
Zach mengajak Samuel—suami dari Rachel—untuk berbincang bersama di ruang keluarga sebab ia ingin mengorek sesuatu yang bisa membantunya menemukan seseorang.
"Aku lupa bagaimana kau bisa bertemu dengan Rachel. Bisa kau jelaskan?" pinta Zach ketika mereka sudah duduk dengan nyaman di sofa.
"Kami bertemu di Luxy, platform sejenis Tinder, tetapi hanya orang tertentu yang bisa memakainya."
Zach mengernyit. "Maksudmu?"
Samuel mengangkat bahu tanda tidak tahu. Pasalnya ia juga tidak paham mengapa pihak platform itu tidak menerima sembarang pengguna. Hanya orang-orang berada yang dapat mengakses dan menggunakannya. Sesuai dengan layanan deskripsi yang berisi 'Tinder, minus the poor people'. Alias, layanan kencan tanpa orang-orang yang malang.
"Apa kau ingin mencari teman kencan?" tanya Samuel tanpa menjawab pertanyaan yang tadi diajukan Zach.
"Tidak!" Zach menjadi salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya, kemudian bersedekap dada. "Aku hanya bertanya. Siapa tahu Dennis bisa mendapatkan pasangan di sana."
Samuel tersenyum jahil. "Bagaimana denganmu? Apa kau juga tidak mau mendapatkan pasangan?" tanya Samuel sambil menaikturunkan alisnya.
"Aku tidak tahu apa yang membuat kalian begitu senang memiliki pasangan. Padahal sendiri lebih menyenangkan."
"Sepertinya ucapanmu harus diralat." Samuel tertawa kecil melihat ekspresi kesal Zach karena tak suka ucapannya dibenahi. "Sendiri itu menenangkan, sementara berpasangan menyenangkan. Jadi, jika berpasangan jauh lebih menyenangkan, mengapa tak memilihnya?"
Zach mendengus kesal. "Aku tidak percaya."
"Kau harus mencobanya agar tahu betapa bahagianya hidup jika memiliki pasangan, apalagi seperti Rachel." Samuel tersenyum bangga membayangkan kehidupan cintanya dengan sang istri yang saat ini mengandung buah hati mereka.
Haruskah aku mencari pasangan di Luxy?
"Ap ...."
Ting!
Ucapan Zach terpotong akibat ponselnya yang kembali berdering karena sebuah pesan. Ia tidak peduli dengan isi pesan yang baru masuk. Yang jelas, ia ingin segera mengakhirinya setelah mengetahui siapa dalang di balik pesan-pesan tersebut.
Apa kau sedang menghukum istrimu?
__ADS_1
🍒🍒🍒
Dennis masuk ke dalam apartemen dengan terburu-buru. Ia mengambil laptop di dalam kamar dan membawanya menuju sebuah meja kecil yang berada tak jauh dari area dapur. Ia menarik kursi dan duduk di sana. Begitu laptop menyala, ia langsung masuk ke dalam sebuah program untuk meretas CCTV restoran yang didatangi bersama Agnese tadi.
Ketika muncul bahasa program yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu seperti Dennis, ia memasukkan beberapa kode agar dapat mengakses data kepemilikan pihak restoran. Saat program tengah memuat data, ia bangkit untuk membasahi kerongkongannya dengan segelas air.
Dennis meneguk air dingin sambil berdiri. Ia sangat penasaran dengan motif pelaku apalagi masalah ini menyangkutpautkan Agnese. Ia tidak bisa membiarkan gadis yang tak bersalah itu berada dalam lingkaran hitam. Karena tidak ada yang tahu sejauh mana pelaku tersebut ingin berbuat.
Mendengar suara notifikasi, Dennis beranjak dari depan kulkas sambil memegang gelas. Ia melihat data yang dimuat oleh program telah selesai. Tanpa berlama-lama, ia mencari tangkapan video sesuai dengan waktu kejadian. Ia mengklik tombol putar ketika video yang dicari berhasil ditemukan.
Dalam video yang berdurasi sekitar satu jam, terlihat seorang pria yang memakai pakaian serba hitam, lengkap dengan topi dan kacamata memasuki Chipotle. Dari awal masuk, tatapannya sudah mengarah ke meja Dennis dan Agnese. Ia juga sengaja mengambil tempat tak jauh di belakang Agnese karena berpikir jika tak ada yang bisa melihatnya melakukan sesuatu. Namun, ia salah duga sebab Dennis terlalu jeli untuk melihat kejanggalan yang terjadi.
