
“Agnese, bisa kita bicara sebentar?”
Agnese menoleh dan mendapati Adrian di ujung ruangan. “Ada apa, Mr. Adrian?”
“Bisakah kau lanjut sampai malam nanti? Kelab sangat membutuhkanmu.”
“Bukankah kau bilang kalau aku boleh tidak masuk malam nanti?”
Adrian berjalan ke arah meja lalu duduk di atasnya. “Itu memang benar, tapi kelab sangat membutuhkanmu, Agnese. Kau tahu, 'kan, kalau banyak pelanggan yang datang hanya untuk melihatmu?”
“Tapi ....”
“Kalau kau mau, bayaranmu untuk bulan ini akan bertambah. Aku tahu kalau kau butuh uang yang lebih.”
“Tapi, aku harus pulang dan merawat ibuku. Aku juga belum berpamitan tadi.”
“No buts anymore, Agnese. Cukup jawab, 'iya atau tidak'.”
Agnese menggigit bibir bawahnya sambil berpikir sejenak. Jika ia menolak tawaran Adrian, maka ia akan kehilangan beberapa persen penghasilan yang seharusnya bisa membantu untuk menutupi kebutuhan. Namun, jika mengambil tawaran itu, ia tidak bisa merawat sang ibu.
“Bagaimana?” tanya Adrian lagi.
Agnese menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan menerima tawaranmu. Tapi, aku bisa pulang lebih cepat, 'kan?”
“Tergantung bagaimana cara kerjamu.”
“Baiklah. Terima kasih, Mr. Adrian,” ucap Agnese sebelum undur diri.
Begitu tiba di luar restoran, Agnese langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi sahabat yang sangat ia sayangi, Yoana. Tak butuh waktu lama agar panggilannya diterima. Ia tersenyum sejenak meski tak dapat dilihat oleh sang penerima telepon.
“Yoan, aku ingin meminta bantuanmu. Apa kau mau membantuku?”
“Tentu saja, Agnese. Apa yang harus kulakukan untuk sahabatku ini, hem?”
Agnese tersenyum. “Bisakah kau membantuku menjaga Ibuku?”
__ADS_1
“Tentu saja, Agnese.”
“Kalau begitu, datanglah ke restoran yang ada di depan butik Kenzo untuk mengambil makanan untuknya.”
“Baiklah. Tunggu aku, ya.”
“Maaf merepotkanmu, Yoan.”
“Aku senang bisa membantu.”
Agnese mengangguk lalu memutuskan sambungan telepon. Setelah itu, ia segera membantu Dean, Jonah, beserta beberapa temannya yang lain membersihkan meja karena restoran tak lama lagi akan ditutup dan berganti menjadi kelab. Mereka semua saling membantu agar pekerjaan cepat selesai.
Yoana datang tak lama setelah Agnese selesai membersihkan dan merapikan tempat. Agnese tersenyum saat menghampiri Yoana untuk menyerahkan makanan Briza dan kembali bekerja. Tak lupa juga gadis itu berterima kasih pada sang sahabat karena telah banyak membantu.
“Kau berutang penjelasan padaku, Agnese,” pinta Yoana tatkala melihat penampilan Agnese.
Agnese hanya tersenyum sambil mengangguk untuk merespons permintaan Yoana. Ia memang tak pernah memberi tahu siapa pun tentang pekerjaannya, selain Mrs. Pita kemarin. Ia melakukan itu karena tak ingin dikasihani dan dipandang iba. Setidaknya ia berusaha untuk tidak menyusahkan orang lain.
“Aku sedang banyak pekerjaan, Yoan. Sampai jumpa di sekolah.”
Tak banyak yang dilakukan Agnese sepulang Yoana. Ia kembali mengganti baju menggunakan seragam khusus pekerja di kelab. Setelah itu, ia beristirahat sejenak agar mendapatkan tenaga yang lebih untuk melayani para pengunjung nanti. Jujur saja, ia merasa sangat lelah apalagi hari ini harus lanjut bekerja hingga tengah malam.
Namun, ia tak bisa mengeluh karena tak memiliki sandaran yang tepat. Ia tidak ingin berkeluh kesah pada Briza karena takut jika penyakit sang ibu akan semakin parah. Ia tidak ingin bercerita pada Yoana sebab tak ingin semakin membebani sang sahabat atas masalah yang dihadapi. Ia lebih memilih diam dan menyalurkan perasaan yang dirasakan dalam sebuah gambar atau menyanyi.
