
Semenjak resepsi pernikahan Dodit dan Dina keluarga kecil Dina yang terdiri dari babeh Rojali dan Jaka menetap di rumah Dodit, Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu dan peraturan PSBB yang mulai longgar sehingga membuat Rojali selalu meminta untuk pulang kembali ke rumahnya di Jakarta.
"Din, coba tolong ngomong deh sama laki loe biar babeh di kasih pulang balik ke rumah. Kangen babeh sama makam Mama dan Enyak loe." Ucap Rojali kala mereka sedang bersantai di ruang keluarga.
"Babeh nanti disana sendirian. Jaka pan kalo udah ketemu sama temennya suka lupa waktu." Dina merasa berat melepaskan kepulangan Rojali.
"Ah, loe kayak kagak tau disana mah temen babeh banyak jadi kagak bakalan kesepian." Rojali bersikeras.
"Beh..." Dina tetap ingin menolak keinginan Rojali.
"Rumah disana juga bakalan jamuran kalo kagak di tempatin, Din." Rojali tak kalah kuat keinginan nya.
"Iya Mpok tenang aje disana aye kagak bakalan dah ninggalin babeh lama-lama. Suwerrrr." Jaka mengangkat jari telunjuk dan jari tengah nya.
"Terus nanti aye bakal sendirian dong disini." Sungut Dina dengan mata berkaca-kaca.
"Ya kalo loe mah udah nikah jadi emang kudu mau di bawa kemane aje sama laki loe." Ucap Rojali mencoba memberi pengertian kepada Dina.
"Hm, coba nanti kalo suami Dina pulang aye omongin deh." Dina mengalah pada akhirnya.
"Selow aje Mpok bisa kapan aje maen ke rumah kite." Jaka menaikturunkan alisnya.
Malam harinya
Sebulan terakhir ini Dodit selalu pulang hampir tengah malam dan jarang bertemu istrinya karena setiap pulang Dina selalu tidur dan setelah sholat subuh langsung bergegas kembali berangkat kerja. Dalam hati Dina sempat bertanya apa iya harus segetol itu ritme kerja seorang bos besar? Tetapi apalah suara hati Dina walaupun mereka sepakat untuk berhenti berpura pura bahagia dan memilih bahagia betulan namun tidak pernah sekalipun Dodit mengungkapkan perasaan cinta nya. Hal yang kelak akan menjadi bumerang bagi hubungan mereka yang masih rapuh.
"Bee, kenapa kamu diam aja dari tadi?" Tanya Dodit sambil menatap istrinya yang sedang membantu memasangkan dasi nya.
"Um, aku bingung..." Dina ragu mengutarakan keinginan babehnya untuk pulang ke rumahnya di Jakarta.
Cup
Dodit mengecup lembut kening istrinya itu lalu merengkuh pinggangnya sambil memberikan beberapa tanda cinta di leher istrinya.
__ADS_1
"Kalau ada sesuatu yang menggangu pikiran kamu mendingan cerita aja daripada di pendam sendiri." Ucap Dodit.
"Ba babeh minta pulang ke rumah." Ucap Dina.
"Rumah? Bee, tolong bilangin sama babeh kalo rumah kita ini juga rumah babeh, keluarga kita." Ucap Dodit sambil memainkan rambut Dina.
"Iya tapi tetep aja beda buat babeh yang puluhan tahun hidup disana. Bahasa dan makanan sehari-hari kita aja sering agak asing gitu di lidah." Dina secara tidak langsung menjadi curhat.
"Hm, oke. Aku akan atur jadwal ku biar bisa antar babeh pulang sekalian kita silaturahmi sama teman disana." Ucap Dodit.
"Silaturahmi?" Pertanyaan Dina menggantung.
Ah, iya dia kan bisa sekalian temu kangen sama mantan tercinta, Rosa. Batin Dina mulai kembali tidak tenang.
"Kenapa jadi malah bengong?" Dodit bingung melihat Dina terdiam asyik dengan pemikirannya sendiri.
"Bengong? ah, enggak kok. Oke, nanti aku bakal bilang sama babeh. Tapi... kalau kamu emang sibuk, boleh ya aku aja yang antar babeh pulang...?" Tanya Dina ragu.
