Married With Stranger

Married With Stranger
Hope


__ADS_3

Karena merasa ada sesuatu yang silau, Agnese mulai menggeliat dan perlahan membuka mata. Ia mengerjap sebentar untuk menetralisir pandangannya terhadap sekitar. Begitu merasa sudah normal, ia menatap keadaan kamar yang berbeda. Ia mengernyit bingung saat menyadari jika kamar itu bukan kamarnya.


Dengan perlahan, Agnese mendudukkan dirinya di tempat tidur sembari memijit pelan pelipisnya dan memejamkan mata karena merasa sedikit pusing. Setelah merasa sedikit lebih baik, ia kembali mengamati kamar yang sedang ditempati. Ia terbelalak kaget tatkala melihat seseorang yang sedang tidur di sofa.


"Apa yang kau lakukan?!” teriak Agnese karena kaget tanpa memedulikan pusing yang masih melandanya.


Karena mendengar teriakan, orang yang sedang tidur di sofa terbangun. Ia menajamkan penglihatan dan langsung tersenyum tatkala melihat sosok gadis yang berdiri tak jauh di depannya. “Hanya tidur sambil mengawasimu. Memangnya apa yang bisa kulakukan pada gadis yang sedang sakit?”


“Kenapa kau tersenyum? Kau pikir wajahmu terlihat tampan saat sedang tersenyum?” Agnese berdecih tak suka, lalu bersedekap. “Bahkan ketampanan Zayn Malik berkali-kali lipat darimu.”


“Apa kau sadar? Kau sudah mengakui kalau aku memang tampan. Terima kasih, kau juga terlihat cantik apalagi saat marah.”


Agnese melotot mendengar ucapan itu. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengambil bantal di sampingnya, kemudian menghampiri Zach sebelum memukul wajahnya dengan bertubi-tubi. Ia tidak peduli jika bantal yang digunakan akan rusak. Setidaknya ia sudah memberi sedikit pelajaran.


“Aku membencimu! Kau benar-benar menyebalkan,” teriak Agnese, lalu menekan batal di kepala Zach.


Sambil terus melindungi wajahnya dari serangan bantal Agnese, Zach berucap, “Berhentilah marah-marah, Gadis Kecil! Lebih baik kalau kau memberiku morning kiss, bagaimana?”


Agnese kembali menekan bantal dengan kuat, kemudian memperbaiki napasnya yang terdengar tak beraturan. Ia mengabaikan semua ucapan Zach. Ia hanya fokus pada benda yang sempat jatuh saat berdiri tadi.


“Kenapa kau membawaku ke sini lagi? Apa kau tidak punya telinga? Aku bilang, aku tidak mau bertemu denganmu lagi,” ujar Agnese dengan penuh penekanan.

__ADS_1


“Calm down! Kemarin kau hanya berharap tidak bertemu denganku, jadi jangan salahkan aku karena takdir membiarkan kita kembali bertemu.”


Agnese mendengus kesal. “Tetap saja kau salah! Kau sudah membawaku ke sini tanpa izin.”


“Bukan aku yang membawamu, tapi orang suruhanku.”


Agnese mengernyit. “Siapa? Kupikir semalam aku sudah tiba di rumah, tapi ternyata aku salah. Karena aku justru berada di kandang buaya.”


“Sebenarnya ....”


Suara ketukan pintu berhasil mengalihkan perhatian orang itu. Ia segera mengangkat bantal yang digunakan tidur, lalu mengambil sebuah remote untuk membuka pintu. Setelah itu, ia memencet tombol dan tak lama muncul seseorang yang membuat Agnese terperanjat kaget.


“Mr. Dennis?”


“Seperti yang kau lihat.” Saat melihat Dennis berjalan ke arah sofa, Agnese langsung terbelalak karena baru menyadari sesuatu. “Tunggu!”


Dennis berhenti berjalan dan menatap Agnese dengan bingung. Pria itu bahkan hanya diam karena menunggu Agnese melanjutkan perkataannya.


“Jangan bilang kau adalah orang yang membawaku ke rumah pria asing itu?” tanya Agnese yang diangguki Dennis dan mendapat ejekan dari seorang pria yang masih setia duduk di sofa.


Tuhan, apa lagi ini?

__ADS_1


“Well, tidak usah terkejut seperti itu. Bumi memang sangat kecil, jadi besar kemungkinannya bertemu dengan orang-orang kepercayaanku,” ucap orang yang sedari awal berada di kamar bersama Agnese.


“Diam kau!” tegur Agnese dan terus memandang Dennis.


Dari raut wajah Dennis, Zach bisa menyimpulkan jika ada sesuatu yang tak beres. Tanpa memedulikan teguran Agnese, ia mendekati Dennis sembari terus menatapnya. Setelah itu, ia hanya diam sambil memandangi sang tangan kanan untuk menjelaskan sesuatu.


“Maaf, tapi saya dan beberapa orang yang lain tidak berhasil mendapatkan pasta gigi yang Anda mau,” jawab Dennis.


Mendengar jawaban Dennis, Agnese mengernyit bingung. Apakah pria yang tidur dengannya semalam termasuk golongan orang yang manja? Bahkan pria itu menyusahkan orang lain hanya karena pasta gigi. Padahal tanpa dicari pun, benda itu tersedia di semua pusat perbelanjaan.


“Berapa tempat yang kau datangi?”


“Lebih dari empat, tapi benar-benar tidak ada pasta gigi yang biasa Anda gunakan,” jawab Dennis masih dengan menunduk.


“Kenapa bisa tidak ada? Bukankah pasta gigi anak-anak hampir tersebar di semua mall?”


Agnese yang sedari tadi hanya diam sembari menajamkan indra pendengar langsung terbahak. “Ha-ha-ha! Pantas saja gigimu terdapat celah, ternyata kau selama ini menggunakan pasta gigi anak-anak.”


Mendengar tawa Agnese, orang itu mendengus kesal lalu memandang Dennis dengan tatapan sinis. Sementara yang ditatap hanya menunduk sembari menahan tawa.


Agnese memegangi perutnya lalu mengelap sudut matanya yang terdapat air mata sambil terus tertawa. “Ha-ha-ha! Aduh, perutku sakit karena menertawakan kebodohanmu.”

__ADS_1


Kuharap kau bisa terus tertawa lepas seperti itu.


__ADS_2