
"Hei! Berhenti menertawakanku!" tegur Zach, tetapi Agnese semakin tertawa.
Karena Agnese tak menggubris ucapannya, Zach merasa kesal. Ia mendengus sebal, kemudian mendekati Agnese. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu agar gadis itu bisa diam.
"Eh? Ka ... kau mau apa?" tanya Agnese tatkala menyadari keberadaan Zach di dekatnya.
Agnese mundur beberapa langkah karena Zach tak berhenti mendekatinya. Ia berhenti begitu sadar jika tak ada lagi ruang yang bisa digunakan untuk menjauh dari pria itu. Sungguh, ia merasa takut karena tak ingin apa yang 'tidak' terjadi di sekolah beberapa waktu lalu akan terlaksana hari ini.
"Kenapa tadi kau tidak mau diam?"
Agnese memutar bola matanya dengan malas. "Itu karena kebodohanmu!"
"Kau berani mengatakan aku bodoh?" tanya Zach dengan tatapan tajamnya.
Dia ini kenapa, sih?
"Untuk apa aku takut? Kau 'kan memang bodoh. Apalagi kau memakai pasta gigi anak kecil, lucu sekali." Agnese kembali tertawa, tetapi saat mendengar jawaban yang diberi Zach, ia kembali terdiam.
"Kalau kau tidak tahu apa pun, jangan berani berkata seperti itu," kata Zach dan semakin mengikis jarak di antara mereka.
Agnese terkesiap karena merasakan deru napas Zach. Sambil berharap-harap cemas, ia memejamkan mata karena tak sanggup menatap ciptaan Tuhan di hadapannya. Andai saja tadi ia berhenti tertawa, mungkin sekarang mereka tidak berada dalam posisi seperti ini.
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But when you smile at the ground it ain't hard to tell
You don't know, oh oh ....
Agnese langsung terbelalak saat mendengar dering panggilan telepon yang berasal dari ponselnya. Dari tempatnya berdiri, ia melihat Dennis berjalan ke arah nakas di samping tempat tidur, kemudian mengambil ponsel miliknya.
"Teman Anda menelepon, Nona," kata Dennis yang membuat Zach menatapnya dengan tajam.
Merasa ada kesempatan, Agnese langsung mendorong tubuh Zach hingga pria itu hampir terjatuh karena tidak siap untuk menguasai diri. Agnese mendekati Dennis, kemudian mengambil alih ponselnya. Ia menempelkan benda pipih itu ke daun telinga. "Halo?"
"Agnese, kau ada di mana?" cecar Yoana dari seberang telepon.
Agnese menjauhkan ponsel dari telinganya tatkala mendengar suara Yoana yang sangat nyaring. "Aku ada di ...."
__ADS_1
"Di mana? Hari ini kita harus masuk sekolah. Apa kau lupa?" tanya Yoan yang membuat Agnese terkejut karena baru ingat akan kejadian semalam.
"Astaga! Maafkan aku, Yoan. Aku segera pulang, tolong kau tetap di sana jaga Ibuku Oke?"
Agnese mematikan sambungan telepon secara sepihak, kemudian menatap Dennis. Ia harus segera pulang karena takut jika Briza akan khawatir apalagi ia tidak pulang semalam dan ia juga merasa tidak enak hati pada Yoana karena telah merepotkannya. "Bisakah kau mengantarku pulang?"
"Tidak!" jawab Zach, padahal yang sedang ditanya adalah Dennis.
Agnese mendengus. "Aku tidak bertanya padamu."
"Ini rumahku, jadi aku bebas menjawab pertanyaan siapa pun."
"Bisakah kau tidak bersikap menyebalkan? Kali ini saja, kumohon," ujar Agnese sembari menatap Zach dengan tatapan sendu.
"Sepertinya tidak bisa."
Agnese mengernyit. "Kenapa?"
"Karena aku tidak suka bersikap baik padamu."
Agnese menghela napas panjang, kemudian beralih kembali pada Dennis. Jika tidak pulang, ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia juga tidak bisa pergi sekolah dengan tenang jika tak bertemu sang ibu. Ia menatap Dennis dengan tatapan sendunya, sama seperti tatapannya pada Zach tadi.
"Karena kau yang membawaku ke sini, jadi kau juga yang harus membawaku pulang. Please ...," pinta Agnese yang membuat Dennis serba salah.
"Lebih baik kau makan sebelum pulang," ujar Zach yang direspons gelengan kepala oleh Agnese.
"Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus pulang sekarang."
Zach mendengus sebal. "Kau ini benar-benar bodoh! Kenapa kau hanya memikirkan orang lain?"
"Aku tidak memikirkan orang lain, aku memikirkan sahabat dan juga Ibuku!"
"Terserah kau saja," kata Zach kemudian keluar dari kamar itu, meninggalkan Dennis dan Agnese yang saling menatap.
