Married With Stranger

Married With Stranger
Wrong Direction


__ADS_3

Di tengah perjalanan, Zach menatap Agnese sejenak sebelum kembali fokus menyetir. Ia menyusuri jalan dengan telinga yang sesekali mendengar ringisan gadis itu. Ia yakin jika hal tersebut disebabkan oleh kecelakaan kecil tadi. Terlebih kaki yang awalnya kecil, terlihat membesar akibat bengkak karena terkilir.


Zach menatap Agnese lagi. "Apa kau lapar?" tanya Zach.


"Sebenarnya iy ...."


"Pulang dan makanlah. Aku akan mengantarmu," potong Zach.


Sungguh. Agnese sangat tidak suka ketika Zach memotong ucapanya. Setiap berbicara dengan pria itu, pasti ada saja omongan yang terpotong. Ia tidak tahu mengapa selalu terjadi, padahal ia ingin memberi tahu jika sebenarnya ia sedang kelaparan. Namun, ia harus tahu diri, jadi lebih baik tidak melanjutkan.


Agnese mendelik kesal. "Apa misimu dalam menjagaku sudah selesai?"


Zach mengangkat bahu tanda tidak tahu. "Sebenarnya belum, tapi karena orang itu sudah kabur, kau bisa pulang dan tidak merepotkanku lagi.


"Merepotkan? Yang benar saja!" kesal Agnese dalam hati.


Zach memerhatikan perubahan raut wajah Agnese. Ia pun menyeringai dan tetap menatap jalan yang ada di depan. Sepertinya menggoda gadis itu adalah ide terbaik saat ini. Daripada perjalanan mereka hanya diisi degan kekosongan.


"Gadis Bodoh!" panggil Zach tanpa menoleh membuat Agnese langsung memandangnya. "Tetaplah bersamaku hari ini. Aku akan melindungimu agar kau selalu aman."


Zach menoleh ke arah Agnese. "Bagaimana?" lanjutnya.


"Aku ...."


Belum sempat Agnese menyelesaikan ucapan, Zach tertawa hingga membuat gadis itu semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin diucapkan Zach. Pria di sampingnya itu benar-benar susah ditebak. Seperti memiliki banyak kepribadian saja.


Zach berhenti tertawa. "Tampaknya kau berharap aku mengatakan itu. Namun, harapanmu itu takkan terjadi. Jadi, jangan salah paham!"


Agnese mengeryit. "Harapan apa?"


Zach mengangkat bahu. "Hal yang biasa terjadi saat pria dan wanita sedang bersama."


Agnese berdecih tidak suka. Ia tidak habis pikir mengapa pria di sampingnya selalu memiliki bahan untuk berdebat. Padahal ia sendiri sangat tidak menginginkan itu terjadi. "Siapa yang mau bersamamu seharian? Aku juga akan menolak!"


"Kau memang sangat bodoh," kata Zach, lalu kembali tertawa.

__ADS_1


Agnese mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Apa kau tidak ingin mencoba menggodaku? Tinggal di rumahku adalah keinginan banyak perempuan. Kenapa kau justru menyia-nyiakan peluang besar ini?" tanya Zach.


Agnese mengalihkan pandangan dari Zach. Ia menatap jalan di depan dan bersedekap dada. "Tidak! Aku tidak berniat melakukan itu. Kau tidak boleh menyamakan aku dengan mereka!"


"Kenapa?"


"Karena aku sangat benci berada di dekatmu," balas Agnese.


Zach terdiam cukup lama setelah mendengar jawaban Agnese. Ia tidak menyangka jika jawaban itu membuat sebagian ruang dalam hatinya terasa sesak. Ia pun mengambil napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan.


Mata Zach beralih menatap spion. Tak jauh dari belakang, terlihat sebuah motor dengan plat yang sama seperti penguntit di taman tadi. Ia pun menggenggam setir dengan kuat, bersiap mengalihkan orang itu dari daerah sekitar rumah Agnese yang sudah dekat.


Zach membelokkan setir ke arah jalan lain. Ia tidak ingin tempat yang bisa dijadikan tempat ternyaman bagi Agnese akan diteror karena dirinya. Ia juga harus menepati janji dengan pria yang sedang bertarung demi dirinya di negara maritim, Indonesia.


"Hei! Ini bukan jalan menuju rumahku," tegur Agnese.


