Married With Stranger

Married With Stranger
Flying Aimlessly


__ADS_3

"Turun!" titah Zach, tetapi tidak didengarkan oleh Agnese.


Agnese memerhatikan situasi di tempat Zach membawanya. Ia melihat beberapa pesawat dan juga helikopter yang masing-masing terdapat logo Tomlinson di salah satu bagian. Ia mengernyit dan mempertanyakan maksud dari semua ini. Bukankah ia diminta menemani Zach untuk berbelanja? Lalu kenapa mereka berada di tempat seperti itu?


Katanya mau ditemani berbelanja, tapi kenapa ke tempat ini? Apa dia mau membeli pesawat?


"Hei! Kau mau utangmu lunas atau tidak?" tanya Zach yang membuat Agnese terkejut dan segera menghilangkan pikiran negatifnya.


"Eh?" Agnese mengangguk. "Iya."


"Kalau begitu, turunlah! Jangan membuang-buang waktu di sini!" Zach segera keluar dan meninggalkan Agnese yang masih bergeming di tempatnya.


Setelah meyakinkan diri jika tidak akan ada yang terjadi, Agnese turun dari mobil dan segera mengejar Zach yang sudah lebih dulu berjalan menuju salah satu pesawat kecil yang ada di sana. Pandangannya juga tak pernah absen memerhatikan kendaraan udara yang ada di sana. Sudah sangat lama ia tidak pernah merasakan sensasi di ketinggian.


Begitu tiba di depan sebuah pesawat kecil, Zach berhenti melangkah. Ia berbalik badan untuk memastikan Agnese sudah turun dari Arnold atau belum. Ia membuka kacamatanya tatkala melihat wajah berbinar yang dipancarkan gadis itu. Ia tersenyum kecil, kemudian bersedekap dada sembari menunggu Agnese tiba di dekatnya.


"Sebenarnya apa yang mau kau beli?" tanya Agnese penasaran saat tiba di hadapan Zach.


"Aku mau membelimu."


"Ka ... kau bercanda, 'kan?" Agnese gelagapan sendiri saat melontarkan pertanyaan itu.


Zach mengembuskan napas kasar. "Tunggu dan lihat saja nanti!"


"Baiklah."


"Masuklah ke dalam, aku akan menemuimu sepuluh menit ke depan," titah Zach, lalu kembali meninggalkan Agnese yang diam karena tenggelam di pikirannya sendiri.


Zach pergi ke sebuah bangunan yang terletak tak jauh dari pesawat yang menampung tubuh Agnese. Ia masuk ke sana untuk mengganti pakaian yang lebih santai. Begitu tiba, ia langsung disambut oleh beberapa orang yang ada di sana, termasuk Dennis.

__ADS_1


"Tuan Zach, ini pakaian Anda." Dennis menyerahkan paper bag yang berisi pakaian juga aksesoris pendukung yang diminta Zach.


Zach mengambil alih tas itu, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia hanya memerlukan waktu sekitar enam menit untuk selesai berganti pakaian. Setelah itu, ia segera keluar menemui Dennis beserta seorang pilot dan beberapa teknisi yang ada di sana.


Zach mengernyit tatkala mendengar mereka berbincang perihal sesuatu yang mungkin hanya dimengerti oleh para ahlinya. Ia menghela napas panjang kemudian memberi kode pada Dennis agar segera berangkat. Namun, tangan kanannya itu tidak menangkap kode yang dimaksud, sehingga ia berdeham dan langsung membuat mereka terdiam sebelum menatapnya.


"Apakah Anda mau berangkat sekarang?" tanya Dennis.


Zach hanya mengangkat bahu untuk merespons, kemudian keluar dari sana dan kembali menuju ke tempat terakhir kali bertemu Agnese. Sementara Dennis dan Theo—pilot yang akan membawa mereka—saling tatap, kemudian bergegas menyusul Zach.


Karena kalau tidak, mereka akan mendapat ganjaran yang setimpal. Sungguh, Zach bukanlah orang yang patut disepelehkan. Ia bagaikan air yang tenang. Namun, jika sudah kehilangan kendali, semua akan terkena semburan ombaknya yang begitu dahsyat. Jadi, orang yang mengenalnya memilih melakukan sesuatu dengan gesit daripada membiarkan diri mereka hancur terkena ombak.


