Married With Stranger

Married With Stranger
Gift


__ADS_3

"Apa saja jadwalku hari ini?" tanya Zach pada sang sekretaris yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Hanya ada beberapa berkas yang perlu ditandatangani, selebihnya tidak ada."


Zach bangkit dari sofa lalu berjalan menuju meja kerjanya. "Baiklah. Mana yang harus kutandatangani?"


Setelah ditunjukkan, Zach langsung membubuhi tanda tangannya. Begitu selesai, sang sekretaris pamit keluar karena ingin menyerahkan berkas yang baru saja ditandatangani Zach pada staf sekretaris. Namun, belum sempat mencapai pintu, ia harus kembali memutar tubuh.


"Eh, tunggu!"


"Ada apa, Tuan?"


Zach merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah ponsel yang tidak diketahui. Ia meletakkan ponsel itu ke atas meja dan kembali bersandar di kursi. "Apa kau bisa mengganti ponsel ini dengan keluaran terbaru?


Sekretaris itu mengangguk. "Bisa."


"Kalau begitu, bergegaslah. Jangan lupa memindahkan semua data yang ada di ponsel itu ke ponsel yang baru," titah Zach sembari memandangi ponsel itu.


"Baik, Tuan. Apa ada lagi yang Anda butuhkan?"


Zach terlihat berpikir sejenak. "Ah, iya! Jangan lupa menyadap ponsel yang baru."


Kenapa dia ingin menyadapnya, ya? Apa ini ada hubungannya dengan gadis di jalan tadi?


"Maaf, apa boleh saya bertanya sesuatu?"


"Apa?"


Sekretaris itu mengambil alih ponsel yang ada di atas meja, lalu memerhatikannya. "Ini ponsel milik siapa? Dan kenapa Anda mau menyadapnya?"


"Lakukan saja yang kumau sekarang. Jangan lupa kembali dalam waktu satu jam!"


Tanpa menunggu lama lagi, sekretaris itu mengangguk setuju. Ia yakin jika ada sesuatu yang terjadi pada atasannya itu. Karena sikap yang ditunjukkan sedikit berbeda dari biasanya. Ia mengembuskan napas panjang lalu sedikit menunduk.


"Baik, Tuan. Saya permisi," pamitnya yang langsung diangguki Zach.


Selepas kepergian sekretarisnya, Zach memejamkan mata sambil terus bersandar pada kursi. Pikirannya menerawang pada saat kejadian di depan kamar mandi yang ada di Dalton High School. Ia mengingat bagaimana ekspresi wajah gadis yang telah menamparnya tatkala ia menempelkan ponsel pada bibir gadis itu.


Padahal ia memiliki niat baik, yakni mengembalikan ponsel gadis itu. Namun, entah mengapa ia memilih untuk sedikit bermain tatkala melihat wajah lugu gadis itu. Meski mendapat sebuah tamparan, tetapi ia merasa bahagia karena dapat membuatnya kesal.


Zach juga merasa bingung. Mengapa ada gadis yang tidak terpana dengan pesonanya yang hampir sempurna itu. Padahal banyak perempuan yang menawarkan diri untuk tidur dengannya secara suka rela. Namun, berbeda dengan gadis kecil yang ia temui kemarin.


Cara pertemuan mereka sangat berbeda dengan para perempuan yang pernah menggoda Zach. Mereka bertemu dengan ketidaksengajaan, hingga terjadi beberapa kejadian yang membuat mereka seperti bermusuhan.


Ceklek!


Lamunan Zach harus terhenti tatkala mendengar suara pintu yang terbuka. Ia segera membuka mata dan melihat sang sekretaris datang membawa ponsel yang diinginkan. Ia tersenyum puas karena kinerja pria itu tak pernah mengecewakan. Selalu selesai, bahkan belum mencapai batas waktu yang telah ditentukan.


Zach menyalakan ponsel itu dan ia terkejut tatkala melihat wajah gadis kecil yang sempat ia pikirkan beberapa waktu lalu bersama dengan seorang pria paruh baya. Ia mengernyit saat berusaha memikirkan jawaban yang tepat.


__ADS_1


Tangan Zach tidak berhenti sampai di situ. Ia kembali menyentuh layar ponsel, lalu menggesernya agar bisa melihat tampilan beranda. Kembali terlihat kerutan di alisnya saat melihat foto gadis itu bersama seorang pria. Ia mendengus kesal, lalu menyimpan ponsel itu di atas meja dan menatap sekretarisnya.



"Dari mana kau dapat foto-foto itu?" tanya Zach dengan kesal. Entahlah, seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk menanyakan hal itu.


"Dari ponsel lama, Tuan."


"Kenapa kau memasang foto gadis itu yang sedang bersama pria?"


Sekretaris itu mengangkat bahu acuh. "Saya hanya menyamakan tampilannya dengan ponsel lama tadi."


Zach mendengus sebal lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Mengapa ia bereaksi berlebihan seperti ini hanya karena melihat foto gadis itu bersama dua pria yang tidak ia kenal? Haruskah ia mencari tahu informasi gadis itu?


Argh! Aku ini kenapa?


"Apa kau sudah menyadapnya?"


Sekretaris mengangguk. "Iya."


