
"Nona, kau mau makan apa?" tanya Dennis dari kursi penumpang, di samping Reffan tengah menyetir.
Agnese mengalihkan pandangannya dari jendela ke arah Dennis. "Terserah kau saja."
Zach yang mendengar itu langsung mendengus sebal. Ia merasa bingung pada kebanyakan perempuan yang ditemui. Saat ditanya ingin makan apa, pasti kata 'terserah' selalu muncul. Bukankah ada banyak pilihan kata? Selain itu, tidak ada susahnya menyebutkan salah satu tempat makan yang mereka sukai.
Karena kebetulan Zach memegang ponsel, ia segera membuka aplikasi pesan, kemudian mengirim perintah pada Dennis. Ia harus mendapat jawaban yang signifikan agar tidak perlu bersusah payah memahami apa yang diinginkan kaum seperti Agnese.
Tanya ulang padanya!
"Apa kau yakin tidak mau menentukan tempat makannya, Nona?" tanya Dennis lagi, mengikuti perintah Zach yang masuk lewat perantara pesan padahal mereka duduk dengan sejajar.
Agnese mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, Dennis. Terserah kau saja."
"Apa cacing di perutmu bisa kenyang hanya dengan memakan kalimat, 'terserah kau saja,' begitu?" geram Zach karena jawaban yang didengar tidak sesuai dengan harapan.
"Tidak apa, Tuan. Kita bisa pergi ke restoran terbaik yang ada di sini." Dennis menyikut lengan Reffan. "Benar, 'kan?" tanyanya kemudian.
Reffan mengangguk. "I ... iya, benar."
Berbeda dengan Zach yang mendengus sebal, Agnese justru tak peduli dengan Dennis dan Reffan yang berusaha melerai. Ia memandang Zach dengan alis yang mengernyit. Sepertinya Zach adalah pria aneh, karena sikapnya selalu berubah-ubah.
Bagaimana tidak? Tadi Agnese sempat diturunkan di pinggir jalan hanya karena bernyanyi dan sedikit membangkang. Namun, ia kembali dibawa pergi olehnya setelah itu. Sekarang mereka kembali berdebat hanya karena membahas tempat makan. Pria yang aneh, bukan? Tidak mungkin juga ia menentukan tempat makan, apalagi tidak tahu-menahu mengenai kota Dallas.
"Apa kalian sudah pernah mencicipi makanan dari restoran Jepang?" tanya Reffan yang berhasil mengundang perhatian Zach dan lamunan Agnese sedikit buyar.
"Ide yang bagus, Fan!" seru Dennis, kemudian tersenyum puas.
Daripada perdebatan tidak selesai, lebih baik mereka kenyang karena menyantap makanan. Lagi pula saran yang diberikan Reffan tidak buruk. Siapa tahu kedua insan yang duduk di belakang bisa tenang jika perut mereka sudah terisi.
Zach berdeham. "Terserah kalian."
"Baik, Tuan." Dennis segera memberi kode pada Reffan agar membawa mereka menuju salah satu restoran yang menyediakan makanan Asia terenak.
Saat hendak bersandar pada kursi, Zach tidak sengaja melihat Agnese yang terus saja menatapnya. Ia menyeringai, kemudian menggetik dahi Agnese dengan lumayan keras. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau terpesona dengan ketampananku?"
Agnese yang mendapat perlakuan mendadak seperti itu langsung mengerjap beberapa kali, kemudian mengusap dahinya yang terasa sakit. Ia belum bisa merespons ucapan Zach karena harus meredakan sakit di dahinya yang sedikit memerah.
"Kenapa diam saja? Apa kau benar-benar terpesona?" tanya Zach lagi.
"Tidak! Lagi pula siapa yang menatapmu?" Agnese mengalihkan tatapannya menuju pemandangan di luar jendela sambil terus mengelus dahinya.
"Kau yang menatapku."
"Aku tidak menatapmu! Aku hanya mencari keberadaan sosok jin yang menyatu denganmu."
