Married With Stranger

Married With Stranger
Pretend It's Okay


__ADS_3

Agnese segera berlari kecil sembari mengingat jalan yang dilewati bersama Dennis tadi setelah menerima balasan pesan. Ia diminta untuk menemui mereka di lobi hotel,


"Kenapa kau lama sekali? Apa kau tidak mau utangmu lunas?" cecar Zach begitu Agnese tiba.


"Bukan aku yang lama, tapi kau yang terlalu cepat!" ralat Agnese dengan kesal.


Padahal Agnese sudah berusaha cepat saat bersiap tadi. Bahkan ia langsung berlari menuju lobi saat mendapat pesan dari Zach. Jadi, sebenarnya siapa yang salah? Bukankah tidak ada?


Dennis tersenyum. "Lebih baik kita berangkat sekarang, Tuan. Sepertinya Nona Agnese sangat kelaparan."


Zach memandang Agnese dengan kesal, kemudian mendengus sebal. Entah sudah berapa kali hari ini ia melakukan itu. Padahal jika tidak bertemu dengan Agnese, ia sangat jarang melakukannya.


"Sebenarnya atasanmu siapa, Dennis? Dia ...," Zach menunjuk Agense. "atau aku?" lanjutnya.


Dennis menggaruk belakang kepalanya yang mendadak gatal. "Anda, Tuan Zach. Tapi karena Nona Agnese adalah calon Anda, jadi saya juga harus menghormatinya."


"Calon?" celetuk Agnese yang membuat Zach langsung meninggalkan tempat itu menuju mobil yang akan membawa mereka terparkir.


Zach sengaja pergi dari sana karena tidak ingin menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Agnese. Biarkan saja Dennis yang bertanggung jawab, sebab pria itu yang sedari tadi berkata tidak benar.


"Tidak usah dipikirkan, Nona. Ayo, kita berangkat sekrang!"


Dennis membukakan pintu mobil yang sama dengan Zach. Ia mempersilakan Agnese masuk ke dalam tanpa memedulikan tatapan memohon gadis itu. Kali ini tidak ada yang bisa ia lakukan, karena ia sudah bertekad untuk mendekatkan sang atasan dengan Agnese. Sebab itu yang terbaik, supaya hatinya juga tidak berharap lebih.


Setelah Agnese duduk di samping Zach, Dennis menutup pintu dan langsung naik ke kursi yang berada di samping kemudi. Saat mereka semua sudah memasang sabuk pengaman, Reffan segera menginjak pedal gas.


Tak ada yang membuka suara selama Reffan fokus menyetir. Untung saja ada suara radio yang membuat perjalanan mereka sedikit berwarna. Saat penyiar radio selesai berbicara dan memutuskan untuk memutar lagu, telinga Agnese langsung terpasang dengan baik.


"Astaga! Itu lagu para suamiku!" jerit Agnese tatkala lagu yang terputar di radio adalah lagu yang dinyanyikan oleh boyband kesukaan gadis itu, One Direction.


"I've tried playing it cool. But when I'm looking at you, I can't ever be brave. 'Cause you make my heart race ...."


Agnese bersenandung mengikuti alunan lagu yang sedang terputar. Wajahnya langsung berubah sangat senang saat mendengar suara Zayn, Liam, Niall, Harry, dan Louis di lagu itu. Sungguh, mereka sudah Agnese anggap sebagai penyemangatnya. Jika memiliki uang yang lebih, ia akan menghadiri salah satu konser mereka. Namun, saat ini ia hanya bisa jadi penikmat lagu dan video mereka di belakang layar. Belum bisa membantu mereka mengembangkan sayap terlalu jauh.


Zach menatap Agnese yang masih bersenandung, kemudian menyeringai. "Matikan radio itu, Reffan!"


Reffan langsung mematikan radio dan kembali fokus menyetir. Setelah itu, Agnese mendadak cemberut, Dennis diam saja, serta Zach yang tersenyum penuh kemenangan. Sangat menyenangkan melihat wajah gadis itu yang berubah kesal.


"Suaramu bagus, tapi lebih bagus kalau kau diam saja," kata Zach sembari mengubah arah pandangnya.


Agnese berdecak. "Kau tidak berhak melarangku!"

