
Setelah selesai rapat masalah proyek baru dengan tim pengembang, Zach berjalan menuju perpustakaan kantor yang terletak tidak jauh dari ruang rapat. Ia menyaksikan hiruk pikuk kota dari ruangan yang bertembok kaca transparan tersebut. Ia sedang memikirkan nasib Alex jika kalah di pertandingan besok. Bagaimanapun, pria itu pasti tidak akan terima dengan kekalahan apalagi menyangkut istrinya.
Ingin membantu lebih, tetapi Zach sadar jika tidak boleh ada yang berlaku curang. Jadi, ia hanya bisa berharap Sean tidak akan menang agar pria itu berhenti membuat masalah. Semoga saja harapannya terwujud, semoga.
"Tuan?"
Zach berbalik badan, ia melihat Dennis berdiri tak jauh dari tempatnya. "Ada apa?"
"Agnese ...." Dennis terdiam, lalu berdeham sejenak. "Maksud saya Nona Agnese, dia mau maid yang di rumahnya pergi."
Kening Zach mengernyit. Ia mendekati Dennis dengan tangan yang berada di dalam saku celana. "Di mana dia?"
"Dia ada di rumahnya, Tuan."
"Bagaimana kau tahu kalau dia mau maid itu pergi?"
Dennis mengangkat tangannya yang sedang memegang ponsel. Terlihat di layar ponsel jika Dennis dan Agnese masih terhubung dengan sambungan telepon. Hanya saja Dennis sedang mengaktifkan mode senyap agar gadis itu tidak dapat mendengar percakapan mereka.
Zach mengambil alih ponsel dari tangan Dennis. Tak lupa ia menyentuh bagian bawah layar agar sang penerima telepon dapat mendengar suara. Ia mendekatkan benda pipih itu ke indra pendengarnya.
"Ada perlu apa kau sampai menelepon orangku?" tanya Zach.
Agnese terdiam tatkala mendengar suara yang paling tidak ingin didengar itu. Ia menghela napas panjang, lalu berkata, "Aku mau kau membawa maid itu pergi dari rumahku. Aku tidak butuh bantuannya."
"Kenapa?"
"Kau bertanya kenapa?" Agnese berdecih. "Aku tahu kau meminta pihak sekolah mencabut beasiswaku. Karena itu, aku harus membayar uang sekolah. Gajiku tidak akan cukup untuk membayarnya, jadi bawa saja dia bersamamu," lanjut Agnese dengan nada yang meninggi.
"Berhenti bersekolah kalau kau tidak sanggup membayarnya," jawab Zach sekenanya, tetapi membuat darah Agnese seakan mendidih.
"Enak saja kau bicara seperti itu. Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidup serba kekurangan, jadi jangan sembarang bicara!"
Zach menyeringai. "Tentu saja aku tidak tahu karena aku diciptakan untuk merasakan kenikmatan, bukan penderitaan."
"Kau!"
"Kenapa? Aku tampan?" Zach tersenyum penuh kemenangan. "Sudah dari dalam kandungan."
Di seberang telepon, Agnese berusaha meredam emosinya yang mulai memuncak. Berkali-kali ia menarik dan mengembuskan napas panjang. Berbicara dengan Zach tak pernah lepas dari perdebatan. Padahal ia hanya meminta sesuatu, tetapi ada saja jawaban yang dilontarkan pria itu hingga perdebatan di antara mereka terus terjadi.
"Bisa tidak, sekali saja jangan mencari masalah denganku?"
Kening Zach kembali mengernyit. Ia berbalik badan dan kembali ke tempatnya berdiri sebelum Dennis datang. "Siapa yang mencarimu? Bukankah kau yang mencariku?"
__ADS_1
"Terserah, terserah, terserah!" geram Agnese.
Mendengar itu, sudut bibir Zach sedikit terangkat sehingga terbit sebuah senyuman kecil. Rasanya lucu mendengar Agnese seperti itu. Tak hanya kepada Alex, ia juga senang jika Agnese kesal karena perbuatannya.
"Sudah kukatakan, berhentilah bersekolah supaya gajimu cukup." Zach kembali mengulang kalimatnya. Ia ingin mendengar respons yang diberi Agnese. Apakah tetap sama seperti tadi atau justru berubah.
Agnese kembali menghela napas panjang. "Harus berapa kali aku katakan kalau aku tidak akan berhenti? Bahkan aku akan terus bersekolah sampai mencapai titik paling tinggi."
"Apa kau yakin dengan ucapanmu?"
"Tentu saja!"
"Gajimu sebagai pramusaji saja tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari, tapi mimpimu terlalu tinggi,"
"Aku membencimu! Sungguh, aku membencimu Tuan Arogan!"
Sambungan telepon diputus oleh Agnese begitu saja. Ia merasa terluka atas ucapan Zach. Meski ia sendiri tidak yakin dapat membayar iuran sekolah di Dalton High School, tetapi ia percaya dengan ungkapan jika usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Karena bagaimanapun, ia harus berpendidikan tinggi dan mendapat pekerjaan yang bagus agar tidak dipandang rendah lagi oleh orang-orang seperti Zach dan murid yang sering merundungnya di sekolah.
Zach mengembalikan ponsel Dennis. "Kau urus dia. Aku harus pergi ke California untuk membantu pertandingan Alex dan Sean."
"Baik, Tuan."
Zach menatap bangunan di hadapannya. Beberapa kali ia meyakinkan diri untuk memasuki tempat yang menyimpan banyak kenangan masa kecilnya. Jika bukan karena Alex yang meminta untuk mengajak sang adik, ia mungkin tidak akan menginjakkan kaki di sana.
