Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Keraguan


__ADS_3

Haiiii... kalo telat up gini masih ada yang tunggu gak ya?


******


Sementara tersangka utama pengirim foto tersebut pun tercyduk senyum sendiri menatap layar ponselnya.


"Dasar anak ndak tahu sopan santun, kita ribut masalah dia eh dia senyam senyum ndak jelas lihat hape!" Ambar Nyinyir dengan kelakuan Dodit.


Hening seketika karena Eyang Soeroso pun tak mampu membantah ucapan Ambar yang terpampang nyata di depan mata. Suasana itu akhirnya menyadarkan Dodit untuk ikut berbicara.


"Eyang, saya juga ndak mau ribut dengan apa yang kalian permasalahkan jadi..." Dodit ingin berkelit sambil sesekali melirik ke arah lain.


"Maaf mengganggu. Saya izin mau pulang ini badan kok sakit ya." Dina menyela pembicaraan Dodit.


Menjelang period Dina memasang kerap merasakan pegal-pegal di seluruh tubuhnya. Terlebih kegiatan hari ini begitu melelahkan karena hampir sepanjang acara ia dan suaminya itu berdiri menyambut kedatangan tamu undangan yang anehnya tak habis-habisnya datang menyalami mereka dan baru akan duduk sebentar pasti ada saja tamu yang meminta untuk berfoto bersama.


"Bee, kamu sakit?" Dodit cemas dan memeriksa kondisi istrinya.


"Wah, iya agak hangat." Ucap Dodit setelah menyentuh kening Dina.


"Riyadi, cepat suruh Endang antar istrinya Dodit ini pulang sekarang. Kasian kalau dia sakit." Eyang Soeroso langsung memerintahkan salah satu bodyguard khusus yang mengawal Dina.


"Eyang, apa ndak sebaiknya saya antar istri saya?" Dodit ingin menyelam sambil minum air. Mengantar istri sambil menghindari keributan akan posisi jabatan yang sangat tidak dia inginkan. Maka, mengantarkan Dina adalah jalan aman baginya.


"Tidak, enak saja kamu pulang sementara urusan kita semua disini karena kamu! Istri kamu juga kok bisa-bisanya malah minta pulang!" Sembur Bambang dengan semangat empat lima.


"Bambang!" Tegur Eyang Soeroso.


"Emang iya toh, Pak." Ambar menyela.


"Dodit, Eyang kasih waktu seminggu kamu untuk istirahat lalu setelah itu lanjut kerja ya di anak perusahaan Eyang." Eyang Soeroso mengakhiri perdebatan mereka.


"Eyang!" Suara protes dari anak cucunya yang lain.


"Sudah, kalau kalian mau makan silahkan dilanjutkan." Eyang Soeroso mempersilahkan mereka untuk makan malam.


"Biarkan istri mu pulang terlebih dahulu, ada hal yang ingin Eyang bicarakan dengan kamu." Ucap Eyang Soeroso setengah berbisik di telinga Dodit.


"Inggih, Eyang." Dodit segera mengiyakan ucapan Eyang Soeroso.

__ADS_1


"Dasar anak cucu manja." Gumam Ambar yang masih terdengar oleh semuanya.


Di bawah meja makan tangan Dodit mengusap lembut jemari Dina. Mereka berdua saling memandang penuh arti seolah menguatkan satu sama lainnya.


"Bee, kamu pulang duluan ya, aku masih ada urusan sama Eyang." Ucap Dodit setelah mereka menghabiskan makan malam bersama lalu berakhir dan masing-masing berpamitan untuk pulang.


"Iya." Jawab Dina.


"Jangan lemas gitu. Babeh sama Jaka udah dari tadi nyampe rumah karena tadi Babeh Rojali kecapean." Dodit memindahkan anak rambut yang tergerai milik istrinya itu ke telinga.


Dina menyunggingkan senyumnya lalu berjalan menuju ke dalam mobil yang memang sudah disediakan untuk mengantarkan pulang dirinya. Pikiran nya melayang membayangkan segala mungkin kemungkinan mengenai hubungan antara dirinya dengan Dodit.


"Pak, nanti mampir dulu ya ke apotek." Ucap Dina kepada Supri yang merupakan supir pribadi keluarga Eyang Soeroso.


"Non, apa sudah izin dengan suami Nona?" Tanya Endang selaku bodyguard pribadinya.


"Iya tadi saya udah bilang sama suami saya." Dina berbohong.


Tak lama mobil pun berhenti di depan sebuah apotek. Dina bergerak cepat dan meminta Endang dan Supri agar menunggu di dalam mobil saja. Langkah kaki Dina percepat untuk masuk dan langsung memesan pil kontrasepsi pencegah kehamilan.


Ya, sejak tadi ia terdiam dan sibuk mencari informasi benda itu melalui ponselnya. Rasanya terlalu egois bila hubungan tanpa rasa cinta di dalam pernikahan nya akan melahirkan seorang anak. Akan tumbuh seperti apa anaknya kelak tanpa kasih sayang yang tulus dari kedua orangtuanya? Batin Dina menjerit.


