
Agnese menyatukan kedua telapak tangannya, lalu menggosok-gosoknya agar mendapat kehangatan. Selama perjalanan menuju rumah, ia sudah beberapa kali berhenti karena merasa sangat pusing dan kedinginan. Daripada pingsan di tengah jalan, lebih baik ia berhenti sejenak dan menunggu sampai pusing yang melanda hilang.
Benar kata Dennis, ia butuh beristirahat. Padahal sebentar lagi ia bisa mencapai target agar pendapatannya bulan ini lebih banyak. Namun, ia tak dapat bertahan lebih lama di sana. Suara bising membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri, jadi ia memilih pulang daripada nanti justru mendapat masalah karena tidak fokus.
Agnese terus menyusuri jalan yang sudah basah karena gerimis dengan langkah gontai. Sungguh, jika tak memiliki keperluan lain, ia akan menggunakan sebagian uangnya untuk membayar transportasi seperti saat berangkat tadi. Ia memiliki beberapa tanggung jawab yang harus dilakukan. Jadi, ia harus berhemat semaksimal mungkin agar tak menyusahkan orang lain ketika tiba-tiba mengalami musibah.
Tak jauh dari tempat Agnese berjalan, ia melihat sebuah halte. Dengan senyum yang mengembang, ia berusaha mempercepat jalan agar bisa segera tiba di sana. Sungguh, ia butuh tempat untuk beristirahat sejenak apalagi ia sudah tidak kuat berjalan lebih jauh. Kakinya terasa lemas dan berat bahkan untuk melangkah.
__ADS_1
Usaha Agnese mencapai halte tak membuahkan hasil. Sebab rinai hujan yang turun kian deras. Ia menghela napas panjang sembari meyakinkan diri agar dapat mencapai tempat itu. Namun, belum sampai tiga langkah, ia sudah tumbang karena tak dapat menahan sakit yang menghampiri kepalanya.
Dari kejauhan, seorang pria di dalam mobil langsung mendekat ke arah Agnese. Sesungguhnya ia tidak benar-benar meninggalkan gadis itu seorang diri. Sebab ia sengaja keluar dari kelab agar dapat membuntutinya. Untung saja ia tidak mengikuti perintah seseorang yang meminta dirinya segera pulang.
Dengan sigap, ia turun dari tempat persembunyian, menghampiri Agnese, kemudian mengangkat tubuh gadis itu sebelum memasukkannya ke dalam mobil. Ia membuka jaket yang digunakan lalu menutupi tubuh Agnese yang basah. Setelah itu, ia berjalan memutar dan kembali duduk di kursi kemudi.
Sebelum mengemudi, ia menyempatkan diri untuk menelepon seseorang. Butuh waktu lama agar teleponnya diangkat. Namun, ia tak pernah memedulikan hal itu sebab perhatiannya sekarang tertuju pada gadis yang tengah terbaring lemah di belakang. Setelah mencoba menelepon beberapa kali dan tak kunjung mendapat respons, ia memilih mengirim pesan suara.
__ADS_1
Selepas itu, ia langsung menerobos hujan yang sedang turun. Ia harus bergerak cepat agar Agnese segera mendapat penanganan. Begitu tiba di depan sebuah rumah yang terlihat besar, tetapi tersembunyi karena gerbang yang terlalu tinggi, ia mengambil sebuah remote lalu memencet salah satu tombol yang ada di remote itu untuk membuka gerbang.
Setelah terbuka, ia kembali mengendarai mobil memasuki pekarangan rumah yang terlihat lumayan luas. Ia menarik rem tangan sebelum turun dan membuka pintu mobil agar dapat membopong tubuh gadis yang masih tidak sadarkan diri itu.
“Apa yang terjadi, Dennis?” tanya seseorang yang berdiri tak jauh dari pintu.
“Dia pingsan. Saya rasa, dia kelelahan karena terus memforsir tubuhnya untuk bekerja.”
__ADS_1
“Bawa dia ke kamar yang pernah ditempatinya. Sudah ada dokter yang menunggu di sana.”
Meski pria itu sedang menjalankan tugas, tetapi ia tidak bisa pergi begitu saja. Apalagi ia merasa bertanggung jawab karena telah memaksa dan menyuap Manajer di tempat Agnese bekerja agar dapat mengumpulkan informasi. Hingga akhirnya, sang informan jatuh sakit.