Rahang Dennis mengeras dan tangannya terkepal. "Jangan harap kau bisa kabur!"
Dennis meninggalkan laptop yang masih memutarkan video menuju sebuah ruangan yang biasa ia gunakan kala sedang meretas. Ia duduk di sebuah kursi yang di depannya terdapat meja dan beberapa perangkat hardware dan software. Setelah perangkat menyala, ia kembali berkutat dengan program-program yang dirancang untuk membantu dirinya saat mencari seseorang, baik itu lawan maupun kawan.
Ketika Dennis selesai menghubungkan program dengan Goggle Earth, ponselnya berbunyi. Ada sebuah panggilan telepon dari seseorang, tetapi ia tidak tahu siapa karena tatapannya tidak pernah lepas dari layar laptop dan komputer.
"Cari tahu siapa yang mengirimiku gambarmu dan gadis bodoh itu saat sedang makan."
Dennis langsung terdiam begitu mendengar suara itu. Ia langsung berdiri dari kursi dan memijit leher belakangnya.
"A ... Anda menerima gambar?" tanya Dennis.
"Ya, dan dia juga bertanya tentang perasaanku setelah melihat gambar itu."
Zach semakin yakin jika ada unsur kesengajaan yang terjadi. Apalagi ia mendengar kegugupan Dennis saat mengetahui dirinya mendapat teror pesan.
"Dia juga mengatakan jika gadis bodoh itu adalah istriku," tambah Zach.
"Istri?"
__ADS_1
Zach mengangguk. "Ya. Ini semua gara-gara kau yang menyebar informasi sampah."
"Maaf, Tuan, tapi sepertinya informasi sampah itu bisa menjadi petunjuk untuk kita segera menemukan pelakunya," balas Dennis sambil menatap layar monitor.
"Sepertinya memang ada pihak yang sengaja mengadu domba kami," ujar Zach dalam hati.
"Ya sudah, cepat selesaikan agar kau bisa kencan bersama gadis bodoh itu dengan tenang."
"Maaf, Tuan Zach. Saya tidak bermaksud untuk mengajak Nona Agnese makan ber ...."
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan bersamanya. Itu terserah padamu. Aku hanya menginginkan pengirim pesan itu segera tertangkap."
Dennis mengangguk mengiakan. "Baik, Anda tidak perlu khawatir."
Sebelum telepon terputus, Dennis meminta Zach untuk membuka pesan yang akan dikirim nanti. Pesan itu bukanlah sembarang pesan, melainkan sebuah trap project yang akan membantunya mengakses ponsel sang atasan tanpa menyentuhnya karena mereka sekarang berada di tempat berbeda dan cukup jauh.
Dennis kembali duduk dan membuat sebuah virus yang disembunyikan di dalam sebuah link. Setelah siap, ia mengirimnya kepada Zach. Begitu mendapat pesan jika Zach sudah membuka, ia langsung meretas ponsel atasannya. Begitu berhasil mengakses, ia langsung mencari dan membaca isi pesan tersebut dengan teliti.
"Sial! Sepertinya dia bukan orang sembarangan, tapi siapa?" gumam Dennis, kemudian menggigit bibir bawahnya.
Tanpa menunggu waktu, Dennis menyalin nomor yang digunakan pelaku untuk mengirim pesan dan menempelnya di program. Ia kembali memasukkan kode-kode yang dibutuhkan, lalu menekan tombol enter. Setelah pemuatan yang berlangsung cukup lama, layar monitor akhirnya menampilkan data dari sang pengirim pesan.
Karena program dan Google Earth sudah terhubung sebelumnya, Dennis semakin mudah untuk mencari. Ia segera memperbesar gambar bola dunia di layar komputer agar mengetahui lokasi yang lebih spesifik.
Setelah diperbesar cukup lama, Dennis berhasil menemukan lokasi yang saat ini ditempati pelaku.
Dennis sekali lagi memperbesar bola dunia dan terlihat sebuah menara yang menjadi ikon salah satu kota yang ada di negara itu.
__ADS_1
Dennis menyeringai dan tersenyum puas. "Jadi, orang itu berada di Indonesia?"