
Zach membuka headset dan terus memandangi layar. Ia tidak menyangka jika Sean berbuat curang dalam pertandingan. Padahal balapan dilaksanakan agar mereka dapat bersaing secara sehat. Bukan mengulang kejadian dulu yang sempat terjadi.
Sean menabrak bagian belakang mobil yang dikendarai Alex hingga pria berdarah Timur Tengah itu mengerem mendadak dan membuat mobilnya berhenti. Untung saja Alex tidak tinggal diam apalagi setelah melihat Sean yang sudah jauh dan tiba-tiba berhenti seolah menunggu kedatangannya.
Dengan perasaan gelisah, Zach bangkit dan berdiri di samping Daren untuk melihat bagaimana keadaan di lapangan secara langsung. Ia tidak bisa menahan senyum tatkala Alex berhasil menyamai posisi Sean. Namun, hal tersebut tidak bertahan lama sebab mereka kembali saling mengejar. Hingga saat tiba di tikungan terakhir, ia kembali melihat kecurangan yang dilakukan Sean terhadap Alex.
Sean melakukan manuver 180 derajat hingga bumper mobilnya berhasil mengenai bagian depan mobil Alex. Ketika mobil Alex oleng, ia mengambil kesempatan untuk memacu kendaraannya menuju garis finish. Ia tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil melewati garis yang mengantarnya menjadi pemenang di pertandingan hari ini.
"Shit!" umpat Zach.
Melihat sepupunya kalah, Zach meninju udara untuk menyalurkan kekesalan akibat kecurangan yang terjadi di arena balap. Ia tidak menyangka Sean melakukan segala cara agar memenangkan pertandingan.
"Mr. Malik sudah melakukan yang terbaik. Hanya saja lawan berbuat kotor sehingga kekalahan tidak bisa dihindari. Kami sungguh tidak mengira akan terjadi hal seperti itu," komentar Daren.
"Kau benar, tapi tidak seharusnya dia berbuat curang."
Daren mengangkat bahu seolah tanda jika ia pun bingung dengan apa yang terjadi. "Apa boleh buat? Kita tidak bisa mencegah sesuatu yang sudah telanjur terjadi."
Zach setuju dengan ucapan Daren. Meskipun sudah mengerahkan para ahli agar dapat membantu Alex untuk menang, tetapi jika ada campur tangan dari otak licik pelaku kecurangan, semakin kecil kesempatan bagi pelaku jujur. Karena terkadang kemenangan diraih oleh mereka yang curang agar kita bisa berusaha lebih keras dan menjadikan kekalahan sebagai pemicu untuk menjadi pemenang. Sebab kemenangan adalah soal kerja keras yang terbayarkan.
Saat melihat Alex turun dari mobil dengan wajah yang memerah karena marah dan menarik kerah baju Sean, Zach segera menghampiri mereka.
"Mr. Tomlinson, bukankah tidak ada aturan dalam balapan kali ini?" tanya Sean pada Zach ketika baru saja tiba di dekat mereka.
Zach tidak menjawab pertanyaan Sean, ia memilih memandang Alex yang semakin memperkuat cengkeraman tangannya di kerah baju Sean. Ia sangat paham dengan apa yang dirasakan Alex saat ini. Namun, ia tidak ingin mereka kembali terlibat pertengkaran yang nantinya akan tersebar luas, apalagi tidak semua penonton bisa dipercaya.
"Aturannya adalah siapa yang masuk garis finish terlebih dahulu, dia yang menang. Bukankah begitu? Terlepas bagaimana caranya untuk itu." Sean menyeringai licik. "Akui saja kekalahanmu, Alex," lanjut Sean yang membuat amarah Alex semakin menggila.
Alex bersiap untuk memberi Sean sebuah bogem mentah. Terlihat dari urat-urat lengannya yang menonjol. Namun, sebelum itu terjadi, Zach kembali menjadi penengah di antara mereka.
"Alex, stop!" Zach benci untuk mengatakan hal ini, tetapi ia harus melakukannya karena sudah menjadi tanggung jawabnya di pertandingan. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menggeleng. "Kita memang tidak membuat aturan sebelumnya, Alex. Mr. Waston benar. Siapa yang sampai terlebih dahulu, dia yang menang. Aku menyesal mengatakannya, tetapi Mr. Wastonlah yang memenangkan pertandingan kali ini."
Karena pada dasarnya Sean sangat ingin memenangkan pertandingan, ia tertawa penuh kemenangan mendengar jawaban Zach. Ia sangat menantikan masa-masa kekalahan Alex. Namun, semua itu tidak berarti sebab sepupu Zach yang menjadi lawannya memiliki wanita yang cerdas sehingga kemenangannya kali ini tidak berarti apa-apa.
__ADS_1
Sean tidak menyangka jika Rianti sangat berbeda. Ia pikir, istri Alex itu mudah dikelabui karena terlihat sangat polos. Namun, ia salah menerka. Sebab Rianti justru tidak menepati perkataannya saat di acara reuni.
Berbeda dengan Sean, Zach justru tersenyum menyaksikan adegan penuh cinta di depan matanya dan di depan semua orang yang menjadi saksi bisu pertandingan sengit Alex dan Sean beberapa waktu yang lalu. "Kau sangat beruntung memiliki Rianti, Alex," kata Zach dalam hati.
🍒🍒🍒
Para kompetitor dan penonton meninggalkan arena balap. Mereka kembali ke tujuan masing-masing, tak terkecuali Zach. Ia mengemudi menuju rumah masa kecilnya yang masih ditinggali Camila dan keluarga kecil Rachel. Ia ingin menepati janji yang sudah dibuat kepada sang adik sebelum pergi membantu dan menyaksikan pertandingan.
