Married With Stranger

Married With Stranger
Shopping 2


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Zach tiba-tiba berhenti di Manhattan, sekitar kawasan Madison Avenue di mana pusat toko-toko barang bermerek terletak. Ia mengumpat karena Maserati GranCabrio hitam yang diberi nama Arnold itu tidak bisa diajak kerja sama.


Agnese menoleh ke samping kiri dan memerhatikan Zach yang terlihat kesal. Ia pun beralih melihat jarum di indikator bahan bakar yang sudah menunjuk huruf E, singkatan dari emergency. Artinya, stok bensin sudah menipis dan jika dipaksa tetap berjalan, maka yang akan terjadi adalah mereka harus mendorong Arnold ke pengisian terdekat.


"Orang kaya sepertimu bisa kehabisan bensin?" Agnese tertawa kencang dan membuat Zach sangat kesal.


"Tidak usah tertawa!" titah Zach dan menghubungi salah satu anak buahnya untuk mengurus Arnold. Setelah itu, ia membuka pintu mobil dan keluar. "Jika kau ingin mati kehabisan oksigen, tetaplah di sini," ucapnya, lalu menutup pintu.


Karena tidak memiliki pilihan lain, Agnese berhenti menertawakan nasib pria itu dan ikut turun dari Arnold. Ia merentangkan tangan, kemudian menghirup napas dalam-dalam. Udara di sana sangat sejuk, membuatnya ingin terus berjalan santai, berbaur dengan orang-orang yang juga tengah menikmati keindahan kota.


Merasa ada yang aneh, Zach berjalan cepat untuk menyamakan langkahnya dengan Agnese. Ia pun mengambil tangan gadis itu untuk digenggam dan kembali berjalan.


Agnese menatap Zach. "Apa yang kau lakukan?"


Zach berhenti dan berucap pelan, "Bersikaplah alami!"


"Apa?"


Zach mengembuskan napas panjang. Memang sangat sulit untuk memberi tahu suatu kode pada gadis yang sangat bodoh itu. Ia bahkan berpikir jika Agnese tidak memiliki otak. Karena tidak bisa mengikuti alur yang telah disiapkan seperti air yang mengikuti jalur sungai.


Zach menjentikkan jarinya di kening Agnese dan kembali mengecilkan volume suaranya ketika berbicara dengan gadis itu. "Seseorang sedang mengawasi kita dari suatu tempat."


Agnese mengusap keningnya sambil mengadu kesakitan. Entah sudah yang ke berapa kali keningnya menjadi korban jentikan jari pria itu. Yang jelas, ia sangat tidak suka diperlakukan kasar.


"Sebenarnya siapa yang orang itu?" tanya Agnese masih dengan mengelus keningnya.


"Kau tidak perlu tahu. Sekarang kau hanya perlu melakukan apa yang aku dan Dennis katakan. Jangan biarkan orang itu tahu jika kita bukanlah suami istri."


Dengan sangat terpaksa, Agnese mengangguk. "Baiklah, tapi berpegangan tangan seperti ini sangat aneh. Terlihat tidak alami."


"Berhenti bicara dan ikut aku!"


Zach tidak mendengarkan ucapan Agnese. Ia justru menarik tangan gadis itu menuju Department Store terkenal, Barney's New York. Karena tidak aman jika berada di tengah keramaian apalagi saat ini ada musuh yang berkeliaran untuk memata-matai.

__ADS_1



Pintu kaca bangunan tersebut terbuka secara otomatis ketika menerima sensor yang berasal dari langkah kaki pengunjung. Zach dan Agnese masuk ke dalam dan langsung disambut dinginnya pendingin ruangan yang terpasang di bagian atas bangunan.


Dengan tangan yang menggenggam tangan lain, Zach berjalan menuju salah satu toko yang berada dalam bangunan itu. Ia masuk ke dalam tempat yang menyediakan setelan jas dari desainer kelas atas terkemuka dunia, Alexander Amosu.



Pegawai yang sudah mengenal Zach, mendekat. Ia membungkuk hormat dan menyambut salah satu pria yang menjadi orang terkaya di benua Amerika dan Eropa.


"Selamat datang, Mr. Tomlinson."


Zach mengangguk dan menghampiri rak yang menyita perhatiannya, diikuti Agnese dan pegawai yang memakai sarung tangan khusus agar tidak merusak barang-barang di sana. Ia pun mengambil salah satu setelan jas dan ditempelkan ke tubuh Agnese. Merasa tidak bagus, ia kembali meletakkannya dan beralih ke yang lain.


Ketika mendapatkan yang pas, Zach tersenyum dan memanggil Agnese yang sedang menatap tempat itu dengan kagum.


"Kemari!"


Zach kembali menempelkan setelan jas dan memerhatikan Agnese dari ujung kaki hingga kepala. Ia menggaruk dagunya seperti sedang berpikir dan menilai bagaimana penampilannya nanti jika memakai setelan jas itu.


