
"Selamat pagi, Tuan." Dennis membungkukkan badan.
Zach menutup laptop dan menatap Dennis dengan raut wajah yang serius. "Bagaimana? Apa kau sudah menemukan orangnya?"
Dennis menggeleng. Ia masih berdiri tak jauh dari meja kerja Zach. Tak berani mendekat karena ia tahu jika suasana hati sang atasan sedang tidak baik.
"Belum, Tuan, tapi saya sudah tahu di mana lokasinya," jawab Dennis.
Zach mengernyit. "Di mana?"
"Indonesia."
"Indonesia?" Dennis mengangguk. "Kenapa orang di negara itu mencari masalah?" tambah Zach.
"Kita akan segera mengetahuinya. Namun, sebelumnya saya mau meminta tolong pada Anda."
"Apa?" tanya Zach lagi, kali ini menatap Dennis dengan penuh tanda tanya.
"Tolong jaga Nona Agnese."
Mata Zach melotot tatkala mendengar permintaan Dennis. Bagaimana ia bisa menjaga gadis yang bahkan tak pernah merasa nyaman ketika berada di dekatnya? Ia sangat mengutuk orang yang sedang mencari masalah dengannya sekarang.
Zach bersedekap dada. "Kau berani memerintahku?"
"Bukan begitu, Tuan, tapi saya yakin kalau Anda bisa menjaga Nona Agnese selagi saya berada di Indonesia." Dennis menyerahkan sebuah berkas yang berisi bukti-bukti kejahatan yang dilakukan atasan orang itu. "Kita tidak tahu kemungkinan yang akan terjadi. Saya hanya mengantisipasi."
Zach membuka map dan membaca kalimat demi kalimat dengan teliti, tak satu pun yang terlewatkan. Setelah itu, ia menatap Dennis. "Baiklah. Aku akan menjaga gadis bodoh itu," ucap Zach pada akhirnya.
Dennis tersenyum dan mengangguk. "Terima kasihan, Tuan."
Zach menutup map dan kembali menyerahkannya kepada Dennis. Ia berdiri dengan salah satu tangan yang masuk ke dalam saku celana, kemudian menatap pria di depannya.
"Berapa banyak anak buah yang ikut bersamamu ?" tanya Zach dengan salah satu alis terangkat.
"Tidak ada, Tuan. Saya akan meminta bantuan Mr. Aryan saat tiba di sana."
"Baik. Berhati-hatilah."
Dennis mengangguk. "Saya permisi, Tuan," ucap Dennis sembari membungkuk.
__ADS_1
๐๐๐
Dalton High School. Sekolah yang dibangun khusus untuk mengenang pencetus Tomlinson's Group, Dalton Tomlinson. Di sana tak hanya anak yang berasal dari kalangan berada, sebab mereka menerima murid yang 'kurang' dan memberi beasiswa dengan syarat nilai tidak boleh menurun, harus meningkat.
Salah satu murid yang menerima beasiswa adalah Agnese. Namun, itu dulu. Sebab ia tak lagi bisa menikmati fasilitas itu karena nilainya sempat menurun dan akibat perintah dari pemilik yayasan sekolah. Ia tak mengerti mengapa pria itu tega melakukannya.
Agnese pun sedang merenungi hal tersebut di kelas. Ia duduk sambil memangku dagu. Tak peduli dengan teman-temannya yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ia terus saja memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan uang tambahan agar dapat membantu keuangannya yang semakin menipis. Ia tidak mungkin bekerja di tempat gelap itu. Ia butuh pekerjaan yang lebih baik, tapi apa?
Agnese menoleh ke kiri dan ke kanan, tetapi tak ada yang menarik perhatiannya. Ia membuka buku halaman terakhir. Ia mengambil sebuah pulpen yang terletak tak jauh di depannya. Ia mulai menyalurkan keresahannya dalam sebuah gambar. Pulpen yang diapit di sela-sela jari dengan lihai mengikuti imajinasinya.
"Agnese, kau dipanggil Mrs. Pita." Yoana menghampiri Agnese yang asyik menggerak-gerakkanย jari dia atas kertas ketika baru tiba di dalam kelas.
Agnese menatap Yoana dengan tatapan penuh tanya. "Ada apa?"
"Mrs. Pita memanggilmu."
Kepala Agnese bergerak naik turun dan langsung berdiri. Ia mengembuskan napas panjang sebelum benar-benar keluar dari kelas. Ia berjalan gontai menuju ruangan guru yang selalu membantunya. Saat tiba di depan pintu, ia mengetuk beberapa kali hingga terdengar suara interupsi yang memintanya masuk.
Mrs. Pita tersenyum melihat kedatangan Agnese. Semoga saja keputusannya kali ini tidak salah. "Duduklah."
Agnese ikut tersenyum, lalu duduk di kursi yang berada di depan Mrs. Pita. Dengan detak jantung yang tak karuan, ia menunggu wanita itu berbicara dengan harapan tidak ada kabar buruk lagi, seperti terakhir kali dirinya berada di sana.
Agnese membuka surat tersebut dan membacanya dengan alis yang berkerut. Di sana tertulis bahwa dirinya dapat kembali menerima bantuan biaya belajar jika bersedia melakukan sesuatu.