Fakta yang tidak diketahui oleh Dina adalah salah satu anak perusahaan Eyang Soeroso bergerak di bidang cyber, jadi hanya dalam hitungan detik saja tanpa perlu bersua Eyang Soeroso sudah mengetahui fakta menyakitkan ini.


"Insyaallah yakin, Eyang." Jawab Dodit diplomatis.


"Lalu bisa kamu jelaskan apa alasan istri mu sekarang membeli pil pencegah kehamilan?" Eyang Soeroso menunjukkan bukti foto Dina sedang membeli pil tersebut di sebuah apotek.


"Huft, sejujurnya hubungan kami memang terlalu terburu-buru karena saat itu Babeh Rojali sedang sakit jadi kami harus menikah saat itu juga." Dodit yang mengenal benar sepak terjang Eyang Soeroso memilih mengakui kebenaran hubungan pernikahan nya dengan Dina.


"Ceroboh! Bagaimana kalau itu hanya jebakan mereka supaya kamu bisa masuk ke dalam keluarganya?!" Bentak Eyang Soeroso.


"Saya mengenal istri saya sejak SMA dan saya tahu benar bagaimana sifatnya." Aku Dodit.


"Dia hanya mantan kekasih sahabat mu." Tembak Eyang Soeroso mengenai kebenaran kalau semasa SMA Dina memang bucin akut dan pernah berpacaran dengan Jodi.


Gleg


"Cinta sejati mu malah menikah dengan sahabatmu yang lain." Eyang Soeroso kembali melemparkan kalimat menusuk untuk cucunya itu.

__ADS_1


"Apa Eyang tidak pernah memiliki masa lalu?" Dodit ingin membalikkan keadaan.


BRAAAKKKK


Eyang Soeroso memukul keras meja kerja nya dengan tongkat emas miliknya. Matanya menatap nyalang sosok yang begitu ingin ia lindungi tetapi malah balik menyudutkan dirinya.


"Mohon maaf Eyang, jika memang pernikahan saya tidak berkenan di hati Eyang, hari ini juga saya akan pergi..." Dodit memanfaatkan keadaan untuk menjauh dari jerat harta dan tahta keluarga Eyang Soeroso.


"Satu bulan. Eyang berikan kesempatan perempuan itu membuktikan bahwa dirinya pantas untukmu selama satu bulan." Eyang Soeroso memberikan syarat. Dalam hatinya jelas Eyang Soeroso tidak akan rela melepaskan cucunya itu.


Dodit memilih diam dan berpamitan dengan Eyang Soeroso.


Memasuki area rumah nya Dodit berjalan perlahan menuju kamar nya. Dina tampak membelakanginya sedang melamun salam kesedihan. Ah, entah mengapa melihat nya seperti itu Dodit memilih membuka jaketnya lalu berjalan perlahan mendekati istrinya itu lalu naik ke ranjang dan memeluk tubuhnya dari belakang.



"Bee..." Dodit memanggil istrinya lembut.


"Hm, kamu udah pulang? Maaf aku gak tau kamu kok gak kasih kabar tiba-tiba nyampe aja." Ucap Dina.


"Kenapa? gak suka suami kamu udah nyampe?" Tanya Dodit sinis. Ucapan Eyang Soeroso sedikitnya mempengaruhi pikirannya.


"Umm, kamu tadi salah makan apaan? kebanyakan cabe nih makannya agak pedes omongan nya." Sindir Dina.


Alih-alih menjawab sindiran Dina kini Dodit malah menempelkan bibirnya dengan bibir istrinya itu. Awalnya ia hanya ingin mengecup agar mengalihkan pembicaraan yang tak mengenakan hatinya tetapi arus setrum efek dari ciuman itu memporak-porandakan akal logikanya. Tangannya pun sudah tak bisa dikondisikan untuk membuka kemasan buah salak kembar milik istrinya.


"Mandi dulu sana." Pinta Dina.


"Mandiin." Rengek Dodit.


"Manja, ih." Dina mencubit gemas pinggang Dodit.


"Gak perduli." Dodit langsung menggendong istrinya itu menuju kamar mandi. Dina yang sejak tadi menjerit dan menolak keinginannya pun akhirnya menyerah dan membantu suaminya itu untuk membersihkan diri.


Dodit menahan gemuruh dan hasrat yang menggebu di dalam dirinya saat di kamar mandi karena menurut cerita sahabatnya yang berpengalaman kalau yang pertama itu akan terasa sakit bagi sang istri jadi tidak mungkin Dodit mengajak Dina war di dalam kamar mandi.


"Iiih, rese banget sih! baju aku basah nih..." Dina cemberut.


"Hehehe... sini aku bantuin." Dodit modus.

__ADS_1


"Enggak ah," Dina ingin berpaling namun tarikan tangan Dodit tentu tak bisa ia tepis begitu saja mengingat dirinya kalah tenaga.


Pelukan hangat itu begitu menghangatkan hati keduanya hingga tanpa sadar kini keduanya telah berada di ranjang untuk melakukan war.


__ADS_2