Married With Stranger

Married With Stranger
One Day With Agnese


__ADS_3

Agnese segera keluar dari kelas setelah membaca pesan dari Dennis sebab ada sesuatu yang sangat penting yang ingin disampaikan. Jadi, ia keluar untuk mencari tahu apa yang penting menurut pria itu. Siapa tahu bisa membantunya untuk menjauh dari Zach.



"Apa yang mau kau sampaikan?" tanya Agnese ketika tiba di hadapan Dennis.


"Aku akan mengatakannya, tapi tidak di sini."


"Lalu di mana?"


"Di suatu tempat, mungkin? Aku sengaja datang ke sini untuk menjemputmu."


Agnese mengernyit. "Untuk apa?"


"Bukannya kau mau maid di rumahmu pergi?" Agnese mengangguk. "Kau harus melakukannya sendiri," lanjut Dennis.


"Aku masih ada kelas, Dennis. Bahkan ini belum jam makan siang."


"Ini perintah langsung dari Tuan Zach, jadi tidak apa kalau kau meninggalkan kelas."


"Aku tidak mau mengikuti perintahnya!"


"Kau akan terus melakukan perintahnya kalau tidak menjadi gadis penurut," putus Dennis, lalu bersedekap.


"Tapi ...."


"Kau bersamaku, Agnese. Tidak usah khawatir."


Dennis sadar jika untuk meluluhkan kerasnya perangai yang dimiliki Agnese, tidaklah mudah. Harus diberi alasan yang kuat dan juga sedikit dorongan agar perangai tersebut dapat melunak seiring berjalannya waktu. Apalagi gadis itu selalu mengedepankan pikiran negatif di atas segalanya sebab ia tidak ingin berakhir sia-sia seperti sang ayah yang mati di tangan seseorang yang sangat dipercayai.


Agnese menghela napas panjang. "Baiklah. Aku ambil tas dulu."


"Tidak usah!"


"Kenapa?" tanya Agnese lagi.


"Biarkan temanmu yang membawanya."


"Maksudmu, Yoana?"


Dennis mengangguk. "Dia akan bersama ibumu selama kita pergi."


"Tidak bisa begitu, Dennis! Aku meminta maid itu pergi karena aku mau mengurus ibuku sendiri. Kenapa kau meminta Yoana yang mengurusnya?"


"Tuan Zach bilang, kalau kau membiarkan maid itu pergi, berarti yang akan menggantikannya adalah temanmu itu. Karena seorang teman tidak akan meminta imbalan saat membantu temannya, bukan?" Dennis membuang permen karet yang sedari tadi berada dalam mulutnya dan mengubah posisi tangannya menjadi masuk ke dalam saku celana. "Kau tidak perlu mengeluarkan uang untuk itu."


Agnese tersenyum getir dan membiarkan air matanya lolos. "Aku menganggapmu seperti saudaraku karena aku pikir kau berbeda darinya, Dennis. Tapi, aku salah. Kau justru sama, tidak berperasaan."


"Hei! Maaf kalau kau berpikir seperti itu, tapi aku setuju dengan Tuan Zach untuk hal ini. Kau tidak bisa mementingkan egomu kalau mau ibumu sembuh. Aku sengaja membawa maid itu ke rumahmu untuk merawat dan menjaganya selama kau berada di Dallas dan kalau kau sedang bekerja."

__ADS_1


Agnese mengusap air matanya. Dennis benar, ia tidak boleh egois jika ingin kesembuhan Briza terjadi. Namun, ia tidak bisa menerima bantuan apa pun lagi dari Zach. Ia merasa sudah cukup melibatkan pria itu dalam hidupnya. Karena ia selalu saja diminta untuk membalas kebaikan yang sudah dilakukan.


Agnese tahu jika terjadang kebaikan yang dilakukan orang lain memang harus dibalas. Namun, tidak untuk pria arogan yang suka narsis itu. Lebih baik ia tidak pernah menerima bantuan sama sekali, daripada diminta balasan yang sama sekali tidak disukai.


"Baiklah, aku tidak akan meminta maid itu pergi," putus Agnese yang membuat Dennis tersenyum.


"Good girl! Kalau begitu, ayo!" Dennis menggerakkan kedua kakinya untuk berjalan. Namun, saat baru beberapa langkah, pertanyaan Agnese membuatnya berhenti.


"Ke mana? Bukankah aku sudah setuju untuk tidak memulangkan maid?"


Dennis kembali memutar tubuhnya.


"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat supaya hatimu menjadi tenang dan senang." Dennis membukakan pintu mobil untuk Agnese. "Masuklah," perintahnya.


Agnese masuk ke dalam mobil dan langsung memasang sabuk pengamanan setelah duduk. "Bagaimana dengan Yoana?"


"Dia bisa ikut, tapi tidak untuk hari ini."


"Ta ...."


Dennis menggerakkan jari telunjuknya seolah bertaka tidak setuju. "No more question, Agnese."


"Baiklah, terima kasih."


🍒🍒🍒


Mereka duduk saling berhadapan dan mengambil tempat di bagian yang dekat dengan pintu sehingga bisa melihat siapa saja yang datang dan pulang. Dennis sengaja mengambil tempat di sana untuk meminimalisikan kemungkinan besar yang terjadi. Seperti jika ada penjahat atau musuh yang datang saat mereka sedang menyantap makanan. Jadi, mereka bisa sesegera mungkin meninggalkan tempat tersebut.


