
Ismed memberhentikan kendaraan roda dua yang membawa dirinya dan Dennis di depan sebuah gerobak penjual makanan khas Bandung. Meski kehadiran mereka di sana mengundang banyak tatapan dari masyarakat sekitar, tetapi tidak menyurutkan semangat Ismed untuk menemani Dennis yang ingin mencoba siomay.
Ismed mematikan mesin dan menatap Dennis dari kaca spion. "Ini dia tempat penjual siomaynya, Mister. Ayo, turun!" kata Ismed.
Dennis menurut. Ia turun dari motor dan mengedarkan pandangan sambil mengernyit. Apakah ia akan bertemu Mr. Frans di sana? Atau orang yang membawanya salah tanggap karena kurang memahami apa yang diucapkan? Pikiran itu berkecamuk di dalam kepala Dennis. Namun, ia hanya diam dan mengikuti apa yang diminta Ismed meski tak mengerti apa yang dikatakan pria asli Jawa itu.
Ismed menghampiri penjual yang tengah menggoyangkan topi bundar ke kanan dan ke kiri di depan wajah untuk menghasilkan angin. Ia memesan dua porsi siomay untuk dirinya dan juga Dennis. Setelah itu, ia mendekati Dennis yang tengah duduk di sebuah kursi plastik di dekat gerobak.
"Pedes atau enggak?" tanya si penjual.
Ismed menatap Dennis. "Mister Bule suka yang pedes?"
"Pedes? What is that?" tanya Dennis dengan aksen Amerika yang kental.
"Oh, Mister suka yang pedes toh. Oke, Mister," kata Ismed sambil mengacungkan jempolnya, kemudian beralih menatap si penjual. "Kang, dua-duanya pedes, ya. De'e jebule doyan panganan pedes," lanjut Ismed sembari menikmati semilir angin.
Si penjual hanya mengangguk dan segera membuat pesanan Ismed. Memotong-motong penganan yang berbahan dasar ikan menjadi beberapa bagian dan sayur sebagai pelengkap, kemudian menuangkan saus kacang yang menjadi ciri khas dari makanan tersebut. Tak lupa juga menambahkan saus sambal untuk menambah cita rasa.
Ismed menerima piring dari si penjual, lalu memberikan salah satunya kepada Dennis. "Silakan dimakan siomaynya, Mister."
"Siomay, siomay, siomay ... wait, what? Siomay? Dia tidak salah paham akan kalimatku tadi, bukan? Aku meminta ditunjukkan jalan, bukan membawaku makan," jerit Dennis dalam hati.
Karena baru menyadari hal tersebut, Dennis menatap Ismed yang sedang lahap menikmati siomay.
"Will Mr. Frans be here later?" tanya Dennis yang membuat Ismed langsung menatapnya.
"Gimana, Mister? Enak? Yes, no?" Ismed berbalik bertanya.
Meski tak mengerti, Dennis tetap mengangguk. "Yeah."
"Enggak sia-sia saya bawa Mister ke sini," kata Ismed, lalu kembali menikmati siomay.
__ADS_1
Karena ingin menghormati kerja keras Ismed dalam memahami ucapannya, Dennis dengan tenang mulai memegang sendok dan bersiap untuk mencicipi siomay tersebut. Namun, begitu masuk ke dalam mulut, wajahnya mendadak memerah. Bahkan terbatuk karena tersedak sesuatu yang selalu dihindari.
"Holy crap! It's so spicy!"
Dennis berdiri dan menyimpan piring di kursi, kemudian celingak-celinguk untuk mencari keberadaan sebuah toko atau apa pun itu yang dapat menyediakan air sambil mendesis kepedasan.
Melihat wajah Dennis yang memerah, Ismed berhenti makan. "Mister kenapa?
"I need water now!" kata Dennis, masih mendesis.
Ismed menggaruk kepala karena tidak paham apa yang dikatakan Dennis. Jika tahu akan terjadi seperti ini, ia tidak akan membawa bule tersebut untuk menikmati makanan khas Indonesia, khususnya Bandung. Karena tidak tahu harus melakukan apa, ia mendekati penjual siomay.
"Kang, kira-kira Mister bilang apa, ya? Akang ngerti, enggak?" tanya Ismed.