Zach menaikkan sebelah alisnya. "Jin?"
__ADS_1
"Iya. Jin yang membuatmu bersikap kekanak-kanakan," jawab Agnese dengan bergumam sehingga terdengar kurang jelas.
"Apa yang kau katakan?!"
Agnese menggeleng. "Tidak ada."
Di saat Zach sedang mengucapkan sumpah serapah dalam hati, Dennis justru tertawa dalam diam. Hanya dengan mendengar mereka berdebat, ia merasa seperti sedang menyaksikan acara lawak secara langsung.
Meskipun Dennis hampir menaruh hati pada Agnese, tetapi ia merasa senang dan bersyukur jika gadis itu dan Zach bersatu. Karena keberadaan Agnese membawa perubahan pada atasannya. Ia juga tidak tahu apa yang telah terjadi pada hari di mana mereka pertama kali bertemu. Yang jelas, ia akan membantu Zach untuk mendapatkan kebahagiaan.
Zach yang biasanya bersikap arogan dan dingin, berubah menjadi sosok yang narsis dan menyebalkan setelah bertemu dengan Agnese. Mungkin itu salah satu caranya menarik perhatian lawan jenis.
🍒🍒🍒
"Silakan, Tuan," ucap Reffan setelah membuka pintu mobil untuk Zach.
Zach turun dari dalam mobil, tetapi tidak langsung melangkah masuk. Ia menunggu Dennis yang sedang memastikan keamanan di dalam restoran. Hal yang selalu dilakukan tangan kanannya itu memang tak pernah hilang jika dirinya menyambangi tempat yang dikunjungi banyak orang. Sebab terkadang ada musuh yang membaur di antara mereka.
Setelah menunggu beberapa saat, Dennis terlihat keluar dari dalam restoran. Ia setengah berlari agar cepat tiba di depan Zach, Agnese, dan Reffan yang mungkin sudah menunggunya terlalu lama.
"Semua aman, Tuan. Hanya ada beberapa warga sipil yang sedang makan malam," lapor Dennis begitu tiba di hadapan Zach.
Zach berdeham, kemudian melangkahkan kakinya untuk memasuki restoran. Reffan tidak tinggal diam, ia segera mengikuti langkah Zach yang sudah agak jauh di depan.
Perhatian pengunjung yang sedang menikmati makan malam tersita saat mendengar suara lonceng yang terpasang di atas pintu berbunyi. Mereka menatap sosok pria dan beberapa orang di belakangnya yang terlihat berwibawa meski berpakaian santai.
Mereka tidak tahu jika yang sedang berada dalam satu ruangan dengan mereka adalah salah satu sosok berpengaruh di negara Amerika Serikat. Setelah puas memandangi, mereka kembali menikmati makan malam dengan tenang.
Berbeda dengan mereka, Agnese justru menatap sekeliling interior restoran dengan rasa kagum. Saat melihat sebuah meja dengan beberapa kursi kayu yang mengelilingi, matanya berbinar. Ia langsung berhenti melangkah dan menatap Dennis. "Apa aku boleh duduk di sana?"
Mata Dennis menyipit saat memerhatikan tempat yang ditunjuk oleh Agnese. Setelah melihat tempat itu, ia segera menggeleng dan menatap Agnese dengan tatapan yang meminta maaf.
"Tidak bisa, Nona. Kita sudah memiliki tempat tersendiri di ruangan sana." Giliran Dennis yang menunjuk tempat mereka.
Agnese menunduk, kemudian menghela napas panjang. Setelah itu, ia kembali mendongak sambil tersenyum. "Baiklah, ayo!"
Agnese menarik tangan Dennis menuju ruangan yang sempat ditunjuk tadi. Namun, saat mereka baru beberapa langkah, mereka harus kembali berhenti tatkala mendengar interupsi dari Zach.
"Di sini saja," ujar Zach, lalu duduk di salah satu kursi.
