Married With Stranger

Married With Stranger
Fell Off


__ADS_3

Duk!


Agnese membuka mata dan langsung mengelus bagian kepalanya yang tak sengaja terbentur kaca jendela saat Zach menginjak pedal rem secara mendadak. Ia menatap pria itu dengan penuh tanya sebab ia melihatnya seperti sedang marah.


Zach melirik Agnese sejenak dan kembali melanjutkan perjalanan sambil sesekali melihat spion. "Kenapa kau bangun? Lanjutkan saja tidurmu."


"Aku sudah tidak mengantuk," balas Agnese, kemudian bersedekap dan menatap jalanan yang ramai lancar.


Semakin mobil berjalan ke tepi timur, tempat yang biasa digunakan warga setempat dan mancanegara untuk bersantai semakin terlihat. Agnese yang melihat itu pun langsung tersenyum antusias.


Agnese menatap Zach. "Bisakah kau menurunkan aku di Central Park?"


"Kau mau apa di sana?" tanya Zach tanpa menatap Agnese.


"Menikmati pemandangan?" jawab Agnese yang lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan.


"Tidak bisa. Apa kau tidak melihat keramaian?" Zach mengembuskan napas kasar. "Kita tidak tahu siapa saja ada di sana. Bisa jadi kita berada dalam bahaya."


"Bukannya kalau banyak orang, penjahat itu tidak akan datang?"


Zach membenarkan ucapan Agnese. Ia pun terpaksa setuju. "Baiklah, tapi jangan lama."


Agnese mengangguk. "Iya."


Zach berhenti setelah memarkirkan mobil. Ia menyunggingkan senyum ketika melihat wajah senang gadis yang sedang bersamanya. Ia pun ikut turun dan menggenggam tangan gadis itu lagi. Ia tidak bisa membiarkan Agnese berjalan sendiri karena ingin berjaga-jaga jika memang ada yang berniat curang.


Central Park adalah taman kota yang memiliki luas 340 hektar dan terletak di tengah-tengah kota New York, Manhattan, Amerika Serikat. Central Park bahkan tak hanya menyediakan taman yang dilengkapi bangku dan lampu hias seperti taman pada umumnya. Namun, di sana terdapat area hutan alami, taman konservasi tumbuhan, cagar alam aneka fauna, waduk, kolam, dan sejumlah arena lapangan yang biasa dijadikan tempat pelarian bagi warga dan turis yang ingin melepaskan diri dari hiruk pikuk gedung bertingkat.


Pengunjung juga tak hanya dapat menikmati keindahan taman dengan duduk dan berjalan, tetapi dapat mencoba beberapa wahana seperti ice skating, amfiteater outdoor, theater, komedi putar, kastil, dan 21 permainan anak.


Ketika tiba di dekat NYC Central Park Bike Rental, Agnese melepaskan genggaman tangan Zach dan merogoh saku celananya. "Tunggu sebentar."


Namun, karena tidak menemukan yang dicari, Agnese hanya bisa memasang wajah muram dan menghela napas yang panjang.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Aku lupa membawa tasku."


"Memangnya kau ingin apa?" tanya Zach lagi.


Agnese menggeleng. "Tidak ada, lupakan saja," katanya dan langsung berjalan, meninggalkan Zach yang sedang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Gadis bodoh ini memang sangat sulit untuk berterus terang.


"Tunggu!"


Agnese berhenti dan memerhatikan Zach menghampiri salah satu orang yang diyakini sebagai pegawai yang ditugaskan untuk melayani para pengunjung taman yang ingin menyewa sepeda.


"Kemarilah!" Agnese mengangguk dan segera menghampiri Zach. "Pilih yang kau suka," lanjut Zach.


Agnese mengernyit tatkala Zach memintanya untuk memilih sepeda yang diinginkan. Ia menatap pria itu. "Kenapa kau menyewanya?"


"Aku tahu kau ingin memakainya."


"Tap ...."


Agnese tidak langsung menjawab. Ia memilih sepeda berwarna pink yang memiliki keranjang di bagian depan. "Aku pilih ini."


"Ya."


Zach mengambil sepeda lainnya untuk digunakan. Ia naik dan mulai mengayuh, mengejar Agnese yang sudah jauh di depan. Lagi. Ia tersenyum melihat wajah bahagia yang dipancarkan gadis itu. Seperti ada kelegaan yang dirasakan.


Pohon-pohon dari hutan alami bergerak seiring angin datang menerpa, teriakan dari anak kecil yang berlarian ke sana kemari di sekitar taman, dan daun berjatuhan menyambut mereka setiap melewati blok jalan.


Selang beberapa lama, Zach menatap punggung Agnese dari belakang.


"Hei! Tunggu aku di dekat lampu merah. Aku akan kembali," teriak Zach dan menuntun sepeda yang dinaiki menuju tempat berbagai jajanan berada.


"Baiklah."


