Married With Stranger

Married With Stranger
Race


__ADS_3

Zach membelokkan setir ke arah arena balap yang akan menjadi saksi bisu kekalahan maupun kemenangan Alex dan Sean. Di bagian tribun, terlihat beberapa kerabat dari kedua pria itu yang datang untuk menyaksikan pertandingan sengit mereka. Namun, ia belum melihat batang hidung para kompetitor.


Setelah memarkirkan Arnold, Zach turun dan memilih berjalan menuju Pit Area untuk melihat kondisi mobil yang akan digunakan Alex dan Sean saat bertanding nanti. Ia ingin yang terbaik bagi mereka, terlepas siapa yang akan memenangkan pertandingan nanti. Karena keselamatan mereka yang paling utama.


Zach melepas kacamata yang digunakan, lalu menyangkutkannya di kerah baju. "Bagaimana? Tidak ada masalah, 'kan?"


"Kami telah melakukan simulasi untuk melihat ban mana yang terbaik sesuai dengan kebutuhan. Karena kami menyesuaikan dari karakter trek, temperatur, dan adanya potensi hujan. Kami juga harus memperkirakan seberapa kompetitif pertandingan akan berlangsung. Ini sangat menentukan, misalnya, apakah kami akan memakai ban yang lebih lunak agar masuk kualifikasi," jelas Daren, ahli strategi Carlos Sainz dari tim McLaren yang telah dipilih Zach untuk membantu pertandingan.


"Baguslah. Bagaimana dengan strategi yang kalian terapkan?" tanya Zach lagi.


"Kami sudah melihat segala macam skenario dan mensimulasikan secara rinci bagaimana balapan akan berlangsung. Kami juga sudah memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi, bagaimana jika tim kami memimpin di awal start atau apa yang akan terjadi jika kami kehilangan posisi. Dan bagaimana jika mobil lain tiba-tiba melambat atau lebih cepat dari yang kami pikirkan sebelumnya.”


Meski pada umumnya, ahli strategi memulai dengan pemilihan ban yang akan dipakai untuk balapan, melakukan simulasi, dan tes langsung di trek. Kemudian para ahli akan membandingkan kedua hasil dan melakukan improvisasi jika diperlukan. Setelah itu, bergeser ke penggunaan bahan bakar dan mempersiapkan beberapa skenario pada hari kualifikasi. Namun, Zach percaya pada strategi Daren.


Daren juga menginformasikan jika mobil balap seperti Ferrari, Sauber, Fource India, dan Haas dilengkapi dengan damper buatan ZF. Sementara Red Bull dilengkapi kopling buatan ZF. Teknologi yang mendukung mobil-mobil balap tersebut memungkinkan mereka untuk melaju sampai batas maksimum berkat setiap komponen yang bekerja secara sinkron di bawah kap mesin.


"Oh iya, bagaimana kalau pertandingan nanti tidak sesuai dengan strategi yang telah kalian susun?" tanya Zach lagi sambil memandang area parkir untuk melihat apakah para kompetitor sudah datang atau belum.


"Saat mobil pesaing memanas, tidak menutup kemungkinan jika kami akan menghapus strategi sebelumnya karena tidak lagi relevan. Terkadang, strategi lain bisa menjadi lebih efektif apalagi realitas di lapangan terus berubah."

__ADS_1


Daren menjelaskan lebih detail mengenai strategi tim mereka dan skenario terburuk yang bisa saja terjadi saat pertandingan berlangsung. Setelah itu, Zach meninggalkan mereka karena melihat para kompetitor terlibat sebuah obrolan yang menegangkan. Ia harus segera menengahi mereka.


Dari jarak beberapa meter, Zach dapat mendengar jika Sean ingin mengulang masa lalu bersama Alex. Bahkan pria itu sengaja menyebut jika ingin merebut wanita Alex secara adil. Namun, dari sudut mana pun, tidak ada kata adil bagi seseorang yang ingin merebut milik orang lain jika berlandaskan dendam.


