Married With Stranger

Married With Stranger
Confused


__ADS_3

Di sebuah jalan yang sedikit lengang, terlihat sebuah mobil sedang melaju dengan kecepatan lumayan tinggi. Di dalam kendaraan roda empat itu, terdapat dua pria yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang sibuk menyetir, ada juga yang sibuk berbicara dengan seseorang melalui via telepon.


Mereka baru saja kembali dari sebuah restoran yang menjadi tempat pertemuan dengan klien sekaligus menikmati hidangan makan siang. Tak butuh waktu lama bagi orang itu untuk meyakinkan klien mengenai proyek yang akan mengikat kedua perusahaan.


"Baik, nanti saya pulang ke rumah," ujar orang itu lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Ia mengembuskan napas panjang sembari memejamkan mata. Namun, ia langsung kembali terjaga saat bayangan gadis yang pernah ditolong muncul di sana.


Kenapa aku memikirkan gadis itu?


Untuk mengusir bayangan itu, ia menoleh ke samping kanan agar hamparan jalan dapat mengambil perhatiannya. Namun, bukannya menghilang, ia justru melihat sosok bayangan itu menjadi nyata. Alisnya terlihat mengernyit tatkala berusaha memfokuskan penglihatan ke arah seberang jalan, di mana trotoar berada.


"Turunkan kecepatan mobil ini, Dennis!" titah orang itu pada sang tangan kanan sekaligus sekretarisnya.


"Apa yang dia lakukan? Kenapa selalu berjalan kaki sendirian?" gumamnya yang membuat Dennis mengernyit bingung.


"Siapa yang Anda tanyakan, Tuan?" tanya Dennis pada akhirnya.


"Gadis kecil yang berjalan di trotoar itu."


Dennis menatap spion dalam sejenak agar dapat melihat sosok yang dimaksud tuannya. Namun, karena gadis itu berjalan ke arah yang berbanding terbalik dengan mereka, alhasil ia hanya bisa melihat bagian punggung saja.


"Apa Anda mengenalnya?"

__ADS_1


Orang itu memperbaiki posisi duduknya, lalu berdeham. "Tidak."


Dennis hanya mengangguk paham, kemudian menambah kecepatan sebab ia yakin jika tuannya itu sudah tidak tertarik melihat ke belakang.


...🍒🍒🍒...


Agnese terlihat menyusuri trotoar sembari memegang tali tas ransel yang sedang digunakan. Setelah menghabiskan jus jeruk bersama Yoana di kantin, ia memutuskan untuk pulang karena ingin mengistirahatkan tubuh serta otaknya.


Bukan tanpa alasan, sebab ia merasa bingung atas apa yang terjadi. Apalagi suatu kebetulan ia ditolong dan dihancurkan oleh orang yang sama. Orang itu tak lain dari sang pemilik yayasan sekolah, Zach. Belum selesai memikirkan tentang masalah beasiswa, kini ia harus berpikir keras tentang cara mendapatkan ponselnya kembali.


Jika bisa meminta, lebih baik ia tidak pernah bertemu dengan Zach daripada harus menghadapi lebih banyak cobaan setelah bertemu dengannya. Hidup yang dijalani sudah sulit, jadi ia tidak ingin semakin terbebani.


Begitu tiba di rumah, Agnese meletakkan tas di meja makan dan bergegas menyiapkan makan siang untuk Briza. Ia memasak dengan telaten hingga tersaji semangkok bubur dan sepiring omelet. Ia mencuci tangan terlebih dahulu sebelum meletakkan alat makan di atas nampan.


“Kau sudah pulang?” tanya Briza tatkala Agnese baru membuka pintu kamar.


Agnese mengangguk. “Bagaimana keadaanmu, Mom?”


“Seperti yang kau lihat. Tidak ada perubahan.”


Agnese mengembuskan napas kasar lalu mendekati Briza. “Mommy makan dulu, ya? Maaf kalau Mommy bosan dengan menu yang Agnese masak.”


"Tidak apa-apa. Oh iya, bagaimana sekolahmu, Sayang?” tanya Briza sembari menerima suapan pertama yang disodorkan Agnese.

__ADS_1


Tubuh Agnese menjadi kaku seketika. Namun, ia langsung mengubah mimik wajahnya agar terlihat baik-baik saja. Ia tersenyum. “Lancar, Mom.”


“Maaf, ya. Mommy sudah menyusahkanmu. Harusnya kau hanya fokus belajar, bukan mengurusku seperti ini.”


“Saat Daddy masih ada, mungkin tugas Agnese hanya itu. Tapi, sekarang tidak lagi. Ada banyak yang harus Agnese kerjakan agar kita bisa bertahan hidup, Mom.” Agnese tersenyum sambil terus menyuapi Briza.


Ya Tuhan, terima kasih telah mengirimkan anak seperti Agnese.


"Terima kasih sudah menjadi anak yang sangat hebat. Maaf kalau Mommy tidak bisa merawatmu dengan baik." Agnese mengangguk dan menyodorkan suapan terakhir pada Briza. "Semoga kamu selalu bahagia, Nak."


"Mommy tidak usah pikirkan itu, ya? Agnese senang bisa melakukan ini," ujar Agnese lalu keluar dari kamar.


Selepas meletakkan peralatan makan, gadis itu memandang langit-langit dapur sambil menghela napas panjang. Meski tak pernah melalui kehidupan yang lebih baik setelah sang ayah meninggal, ia merasa jika kehidupannya semakin berantakan setelah bertemu seseorang.


Seseorang yang telah menyelamatkannya dari para pria jahat. Meski begitu, mungkin saja orang itu akan menjadi seseorang yang melakukan suatu hal di kemudian hari karena Agnese telah menamparnya dan berdebat dengan gamblang. Meski ia melakukannya demi membela diri, tetapi ia merasa takut jika sewaktu-waktu akan kembali berurusan dengan pria itu.


***


A/N: Spesial ultahku, aku kasih part yg ambigu wkwk


Makassar, 28 Maret 2020


Semoga dunia lekas pulih

__ADS_1


__ADS_2