Dennis melepaskan tangan Agnese, lalu menghampiri Zach. "Saya sudah memesan ruangan VIP, Tuan. Anda tidak perlu duduk di sini."
"Tidak perlu."
__ADS_1
"Tapi ...."
"Duduklah!" potong Zach sembari menatap Agnese yang masih berdiri tak jauh dari kursi yang diduduki.
"Baik, Tuan." Dennis membungkukkan badan, lalu menghampiri Agnese. "Kita duduk di sana saja, Nona," katanya kemudian saat di hadapan Agnese.
Apa dia dengar apa yang aku katakan pada Dennis tadi?
Agnese mengikuti langkah Dennis dan duduk di kursi sebelah Reffan yang mengharuskannya berhadapan dengan Zach. Ia tersenyum sejenak pada Reffan yang terlihat canggung dengannya. Setelah itu, ia hanya duduk dengan diam, menanti makanan datang.
Tak lama kemudian, datang beberapa orang membawa pesanan mereka. Tak hanya ada beberapa piring yang berisi sushi, ada juga shabu-shabu, suki, serta hotpot di dalam wadah yang berukuran sedang. Aroma yang menguar membuat selera makan mereka semakin menggebu.
Setelah selesai meletakkan pesanan, satu per satu dari waiters mulai meninggalkan meja. Sebelum mereka menyentuh makana yang sudah tersaji di atas meja, kembali datang seseorang membawa minuman.
Agnese tersenyum pada waiters lelaki yang membawa pesanan terakhir mereka. "Terima kasih."
Zach berdecih tak suka, lalu memindahkan sebagian isi suki beserta kuahnya ke dalam mangkok yang ada di depannya. Setelah itu, ia langsung menyendokkan makanan asal Jepang itu ke dalam mulut tanpa memedulikan asap yang masih mengepul.
"Sial! Kenapa kalian tidak bilang ini masih panas?!" marah Zach setelah meletakkan sendok dan meneguk minuman.
Agnese menggigit bibir agar tawanya tidak lepas. "Pelan-pelan saja, Tuan. Semua makanan berkuah ini masih panas."
"Diam kau!"
Agnese mengangkat bahu, lalu menatap semua makanan yang ada di atas meja. Ia sedikit kurang yakin dengan rasa nasi yang dibalur daging ikan mentah, telur ikan, serta rumput laut. Jujur, ia sedikit tidak terbiasa dengan makanan itu.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya Dennis sembari mengunyah.
"Eh, iya." Agnese segera mengambil sumpit yang masih terbungkus, lalu mengapitnya di antara sela-sela jari. Ia tidak langsung menjepit sushi, ia kembali memerhatikan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Zach yang melihat Agnese hanya menatap sepiring sushi mendengus. "Apa kau tahu cara makan pakai sumpit?"
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau tidak makan, Bodoh?"
"Eh?" Agnese tersenyum dengan paksa dan langsung mendekatkan sumpit ke arah sushi.
Ya Tuhan, semoga lidahku cocok dengan makanan ini.
Agnese menjepit salah satu sushi, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Ia memejamkan mata tatkala sedikit aroma amis yang berasal dari ikan mengganggu indra penciumnya. Ia terburu-buru mengunyah dan mengambil air minum untuk membantunya menelan.
"Ada apa, Nona? Apakah Anda tidak menyukainya?" tanya Dennis setelah memerhatikan raut wajah Agnese saat memakan sushi.
Agnese kembali tersenyum, tetapi kali ini sambil menggeleng. "Aku menyukainya, sungguh!"
__ADS_1
Zach menyeringai jahil. "Kalau kau suka, kau boleh habiskan semua makanan ini. Kalau perlu, Dennis akan membeli tambahan untuk kau makan."
Agnese terbelalak dengan sempurna. Selepas itu, ia kembali menggeleng tanda menolak ucapan Zach. Bagaimana ia bisa menghabiskan semua makanan yang ada di meja? Satu suapan saja, sudah membuatnya hampir muntah. Bagaimana jika banyak?