Sama seperti sebelumnya, Zach memanfaatkan tubuh Agnese untuk dijadikan bahan percobaan. Ia terus melakukan itu hingga mendapatkan tiga buah setelan jas yang sesuai seleranya dan dibandrol dengan harga mulai dari US$ 100.000 per jas.


Jas-jas tersebut memiliki nilai mahal karena waktu pengerjaannya membutuhkan waktu selama 80 jam. Tak hanya itu, yang membuat jas buatan Alexander Amosu mahal sebab ada sekitar 5.000 jahitan, 9 buah kancing yang bertahta emas 18 karat, dan permata yang membuat jas sangat mewah. Apalagi bahan wol yang digunakan sangat langka, yakni Vicuna dan Qiviuk.


"Kapan kau akan menyingkirkan barang-barangmu ini?" Agnese mendengus dan memperbaiki posisi beberapa jas yang berada dalam pelukannya.


"Segera kemas dan berikan pada gadis ini," kata Zach sambil menunjuk Agnese dengan tatapan matanya.


Pegawai itu hanya mengangguk mengiakan dan segera mengerjakan apa yang diinginkan Zach. Ia tidak membantah meskipun tidak mengerti mengapa pria itu sangat berbeda hari ini. Karena biasanya Zach akan mengikuti prosedur toko yang membawa semua barang belanjaan pembeli dengan mobil van anti peluru.


Agnese bernapas lega setelah jas yang dibeli Zach diambil beberapa pegawai. Ia meregangkan otot-otot lengannya dan kembali melihat-lihat koleksi yang ada di toko. Ia seperti tak menyangka bisa memijakkan kaki di tempat-tempat seperti ini. Terlepas dari seluruh tempat yang pernah dikunjungi sebelum berada dalam keterpurukan.


"Permisi, Nona."

__ADS_1


Agnese mengambil alih beberapa paper bag dari tangan pegawai itu. Padahal baru saja ia menghela napas lega, sekarang kembali menjadi penyimpanan barang. Sebenarnya pria itu ingin menjaga atau menjadikannya budak?


Agnese mengikuti langkah Zach menuju salah satu tempat yang menyediakan jam tangan dan kacamata brand ternama. Ia masuk ke dalam sambil menenteng barang belanjaan pria itu yang lumayan berat untuk ukuran tubuhnya yang kecil.


"Aku tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Sebenarnya dia sekaya apa? Uang yang bisa kuhabiskan dalam setahun hanya setara dengan satu pakaiannya," gumam Agnese tatkala Zach melihat-lihat koleksi jam tangan dari Patek Phillipe yang terpajang di sebuah etalase kaca.


Merasa tidak ada yang cocok, Zach beralih menuju koleksi kacamata. Ia memerhatikan satu per satu dari koleksi yang ada dan langsung tersenyum begitu menemukan yang pas. Ia mengambil kacamata hitam yang berasal dari brand Chopard dan telah dipakai oleh tokoh-tokoh ternama lainnya seperti Elton John, Tom Jones, dan Gwyneth Paltrow.


Zach menatap dirinya dalam pantulan cermin. Kacamata hitam itu membuatnya terlihat stylish dan glamor sama seperti biasa. Ia menoleh ke belakang da mendapati Agnese tengah duduk di sebuah kursi busa.


"Hei!" panggil Zach.


Agnese mengembuskan napas lelah dan menghampiri Zach. "Ya, Mr. Tomlinson?"


"Bagaimana penampilanku?"


Agnese tersenyum paksa. "Kau terlihat keren."


Zach segera menyerahkan kacamata itu pada pegawai untuk dikemas. Setelah membayar, ia mengajak Agnese keluar dari Department Store dan kembali berjalan di tengah keramaian. Saat berjalan, ia beberapa kali mendengar suara helaan napas gadis itu.


"Aku hanya membeli semuanya untuk diriku sendiri." Zach kembali menggenggam tangan Agnese. "Ayo, kembali! Akan kubelikan kau sesuatu."


Agnese menggeleng dan melepaskan genggaman tangan Zach. "Tidak perlu."


"Jangan menolak, kau harus terima!"


"Aku sungguh tak apa. Kau tak harus begitu," kekeh Agnese, berusaha melawan sikap keras kepala Zach dengan keras juga.


"Kau mau apa? Bilang saja padaku!" kata Zach dan berjalan mendahului Agnese saat melihat sesuatu yang tengah disukai banyak orang.


"Tidak ada."


"Baiklah. Aku akan belikan sesuatu yang mungkin kau sukai."

__ADS_1


Agnese kembali mengikuti langkah Zach, menorobos kerumunan orang yang sedang mengantre untuk mendapatkan sesuatu yang dimaksud pria itu. Ketika berada di dalam, ia menatap Zach dengan wajah yang dibuat tak berekspresi.


Kupikir dia mau membeli dress atau sesuatu yang berharga, tapi ternyata ....


__ADS_2