Zach memegang perutnya dengan tangan yang tidak memegang setir. "Astaga! Aku lapar sekali. Apa kau tahu tempat makan yang enak di sekitar sini?"


"Aku tidak tahu. Antarkan aku pulang!"


"Aku tidak mau makan, aku mau pulang!"


"Aku juga tidak memintamu makan. Kau hanya perlu menemaniku."


Agnese mendengus sebal dan bersedekap dada. Mengabaikan Zach yang menahan tawa. "Aku benar-benar membencimu!"


Tanpa mengindahkan ucapan yang berhasil menyentil hatinya, Zach berhenti di depan sebuah restoran karena penguntit itu sudah tidak terlihat akibat terhalangi beberapa mobil saat di lampu merah. Ia melepaskan tangan dari setir dan menatap Agnese baik-baik, menilik mata gadis itu dengan intens.


"Kau harus berada di rumahku dan tinggal di sana untuk sementara. Lagi pula kau sudah berjanji untuk melakukan apa pun agar mendapatkan beasiswamu," kata Zach, berusaha mengeluarkan suara yang netral.


"Aku tidak menyangka kalau tinggal denganmu adalah bagian dari apa pun."


Zach mengernyit, membuat lipatan di dahi. "Lalu kau mengharapkan aku meminta apa?"

__ADS_1


Agnese menggeleng cepat dengan tangan yang di lambaikan ke kiri dan kanan seolah memperkuat pernyataannya. "Tidak ada."


"Tidak ada?" Zach menyeringai. "Jika memang seperti itu, kau tidur bersamaku di rumah nanti."


Agnese kembali terbelalak kaget, tetapi kali ini melepaskan dekapannya. "Apa?!"


"Kau setuju, bukan?" Zach menaikturunkan alisnya.


Agnese menggeleng. "Tidak! Aku akan tetap pulang. Ada Ibu yang butuh bantuanku lebih dari apa pun."


Jawaban itu lagi. Entah sudah yang ke berapa kali, tetapi selalu saja Zach mendengar jawaban yang sama ketika meminta gadis itu untuk bersamanya. Ia menghela napas panjang, lalu berkata dengan pelan. "Aku tidak ingin sendirian hari ini. Biasanya ada Dennis yang menemaniku, tapi sekarang dia sedang tidak ada."


"Apa kau gay? Kenapa wajahmu sedih begitu saat Dennis tak ada?" cerocos Agnese.


Dasar tidak peka!


Zach mendengus sebal. "Aku masih normal. Jika tidak, aku tidak akan memintamu untuk tidur bersamaku."


"Harus berapa kali aku katakan, kalau aku tidak akan tidur denganmu?" jawab Agnese setelah berdecak kesal.


"Aku berjanji untuk tidur saja, tidak melakukan apa-apa."


Agnese memandang Zach sambil berkata dalam hati, "Aku tidak bisa ikut dengannya. Aku sudah janji dengan Mommy, tapi kalau Mommy melihat keadaanku, dia pasti akan sedih dan memengaruhi kesehatannya."


Agnese terdiam beberapa saat. Ia tersenyum tatkala sesuatu yang menguntungkan tiba-tiba terlintas di benaknya. Memanfaatkan keadaan yang ada sesekali tak apa, daripada hanya ia terus yang menjadi korban. Senyum buaya tercipta di bibir gadis itu.


"Baiklah. Aku akan tetap bersamamu hari ini, tapi dengan satu syarat."


Zach menaikkan salah satu alis. "Apa itu?"


"Kau harus menanggung biaya obat Ibuku selama sebulan. Bagaimana?" ucap Agnese dan kembali menyunggingkan senyum buaya.


"Kau mengajukan syarat atau ingin memerasku?"


Agnese mengangkat bahu. "Ya sudah kalau kau tidak mau. Lagi pula kau sendiri yang mengatakan padaku kalau tidak ada yang gratis di dunia ini."

__ADS_1


"Sial!" umpat Zach, kemudian mengembuskan napas kasar. "Baiklah. Terserah kau saja."


Mendengar itu, Agnese tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia bisa menikmati beberapa waktu untuk beristirahat dan menunggu kakinya agar dapat pulih kembali. Ia tidak bisa pulang dengan keadaan seperti itu. Apalagi sakit yang dirasakan sulit untuk disembunyikan ketika berusaha berdiri.


__ADS_2