"Apa maksud dari surat ini?" Agnese mengangkat surat di tangannya untuk ditunjukkan pada Mrs. Pita.
Mrs. Pita meraih tangan Agnese dan diusap dengan lembut. "Maaf tidak memberi tahumu sebelumnya, tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantumu."
"Aku tidak mengerti." Agnese menggeleng dan meletakkan surat tersebut ke atas meja. "Kalau meningkatkan nilai dan kualitas belajar, aku sanggup. Kalau sesuatu yang dimaksud jauh dari itu, lebih baik aku tidak mendapatkan beasiswa lagi."
"Ta ...."
"Kau harus melakukannya," ujar seseorang yang baru masuk sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana dan memandang Agnese dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mendengar itu, Mrs. Pita tersenyum canggung, sementara Agnese menoleh ke belakang. Ia semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.
"Kau?" Agnese memandang surat yang tadi sempat dibaca. "Jangan bilang kalau kau yang membuat surat itu?"
Orang itu menyeringai. "Aku ingin menyangkalnya, tetapi aku tidak suka berbohong. Jadi, aku harus mengatakan jika jawabannya adalah iya. Itu memang kerjaanku."
__ADS_1
"Kau memang pria yang licik!"
"Agnese, bersikap sopanlah. Dia tamu penting sekolah kita," tegur Mrs. Pita tatkala merasa reaksi Agnese sangat jauh dari ekspektasinya.
Mrs. Pita pikir, Agnese akan tersenyum senang ketika menerima kabar jika beasiswa yang sempat dicabut kembali didapatkan. Namun, ia salah. Murid yang dibanggakannya itu justru terlihat tidak senang apalagi setelah melihat kedatangan orang yang sempat berdiskusi dengannya beberapa puluh menit yang lalu.
Agnese tidak menjawab apa-apa. Ia langsung berdiri dan sengaja menabrakkan dirinya di tubuh orang itu. Ia benar-benar tidak menyangka jika hari ini adalah hari yang sangat tidak menyenangkan karena harus bertemu lagi denngannya. Begitu pintu ruangan tertutup, ia berlari menuju kelas tanpa memedulikan beberapa tatapan dan suara-suara yang sedang membicarakannya.
Mrs. Pita menunduk sambil menyatukan kedua tangan di depan dada. "Maafkan dia, Sir."
Orang itu mengangkat bahu. "Saya permisi."
๐๐๐
Di salah satu ruang kelas, para murid perempuan terkagum-kagum saat melihat sosok pria berjas dengan memakai kacamata memasuki kelas mereka. Tatapan mereka pun tak pernah lepas, mereka mengikuti ke mana pria itu melangkah.
Pria itu tersenyum penuh kemenangan saat berhasil menemukan di mana keberadaan gadis yang sudah berani meninggalkan ruangan Mrs. Pita meski obrolan mereka belum selesai. Ia mendudukkan dirinya di kursi yang tepat berada di samping gadis itu. Namun, sebelum duduk, ia mengangkat tas milik murid lain yang berada di kursi.
"Kenapa dia mendekati Agnese?"
"Astaga! Apa dia punya hubungan dengan Agnese?"
"Sepertinya mereka bertengkar."
"Beruntung sekali Agnese."
Kira-kira seperti itulah tanggapan dari para murid, teman sekelas Agnese dan dari kelas lain. Mereka sangat berharap diri mereka yang berada di posisi Agnese saat ini. Padahal apa yang dibayangkan dan diharapkan tak seindah yang terjadi. Mereka lupa bahwa kehidupan setiap orang berbeda-beda, tak bisa diubah berdesarkan dengan keinginan.
Sama yang terjadi pada Agnese. Gadis itu hanya bisa menenggelamkan wajah di atas tas dan membiarkan air matanya lolos begitu saja karena merasa jika cobaan yang datang tidak habis-habis. Ia tidak pernah membayangkan akan hidup seperti ini. Hidup yang sangat tidak ingin dirasakan justru harus dijalani setiap hari.
Meski sudah mulai terbiasa, tetap saja Agnese butuh sosok ayah dan kakak yang selalu ada untuknya kala sedang susah seperti dulu, sebelum aksi pembunuhan itu terjadi. Tangisan Agnese membesar, ia langsung menggigit bibir bawah untuk meredam suaranya karena tak ingin mengundang perhatian. Namun, ia salah karena sedari tadi dirinya sudah menjadi pusat perhatian.
Pria yang duduk di samping Agnese menggoyang-goyangkan lengan gadis itu tatkala isak tangisnya membesar. Ia tidak menyangka jika kehadirannya membawa dampak sebesar itu. Padahal ia berniat baik, tetapi selalu saja Agnese menganggap dirinya sebagai orang yang buruk.
"Bangunlah!" ucapnya sambil terus mengguncang tubuh Agnese dengan mendorong lengan gadis itu.
Agnese mengangkat kepala, lalu ditolehkan ke samping kanan. "Kau?" tanyanya dengan suara serak dan mata yang sembab.
"Ya, ini aku."
__ADS_1
To be continue ....