
Saat Zach sudah berjalan beberapa langkah, Agnese menatap Dennis. "Ada apa dengannya?"
"Tidak tahu, Nona."
"Seharusnya dia tidak usah menyuruhku mendorong troli kalau akhirnya dia sendiri yang akan mendorongnya," kesal Agnese sembari mengelap peluh yang ada di dahinya.
Dennis menatap Zach sambil tersenyum takjub. Sungguh. Kejadian hari ini benar-benar di luar dugaan. Sosok yang biasanya tak pernah melakukan hal seperti itu mendadak berubah. Memang benar kata orang, terkadang bertemu dengan yang baru membuat diri lupa akan semua.
"Ini hal yang langka. Dia bahkan tidak pernah mendorong troli saat berbelanja, Nona," ujar Dennis dengan pandangan yang tak pernah terlepas dari Zach.
Agnese mengatupkan mulutnya yang sempat menganga karena mendengar penuturan Dennis. Tidak pernah mendorong troli? Bahkan anak kecil selalu berdebat dengan anak lain untuk mendorong troli. Rasanya sangat aneh mengetahui ada orang yang tak pernah mendorong benda beroda tersebut.
"Apa dia benar-benar orang yang sangat kaya sampai mendorong troli pun tidak pernah?" tanya Agnese.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang Tuan Zach?" Agnese mengangguk. "Benarkah?"
Agnese kembali mengangguk. "Saat pertama kali bertemu, dia bahkan tidak pernah menyebutkan namanya. Aku mengenalnya sebagai pria aneh yang menyukai pasta gigi anak-anak dan memiliki sebuah yayasan sekolah yang mungkin bukan miliknya, tidak lebih."
"Hanya itu saja?" Agnese mengangguk. "Apa kau mau mengetahuinya?" tanya Dennis lagi.
"Aku tidak mau membuang waktu hanya untuk mengetahui hal yang tidak berguna, Dennis."
Dennis mengernyit. "Kenapa?"
"Terkadang, mengetahui sesuatu yang tidak penting bisa membuat keadaan menjadi genting," jawab Agnese.
Agnese meninggalkan Dennis dengan berjalan mundur sebelum menyusuri lorong di sebelah rak yang dilewati tadi sembari memerhatikan berbagai camilan ternama. Entah kapan terakhir kali ia merasakan semua itu, ia pun tidak ingat. Sebab berhemat adalah pilihan terbaik saat kondisi keuangan sedang tidak stabil.
Jika bisa memakannya pun, Agnese harus menunggu Yoana yang membeli dan mereka akan menikmati camilan tersebut bersama-sama di sekolah. Meski begitu, ia sama sekali tidak pernah mengeluh karena sadar jika di luar sana banyak yang lebih menderita.
Daripada tinggal mengkhayal, gadis itu memilih untuk menyusuri deretan rak. Saat baru saja berbelok ke rak yang berisi kebutuhan kamar mandi, Agnese berhenti berjalan. Zach ada di sana. Niat ingin menjauhi, ia justru bertemu dengannya.
Agnese bergeming saat berhadapan dengan Zach. "Sebenarnya dia tampa ...."
"Kenapa kau melihatku seperti itu?!" Zach menyeringai saat berhasil memergoki Agnese tengah memerhatikan dirinya untuk ke sekian kali.
"A ... aku tidak melihatmu!"
Alis Zach terangkat. "Kali ini aku tidak percaya karena kegugupanmu sudah menjelaskan semuanya. Kau memang tertarik padaku, 'kan?"
Wajah Agnese memerah. Ia benar-benar tidak suka jika Zach mulai menggodanya seperti itu. "Aku tidak tertarik denganmu, tapi dengan ...."
"Apa?" potong Zach lagi.
"Apa aku boleh mengambil camilan juga? Sepertinya sangat enak," bohong Agnese agar Zach tidak lagi membahas hal memalukan itu.
"Kau mau?" Agnese mengangguk dan Zach menghela napas panjang. "Ambil troli yang kosong dan isi dengan apa pun yang kau sukai di sini," lanjut Zach yang membuat Agnese berbinar.
__ADS_1
"Kau tidak bercanda, 'kan?"
Zach mengangkat bahu. "Kalau kau tidak mau, terserah. Tawaranku juga tidak akan berlaku dua kali untuk orang yang sama."
"Eh, tidak!" Agnese kembali mengangguk, tetapi kali ini dengan semangat. "Aku mau! Boleh, 'kan?"
"Hem."
"Terima kasih. Pasti Ibuku sangat senang menerima bantuanmu." Agnese membungkuk sebagai tanda terima kasih dan bersiap untuk pergi. Namun, saat suara Zach terdengar, ia tidak jadi beranjak dari sana.
"Kenapa kau terus memikirkan orang lain? Pikirkan dirimu sendiri, baru orang lain! Lagi pula aku menyuruhmu untuk mengambil yang kau sukai, bukan Ibumu."
"Sepertinya kau tidak ikhlas memberi," sindir Agnese setelah mendengus sebal.
"Bukan tidak ikhlas. Aku hanya mau membelikan sesuatu yang kau sukai, bukan Ibumu."
"Apa bedanya? Dia Ibuku, bukan orang lain!" Agnese mengentakkan kaki, lalu meninggalkan Zach yang masih bergeming setelah mendengar ucapannya.
