
Mobil yang dikendarai Zach baru saja memasuki gerbang rumah yang sama ketika bertemu Agnese pertama kali. Setelah memastikan mesin mobil yang dikendarai mati, ia pun segera turun tanpa mengindahkan Agnese yang sibuk mengurut pelan kakinya yang terkilir.
"Dasar lelaki tidak peka!" gerutu Agnese.
Dengan kesal, Agnese membuka pintu dan turun secara perlahan. Ia berpegangan pada body mobil agar keseimbangannya tetap terjaga. Setelah berhasil menutup pintu, ia berjalan gontai karena menahan sakit. Ia tidak bisa mengejar Zach yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Saat hampir mencapai gagang pintu, seseorang menyapa Agnese dari belakang hingga membuat dirinya terjatuh dengan posisi kaki yang tertindih beban tubuhnya sehingga ia mengadu kesakitan. Ia melihat seorang perempuan dengan perut membuncit membantunya berdiri. Namun, karena tidak dapat menahan sakit, ia kembali terjatuh.
Agnese memijat pelan bagian kakinya yang terkilir, lalu memandang wanita yang sempat menolongnya sambil tersenyum singkat. "Tidak apa-apa, saya bisa berdiri sendiri."
Kedua tangan Agnese bertumpu pada lantai dan kakinya yang tidak terkilir perlahan memijak lantai. Dengan menahan sakit, gadis itu perlahan berjalan. Untung saja perempuan tadi dengan sigap membuka pintu sehingga ia dapat terus berjalan tanpa harus berhenti.
Begitu berhasil mencapai sofa, Agnese langsung mengempaskan tubuhnya dan memejamkan mata tanpa mengindahkan beberapa orang yang juga ikut duduk di sofa.
"Zach! I'm home!" teriak seseorang yang berhasil membuat kelopak mata gadis berseragam sekolah itu terbuka lebar.
Dengan sigap, Agnese langsung memperbaiki posisi duduknya dan tertunduk. Ia merasa sangat canggung berada di antara mereka apalagi ia sedang berada di rumah orang yang belum terlalu dikenal. Dalam hati, Agnese terus saja merapalkan doa-doa karena ia sangat tidak ingin terjebak masalah lagi. Sudah cukup terikat dengan satu pria menyebalkan.
Terdengar derap langkah yang menuruni anak tangga diiringi pertanyaan, "Kenapa kalian ada di sini?!"
Tatapan mereka semua mengarah ke sumber suara. Terlihat Zach baru saja selesai berganti pakaian dari setelan jas menjadi kaos polos berwarna putih. Pria itu menuruni anak tangga terakhir dan langsung menyambut pelukan sang adik yang duduk tepat di sofa samping Agnese.
Zach menyentil kening Rachel. "Kau ini sudah tahu sedang hamil, masih saja suka bepergian!"
"Hei! Justru Dokter yang menyuruhku agar banyak gerak. Adikmu ini ingin melahirkan secara normal, tahu!"
Zach tertawa meremehkan. "Normal? Kau yakin?"
__ADS_1
"Tentu saja! Aku sudah memutuskannya."
"Aku tak bisa membayangkan bagaimana keadaan ruang bersalin saat kau harus berjuang melahirkan keponakanku. Para dokter dan perawat yang membantumu mungkin berganti kuping yang baru karena suaramu akan merusak saraf pendengaran mereka," ejek Zach diiringi tawa yang lain, kecuali Agnese yang hanya menyimak obrolan mereka.
Satu menit.
Dua menit.
Bahkan hingga ke menit sepuluh, tetap tidak ada yang melanjutkan percakapan. Mereka terdiam dan fokus pada pikiran masing-masing. Namun, tak berselang beberapa lama, suara Andy memecah keheningan.
"Apakah dia wanita yang akan kau nikahi?" tanya Andy sembari menunjuk sosok Agnese menggunakan tatapan mata.
"Bukan!" Agnese dan Zach menjawab pertanyaan Andy secara bersamaan.
Mereka saling bertatapan beberapa detik, lalu Agnese yang lebih dahulu memutus kontak mata dengan membuang wajah ke arah lain.
Baik Agnese maupun Zach sama-sama terdiam. Jika diamnya Agnese karena tidak tahu harus menjawab apa, Zach justru diam karena berperang melawan kata hatinya. Hal itu membuat Andy menuntut jawaban.
"Kenapa kalian diam saja?" tanya Andy lagi.
Agnese menggaruk batang hidungnya sejenak. "Sebenarnya, saya hanya murid di Dal ...."
"Ya, dia adalah gadis yang akan kunikahi!" potong Zach tiba-tiba yang membuat Agnese hampir tersedak salivanya sendiri.
Agnese menatap Zach dengan tatapan meminta penjelasan. Namun, pria yang ditatap justru mengalihkan perhatiannya dengan memainkan rambut Rachel.
Agnese semakin geram. Ia tidak habis pikir dengan Zach. Menikah? Bagaimana mungkin? Mereka bahkan baru mengenal. Itu pun terjadi karena insiden yang tak terduga malam itu. Gadis itu menghela napas panjang dan menyunggingkan senyum terpaksa kepada Andy karena ia tahu jika sedang ditatap pria paruh baya itu.
__ADS_1
...🍒🍒🍒...
Mereka semua berkumpul di meja makan, tak terkecuali Agnese yang terpaksa ikut bergabung meski merasa sangat canggung berada di tengah-tengah keluarga Zach.
Acara makan malam berjalan dengan khidmat. Dari awal hingga mendekati pertengahan acara makan malam, hanya terdengar dentuman sendok dan garpu yang beradu. Beberapa saat kemudian, Andy meneguk anggur sebagai tanda ia telah menyelesaikan makan malamnya.
Andy menatap Zach dan Agnese secara bergantian, kemudian tersenyum. "Apa yang kau sukai dari Zach?" tanya Andy.
"Eh?" Andy mengulang pertanyaannya bersamaan dengan Zach yang menginjak kaki Agnese hingga gadis itu spontan menjawab, "Dia tampan!"
Andy dan yang lain menertawakan Agnese sementara gadis itu hanya gelagapan. Setelah itu, Andy kembali meneguk minuman hasil fermentasi tersebut dan meletakkan tangannya di atas meja sambil menatap sang putra, Zach.
"Ya, dia memang memiliki kepribadian yang hebat," kata Andy.
Agnese terdiam sejenak dan menyamakan kepribadian antara Zach dan Andy.
Ternyata tingkat kepercayaan dirinya yang setinggi langit dia dapatkan dari ayahnya. Anak dan ayah sama saja.
Agnese kembali menyunggingkan senyum dengan terpaksa untuk menanggapi perkataan Andy. Ia kembali memasukkan sesendok makanan ke dalam mulut, lalu berkata, "Sebenarnya ... dia aneh."
"Aneh?" celetuk Rachel.
Agnese mengangguk. "Ya. Bahkan dia sangat aneh."
"Kenapa?" tanya Andy antusias.
"Karena ...."
__ADS_1