Zach duduk di sebuah kursi yang ada di bagian depan, sedangkan Agnese memilih duduk di bagian yang sejajar dengan Dennis. Theo segera memasuki ruang kemudi tanpa memedulikan mereka yang berada di kabin. Setelah memasang dan mengatur segala sesuatu yang diperlukan, Theo memberi informasi jika pesawat siap lepas landas melalui handy talky yang langsung terhubung dengan milik Dennis.


"Kita akan segera berangkat, Tuan," kata Dennis setelah mendapat informasi.


"Dennis?"


Dennis mengalihkan perhatiannya dari layar laptop. "Ada apa, Nona?"


"Sebenarnya kita mau ke mana?"


"Kita akan ke ...."


"Lanjutkan pekerjaanmu, Dennis!" potong Zach yang membuat Agnese merasa sangat kesal.


Jika bukan karena ingin melunasi utang yang tidak pernah dilakukannya, Agnese juga tidak pernah mau berada di dalam kabin pesawat yang entah akan membawa dirinya ke mana. Padahal ia berpikir bisa mendapat jawaban dari Dennis, tetapi ia justru tidak mendapat apa-apa. Harusnya ia memang ia tidak bertanya jika tidak ingin rasa penasaran itu semakin berkembang.


Agnese menghela napas panjang, lalu membiarkan dirinya menikmati perjalanan yang mungkin akan memakan waktu lumayan lama. Ia tersenyum tatkala melihat pemandangan di luar pesawat. Rumah dan gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi tampak seperti miniatur dari atas. Melihat semua itu, ia kembali teringat akan sebuah kenangan yang pernah dilalui bersama kelurga kecilnya. Namun, itu semua hanyalah kenangan yang tidak dapat diulang.

__ADS_1


Selepas puas melihat pemandangan, Agnese mengeluarkan ponsel dari sling bag yang digunakan. Sepertinya bermain game bisa membuat perjalanan mendadaknya menjadi sedikit berwarna. Tanpa memedulikan Zach dan Dennis yang sibuk dengan kegiatan masing-masing, ia juga mulai menikmati game offline itu.


Hei!


Dia sedang apa sekarang?


Dennis melihat sebuah notifikasi yang masuk ke dalam laptopnya. Itu pesan dari Zach. Ia kembali mengalihkan perhatiannya dari laptop ke arah Agnese. Setelah tahu apa yang dilakukan gadis itu, ia kembali menatap layar laptop dan mulai membalas pesan Zach.


Sedang bermain ponsel, Tuan.


Belum sempat Dennis melanjutkan pekerjaannya, notifikasi dari Zach kembali muncul. Mau tidak mau, ia membuka pesan itu.


Aku ingin melihatnya!


Dennis mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya, kemudian membuka aplikasi kamera. Ia tidak langsung mengambil gambar gadis di sampingnya yang terlihat fokus bermain ponsel. Ia menimbang-nimbang sejenak ditemani bisikan iblis dan juga malaikat yang berada di kepalanya. Namun, karena bisikan iblis yang lebih mendominasi, ia segera mengambil gambar sebelum Agnese sadar akan dunia di sekitar.


Setelah mengambil gambar, Dennis langsung mengirimnya pada Zach yang sudah kesal karena sudah menunggu lama.



Zach tersenyum tipis tatkala melihat wajah yang muncul di layar ponselnya. Begitu puas memandanginya, ia kembali mengirim pesan pada Dennis yang pasti tengah merasa kesal karena dirinya terus saja mengirim pesan.


 


Segera hapus fotonya dari ponselmu!


Dennis sekali lagi mengembuskan napas kasar. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang menyebabkan sang atasan mengganggu pekerjaannya terus-menerus. Padahal tadi ia dimandatkan untuk menyelesaikan masalah proyek yang tengah digarap bersama salah satu investor dari Turki.


*Yes, Sir*.

__ADS_1


__ADS_2