"Bee, aku enggak bisa hidup tanpa kamu..." Ucap Dodit dengan nada manja.
"Kamu istriku, bee... aku enggak bakalan biarin kamu pergi jauh dari aku." Dodit menunjukkan sisi posesif nya yang tak pernah ia perlihatkan kepada Rosa sekalipun.
"Kamu kan sibuk jadi aku enggak mau kerjaan kamu terlantar." Debat Dina tak mau kalah.
"Hngh, aku curiga nih kalau kamu pengen kesana gak cuman mau anterin babeh tapi ada maksud lain tanpa sepengetahuan aku." Tebak Dodit.
"Justru aku curiga kalau kamu yang super sibuk ini bisa sempatin kesana dengan alasan anterin babeh." Skak Dina yang dalam mode kepala batu.
"Huft, bee... aku..." Dodit jadi merasa serba salah.
"Apa sih yang bikin kamu curiga? bodyguard kamu kan tersebar dimana-mana jadi bisa tahu semua kegiatan aku selama disana jadi gak ada alasan buat larang aku." Dina mulai memelas.
"Bee..." Dodit tak ingin ditinggalkan oleh istrinya.
__ADS_1
"Selama ini kan kita juga jarang banget ketemu. Kamu pulang aku udah tidur dan subuh gini udah buru-buru berangkat ke kantor. Aku yakin kalau sekarang gak aku ajak kamu ngomong pasti kamu udah berangkat ke kantor, gak tau kantor siapa?" Sindir Dina dan menyerang tanpa batas.
"Kumat deh kepala batu nya kamu." Gerutu Dodit.
"Aku janji selama disana akan jaga diri baik-baik dan fokus urusin babeh biar cepat sembuh terus bisa aktivitas seperti semula biar gak ngerepotin bos besar yang sibuk kerja." Dina mencoba melemah agar menarik simpati suaminya supaya keluar izin resmi dari sang suami.
"Terus kalau aku rindu gimana?" Keluh Dodit.
"Ya sibukin aja diri kamu sama kerjaan kan selama ini juga begitu." Dina mengusap-usap dada bidang sang suami.
"Aku juga sebenarnya malas banget sok sibuk gini urusan kerjaan gak kelar-kelar bikin sakit kepala setiap hari." Dodit menaruh kepalanya di bahu istrinya.
"Sabar, aku yakin kamu bisa kok bertahan." Dina mengusap lembut rambut suaminya.
"Duh, kalau gini jadi pengen ngajakin war..." Ucap Dodit.
"Eh, nanti urusan kerjaan kamu gimana?" Dina terkejut mendengarnya.
"Biarin si Andri aja yang handle dulu. Aku repot-repot bawa dia kesini emang tujuan nya biar dia jadi asisten aku kerja." Dodit tak mau ambil pusing.
"Andri? alumni SMA Bunga Bangsa?" Dina ingin mempertegas.
"Iya bee, sahabat aku di mantan jomblo." Dodit menjelaskan.
Nafas Dina mendadak tercekat dengan pemikirannya kalau selama ini diam-diam Dodit sudah membawa Andri menjadi asisten pribadinya di kantor, bukan hal yang mustahil jika Rosa juga bisa berada di kota ini dan mereka berdua secara sembunyi-sembunyi bermain di belakangnya.
"Bee, please... satu ronde aja deh buat penyemangat aku kerja hari ini..." Rengek Dodit yang ingin mengajak war.
Dodit yang sudah di penuhi nafsu tidak memperhatikan perubahan ekspresi wajah istrinya yang mendadak memucat. Ia malah asyik dengan mainan buah salak kesayangannya.
Sementara Dina hanya bisa pasrah ketika kini dirinya dalam keadaan tanpa busana karena ulah suaminya. Kegiatan yang direncanakan hanya akan berjalan satu ronde pun tak berlaku bagi Dodit yang malah masih merasa kurang dengan tambahan tiga ronde.
*****
__ADS_1
Met istirahat semuanya. Monmaap otak waras hari ini mendominasi jadi susah beud di ajak halu. Semoga masih nyambung ceritanya.
Terima kasih atas like, komen, vote dan lemparan kembang yang membuat moood blaster akoh menulis dan melanjutkan cerita ini.