Zach turun dari Arnold dan menyerahkan kunci pada salah satu pelayan untuk dibawa ke basement. Ia langsung masuk ke dalam rumah dan mengempaskan tubuh lelahnya di atas sofa. Ia memejamkan mata sambil merentangkan kedua tangan. Ia perlu sedikit waktu untuk beristirahat.
"Kau sudah di sini?"
Mata yang baru saja terpejam langsung terbuka. Zach langsung memperbaiki duduknya ketika sosok pria yang sudah lama tidak ditemui berjalan mendekat. Ia mengucek mata sejenak, lalu mengangguk.
"Aku baru saja datang. Bagaimana denganmu, Ayah?" jawab dan tanya Zach.
"Ayah langsung ke sini setelah diberi tahu Rachel." Andy menatap Zach sambil tersenyum. "Ayah senang kau di sini," sambungnya.
Zach hanya mengangguk untuk menanggapi. Ia sudah tidak bingung kenapa Rachel memberi tahu Andy mengenai kedatangannya. Sebab ia sangat paham jika sang adik sangat menginginkan keluarga yang utuh seperti dulu.
"Kata Ibumu, kau mau membawa perempuan dalam waktu dekat?" tanya Andy lagi.
Zach menatap Andy, lalu menggeleng. "Bukan begitu! Ibu selalu saja memintaku untuk berkencan dengan perempuan pilihannya, tapi aku tidak menginginkan hal itu. Jadi, aku membuat perjanjian dengannya. Jika aku belum mendapatkan pasangan dalam jangka waktu tiga bulan, aku akan menuruti keinginannya."
Zach mengembuskan napas panjang. Ia teringat akan percakapannya dengan Camila beberapa hari yang lalu. Padahal ia sendiri tidak yakin jika bisa mendapatkan pendamping dalam waktu yang singkat. Namun, daripada terus diusik masalah itu dan membuat pekerjaannya berantakan, ia memilih untuk membuat perjanjian yang ia sendiri tidak mungkin bisa menepati.
Mendengar penjelasan Zach, Andy terdiam. Ia setuju dengan sang mantan istri mengenai Zach yang harus segera memiliki pasangan hidup. Namun, ia juga tidak bisa membiarkan Zach berkencan dengan perempuan yang tidak jelas. Karena keluarga besar Tomlinson tidak akan membiarkan perpecahan keluarga terjadi lagi.
Andy menepuk pundak Zach. "Ayah percaya kau bisa mencari yang terbaik. Siapa pun nanti yang berhasil mendampingimu, Ayah akan selalu mendukung."
__ADS_1
"Semoga saja aku tidak mengecewakanmu," harap Zach.
"Kau tidak pernah mengecewakan Ayah sebelumnya, jadi kali ini kau pasti berhasil." Andy tersenyum dan kembali menepuk pundak Zach untuk menyalurkan energi agar sang putra semangat mencari pasangan.
Setelah itu, mereka mengganti topik pembimcaraan. Mereka membahas tentang perkembangan perusahaan yang semakin maju, terlepas dari beberapa masalah yang muncul di anak cabang perusahaan.
Saat asyik berbincang, kepala pelayan muncul dan tak lupa membungkuk untuk memberi hormat. "Maaf, Tuan. Nyonya Besar memanggil kalian untuk makan malam."
"Kami akan segera ke sana," jawab Andy.
Andy bangkit, kemudian berjalan menuju ruang makan, diikuti Zach. Saat tiba di sana, Andy mengambil tempat tepat di samping sang istri, Elena. Sementara Zach duduk di samping Camila karena Rachel sudah lebih dulu memilih tempat di samping suaminya.
Mereka mulai menikmati hidangan makan malam dengan damai ditemani obrolan-obrolan kecil seputar masa lalu.
"Benar sekali. Aku masih ingat bagaimana wajah Zach saat itu." Rachel tertawa ketika mereka sedang membahas masa kecil.
Zach hanya tersenyum mendengar mereka bercerita sambil terus makan. Saat ingin meneguk anggur, ia merasakan pahanya bergetar sebelum terdengar dering yang menandakan jika ada pesan masuk.
Semua tatapan tertuju kepada Zach. Sambil memegang gelas yang berisi anggur untuk diminum, ia pun segera mengeluarkan ponsel dari saku celana. Keningnya berkerut saat menatap layar ponsel. Ada sebuah nomor tak dikenal yang mengirim sebuah gambar. Karena penasaran, ia menyentuh layar untuk membuka pesan tersebut sambil meneguk anggur.
Ketika pesan tersebut terbuka dan menampilkan gambar dua orang sedang duduk berhadapan, Zach menyemburkan anggur yang sudah berada di dalam mulutnya.
Camila memegang lengan Zach. "Ada apa, Zach?" tanyanya.
Zach menatap Camila, kemudian tersenyum. "Tidak ada apa-apa."
Entah karena pengaruh anggur yang baru saja menerobos kerongkongan dan berdiam di lambungnya atau karena sesuatu, tetapi Zach merasa panas. Ia menarik napas yang dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia mematikan ponsel dan hendak meletakkannya ke atas meja. Namun, benda pipih tersebut kembali berdering. Mau tidak mau, ia kembali membukanya daripada terus mengganggu makan malam mereka.
Bagaimana perasaanmu setelah melihat
mereka?
***
__ADS_1
Author Note: Silakan kunjungi lapak Nikah Kontrak - Tya Gunawan untuk membaca kisah lengkap Alex. Jangan lupa ikut event yang diadakan untuk menangin kaos comel.