Padahal rasanya baru kemarin Zach bermain dan menciptakan kenangan demi kenangan indah di sana. Namun, sekarang ia hanya bisa menyaksikan dirinya yang sedang tertawa lepas di dalam memori. Karena sejak memasuki fase remaja, tidak ada lagi tawa yang tercipta. Hanya wajah datar yang sering dipasang untuk meyakinkan semua orang jika ia sedang baik-baik saja.
Saat asyik menyelam dalam ingatan, pintu yang berada tak jauh dari Zach terbuka dan menampilkan seorang perempuan yang terlihat kaget saat melihat ada Zach. Dengan perasaan senang, ia berlari ke arah Zach.
"Zach!"
Zach tersentak kaget saat tubuhnya tiba-tiba dipeluk. Ia segera sadar dari lamunan dan langsung membalas pelukan tersebut. Aroma khas vanila Tahitian yang dipadu dengan mawar dari parfum jenis Clive Christian Imperial Majesty membuat Zach tidak ingin melerai pelukan mereka.
"Aku sangat merindukanmu!" adu Rachel, adik perempuan yang satu-satunya dimiliki Zach.
Sambil berpelukan, Zach mengangguk. "Aku juga merindukanmu."
"Hei! Bisakah kau melepas pelukan ini sekarang? Anakku bisa tidak bernapas."
Mendengar itu, Zach terpaksa melerai pelukan mereka. Saking rindunya dengan Rachel, ia lupa jika sang adik tengah mengandung. Ia menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum. "Sorry."
__ADS_1
Rachel mengangguk, kemudian mengajak Zach masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum itu, ia menelepon temannya untuk membatalkan janji sebab Zach lebih penting untuk saat ini, apalagi mereka jarang bertemu setelah menikah.
Zach berjalan memasuki rumah sambil memerhatikan setiap sudut yang tidak banyak berubah. Hanya cat dan beberapa ornamen yang menghiasi dinding. Saat tiba di ruang keluarga, ia duduk di sana sambil menatap Rachel yang terlihat lebih berisi.
"Bagaimana kabarmu?"
Rachel tersenyum lebar. "Aku sangat baik."
"Baguslah. Lagi pula terlihat dari tubuhmu sekarang. Pasti kau sangat dimanja sampai tubuh langsingmu hilang," ungkap Zach.
Bibir Rachel maju beberapa milimeter. Karena hormon estrogen dan progesteron di tubuhnya mengalami peningkatan secara signifikan selama hamil, alhasil zat kimia neurotransmitter yang ada di otak memengaruhi suasana hati perempuan itu menjadi mudah berubah. Sama seperti sekarang, ia merasa kesal mendengar ucapan sang kakak yang secara tidak langsung mengatakan jika dirinya gemuk.
"Kenapa wajahmu begitu? Kau terlihat semakin jelek." Zach kembali bersuara.
"Kau datang ke sini hanya untuk mengejekku, ya?" Rachel bersedekap dada, lalu menatap ke arah lain. "Katanya rindu, tapi aku hanya dijadikan objek untuk dicela," lanjutnya.
"Bukan begitu, Rachie. Tapi memang aku benar, bukan? Kau terlihat lebih berisi sekarang."
"Lebih baik kau pergi sekarang saja. Aku tidak mau terus dicela Kakak menyebalkan sepertimu!"
"Kau mengusirku? Baiklah." Zach bangkit dari duduknya, berjalan di samping sofa yang diduduki Rachel. Saat hendak mencapai pintu, ia berhenti berjalan karena Rachel tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Kau baru saja datang, tapi sekarang mau pergi lagi?" Rachel mulai menangis hingga membuat baju Zach di bagian belakang sedikit basah akibat air matanya. "Kau memang Kakak yang tidak peka!"
Zach melepaskan tangan Rachel yang melingkari pinggangnya. Ia berbalik badan, kemudian memegang wajah sang adik dengan kedua tangan. Ia menggunakan jari jempolnya untuk menghapus air mata yang mengalir. "Hei, kenapa kau menangis? Bukannya kau yang memintaku pergi?"
"Dia memang sangat sensitif selama hamil, Zach," ujar seseorang dari arah tangga.
Zach dan Rachel menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat Camila berjalan ke arah mereka sambil tersenyum. Zach menatap Rachel yang sudah berhenti menangis dengan tatapan meminta jawaban.
"Itu benar. Selama hamil, suasana hatiku mudah berubah," jelas Rachel yang membuat Zach langsung mengangguk paham.
Zach melihat jam di tangannya. Tidak lama lagi pertandingan antara Alex dan Sean akan dimulai. Ia harus tiba di sana dengan cepat agar dapat membantu menyiapkan mobil yang akan digunakan untuk bertanding. Ia kembali menatap Rachel, tetapi kali ini sambil mengacak pelan rambut sang adik.
"Aku harus pergi, Rachie. Ada yang harus kuurus," ucap Zach sambil mengacak rambut Rachel.
Rachel bersiap untuk menangis lagi, tetapi karena jari Zach mengusap pipinya, ia menjadi sedikit tenang. "Kau baru saja datang."
"Aku tahu, tapi ada sesuatu yang harus kuurus. Nanti aku akan ke sini setelah semua selesai, oke? Sekarang lebih baik kau istirahat."
"Kau janji?" Rachel menyodorkan jari kelingkingnya. Zach dengan senang hati menautkan kelingking mereka untuk membuat janji. "Baiklah, kau boleh pergi."
Zach tersenyum lebar dan beralih menatap sang ibu. "Aku pergi, Bu."
__ADS_1