Agnese mengembuskan napas panjang lalu merapikan sedikit pakaiannya sebelum keluar dari ruangan. Baru saja menutup pintu, ia mendengar seseorang memanggil namanya.
“Agnese, bisakah kau membantu melayani pengunjung di bar? Kami sedikit kewalahan,” teriak Jonah dari bar saat melihat Agnese keluar dari ruangan khusus karyawan.
Jonah adalah salah satu karyawan yang tetap di sana. Dalam sehari, lelaki itu menghabiskan 12 sampai 17 jam, tergantung dari banyaknya pengunjung. Berbeda dengan Agnese yang hanya bekerja paruh waktu karena masih harus sekolah.
Tanpa menunggu lama, Agnese segera menuju bar untuk membantu Jonah dan beberapa bartender lain. Kelab lumayan ramai hari ini, jadi wajar jika Jonah meminta bantuan. Begitu tiba, ia mendekat ke arah seorang pria yang terlihat masih normal alias belum terkontaminasi dengan minuman beralkohol yang ada di sana.
”Rose wine, please,” pinta pria itu sebelum Agnese bertanya.
Agnese mengangguk, mengambil sebotol wine dan gelas, lalu menuangkan minuman asal Georgia dan Iran itu ke dalam gelas. Setelah itu, ia menyodorkannya pada pada pengunjung tadi.
__ADS_1
“Hei! Bukankah kau yang dulu melayaniku saat memesan beberapa botol vodka?” tanya pria itu setelah meneguk gelas pertamanya.
Agnese mengernyit sambil memejamkan mata dan berusaha mengingat sosok pria di hadapannya. Begitu sekelebat ingatan muncul, ia membuka mata. “Oh, hai! Kau mengingatku?”
“Tentu saja. Kau sudah menyita perhatian banyak orang di sini, termasuk aku.”
“Maaf?”
“Ah, lupakan! Perkenalkan, namaku Dennis Besson. Kau?” ujar pria yang diketahui bernama Dennis.
Agnese tersenyum lalu menjabat tangan Dennis. “Agnese.”
“Sudah berapa lama kau bekerja di sini, Agnese?”
“Aku juga tidak ingat. Yang jelas sudah hampir setahun.”
Agnese tetap mengerjakan tugasnya sebagai bartender sambil menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan Dennis. Ia rasa, ia bisa berteman dengan orang itu meski baru kenal. Namun, ia harus tetap berhati-hati jika tak ingin kesalahan yang sama terulang. Ia harus menjaga dirinya sebelum apa yang dikhawatirkan terjadi.
Setelah beberapa saat, Dennis melihat perubahan wajah Agnese. Ia yakin jika Agnese sangat kelelahan apalagi ia sempat memaksa Manajer di sana—Adrian—untuk terus meminta gadis itu bekerja. Ia mengeluarkan ponsel dan mengirim sebuah pesan pada seseorang. Selepasnya, ia kembali mendongak untuk menatap gadis yang sudah menemaninya berbincang dan mengumpulkan informasi.
“Apa kau baik-baik saja?” Agnese tersenyum sambil mengangguk. “Tapi, wajahmu terlihat pucat.”
“Benarkah?” tanya Agnese untuk memastikan.
“Iya." Dennis menatap situasi kelab sebentar. "Beristirahatlah, nanti aku akan beri tahu Adrian kalau kau sakit.”
Agnese kembali tersenyum. “Terima kasih, tapi aku baik-baik saja.”
“Hei! Kau tidak sedang baik-baik saja. Lebih baik kalau kau beristirahat. Aku bisa mengantarmu pulang,” tawar Dennis yang membuat fokus Agnese terpecah sebab teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu.
“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.” Agnese berjalan ke arah Jonah dan memberi tahu jika ia akan pulang sebab merasa tak enak badan. Setelah itu, ia kembali mendekat ke arah Dennis. “Aku pulang duluan. Kau benar, aku butuh istirahat. Senang berkenalan denganmu, Mr. Dennis.”
Agnese berjalan menuju ruangan khusus karyawan untuk berganti pakaian. Setelah itu, ia sempat menoleh ke arah bar untuk melihat sosok Dennis. Namun, ia tak menemukan pria itu di sana. Mungkin sudah pulang atau buang air di kamar mandi.
Ia sengaja menolak tawaran Dennis karena tak ingin akan mendapat perlakuan sama yang dilakukan Zach beberapa hari lalu. Tak ada yang tahu bagaimana isi hati masing-masing manusia selain Tuhan. Maka dari itu, ia memilih berhati-hati dalam menerima tawaran kali ini.
__ADS_1
***