Dennis mengangkat tangan untuk memanggil pramusaji yang akan melayani mereka. Ia membiarkan Agnese melihat-lihat menu terlebih dahulu selagi menunggu pramusaji datang.



"Kau mau makan apa, Agnese?" tanya Dennis ketika pramusaji sudah datang.


"Tacos!"


"Hanya itu?"


Agnese mengangguk antusias. "Sudah lama aku tidak memakannya."


"Baiklah. Bawakan semua makanan yang ada di menu ini."


Agnese terbelalak kaget. Semua menu? Meski menu yang ada di Chipotle tidak terlalu banyak, tetapi dengan memesan semua yang ada di menu sangat tidak masuk di akal. "Apa yang kau lakukan?"


"Kupikir kau menyukai semua makanan yang ada di menu," jawab Dennis sambil menggaruk belakang kepalanya.


"Tidak perlu. Memangnya kau bisa menghabisi semua?" Agnese menghela napas panjang. "Aku tidak suka orang yang berlebihan, jadi tolong jangan lakukan hal-hal yang akan membuatku tidak menyukaimu seperti dia," jelas Agnese kemudian.


Dennis mengangguk. "Baiklah. Berarti kita hanya memesan tacos dan burrito bowl."

__ADS_1


Pramusaji kembali mengulang pesanan mereka sebelum pergi untuk menyerahkannya kepada koki yang ada di dapur. Selagi menunggu pesanan mereka datang, pramusaji mengantarkan seporsi chips lengkap dengan saus yang biasa dimakan bersama chips.



"Maaf kalau tingkah atau perkataanku membuatmu kesal. Aku hanya berusaha membuatmu merasa senang terlepas apa yang diperintahkan Tuan Zach padaku." Dennis membuka suara setelah pramusaji pergi.


Agnese kembali mengembuskan napas panjang. "Terima kasih, Dennis, tapi aku justru semakin kesal saat kau menyebutkan namanya. Sungguh. Mendengar namanya saja, itu sudah berhasil membuat emosiku membuncah."


"Kenapa kau terlihat sangat membencinya?" tanya Dennis penasaran sambil memakan chips.


Agnese terdiam. Ingatannya pun terfokus pada hal-hal yang selama ini terjadi ketika dirinya bersama dan berada di dekat Zach. "Dia sudah sangat jahat padaku. Semenjak kehadirannya, hidupku menjadi tidak tenang. Banyak masalah yang muncul."


"Masalah beasiswamu yang dicabut, bukan dia yang melakukannya, tapi aku."


Agnese tersenyum. "Tapi kau tidak akan melakukannya tanpa disuruh, bukan?"


"Dia punya alasan tersendiri, Agnese. Selama aku bekerja untuknya, dia hanya akan melakukan hal-hal yang tidak biasa pada seseorang yang disukai," jelas Dennis agar Agnese berhenti menyalahkan Zach atas apa yang terjadi.


"Suka?" Agnese tertawa hambar. "Memangnya aku siapa sampai disukai pria arogan seperti dia?" sambung Agnese sambil memusatkan pandangannya pada sebuah mesin capit boneka yang berada di sudut ruangan, tepat di belakang Dennis.


Dennis menelan chips, kemudian kembali memasukkannya ke dalam mulut. "Kau tahu, terkadang kita tidak bisa menilai seseorang hanya karena kita melihat apa yang terjadi."


"Aku tahu itu, tapi dia berbeda, Dennis."


"Berbeda bagaimana?" tanya Dennis untuk ke sekian kalinya.


"Ah, sudahlah! Kenapa kita membahasnya?"


Agnese memilih menggigit tacos yang baru saja dibawa pramusaji. Rasa gulungan tortilla yang berpadu dengan daging ayam, potongan selada, keju, dan mayones membuat saliva gadis itu semakin bertambah. Sudah lama sekali ia tidak makan penganan yang berbahan dasar jagung.


"This is so good," ujar Agnese sambil mengunyah tacos.


Dennis tersenyum melihat Agnese yang sangat menikmati makanannya. Seperti ada perasaan lega ketika melihat senyuman itu. Ia sangat bersyukur karena tidak salah memilih tempat untuk mengisi perut meski bisa dibilang hanya untuk mengganjal perut karena menu yang ada di sana tidak terlalu mengenyangkan.



Saat hendak memasukkan sesendok burrito ke dalam mulut, pergerakan Dennis berhenti ketika melihat seseorang yang mencurigakan. Apalagi ia sempat menangkap orang itu mengambil gambar dirinya dan juga Agnese. Ia kembali menyeruput margarita, lalu bangkit untuk menghampirinya.


"Kau mau ke mana?" tanya Agnese.


Dennis menatap Agnese dan tersenyum. "Kau tunggu di sini, ada yang harus kuurus dulu. Oke?"


Dennis mengalihkan tatapannya dari Agnese. Ia kembali memusatkan pandangannya di tempat orang tadi berada. Namun sayang, ia kehilangan jejak karena memberi kesempatan orang itu untuk kabur saat menatap Agnese.


"Sial!" umpat Dennis dan kembali duduk.


"Ada apa?" tanya Agnese sambil mengunyah.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2