Zach mengangkat bahu tak acuh dan lanjut berbelanja. Saat hendak mengambil sebuah cokelat yang dikemas di dalam kotak, ia mendengus sebal ketika melihat Dennis datang.
"Tuan, Anda tidak mau mengabadikan momen langka ini?" saran Dennis yang membuat alis Zach mengernyit.
"Momen apa?"
"Momen Anda mendorong troli."
Zach mendengus. "Kenapa kau tidak mencari kesibukan yang lain? Kau menggangguku!"
"Baiklah."
Zach bersiap untuk bersua foto. Ia mengeluarkan beberapa bungkus makanan ringan, kemudian mendudukkan dirinya di dalam troli sambil memangku bungkus makanan ringan. Ia menatap ke arah Agnese yang berdiri di depan kasir sambil memegang ujung kacamata.
Dennis membuka aplikasi kamera dan memosisikan benda pipih itu dengan baik. "Satu, dua ...."
Cekrek!
"Bagaimana hasilnya? Apakah aku terlihat tampan?"
Dennis mendekat ke arah Zach dan memperlihatkan hasil foto yang diambil beberapa detik yang lalu.
"Anda terlihat tampan, Tuan," puji Dennis.
Zach tersenyum bangga. "Aku selalu tampan, kalau kau lupa."
"Iya, Tuan." Dennis memasukkan ponsel yang digunakan untuk mengambil gambar Zach ke dalam saku celana. "Kalau begitu, saya permisi."
"Kau mau ke mana?"
__ADS_1
"Mau mengurus pembayaran."
Zach turun dari troli dan memperbaiki kemeja yang sedikit terangkat hingga memperlihatkan sebagian perutnya yang atletis itu. "Ambil fotoku sekali lagi!
Apa kau sudah ketagihan dipotret, Tuan?
"Ba ... baik, Tuan."
Dennis kembali mengeluarkan ponsel dan bersiap mengambil foto sang atasan untuk yang kedua kali. Sebelum itu, ia diminta untuk memperhitungkan antara kecepatan mengambil gambar dan gaya yang akan ditunjukkan Zach.
"Kau sudah siap, 'kan?" tanya Zach untuk memastikan.
Dennis hanya mengacungkan jari jempolnya sebagai tanda ia mengiakan ucapan atasannya itu.
Zach memegang erat pegangan troli untuk menumpu badannya, lalu mengangkat kedua kaki yang juga ditumpukan ke besi penopang rak yang ada di samping. Di saat yang bersamaan, Dennis langsung mengambil gambar agar mendapatkan hasil yang bagus. Jika tidak, Dennis pasti akan dimarahi, apalagi ini atas permintaan Zach. Jadi, semua harus terlaksana dengan sempurna.
Selepas melihat hasil gambar Dennis, Zach merebut ponsel di tangan pria itu. Ia mendekati Agnese untuk meminta pendapat tentang sesuatu.
"Hei, kau!" Zach mendengus karena panggilannya tidak digubris. Ia berhenti berjalan saat beberapa meter di depannya ada Agnese yang berdiri dengan tatapan bingung. "Gadis bodoh, kemari kau!"
Sebelah alis Agnese terangkat. "Kau memanggil siapa?"
"Dasar bodoh! Memangnya ada gadis lain di sini?" sarkas Zach.
Agnese mengedarkan pandangannya untuk memastikan jika ada orang lain yang dimaksud pria menyebalkan yang berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang. Setelah yakin, ia mengembuskan napas panjang. Benar. Tidak ada gadis lain di sana. Ah, seharusnya ia peka jika mendengar julukan itu.
Namun, julukan bodoh yang disematkan untuknya terasa tidak enak didengar. Padahal Agnese termasuk siswa yang pintar di kelas, tetapi Zach justru memberinya julukan seperti itu. Apakah tidak ada panggilan lain? Cantik, misalnya? Atau sayang?
Sadar, Agnese!
"Argh!" Agnese mengelus keningnya yang perih karena digetik secara tiba-tiba oleh Zach. "Kau ini kenapa, sih? Kalau aku geger otak, bagaimana?"
"Kau benar-benar bodoh, ya? Mana mungkin kau bisa terkena geger otak hanya karena tersentuh jariku?"
"Tidak ada yang bisa menjamin, apalagi jarimu sebesar pipa."
"Kau!" geram Zach sembari menunjuk wajah Agnese.
Zach mengembuskan napas kasar, kemudian menurunkan tangannya. Ia menatap Agnese dengan tatapan tajamnya hingga membuat nyali gadis itu sedikit menciut. Namun, bukan Agnese namanya jika mudah menyerah.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau juga mau mencari jin yang ada dalam diriku?" tantang Agnese sambil melotot.
"Lihat ini!" Zach menunjukkan hasil foto tadi kepada Agnese. "Aku tampan, 'kan?"
Agnese bersedekap dada. "Aku akui kalau kamu tampan, tapi ketampananmu itu sangat standar. Apa kau pernah melihat Zayn Malik? Ah! Dia adalah pria paling tampan nomor satu di dunia."
Rahang Zach mengeras. Entah sudah berapa kali ia mendengar Agnese mengagung-agungkan pria yang bernama Zayn itu. Sepertinya ia harus mengundang Zayn untuk membuktikan siapa yang paling tampan di antara mereka. Namun, mengapa ia harus melakukan itu?
__ADS_1
Calm down, Zach! Setidaknya dia sudah mengakui kalau kau tampan.