__ADS_1


"Oh, ya?" Zach kembali menatap Agnese. "Kalau begitu, turun dari mobil ini sekarang!"


"Eh? Ke ... kenapa begitu?" tanya Agnese dengan gugup.


"Kau bilang aku tidak berhak melarang, 'kan? Berarti kau harus turun dari sini kalau tidak mau mematuhi aturanku."


"Fine!" Agnese menghela napas panjang. "Dennis, tolong suruh dia berhenti sekarang."


Agnese meminta Reffan berhenti. Ia sudah tidak peduli di mana mereka berada sekarang. Yang jelas, ia bisa segera menjauh dari Zach. Karena jika terus berada di dekatnya, perdebatan akan terus terjadi.


Saat menemukan tempat yang diperbolehkan untuk menurunkan seseorang dari kendaraan, Reffan berhenti. Sekali lagi Agnese menghela napas panjang, kemudian terburu-buru turun dari mobil. Begitu ia menutup pintu, mobil itu kembali berjalan, bahkan dengan kecepatan yang tinggi.


Agnese tersenyum miris tatkala melihat keadaannya sekarang. Berdiri di pinggir jalan kota yang masih ramai akan kendaraan. Ia merasa bingung harus ke mana. Kembali ke hotel juga tidak mungkin, apalagi ia tidak mengingat jalan ke sana. Ia mengamati situasi di sekitar tempatnya sekarang, lalu memutuskan untuk berjalan ke sembarang arah.


Di saat Agnese berjalan tanpa arah, situasi di dalam mobil justru berbeda. Dennis terus saja melontarkan pertanyaan yang membuat Zach terus membantahnya, meski di dalam hati sedang berkecamuk.


"Kenapa Anda tidak menahannya, Tuan?" tanya Dennis tatkala melihat Zach menatap Agnese yang baru saja turun dari mobil.


Zach memperbaiki duduknya dan menatap lurus ke depan. "Untuk apa? Bukankah dia sendiri yang mau turun?"


"Seharusnya Anda tidak bersikap seperti tadi, Tuan. Bukankah Anda sendiri yang bilang kalau Nona Agnese adalah gadis kecil yang bodoh dan ceroboh? Bagaimana kalau ada yang berniat jahat padanya di sana?" cecar Dennis yang membuat Zach seketika terdiam.


Zach merenungi semuanya. Benar kata Dennis, Agnese memang bodoh dan ceroboh. Seandainya gadis itu menuruti kata-katanya, mungkin sekarang tidak akan menjadi runyam seperti ini. Ia juga harus bertanggung jawab. Karena bagaimanapun, ia yang membawa Agnese bersamanya.


Reffan kembali mengikuti instruksi Zach. Ia segera putar balik untuk menjemput gadis yang tadi diturunkan di sekitar jalan rawan akan kejahatan. Ingin sekali rasanya ia memberi tahu Zach atau Dennis jika di sana sangat berbahaya. Namun, ia tahu bagaimana karakter sang atasan jika sedang merasa marah. Jadi, ia memilih diam dan mengikuti perintah.


Baik Dennis maupun Zach sama-sama mengedarkan pandangan di jalanan yang diterangi lampu dari bangunan serta kendaraan. Mereka sesekali mengganti arah pandang untuk mencari keberadaan Agnese.


"Kenapa dia tidak ada?" Zach menajamkan penglihatannya menatap sekitar jalan itu. Namun, nihil. Tidak ada tanda keberadaan Agnese di sana. Ia mengembuskan napas kasar, lalu menyodorkan ponselnya pada Dennis. "Coba kau hubungi dia."


"Baik, Tuan."


Mereka semua terbelalak kaget saat mendengar dering ponsel. Mereka langsung beralih menatap kursi di sebelah Zach dan melihat tas yang digunakan Agnese berada di sana. Melihat itu, mereka semakin dibuat khawatir dan bingung.


Damn it!


"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya Dennis yang tidak diindahkan Zach.


Reffan berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita menyuruh semua anggota mencarinya, Tuan?"


"Tidak usah! Kita harus mencarinya sendiri," putus Zach yang diangguki Dennis dan Reffan.