"Ada apa dengannya?" tanya Agnese.
Dennis tersenyum untuk menanggapi ucapan Agnese. "Tidak usah pedulikan dia. Lebih baik sekarang aku mengantarmu pulang."
"Baiklah, ayo!"
__ADS_1
Agnese tersenyum senang, kemudian mengambil tasnya yang berada di atas nakas. Ia berjalan di belakang Dennis sambil sesekali memerhatikan interior rumah yang sudah menampungnya dua kali. Begitu tiba di luar rumah, ia kembali tersenyum. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya pulang.
Tak jauh dari tempat itu, Zach memerhatikan Agnese dan Dennis dari televisi karena tersambung dengan CCTV yang terpasang di dekat pintu utama. Ia masih merasa kesal dengan gadis itu karena tak mendengar ucapannya. Padahal ia berniat baik, tetapi tidak didengarkan.
Zach menghela napas panjang, mengambil ponsel dari saku celana, lalu mengirim pesan kepada Dennis. Setelah itu, ia memilih untuk membersihkan diri sebelum berangkat ke kantor.
Baru saja ingin menginjak pedal gas, perhatian Dennis dan Agnese tersita karena terdengar dering telepon yang berasal dari ponsel Dennis. Tanpa memedulikan Agnese yang terlihat penasaran, pria itu segera membuka pesan yang baru masuk.
Tuan Zach:
Jangan lupa berikan obat dan vitamin padanya.
Kau juga harus membawanya makan, terserah mau di mana.
Dennis tersenyum singkat, kemudian mulai meninggalkan kawasan rumah. Tanpa membalas pesan tersebut, ia sudah pasti akan melakukan perintah itu. Untung saja ia tidak menurunkan obat dari mobil yang sudah ditebus pagi tadi sebelum pergi ke rumah Zach.
Begitu melihat ada Burger King di tengah perjalanan, Dennis singgah sebentar untuk memesan makanan melalui layanan drive thru. Ia memesan dua paket breakfast dan menunggu beberapa menit untuk mendapatkan pesanannya.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Agnese, tetapi tidak digubris oleh Dennis.
Setelah menerima makanan, Dennis menyerahkannya pada Agnese dan kembali membelah jalanan yang masih lengang di pagi hari itu. Karena Agnese merasa lapar, ia membuka sekotak makanan yang sudah dibeli Dennis, kemudian memakannya.
"Mr. Dennis, aku mau bertanya sesuatu," tanya Agnese sambil mengunyah hingga membuat pertanyaannya terdengar kurang jelas. Untung saja Dennis mengerti apa maksud gadis itu, jadi Agnese tidak perlu repot untuk mengulanginya.
Dennis mengernyit. "Apa itu? Oh iya, by the way ... tidak usah memanggilku Tuan."
Agnese mengubah posisinya menghadap Dennis sambil memandang pria itu dengan intens. "Kenapa?"
"Aku tidak suka. Lanjutkan pertanyaanmu!"
Dia dan Tuannya sama saja, menyebalkan.
Agnese berhenti memakan burger di tangannya, lalu menghela napas panjang. "Kenapa semalam kau membawaku ke rumah ...."
Agnese terdiam sejenak dan berusaha mengingat nama pria yang suka memakai pasta gigi anak-anak itu. Namun, karena tak kunjung ingat, ia mengembuskan napas kasar kemudian kembali mengubah posisi duduk dan menatap ke arah luar jendela.
Dennis yang sedari tadi fokus menyetir sambil menunggu gadis di sampingnya menyelesaikan ucapan langsung mengernyit bingung. "Ke rumah Tuan Zach maksudmu?"
Agnese tak menjawab. Ia terlalu malu untuk melanjutkan percakapan tak masuk akal itu. Ia hanya ingin melupakan pertanyaannya dan menikmati perjalanan ke rumah dengan tenang. Ia kembali makan sambil fokus memerhatikan keadaan jalan yang mulai ramai akan kendaraan.
__ADS_1
Setelah habis sekotak, Agnese meletakkan makanan yang masih tersisa ke kursi belakang. Keadaan di dalam kendaraan roda empat itu begitu sunyi, hanya bisa mendengar deru mesin dan helaan napas yang kasar. Karena tak ingin menghadapi situasi canggung, Agnese memilih untuk memejamkan mata. Sungguh, ia masih butuh istirahat sebab badannya terasa sedkit lemas setelah kejadian semalam.
Selang beberapa lama, Dennis mendengar dengkuran halus yang tercipta dari mulut Agnese. Ia menatap gadis itu sejenak dan kembali fokus menyetir. "Jawaban atas pertanyaan menggantungmu tadi, aku juga tidak tahu. Entahlah, mungkin karena itu sudah menjadi tugasku."