Married With Stranger

Married With Stranger
Carry Her


__ADS_3

"Ya, ini aku." Pria itu menyunggingkan senyum jahil dan mendekatkan tubuhnya ke arah Agnese. "Kenapa? Kau merindukanku?"


Merasa posisinya terancam, Agnese langsung berdiri dan mengangkat tangannya ke depan. "Jaga jarak! Jangan dekat-dekat denganku!"


"Kenapa begitu? Apa kau tidak senang mereka memerhatikanmu karena kedatanganku di kelas ini?"


Agnese mengernyit dan mengikuti arah pandang pria itu. Ia terbelalak kaget melihat kerumunan di dekat pintu kelas. Ia menggeram kesal dan mendorong tubuh pria menyebalkan di hadapannya.


"Aku benar-benar membencimu!"


Pria itu tersenyum senang. "Terima kasih."


"Aku tidak sedang memujimu!" Agnese bersungut-sungut saking kesalnya dengan sosok pria yang sudah kalian tebak sebelumnya.


Pria itu mengangkat bahu. "Aku menganggap itu pujian."


Agnese mengembuskan napas kesal, mengentakkan kaki, dan meninggalkan kelas menuju taman belakang sekolah. Ia benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa agar pria itu berhenti mengganggunya. Meski mengarahkan segala kemampuan untuk menghindar, tetap saja ia kembali ketemu dengan dia, Zach William Tomlinson.


Di sisi lain, Yoana yang baru kembali dari kantin bertanya-tanya dalam hati ketika melihat kerumunan di depan kelas. Ia berjalan mendekat sambil membawa sebotol minuman untuk Agnese. Saat tiba di depan kelas, ia menerobos di antara para murid yang asyik memandangi Zach.


Yoana menganga melihat pemilik yayasan sekolah sedang duduk di kursi yang selalu ditempati saat jam pelajaran berlangsung. Ia kembali menutup mulutnya dan menghampiri Zach. Ia meletakkan botol minuman di atas meja dan menatap pria itu.


"Kenapa Anda ada di sini, Sir?"


"Aku bebas berada di mana saja," jawab Zach yang membuat Yoana langsung merutuki pertanyaan yang diajukan.


"Maksud saya, apa yang Anda lakukan di kelas ini?" ralat Yoana.


"Mengganggu temanmu."


"Maksud Anda adalah Agnese?"


"Memangnya siapa lagi?" Zach berdiri dan berniat untuk mencari keberadaan Agnese.


Sebelum tiba di depan pintu, satu per satu murid yang berada di sana menyingkir, membuat barisan saf dan membiarkan pria itu lewat dengan tenang sambil terus menatapnya. Tatapan mereka kembali mengikuti ke mana Zach melangkah, seperti tidak ada pemandangan indah yang lain.


Berbeda dengan mereka, Yoana justru tidak tinggal diam. Ia ikut keluar dari kelas dan mencari Agnese dengan menanyakan keberadaannya pada salah satu teman yang ditemui di koridor. Begitu mendapat jawaban, ia terus melangkah hingga menjumpai batu pijakan yang berada di ujung koridor dan mengarah ke taman belakang.


"Agnese!"


Yoana mendekati Agnese yang duduk sambil mengayunkan kaki yang menggantung. Ia ikut duduk di sebelah Agnese itu dan memiringkan sedikit posisi tubuhnya agar dapat menatap Agnese. "Kenapa kau di sini? Ayo, kita kembali ke kelas. Sebentar lagi kelas sejarah akan dimulai."


"Aku mau di sini dulu."


"Kenapa?"

__ADS_1


Agnese menatap Yoana dan tersenyum singkat. "Ada makhluk menyebalkan di sana. Aku tidak betah."


"Maksudmu Zach Tomlinson?" Agnese mengangguk mengiakan. "Dia sudah pergi," ucap Yoana.


"Benarkah?"


Kini giliran Yoana yang mengangguk. "Iya." Yoana menatap lurus ke depan sambil menikmati angin yang menerpa wajahnya. Ia juga mengayunkan kakinya yang tidak menyentuh tanah. "Sebenarnya kau ada masalah apa dengan orang penting seperti dia?" tanya Yoana kemudian.


"Aku juga bingung. Padahal awalnya dia sangat baik karena sudah menyelamatkanku dari preman jalan yang hampir berbuat jahat padaku," jawab Agnese.


Agnese menerawang kejadian malam itu. Malam di mana ia hampir menjadi korban kejahatan dari sekelompok pria mabuk saat pulang kerja. Namun, berakhir di rumah Zach karena tertidur saat dalam perjalanan.


Yoana menatap Agnese lagi. "Lalu, kenapa kau terlihat sangat tidak menyukainya?"


"Itu kare ...."


"Ternyata kau di sini," potong Zach.


Well, kebiasaan buruk lainnya yang dimiliki pria itu adalah selalu memotong ucapan seseorang. Jadi, tidak heran jika Zach selalu tiba-tiba berbicara meski yang lain belum menyelesaikan ucapannya.