__ADS_1


Dua orang dari mereka turun dari mobil dan memilih untuk berpencar. Dennis ke arah utara, Reffan ke arah timur, dan Zach hanya menunggu di mobil. Ia diminta untuk tetap di sana karena siapa tahu Agnese tiba-tiba muncul. Jadi, ia hanya perlu menghubungi mereka yang masih pergi mencari.


Berbeda dengan ketiga pria itu, Agnese memilih memejamkan mata sembari duduk di salah satu bangku yang terdapat di pinggir jalan. Ia sedikit lelah dan lemas setelah berjalan selama beberapa menit. Sungguh, ia merasa sangat lapar, tetapi tidak tahu harus makan apa di tengah situasi seperti ini. Bahkan tas yang selalu dibawa ke mana-mana tertinggal bersama tiga pria di mobil.


"Nona Agnese!"


Agnese langsung membuka mata tatkala mendengar suara itu. Ia melihat Dennis berdiri di depannya dengan napas tersengal dan keringat yang mengalir di wajahnya.


"Kenapa kamu di sini? Bukannya kalian ...."


"Tidak mungkin kami meninggalkan Nona sendiri di sini," potong Dennis, lalu duduk di sebelah Agnese untuk memulihkan tenaganya. Tak lupa juga ia mengirim lokasi terkininya pada Reffan sebagai tanda jika ia sudah menemukan Agnese.


Agnese menyuguhkan senyum terbaik yang bisa dilakukan. "Pergilah! Aku tidak mau kau sampai terkena masalah karena menjemputku."


"Tidak bisa begitu, Nona. Justru Tuan Zach yang memintaku dan Reffan untuk mencarimu."


Agnese tertawa sebentar, kemudian kembali menatap Dennis. "Leluconmu sangat lucu!"


"Serius, Nona."


"Aku tidak bisa percaya, Dennis. Aku tahu kalau dia sangat membenciku." Agnese menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya dengan perlahan. "Kau tahu sendiri, 'kan, kalau dia selalu mempersulit hidupku? Bahkan dia mencabut beasiswaku. Jadi, bagaimana aku bisa percaya?"


Agnese berdiri, kemudian mengusap sudut matanya yang suda basah akibat air mata yang tiba-tiba meluncur. Ia sangat tahu jika orang sepertinya memang tidak bisa dihargai. Apalagi ia hanyalah seorang gadis yang bergantung hidup pada pekerjaan aneh di sebuah kelab. Tidak ada yang patut dibanggakan dari dirinya, meski sedikit.


"Pergilah, Dennis!" Agnese menatap Dennis, lalu tersenyum. "Terima kasih sudah mencariku."


Agnese melangkah untuk menjauhi Dennis yang masih berusaha mengatur napas. Ia sangat tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain. Ia tidak ingin membagi beban pada siapa pun karena tahu jika bukan hanya dirinya yang sedang mengalami kesulitan. Lebih baik jika memendam dan berusaha cari jalan keluar sendiri agar menemukan jati diri.


"Kau mau ke mana?"


Agnese berhenti berjalan, kemudian mendongak untuk menatap siapa yang bertanya. Ia kembali mengembuskan napas panjang, lalu kembali berjalan. Ia tidak ingin lagi berhubungan dengan pria itu. Jika bisa, ia ingin pergi sejauh mungkin darinya.


Zach memejamkan mata dan berusaha meredam emosi. "Berhenti!"


Agnese tidak mendengar seruan itu, ia tetap berjalan. Namun, selang beberapa saat berjalan, tiba-tiba ia merasa tubuhnya terbang karena digendong secara paksa. Ia langsung memberontak di dalam gendongan Zach.


"Turunkan aku!"


"Diam!" titah Zach dengan nada yang terdengar sangat dingin hingga membuat Agnese kelu.


Dengan terpaksa, Agnese pasrah saat dimasukkan ke dalam mobil. Ia duduk sambil memasang wajah yang cemberut, bahkan ia menggeser duduknya hingga menyentuh pintu karena tidak ingin berdekatan dengan Zach. Ia juga tidak peduli dengan Reffan yang tertawa kecil di kursi kemudi.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya berpura-pura tidak apa-apa, Nona?" gumam Dennis saat berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari bangku.


__ADS_2