Zach kembali meraih ponsel itu lalu menyimpan nomor teleponnya. Selepas itu, ia menyerahkannya pada sang sekretaris. Ia mengembuskan napas panjang. "Ada satu tugas lagi yang perlu kau kerjakan."


"Apa itu?"


"Bungkus ponsel itu seperti kado, lalu bawa ke rumah seseorang. Kau tidak perlu bertemu dengannya, cukup letakkan kadonya di depan pintu. Oke?"


Seperti biasanya, sekretaris itu hanya bisa mengangguk setuju. Setelah Zach memberi tahu alamat penerima kado, ia segera meluncur.


 


Agnese menjatuhkan tubuhnya di atas pulau busa yang ada di kamar setelah selesai mengurus ibunya. Beberapa hari belakangan adalah hari yang benar-benar berat untuknya. Sebab suatu kebetulan ia ditolong dan dihancurkan oleh orang yang sama.


Ia tidak tahu harus melakukan apa jika beasiswa yang membantunya melanjutkan pendidikan benar-benar diberhentikan. Mungkin dulu ia tak begitu memedulikan berapa biaya sekolah yang harus dibayar. Namun, setelah kepergian sang ayah, ia baru sadar jika hal terkecil apa pun harus dihargai karena bisa saja sewaktu-waktu menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan.


Dad, Liam, aku merindukan kalian. Sekarang aku begitu fasih memikul rasa sedih dan kecewa sampai tidak sadar kalau sudah banyak hal yang kulalui tanpa kehadiran kalian. Kapan kita bisa bertemu lagi?


Agnese menghela napas panjang lalu bangun tatkala mendengar suara bel berdentang beberapa kali. Ia segera turun ke lantai bawah untuk melihat siapa yang telah mengganggu jam istirahatnya. Begitu membuka pintu, ia tidak menemukan siapa-siapa di sana.


Namun, ada sebuah kotak kado yang menyita perhatiannya. Ia tak langsung mengambil kado itu, melainkan melihat situasi di sekitar rumah. Ia melihat pagar yang sedikit terbuka. Meski ia selalu membiarkan pagar tidak dikunci jika dirinya ada di rumah, tetapi ia selalu mendorongnya dengan rapat.


Siapa yang membawa kado ini?


Tanpa mau ambil pusing, Agnese segera meraih kotak kado dan membawanya ke kamar. Setelah tiba di kamar, ia menyimpan kado itu di atas meja belajar dan memandanginya cukup lama. Ia penasaran siapa yang membawanya. Namun, ia tidak bisa mendeteksi keberadaan siapa-siapa saat di depan pintu tadi.



Semakin lama memandangi kado itu, Agnese semakin penasaran.


"Apa aku buka saja, ya?" Tangan Agnese bergerak untuk membuka kado itu, tetapi belum sempat menyentuh pitanya, ia berhenti. "Tapi, kalau ini milik orang bagaimana?"


Ting!

__ADS_1


Agnese terbelalak saat mendengar sebuah suara. Apakah suara itu berasal dari dalam kotak kado yang ada di hadapannya? Ia menjadi sedikit ragu dan takut akan isi kado itu. Ia tidak ingin terjadi sesuatu setelah membukanya.


Ting!


Suara itu kembali terdengar hingga membuat Agnese semakin takut. "Apakah isi kado itu adalah bom? Bagaimana ini?" panik Agnese.


Agnese berulang kali menghela napas panjang. Setelah berhasil meyakinkan diri, akhirnya ia membuka kado itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat isi yang ada di sana. Ponsel! Namun, ia tidak tahu ponsel itu milik siapa.


Ia mengeluarkan ponsel itu dari kotak kado, kemudian membukanya karena terus saja berdering. Ia kembali dibuat terkejut saat melihat wallpaper yang terpasang di sana.



Mengapa di ponsel itu terpampang wajahnya bersama sang ayah? Jika itu memang miliknya, mengapa tampilan fisik ponsel itu berbeda? Yang ia tahu, ia tidak pernah membeli ponsel baru.


Agnese terdiam sejenak untuk berpikir. Ia terbelalak kaget ketika ingat jika ponselnya tertinggal di mobil pria menjengkelkan itu. Namun, kenapa yang datang justru ponsel lain? Sebenarnya di mana ponsel miliknya yang tertinggal itu?


Agnese mengernyit begitu melihat notifikasi pesan yang muncul di layar. Siapa yang mengirim pesan itu? Yang ia tahu, ia tidak pernah mengenal seseorang yang bernama Zach dan menyimpan kontak seseorang dengan tambahan kata yang aneh. Ia memutuskan untuk membalas pesan itu.


 


...Zach Tampan...


 


Apa kau suka ponselnya?


Apa kau tidak mau berterima kasih padaku?


Aku tahu, kau pasti terkejut.


^^^Who are you?^^^


 


Kau tidak mengenalku?


Aku Zach yang tampan.


Pria yang menciummu di kamar mandi sekolah.


^^^Shut up!^^^


 


Kenapa kau menyuruhku diam?


Padahal aku tidak sedang berbicara.


Agnese mendengus sebal, lalu meletakkan ponselnya yang telah dimanipulasi oleh Zach di atas tempat tidur. Ia kembali merebahkan dirinya kemudian berteriak dengan kencang. "Kenapa dia terus menggangguku?"


***

__ADS_1


__ADS_2