Si penjual menggeleng. "Saya juga kurang tahu, tapi kayaknya dia mau buang air. Soalnya setahu saya, 'water' itu artinya air."
"Buang air, ya? Sek, saya tanya dulu." Ismed mendekati Dennis dan menepuk lengannya dua kali. "Mister kalau mau anu, mending di rumah Bos saya aja," lanjut Ismed.
Dengan kening yang berkerut, Dennis bersiap membalas ucapan Ismed. Namun, karena ponsel yang berada di saku celananya bergetar, alhasil ia melambaikan tangan tanda menunggu ke arah Ismed karena siapa tahu penelepon tersebut dapat membantunya terbebas dari rasa pedas.
"Aku tidak tahu berada di mana. Tadi aku bertemu seseorang dan meminta petunjuk jalan, tapi sekarang aku justru berada di pinggir jalan, bukan bertemu Mr. Frans," jawab Dennis.
"Pinggir jalan?"
"Ya!" Dennis kembali mendesis membuat Rud mengernyit kebingungan.
"Kau kenapa?" tanya Rud.
"Orang itu memberiku makanan yang entah apa namanya dan itu sangat pedas!"
Rud tertawa. "Berikan ponselmu padanya."
__ADS_1
Dennis mengangguk dan menyodorkan ponselnya ke hadapan Ismed. Namun, pria itu tidak langsung menerima. Jadi, ia memberi tahu jika temannya ingin berbicara.
"My friend wants to talk to you," kata Dennis.
Ismed menerima ponsel Dennis dan menempelkannya ke telinga. "Halo?"
"Apa benar kamu bawa teman saya pergi makan?" tanya Rud.
"Injih, Pak."
"Saya segera ke sana, jadi tolong jaga dia dulu. Sekalian belikan dia air minum."
"Waduh! Saya lupa bawa uang, Pak." Rud memberi tahu jika Ismed dapat meminta uang kepada bule yang sedang bersamanya saat ini. Alhasil, Ismed melirik Dennis yang sedang menatapnya. Ia pun mengangguk meskipun tak dapat dilihat oleh Rud yang berada di seberang telepon. "Injih, Pak."
Setelah itu, Dennis kembali memegang kendali atas ponselnya. Ia pun hanya mengangguki perkataan Rud sebelum sambungan terputus. Ia segera membuka platform mesin pencari yang sangat berguna bagi seluruh orang di penjuru dunia untuk membantunya menerjemahkan apa yang dikatakan Ismed, begitupun sebaliknya.
Dennis mencari bahasa dari negera asalnya dan negara yang sedang dikunjungi, menekan simbol mikrofon yang ada di layar, kemudian mulai berbicara. Begitu hasil terjemahan keluar, ia memperlihatkannya kepada Ismed.
"Bisakah kamu membelikan aku air?" Ismed membaca hasil terjemahan dari ponsel Dennis dengan medok Jawa. Setelah itu, ia menatap Dennis. "Iya, saya bisa, Mister. Cuma itu ... money. Saya no punya money," lanjut Ismed sambil melambaikan tangan ke kiri dan ke kanan.
Merasa paham apa yang dikatakan Ismed, Dennis kembali merogoh saku celana, kali ini mengambil dompet. Karena sebelumnya belum melakukan persiapan, alhasil ia hanya memiliki beberapa lembar mata uang dolar, bukan rupiah. Meski begitu, ia tetap mengeluarkan selembar pecahan seratus dolar dan diserahkan ke tangan Ismed.
Ismed menganga melihat uang yang sedang berada di tangannya. "Duit opo iki?"
Ismed melakukan 3D—dilihat, diraba, diterawang—seperti yang dianjurkan pemerintah untuk memastikan jika uang tersebut adalah uang asli sambil membaca kata yang tercetak. Namun, karena tak berhasil menemukan sesuatu yang diduga palsu, ia pun menggaruk kepala.
"Iki dudu dolanan, 'kan?" gumam Ismed, masih dengan mengamati uang.
Dengan kening yang mengernyit, Dennis menepuk pundak Ismed. "What's going on?"
"Maaf, Mister, saya ...."
__ADS_1
*To be continue ....
A/N*: MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, YA. SEMOGA HIDUP KITA DILIMPAHKAN RAHMAT DAN SELALU SEHAT DI MASA PANDEMI INI. SELALU JAGA KESEHATAN, GUYS ;)