Zach bersedekap dan memandang kedua gadis yang sedang duduk sambil membicarakan dirinya. Untung saja ia tiba tepat waktu, jadi mereka tidak terlalu jauh membahas persoalan malam itu.


Agnese menghela napas kasar dan melirik Zach. "Kenapa kau terus saja membuntuti kami?"


"Ralat! Aku hanya mengikutimu." Zach menunjuk Yoana. "Dia tidak termasuk," lanjutnya.


Agnese menarik tangan Yoana dan mengajaknya untuk pergi dari sana. Namun, saat ia hendak beranjak dari taman, Zach berkata, "Jika bukan karena Dennis, aku juga tidak akan melakukan ini."


Agnese melepaskan tangan Yoana dan menatap Zach dengan penuh tanya terlihat dari keningnya yang berkerut. "Dennis? Apa maksudmu?"


"Dia memintaku untuk menjagamu."


Menjaga atau mengganggu?


"Kenapa begitu? Aku tidak perlu dijaga!"


Zach mendengus sebal. "Kau ini banyak tanya. Menurut tanpa bertanya, bisa? Telingaku bisa rusak mendengar suaramu."


"Aku tidak akan membiarkanmu mengikutiku kalau tidak memberi alasan yang kuat." Agnese ikut bersedekap dan menatap Zach dengan tatapan yang menantang.


"Belakangan ini ada yang menerorku. Sekarang Dennis pergi untuk menangkap orang itu."


"Apa hubungannya denganku?"


Zach mendengus kesal. "Dia memintaku untuk menjagamu karena kau bisa saja terlibat masalah apalagi peneror itu tahu jika kau adalah istriku."

__ADS_1


"Istri?" Agnese berdecih tak suka. "Jangan harap aku mau menjadi istrimu!"


"Siapa juga yang mau memperistri gadis sepertimu? Membosankan!"


"Kau benar-benar menyebalkan!" Agnese meninju lengan kokoh Zach dengan keras.


Zach menertawakan pukulan Agnese yang rasa sakitnya tidak bertahan lama. "Tidak sakit sama sekali."


Agnese menggeram kesal dan bersiap untuk melayangkan tinju bertubi-tubi pada tubuh Zach. Namun, ucapan pria itu menghentikannya. Alhasil, ia hanya bisa memaki dalam hati.


"Kau senang menyentuhku, ya?"


Zach mengambil tangan Agnese untuk diletakkan di lengannya, tetapi tidak jadi karena ada sesuatu yang menghalangi di waktu bersamaan.


Uhuk!


Zach maupun Agnese sama-sama menatap Yoana yang terbatuk di saat mereka sedang berdebat. Gadis itu menyengir tak berdosa. "Lebih baik kalian berdebat di tempat lain. Kalian bisa jadi bahan tontonan di sini," ujar Yoana dan menunjuk ke arah belakang Zach menggunakan tatapan matanya.


"Sial!" umpat Zach saat melihat para murid yang mulai berkerumun. Ia pun tidak tinggal diam. Ia menarik tangan Agnese agar segera meninggalkan tempat itu.


Agnese meronta dan beberapa kali berusaha melepas genggaman Zach yang begitu kuat di tangannya. "Lepaskan!"


"Diam!" titah Zach yang membuat Agnese langsung terdiam setelah dibentak.


Ketika tiba di parkiran, Agnese mengempaskan tangan Zach dengan keras hingga membuat genggaman tangan pria itu terlepas. Ia menatap Zach degan kesal. "Aku tidak mau ikut denganmu!"


Zach mengembuskan napas panjang.


"Kau harus ikut jika ingin beasiswamu segera kembali."


"Kau pikir aku akan percaya?" Agnese tertawa meremehkan. "Kau selalu saja berkata akan melakukan ini dan itu untukku, tapi apa? Kau justru semakin menyulitkanku."


"Kali ini aku serius."


"Aku yakin kalau ini hanya akal-akalanmu saja untuk menggangguku."


"Jika kau tidak percaya, aku tidak peduli. Setidaknya aku sudah memberi tahu." Zach mengeluarkan kunci dari dalam saku jas bagian dalam. "Jika Dennis tidak ingin bertemu denganmu lagi, jangan salahkan aku."


Zach menyerah. Ia memilih untuk meninggalkan gadis itu. Ia pun bergerak mendekati mobil. Karena jika terus di sana, tidak akan ada habisnya mereka menjadi bahan tontonan. Meski menyenangkan melihat wajah kesal Agnese, tetapi ia tidak suka disaksikan murid dan beberapa staf Dalton High School.


"Tunggu!"


Zach menoleh ke belakang dengan salah satu alis yang terangkat. Ia tidak berkata apa-apa, ia hanya menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.


"Aku ikut denganmu," ujar Agnese akhirnya.

__ADS_1


Gara-gara Dennis? Pengaruhnya besar juga terhadap gadis ini.


__ADS_2