ndak akan lama jadi kamu tenang saja, semuanya aman terkendali pastinya." Aneka kalimat menenangkan diucapkan oleh sosok yang menjadi sutradara dadakan khusus menggagalkan acara hari ini.
Ningrum menatap nanar pemandangan itu. Ia sudah berulang kali mengingatkan putrinya agar mengikhlaskan pernikahan Dodit bersama istrinya tetapi dorongan dan kalimat negatif dari beberapa orang di rumah ini membuat hati dan pikiran Yola oleng sehingga mau saja mengikuti semua hal buruk yang mereka rencanakan termasuk hari ini.
"Buk, apa yang Yola lakukan ini sudah benar?" Yola menatap lirih Ningrum.
"Jelas sangat benar karena kamu mengembalikan Dodit kembali kepada keluarga ini." Ambar mencegah Ningrum berbicara agar Yola tidak ragu menjalankan misinya.
"Eyang putri..." Yola ingin melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Sudah, simpan tenaga mu untuk acara nanti. Kamu sudah sarapan?" Ambar mengingatkan Yola untuk sarapan.
"Eyang putri, acaranya nanti jam berapa?" Tanya Yola.
"Pokoknya kamu di kamar aja istirahat, nanti kalau sudah waktunya kamu beraksi mas mu akan mengajak kamu turun ke bawah." Eyang putri mengelus lembut puncak rambut cucunya itu.
Waktu pun bergulir dan para tamu berdatangan ke rumah utama namun tak jua datang pasangan mempelai pengantin. Keluarga di rumah Eyang Soeroso pun mulai resah.
"Eyang putli, memangnya Eyang Soeloso kemana kok tiak kelihatan?" Jasmine bertanya.
"Emmm, Wah iya kemana suami ku? Hanafi sama Hani juga kemana mereka?" Eyang putri baru menyadari tidak adanya sosok sang suami beserta anak sambung dan istrinya.
"Haduuuhhh... ini mata-mata kita juga kenapa tidak bisa dihubungi?!" Sang sutradara mulai panik karena kecewa artis binaannya gagal tampil.
Sementara itu sosok yang dia cari kini tengah menatap penuh haru kepada sepasang pengantin baru yang kini selalu menunjukkan senyum bahagianya.
"Bapak, apa kita tidak keterlaluan sampai harus menyembunyikan acara istimewa Dodit ini dari semua keluarga di rumah?" Tanya Hanafi.
"Biarkan saja karena keselamatan cucu ku kini yang terpenting." Jawab Eyang Soeroso.
"Iya, rasanya seperti kita bersembunyi di kerak bumi pun pasti akan ketahuan nantinya." Hani menatap cemas ke arah ponselnya yang sejak tadi bergetar karena banyak telepon yang masuk.
"Tidak masalah kalau mereka akan tahun tapi nanti setelah acara resepsi pernikahan Dodit dan Dina selesai." Ucap Eyang Soeroso.
Ya, resepsi pernikahan Dodit dan Dina sejak tiga jam lalu berlangsung di sebuah hotel milik Eyang Soeroso dengan mengusung konsep garden party sesuai keinginan Dodit yang tak suka suasana formil. Sebuah acara resepsi pernikahan yang terlalu sederhana untuk ukuran seorang pengusaha sekelas keluarga Eyang Soeroso namun tetap tidak menghilangkan suasana bahagia bagi kedua mempelai pengantin itu.
Menjelang sore
"Eyang...." Panggil Jasmine.
*****
__ADS_1
Hayoooo... Jan sampai salah alamat ya kondangan nya hari ini ke rumah utama. Etapi disana juga ada katering mah jadi makan makan juga tersedia disana. Hehehe...