Married With Stranger

Married With Stranger
Shocking Statement


__ADS_3

"A ... apa yang baru saja kau lakukan padaku?" Agnese menggeleng dengan penglihatan yang mulai mengabur karena air mata mulai menumpuk. "Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Waktu itu, kau membantuku terbebas dari beberapa orang yang mungkin akan memperkosaku. Tapi, kenapa justru kau yang berniat menghancurkanku?"


Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah Zach, pria yang telah menolong Agnese beberapa kali sekaligus orang penting yang kedatangannya sangat dinanti para warga sekolah, kecuali gadis itu. Awalnya ia tidak berniat melakukan hal yang salah. Ia hanya berusaha menyalurkan rasa kagumnya terhadap gadis itu. Namun, melihat tanggapan yang diterima membuatnya ingin bermain sejenak.


"Kau pikir kau sedang tinggal di surga? Ini bumi, kalau kau lupa. Tidak ada yang bisa berjalan sesuai keinginanmu, bahkan orang yang pernah menolong bisa menjadi orang yang akan menghancurkan. Kau pikir aku menolongmu tanpa mengharapkan sesuatu yang sepadan?"


"Kupi ...."


"Apa? Kau mau bilang kalau kau percaya padaku karena sudah menolongmu? Kalau iya, kamu salah besar, Gadis Kecil. Ah, bahkan aku menginginkanmu lebih dari sekadar ciuman tadi."


Mata Agnese membulat tak percaya. "Apa maksudmu?"


"Aku menginginkan yang lebih dari ciuman, Gadis Kecil." Zach terlihat berpikir sejenak, lalu tersenyum jenaka. "Bercinta sampai pagi mungkin."


"Aku tidak akan melakukannya bersamamu. Aku akan menyerahkan anugrah diriku untuk pria yang kucintai."

__ADS_1


Zach tertawa. "Kenapa kau menjadi marah begini, Gadis Kecil? Padahal yang kulakukan tadi hanya ciuman yang biasa dilakukan pria dan wanita."


"Kau gila! Hanya kau bilang? Karena kau menganggapku gadis kecil, seharusnya kau tidak melakukan hal menjijikkan itu. Karena aku hanya gadis kecil yang menginginkan kebebasan belajar untuk masa depan, bukan wanita dewasa yang seperti tidak punya harga diri menginginkan pria cabul, mesum, atau apa pun itu sepertimu!" Agnese mengusap bulir air mata yang kembali menetes, lalu menghela napas panjang. "Kalau tahu akan begini, lebih baik kau tidak pernah menolongku saat itu. Biarkan saja aku jadi korban pemerkosaan yang berakhir tragis. Kalau memang aku tidak mati hari itu juga, setidaknya aku bisa depresi dan bunuh diri. Sepertinya menyenangkan, aku bisa menyusul dan bertemu lagi dengan Ayah."


Emosi Agnese seperti sudah di ubun-ubun. Ia tidak tahu mengapa harus bertemu sosok seperti itu. Ia menangis. Tembok pertahanan yang berusaha dibangun beberapa lama agar tak ada yang menganggapnya lemah karena menangis telah runtuh. Ia merasa seperti gadis yang tidak suci, meski pria itu tak mengambil sesuatu yang lebih berharga daripada ciuman.


Dalam hati, Zach meringis melihat kerapuhan seseorang yang baru saja dikenalnya. Padahal ia hanya berniat bermain sebentar, tetapi yang terjadi justru jauh dari dugaan. Ia tidak habis pikir jika gadis itu akan menangis setelah ia melakukan sesuatu yang dipikir merugikan.


Jauh dari sebelum kejadian ini, banyak perempuan di luar sana yang justru sangat terpikat dengan Zach. Bahkan rela menyerahkan tubuh mereka untuk dinikmati. Namun, berbeda dengan Agnese yang justru bersikap seolah tak ada kesempatan untuk hidup.


Zach berdeham sejenak. "Berhentilah menangis! Aku minta maaf karena telah menciummu."


"Kenapa? Kau butuh sesuatu supaya memaafkanku?" Zach merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan cek yang telah ditandatangani jauh hari. "Tulislah berapa pun nominal yang kau mau di cek itu."


Agnese seperti disambar petir. Ia tidak tahu mengapa pria di hadapannya sangat tidak tahu diri. Ia menarik napas dalam lalu mengembuskannya. Ia mendongak dan menatap wajah pria itu, sebelum bergerak menerima cek yang disodorkan. Ia tersenyum kecut lalu merobek hingga menjadi potongan kecil.

__ADS_1


"Terima kasih atas kebaikannya, tapi saya tidak butuh apa pun dari Anda," ujar Agnese menggunakan bahasa baku, lalu meninggalkan pria itu dengan langkah cepat.


"Kau sungguh angkuh, Gadis Kecil. Bahkan p*lacur di luar sana lebih berharga darimu, tapi kau malah menolak kebaikanku."


Agnese berhenti melangkah. Sambil mengepalkan tangan, ia berlari ke arah pria itu. Begitu tiba, ia segera melayangkan tamparan. "Maaf, Anda tidak berhak menilai bagaimana diriku. Bahkan Anda lebih cocok sebagai sampah masyarakat daripada bos besar begini."


"Agnese, apa yang kau lakukan?!" teriak Yoana dari ujung koridor, dekat kamar mandi.


"Hanya melakukan pembelaan diri."


Yoana menggeleng tak percaya lalu menghampiri pria yang tak jauh dari tempat Agnese berdiri. "Maafkan kelakuan teman saya, Sir."


"Oh, jadi dia temanmu?" Yoana mengangguk. "Bisa ajarkan sopan santun padanya? Tolong ajarkan supaya lebih hormat sedikit dengan pemilik yayasan sekolah ini."


Agnese terpaku di tempatnya. Ia bahkan baru tahu jika pria yang ditemui beberapa hari lalu ternyata pemilik yayasan sekolah. Ia menggigit bibir bawah karena khawatir jika beasiswa yang membantunya melanjutkan sekolah selama ini akan dicabut.

__ADS_1


Bodoh! Kenapa aku baru tahu hal ini?


Yoana tak dapat menjawab ucapan terakhir Zach William Tomlinson, sang pemilik yayasan sekolah. Ia hanya memandang sosok pria itu mendekati Agnese dan terlihat seperti membisikkan sesuatu di telinga sahabatnya itu.


__ADS_2