Zach berhenti, lalu bersedekap. "Tidak perlu banyak cakap, Mr. Waston. Dua mobil sudah aku siapkan di Pit Area. Para Marshall juga sudah siap berada di Pit Line. Kalian berdua bisa menunggu di Paddock Area terlebih dahulu sebelum kupanggil. Dan kalian bisa langsung mencoba qualifying time trial, hanya tiga puluh menit."


Dari tempat Zach berdiri, ia bisa melihat sudut bibir Alex terangkat hingga membentuk sebuah senyuman sebelum menatap Rianti untuk meyakinkan Rianti jika dirinya bisa berjuang untuk memenangkan pertandingan. Berbeda dengan Sean yang hanya menampilakan wajah datar.


Selepas pelukan Alex dan Rianti terlepas, perempuan itu kembali menatap wajah suaminya. "Aku akan menunggumu di Waiting Area bersama Kak Lewi dan Anggel."


Mendengar itu, Zach dengan sigap berdiri di samping Alex sambil memasang senyum lebar.


Zach menuntun Rianti dan kedua orang lainnya menuju tribun khusus yang akan membuat mereka tidak akan terkena sinar matahari langsung. Sebab di dalam sana tersedia pendingin ruangan serta televisi agar mereka dapat menyaksikan pertandingan di sana dengan nyaman.


"Silakan duduk, Kakak Ipar."


Zach mempersilakan Rianti duduk di salah satu kursi yang ada di tribun khusus dengan gaya yang biasa dipakai Dennis ketika memintanya duduk. Tak lupa ia meminta petugas yang berjaga di sana untuk menyesuaikan pendingin ruangan dengan yang diinginkan istri sepupunya itu.


"Bagaimana dengan kami?" tanya Lewi pada Zach.

__ADS_1


Zach menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal untuk merutuki kebodohannya. "Maksudku, kalian juga silakan duduk di mana pun yang kalian suka."


Lewi dan Anggel langsung mengambil posisi tepat di samping kiri Rianti. Zach yang melihatnya langsung mendengus sebal. Alhasil, ia mengambil tempat di samping Lewi.


Tak lama kemudian, televisi yang terdapat di sana mulai menampilkan Alex dan Sean yang saling kejar di arena. Mereka melakukan latihan beberapa putaran sebelum pertandingan dimulai untuk menguasai medan balap dan mendapatkan catatan waktu tercepat.


Di saat yang lain menyaksikan Alex dan Sean yang saling mengejar dengan santai, Rianti justru dirundung kekhawatiran. Terlihat dari raut wajah dan tangannya yang saling bertaut.


Zach yang menyadari itu langsung berkata, "Tenang saja, Kakak Ipar. Mereka belum bertanding, itu masih latihan."


Rianti tersenyum. "Terima kasih, tapi kau tidak usah memanggilku begitu. Lagi pula kau pasti seumuran dengan suamiku."


"Oh, tentu tidak. Alex lebih tua dariku, Kakak Ipar. Aku juga tidak mungkin memanggilmu Adik Ipar karena aku sudah memilikinya. Jadi, aku harus memanggilmu Kakak Ipar supaya lengkap," jelas Zach yang membuat Rianti kembali tersenyum.


"Baiklah, terserah kau saja." Rianti kembali menatap layar televisi untuk melihat perjuangan sang suami memenangkan pertandingan konyol tersebut sambil terus berharap dan merapalkan doa dalam hati.


"Aku harus pergi ke Pit Wall, pertandingan akan segera dimulai. Kalian jaga Rianti di sini. Jangan pernah meninggalkannya sendiri." Zach beralih menatap Rianti. "Kakak Ipar, tetap di sini sampai pertandingan selesai."


Setelah itu, Zach pergi ke bilik pit untuk menyaksikan pertandingan lebih dekat dan dapat melihat bagaimana ahli strategi mengamati layar, membuat keputusan dalam seperkian detik yang dapat membuat kompetitor berhasil atau justru menjerumuskan, dan mengintervensi momen penting selama balapan berlangsung.

__ADS_1


Aku yakin kau pasti bisa, Alex.


__ADS_2