Agnese mengikuti kata Zach. Ia menyusuri jalan, mengelilingi taman yang berbentuk persegi panjang dengan luas sekitar 0,8 km dan panjang 4 km. Sambil terus mengayuh, ia melepaskan tangan kanan dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel karena ingin mengambil gambar untuk diabadikan.

__ADS_1


Fokus Agnese terpecah. Bahkan ia tidak menyadari jika posisinya sekarang melanggar. Sekian menit berjalan, kesadarannya lantas muncul. Ia langsung menepuk kening dan mengarahkan setang sepeda untuk menyeberang ke jalur yang benar.


Agnese menengok kiri dan kanan sebelum memotong jalan raya. Namun, tepat ketika ia menyeberang, terdengar sebuah klakson yang membuat jantungnya seperti ingin melompat keluar. Ia pun mempercepat kayuhan sepeda ke tempat aman, kemudian menengok ke pengemudi kendaraan tersebut.


Agnese bertanya-tanya dalam hati. Dari mana mobil itu muncul? Mengapa ia tidak menyadari keberadaannya? Apakah ia harus minum air mineral agar fokusnya kembali? Ia mengembuskan napas panjang dan memilih berhenti sejenak. Ia mengamati sekitar jalan yang nampak lumayan ramai. Setelah itu, ia kembali mengayuh, mengikuti jalur jalan yang menanjak.


Berhasil melewati tanjakan, Agnese kembali berhenti. Ia mengatur napas dan menetralkan detak jantungnya. Mungkin semua itu terjadi karena pengaruh keterkejutannya mendengar klakson di saat hilang fokus.


Setelah dirasa sudah membaik, Agnese melanjutkan perjalanan. Kali ini ia harus menuruni jalan. Namun, frekuensi pusing mendadak melanda kepalanya sehingga ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh dan sepeda menjadi oleng, meliuk-liuk di turunan.


Agnese refleks menekan rem dan berusaha menuntun sepeda dalam keadaan terus meluncur. Ia berharap semoga ada sesuatu yang dapat menyelamatkannya dari bahaya yang mungkin akan menghampiri. Keringat mulai keluar dari pori-pori kulit dan mengalir di sekitar pelipis dan wajah.


"Dad, tolong aku," doa Agnese dalam hati.


Tin!


Sebuah mobil melesat dari arah kanan, membuat Agnese tersadar jika posisinya saat ini berada di pertigaan. Ia semakin tak bisa mengendalikan laju sepeda. Ia pasrah apalagi jaraknya dan mobil tidak jauh. Ia tak sempat menghindar.


Dentuman keras tercipta. Menggetarkan tangan Agnese hingga melepaskan genggamannya pada setang sepeda, membiarkan dirinya terlempar. Napas dan jantungnya seperti berhenti seperkian berhenti. Ia kesulitan menarik napas.


Apa aku akan bertemu denganmu, Dad?


Agnese menutup mata ketika tubuhnya bersentuhan dengan aspal. Untung saja ia sempat terpikir untuk melindungi kepalanya, jadi tidak membahayakan. Namun tetap saja, rasa nyeri menguar di sekujur tubuh, membuat ia semakin sulit bernapas.


Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang terburu-buru mendekat. "Are you okay?"


Agnese memaksakan untuk membuka mata. Sinar matahari yang belum bergerak untuk bersembunyi langsung menyeruak. Ia pun menyipitkan mata untuk dapat melihat dengan jelas. Di depannya ada seorang laki-laki yang mungkin seumuran atau bahkan lebih tua tampak khawatir dan panik.


Agnese melihat sekeliling. Sepeda yang disewa Zach tergeletak di aspal dengan setang dan keranjang yang penyok. Ia juga melihat mobil yang berhadapan dengannya tadi tergores. Mendadak ia ketakutan. Apa yang akan terjadi nanti? Masalah beasiswa bahkan belum selesai, sekarang ada masalah lain yang melibatkan materi.


"Apa kau mendengarku?" tanya laki-laki itu lagi.


Agnese tidak menggubris. Ia berusaha bangun untuk mengecek keadaan tubuhnya. Ia berhasil duduk meski rasa nyeri di pinggang menyambut. Ia memejamkan mata untuk menahan sakit dan kembali memaksakan untuk berdiri. Namun, ia justru mengaduh kesakitan. Sepertinya ada yang terkilir.


Di situasi seperti sekarang, Agnese teringat akan sosok sang ayah. Meskipun sudah tiada, tetapi ia selalu mengharapkan kehadiran beliau untuk membantunya ketika menghadapi masa-masa sulit. Sekarang ia benar-benar sendiri, tanpa bantuan siapa pun.

__ADS_1


Meminta bantuan Yoana pun tidak bisa. Sebab ponselnya tertinggal di mobil Zach. Ia hanya bisa meratapi nasib sekarang. Dalam ketidakjelasan nasib, tak ada yang bisa dilakukan, hanya pasrah dan membiarkan orang-orang mengerumuni untuk menyaksikan apa yang terjadi.


__ADS_2